
Sementara di tempat yang lain.
" Kau membuat ulah lagi ", katanya dengan amarah yang menggelegar disekelilingnya.
" Apa maksudmu ? ", tanya Leo yang tak mengerti maksud dari Afkar.
" Kaiden telah membawa gadisku ", jawab Afkar dengan geram.
" Bagaimana kau tahu ? ", tanya Leo yang memang tak tahu dan juga tak mengerti.
" Tentu saja aku telah memberikan nya sihir pelacak dan juga sihir perlindungan ", kata Afkar dengan lebih tenang karena emosinya sudah mulai mereda.
" Maksud mu ? ", tanya Leo tak mengerti.
" Aku tahu keberadaannya berkat berkas sihir pelacak dan juga merasakan sedikit sihir Kaiden ", kata Afkar lagi.
" Lalu bagaimana sekarang ? ", tanya Leo dengan sedikit bingung.
" Biarkan saja Talitha bersamanya maka kita bisa melancarkan rencana kita ", jawab Afkar yang sudah lebih tenang.
" Kau yakin ? ", tanya Leo memastikan.
" Ya. Justru dengan begitu keberadaannya takkan diketahui oleh para senator itu ", jawab Afkar dengan tenang.
" Ya kau benar tapi bolehkah aku membawa Vania pergi sebelum rencana kita dimulai ? ", tanya Leo pada Afkar.
" Kau benar benar menyukai gadis manusia itu ? ", tanya Afkar pada Leo. Pasalnya Leo takkan peduli pada orang lain apapun yang terjadi pada mereka.
Leo tak menjawab tetapi hanya diam saja. Itu membuat kecurigaan Afkar semakin besar. Walaupun Afkar tidak peduli akan hal itu tapi dia sedikit merasa cemas takut kejadian yang dulu terulang kembali.
Karena tak ada jawaban dari Leo akhirnya Afkar memutuskan untuk membiarkan Leo melakukan apa yang dia lakukan dan inginkan.
" Terserah kau saja ", kata Afkar lagi.
Sempat tertegun atas perkataan Afkar akhirnya
Leo bergegas pergi untuk membawa Vania mengungsi selama rencana mereka dijalankan.
" Dasar dia benar benar telah jatuh cinta padanya ", kata Afkar yang melihat Leo telah menghilang dari jarak pandangannya itu.
Sementara disisi lain Leo juga sudah berada didepan pintu kamar Vania dan Talitha kemudian mengetuk pintunya dengan tenang.
__ADS_1
Tok........Tok..........Tok...........
Mendengar suara pintu diketok Vania akhirnya membuka pintu dan sedikit terkejut.
" Kenapa kau disini ? ", tanya Vania karena bingung tiba tiba melihat Leo didepan kamarnya.
" Iya aku ...... ", ucapan Leo terhenti karena bingung mau memberikan alasan apa terhadap Vania akhirnya memutuskan menggunakan sihir nya langsung kepada Vania.
" Apa ? ", tanya Vania yang masih bingung kemudian tiba tiba Vania merasa mengantuk dan terjatuh dalam dekapan Leo sebelum jatuh ke lantai.
" Maafkan aku harus menggunakan cara ini ", kata Leo dengan pelan menggendong Vania dalam pelukannya itu dan pergi dengan menutup pintu kamar Vania.
Leo melesat dengan kecepatan penuh dan tak butuh waktu lama baginya untuk sampai di kediamannya sendiri.
Leo merebahkan Vania dengan hati hati di ranjang miliknya dan kemudian duduk di tepi ranjang sambil memandang Vania.
" Entah apa yang kau lakukan ", katanya dengan pelan dan tangannya terulur mengusap pucuk kepala Vania dengan lembut.
" Kau tiba tiba mengisi hari hariku dengan suara cempreng mu itu dan juga dengan kegenitan mu itu ", katanya lagi dengan terus mengusap.
" Terkadang aku ingin mengurung mu saja biar tidak ada laki laki yang kau anggap tampan berkeliaran disekitar mu karena itu membuatku ingin menghilangkan mereka dari muka bumi ", kata Leo terhenti saat mengingat bagaimana Vania dekat dengan laki laki yang menurutnya biasa saja tapi bagi Vania mereka sangat tampan.
Entah mengapa rasa yang tadinya hanya untuk menyelidikinya timbul dengan sendirinya tanpa bisa dibendung lagi. Bahkan mampu mengalahkan masa lalunya yang sempat mencintai manusia biasa tapi malah terluka karena itu.
