
Setelah beberapa lama perjalanan akhirnya Talitha kembali ke kamar asramanya. Talitha merasa ada yang aneh saat masuk ke kamar nya seperti tidak ditempati sama sekali. Masih sama saat dia kemarin telah diculik beberapa hari oleh Kaiden.
Talitha juga merasa kebingungan mencari sahabat dan teman sekamarnya itu. Ia tidak menemukan dimana pun walau sudah mencari di beberapa tempat.
Setelah bersiap siap akhirnya Talitha kembali berjalan menuju ruang kelas nya. Dia berharap bisa menemui Vania di dalam kelas itu.
Anehnya bukan menemukan Vania tapi menemukan wajah baru yang pertama kali dilihatnya.
Orang yang dilihat Talitha adalah Candy dan entah mengapa rasanya wajahnya begitu familiar menurutnya.
' Kenapa wajah itu tidak asing bagiku ', kata Talitha sambil terus berjalan menuju tempat duduknya.
' Tapi aku tidak mengenalnya, mungkin saja Yusriel mengenalnya ', kata Talitha dalam hati sambil matanya terus mencari dimana keberadaan Yusriel.
Tak beberapa lama Yusriel masuk ke dalam ruang kelas.
" Yus...", kata Candy terhenti saat Yusriel sudah berjalan dengan cepat dan memanggil nama Talitha.
" Talitha akhirnya kau kembali juga ", katanya dan langsung membawa Talitha ke dalam pelukannya.
" Lepasin Yus ", kata Talitha sambil berusaha melepas pelukannya dari Yusriel.
" Aku khawatir tahu ", kata Yusriel dengan sedikit cemberut.
" Iya aku tahu, tapi tidak usah peluk peluk. Kan enggak ada yang tahu kalau kita saudara sepupu ", jawab Talitha dengan suara pelan setelah melepas pelukan dari Yusriel.
" Hhe....... Aku lupa ", kata Yusriel dengan cengengesan.
" Dasar kau ini, oh iya dimana Vania ? ".
" Aku mencari kemana mana tapi tidak ketemu ", tanya Talitha kepada Yusriel.
" Aku tidak melihatnya setelah kejadian itu", kata Yusriel dengan tenang.
" Maksud mu kejadian apa ? ", tanya Talitha yang penasaran.
" Bukan apa apa ", jawab Yusriel sedikit gugup.
" Apa yang kamu sembunyikan, cepat katakan ", kata Talitha dengan terus mendesak Yusriel.
" Bukan apa apa , kau saja yang salah dengar. Sudahlah nanti dia juga akan muncul seperti biasa yang akan membuatku jadi pusing ", jawab Yusriel dengan mencoba tenang agar Talitha tidak lagi curiga padanya.
__ADS_1
Melihat Yusriel yang terus mencoba menyembunyikan sesuatu dari nya akhirnya dia menyerah dan akan mencari tahu sendiri.
Sepupunya itu akan lebih posesif jika sudah menyangkut tentang dirinya apalagi saat dia tahu bahwa para vampir sudah mulai mencarinya.
' Sudah lah biar kucari tahu sendiri nanti ', kata Talitha dalam hati tapi tanpa sadar matanya bertatapan dengan gadis yang dirasa tak asing baginya.
Ya gadis itu adalah Candy yang sedari tadi menatap Talitha dengan tak suka karena kedekatannya dengan Yusriel.
' Kenapa aku merasa dia seperti tidak suka melihatku dengan Yusriel. Apakah dia salah mengira dan cemburu padaku '.
' Tapi bukankah dia siswi baru dan kenapa dia langsung tidak suka saat melihatku dengan Yusriel '.
' Mungkinkah Yusriel mengenalnya ? Ah sudah lah aku terlalu capek memikirkan itu semua '.
' Vania aja aku belum tahu dimana, dia terlibat karena aku mengajaknya bersekolah disini '.
Beberapa saat kemudian guru memasuki ruangan dan memulai pelajaran.
Sementara ditempat yang lain.
" Akhirnya kau masuk juga setelah puas dengan gadis kecil mu itu ", kata Raska yang melihat Kaiden masuk ke tempat dimana mereka biasa berkumpul.
" Itu karena dia memaksa untuk kembali ", kata Kaiden singkat dan langsung mendudukkan dirinya diantara mereka.
" Kau keterlaluan selalu menculiknya ", kata Azka pada Kaiden.
