Vampir Sweet Bite

Vampir Sweet Bite
Bab 17


__ADS_3

Keesokkan harinya Talitha di bawa kembali ke asrama oleh Afkar dan Leo.


Afkar tidak mungkin mengurungnya lagi karena para senitor akan mencurigai keberadaannya.


Terlebih Talitha adalah gadis berdarah manis dan bisa jadi para senitor akan menjadikannya sebagai pelayan darah mereka.


Itu akan sangat menyiksa dan menyakiti Talitha terlebih membuat Afkar takkan bisa mendekatinya lagi.


Kebahagiaan terpancar dari raut wajah Talitha setelah kakinya menginjak halaman sekolah.


" Kau akan ku bebaskan tapi ", kata Afkar terhenti.


Talitha memandang ke arah Afkar disebelahnya dengan mengerutkan alis pertanda tak mengerti.


" Kau harus selalu ada di sisiku " , jawab nya dengan santai.


Talitha tak menghiraukan perkataan Afkar dan segera pergi meninggalkan mereka berdua.


" Kau yakin membebas nya " , kata Leo setelah melihat nya pergi meninggalkan mereka.


" Jika dia terus disana akan sangat berbahaya ", kata Afkar yang terus memandang punggung Talitha yang menghilang.


" Maksud mu kau khawatir akan para senator itu ? ", tanya Leo dengan ragu


" Iya . Kau tahu banyak sekali mata mata disini " , jawabnya dengan tenang.


" Terlebih Kaiden bersama kelompoknya ada di sini. Mereka akan curiga jika kita terlalu lama bersembunyi ", kata lagi dan berjalan mengikuti arah dimana tadi Talitha menghilang.


" Kau benar ", kata Leo terus mengikuti Afkar dengan tenang.


Sementara di kelas Talitha memancarkan wajah bahagia nya dan berjalan menuju Vania yang sedang terduduk lesu di bangkunya.


" Van ", kata Talitha yang sudah berdiri di samping Vania duduk.


" Aku seperti mendengar suara Talitha " , gumamnya pelan tapi tidak memandang arah suara Talitha.


Talitha yang geram segera memupuk bahu Talitha dengan keras dan berkata


" Vania ", kata Talitha dengan keras.


Sehingga Talitha terlonjak kaget dan langsung berteriak .


" Aaaaa.....", teriak Talitha dengan keras dan nafas yang terengah karena kaget.


Semua siswa yang sudah hadir di kelas itu langsung memandang ke arah Talitha dan Vania bersamaan.


Vania menjadi cengengesan dan menggaruk leher nya yang tak gatal.


Sedangkan Talitha hanya geleng geleng kepala menyaksikan reaksi sahabat nya yang kadang absurd itu.


Vania yang sudah menyadari Talitha langsung memeluknya dengan suara Isak tangis bahagia.


" Ku kira kau takkan kembali ", katanya terus memeluk Vania.

__ADS_1


" Kenapa kau sering menghilang tiba tiba ", katanya lagi dengan masih terisak.


" Tenanglah " , kata Talitha mengurai pelukan dari Vania.


" Aku tidak apa apa " kata Talitha lagi dan memandang wajah Vania yang sudah memerah karena menangis.


" Kau kemana saja ?" Kata Vania setelah mengusap air matanya dan sedikit cemberut.


"Aku ", kata Talitha berhenti karena bingung beralasan apa dan kebetulan Afkar dan Leo juga sudah ada di kelas nya.


" Dia ada urusan denganku karena aku memerlukan bantuannya ", kata Afkar santai dan berjalan ke bangkunya di ikuti Leo dibelakangnya.


" Kenapa kalian tak mengabari ku ", katanya lagi dengan masih cemberut karena kemarin terlalu khawatir sampai mengabari ayah Talitha.


" Tidak ada sinyal karena di tempat terpencil ", kata Afkar sedikit menjelaskan kepada Vania.


" Ya sudah lah seharusnya kalian meninggalkan pesan pada ku dulu ", ucap Vania masih terus cemberut.


" Hm " ,kata Talitha yang sudah enggan berdebat dengan sahabat nya itu.


Talitha langsung mendudukkan dirinya di kursi tanpa mempedulikan lagi Vania yang masih terus menggerutu di sampingnya.


Bel masuk sudah berbunyi dan murid murid sudah tenang siap menerima pelajaran yang diberikan gurunya.


Setelah beberapa jam pelajaran di lalui dengan tenang dan keheningan bel istirahat berbunyi.


Dengan cepat para siswa langsung berjalan menuju kantin untuk menuntaskan perut mereka.