Setelah puas memandang Vania dengan pelan Leo mendekatkan wajahnya ke dahi Vania dan mengecup pucuk kepalanya dan pergi dari kediamannya itu.
Sebelum pergi dari kediamannya itu, Leo terlebih dahulu memberitahu pelayanan di kediamannya untuk menjaga Vania dan selalu memberikan pelayanan yang terbaik selama Vania berada di kediamannya itu.
Leo kembali menemui Afkar yang masih setia menunggu nya di ruang pertemuan mereka lebih tepatnya kamar Afkar.
" Kau sudah kembali ? ", tanya Afkar sambil memainkan bolpoin ditangannya.
" Iya ", jawab Leo dengan singkat.
" Kau tak khawatir dia akan kabur darimu setelah mengetahui kau adalah vampir ", tanya Afkar yang takut sahabatnya itu terluka lagi hanya karena cinta.
" Kali ini aku takkan melepaskannya sekalipun dia akan mencoba kabur dariku ", kata Leo dengan serius.
" Kau benar benar mencintainya kah ? ", tanya Afkar lagi.
" Entahlah yang ku tahu jika dia bersama laki laki lain aku ingin melenyapkan laki laki itu sekarang juga berbeda dengannya ", kata Leo yang mengingat masa lalunya.
__ADS_1
Afkar sempat mengingat masa lalu Leo sebentar memang benar jika Leo berubah lebih agresif dan juga juga lebih posesif dari sebelumnya.
Dia tidak ingin Vania terluka atau bahkan didekati oleh laki laki lain sekalipun. Keinginannya untuk membuatnya menjadi miliknya apapun yang terjadi jauh lebih kuat daripada pada masa lalunya itu.
" Ku harap kau takkan terluka lagi ", kata Afkar akhirnya menyerah tentang sahabatnya yang sudah terlalu mencintai manusia biasa itu.
" Walaupun akh terluka takkan kubiarkan dia pergi dariku ", kata Leo dengan ekspresi sangat serius dan dingin.
Afkar hanya menggelengkan kepala melihat sahabatnya yang begitu posesif ini.
" Bagaimana rencana kita akan dilakukan nanti malam ? ", tanya Leo mengalihkan topik ke topik yang semula dibahasnya sebelum pergi mengamankan Vania.
" Tentu saja "
" Kita harus membuat gadis penyihir itu muncul sekarang sekalipun mata mata para senator masih mengawasi kita ", kata Afkar dengan dingin dan tenang.
" Baiklah aku akan menghubungi Daniel untuk menyiapkan segala sesuatu ", kata Leo dengan yakin.
" Tidak perlu ", kata Afkar dengan tenang.
" Maksud mu ? Jika hanya kota sendiri takkan sanggup membuat kegaduhan untuk membuat penyihir itu muncul ", tanya Leo dengan bingung karena tak paham dengan sahabatnya sekaligus tuannya itu.
" Kau benar benar menjadi bodoh ", kata Afkar menghentikan permainan bolpoin yang sejak tadi terus ditangan nya sambil mengobrol dengan Leo.
" Aku tidak bodoh hanya tak mengerti ", kata Leo dengan bingung.
" Otakmu semakin lama semakin tumpul setelah merasakan jatuh cinta terhadap manusia biasa ", kata Afkar mengejek Leo dengan dingin.
" Tidak ada hubungannya dengan itu ", kata Leo menyangkal perkataan Afkar itu.
" Kau benar benar ", kata Afkar tak melanjutkan kata katanya melainkan diam sejenak.
" Daniel tentu saja sudah tahu dan sedang menyiapkan segala sesuatu saat kau sibuk membawa Vania itu untuk menyelamatkan nya dari rencana kita ", kata Afkar akhirnya menjelaskan panjang lebar pada Leo.
" Oooooooooo ", kata Leo dengan santai dan hanya mengangguk angguk kan kepalanya.
" Benar benar keterlaluan kau ini ", kata Afkar sedikit emosi dan melemparkan bolpoin dengan kekuatan sihir nya sehingga akan mengikuti kemanapun benda atau orang yang dituju bergerak.
~ maaf author baru up karena ada kesibukan
dan terimakasih atas dukungannya.
__ADS_1
Author usahakan besok akan up beberapa episode jangan lupa baca, like, coment dan vote ya ~