Mendengar suara itu, Kaiden menatap Azka dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
" Apa peduli mu ? ", kata Kaiden dengan sengit.
" Aku hanya kasihan pada Talitha ", jawab Azka dengan langsung menyebutkan nama Talitha.
" Kau tidak biasanya terlalu peduli terhadap seseorang ", kata Raska yang menyadari keanehan yang terjadi pada sahabatnya itu.
" Iya kau benar ", kata Bryan ikut menimpali kata kata dari Raska.
" Entahlah aku mungkin hanya perasaan kalian saja ", kata Azka berusaha menyembunyikan kepeduliannya terhadap Talitha.
" Mungkin ", kata Bryan ikut membenarkan perkataan dari Azka.
" Aku hanya merasa sedikit kasihan saja, tapi apakah gadis itu tahu kalau kita ini adalah vampir ?", tanya Azka dengan sedikit panjang.
__ADS_1
" Dia tahu bahkan sejak lama ", kata Kaiden dengan tenang.
" Apa ? ", kata kedua sahabatnya dengan berteriak kecuali Azka.
Azka sudah mengetahui bahwa Talitha tahu tentang vampir dan kemungkinan dia adalah gadis penyihir api biru yang dicari mereka tapi dugaan itu terbantahkan setelah kehadiran Candy. Dan Azka sendiri yang menyaksikan dibalik topeng yang dipakai oleh gadis penyihir yang malam itu bertarung dengan Afkar.
" Dia sepertinya tidak takut pada vampir ", kata Kaiden pada ketiga temannya.
" Aneh sekali. Manusia biasa tidak mungkin tidak takut terhadap vampir. Itu berarti dia bukan manusia biasa ", kata Bryan yang sedikit mengemukakan pendapatnya.
" Tapi bukankah penyihir itu muncul saat Talitha bersama denganku ? ", tanya Kaiden pada ketiga teman nya itu.
" Ya itu jika dilihat dari kemunculan penyihir itu sudah pasti dia bukan penyihir Kai. Tapi dilihat dari ketidak takutan seorang manusia biasa terhadap vampir memang aneh. Mungkin kah selama ini ada beberapa penyihir atau bukan manusia biasa disekolah ini ? ", kata Raska membenarkan perkataan Bryan yang menurutnya sudah banyak berpikir.
" Ya kau benar ", kata Azka ikut memikirkan perkataan temannya itu.
Karena Azka jadi teringat saat saat mereka berdua tanpa sengaja bertemu dengan sengaja Talitha menunjukkan bahwa vampir itu ada disekelilingnya seakan memberitahu bahwa vampir itu ada dan seakan menuduhnya.
" Sudah hentikan perdebatan soal manusia biasa atau bukan. Yang lebih penting adalah apakah penyihir itu sudah diketahui siapa orangnya ", kata Kaiden panjang lebar.
" Belum bisa dilacak, jejaknya menghilang seperti biasa ", kata Bryan kepada Kaiden
' Aku tahu siapa penyihir pada malam itu, tapi kemungkinan dia adalah adikku dan aku takkan menyerahkannya pada siapapun ' , kata Azka dalam hati dengan sedikit mengencangkan otot otot wajahnya menjadi serius.
Melihat perubahan suasana wajah Azka yang mengetat itu, Kaiden yakin Azka mengetahui sesuatu tentang penyihir itu.
" Bagaimana hasil dari pertemuan mu dan ibumu " , kata Kaiden ingin mengganti topik dan akan mencari tahu sendiri nanti
" Ia dia baik baik saja sekarang ", kata Azka dengan tenang.
" Apa hanya itu saja ", kata Kaiden pada Azka.
" Ya hanya itu ", kata Azka kembali.
" Kau bisa mengatakannya jika sudah siap ", kata Kaiden pada Azka.
" Apa sebenarnya yang kalian sembunyikan dari ku ? ", tanya Raska pada kedua temannya itu sementara Bryan sibuk memikirkan burungnya yang tidak muncul beberapa hari lalu itu.
" Tidak ada ", kata Azka sedikit panik. Ia takkan mampu cerita bahwa dia mempunyai adik jika belum jelas kebenarannya itu.
" Baiklah terserah kalian saja ", kata Raska akhirnya menyerah dengan rasa penasarannya.
__ADS_1
" Hm ", jawab keduanya bersamaan tanpa merasa malu atau canggung lagi.