Kaiden langsung memandang ke arah yang ditunjuk oleh Azka tadi.


" Kau benar ", jawab Kaiden terus mengawasi mereka dengan mata elangnya yang tajam.


" Sudah ku bilang dia takkan lama menyembunyikannya ", jawab Azka menyambung kata kata Kaiden.


" Hm ", jawab nya singkat.


Setelah selesai memesan makanan mereka kembali duduk di tempat duduk yang kosong.


Tanpa sengaja mereka duduk di depan meja Kaiden dan Azka.


Walaupun tak ada yang menyadari kecuali Afkar dan Leo karena Talitha terlalu fokus mendengarkan ocehan sahabat nya itu.


Mata elang Kaiden tidak sengaja bersitatap dengan mata tajam Afkar yang seperti mengejek nya.


' Dia akan jadi milikku ', kata Afkar melakukan telepati dengan Kaiden.


' Apa maksud mu ? ', tanya Kaiden pura pura tak mengerti.


' Aku sudah mengetahui siapa gadis berdarah manis itu ', kata Afkar lagi.


Dheg.........


Jantung Kaiden langsung seperti berhenti berdetak. Vampir sama seperti manusia yang punya jantung yang berdetak hanya saja masa hidup mereka lebih panjang karena bisa menyembuhkan diri sendiri dengan cepat.

__ADS_1


Tak lupa juga tidak mengalami penuaan selama beberapa ratus tahun lamanya alias kembali ke wujud anak kecil mereka lagi.


' Dia adalah Talitha kan ', katanya lagi dengan sedikit senyum yang tersungging di wajah nya.


Keberisikkan Vania membuyarkan telepati mereka.


Talitha memandang Afkar dengan bingung saat tanpa sengaja melihat senyum di bibir nya.


" Ada apa dengan mu " , tanya nya dengan mengalihkan pandangannya lagi ke makanan yang sedang di makannya setelah diantar beberapa menit lalu.


" Tidak ada " , kata Afkar tersenyum kemudian mendekatkan bibir nya ke arah telinga Talitha dan berbisik lagi.


" Kau akan mematuhi aturan ku kan ? " Atau " belum sempat Afkar mengucapkan kata katanya Talitha langsung menjawabnya.


" Iya ", jawabnya dengan sedikit menggeser posisi duduknya karena tidak nyaman dengan kelakuan Afkar yang mendekatkan kepalanya ke arah telinga nya.


Melihat itu, Afkar semakin menyunggingkan senyum nya melihat reaksi Talitha.


Sementara tangan Kaiden sudah mengepal melihat kejadian di hadapannya itu lalu bergumam.


" Gadis kecil tunggu hukuman mu ", gumam Kaiden menetralisir kan kemarahannya itu.


Azka yang mendengar gumaman Kaiden langsung menghela nafas gusar.


Hal gila apa yang akan dilakukan oleh kedua saudara ini untuk mendapatkan Talitha batin Azka dalam hati.


Yang satu begitu posesif dan yang satu begitu agresif. Azka hanya menatap Talitha dengan wajah prihatinnya akan apa yang di alami oleh gadis itu oleh kdua saudara itu.


Wajah yang tak pernah Azka tunjukkan pada siapapun. Dan entah mengapa Azka tidak tahu rasa bersimpati nya selalu muncul untuk Talitha.


Dan juga rasa ingin melindungi Talitha dari kedua saudara itu.


Lamunan Azka buyar ketika kedatangan Raska dan Bryan menyadarkannya.


" Itu Talitha ", kata Raska yang melihat nya dari arah kedatangannya tadi dan duduk di depan Azka dan juga Kaiden.


" Hm ", jawab Kaiden santai.


" Afkar selalu bergerak agresif " kata Bryan pelan setelah mengikuti Raska duduk.


" Apa kau takkan melakukan apapun Kai ? ", tanya Bryan yang melihat tingkah Afkar pada Talitha.


" Tenanglah ", jawabnya pelan tanpa mengalihkan pandangan ke arah Talitha dan Afkar yang terus berinteraksi satu sama lain.


" Hukumannya akan segera di mulai ", kata Kaiden lagi.


" Terserah kau saja ", kata Bryan yang memang tak mengerti maksud kata kata Kaiden.


Melihat kebingungan di wajah Bryan, Raska dan Azka saling pandang dan tersenyum.


Efek otak Lola alias louding lama Bryan masih belum berubah juga.


Melihat Talitha berdiri meninggalkan tempat duduknya Kaiden mengikutinya tanpa memedulikan pertanyaan dari kawan kawannya.

__ADS_1


__ADS_2