Vampir Sweet Bite

Vampir Sweet Bite
Bab 16


__ADS_3

Dua hari telah berlalu tetapi Kaiden belum mengetahui keberadaan Talitha sama sekali.


Kaiden sudah mencari kemanapun dan mencari di tempat tempat yang mungkin bisa dijadikan tempat persembunyiannya. Tapi tak ada satupun tanda tanda keberadaan Talitha maupun Afkar.


Dia hanya bisa berharap bahwa Talitha akan baik baik saja.


" Kau masih belum menemukannya ", kata Azka yang mendekati Kaiden yang sedang duduk di kursinya.


" Belum ", katanya dengan dingin.


" Tenanglah sepertinya besok dia akan membawanya kembali ", kata Azka lagi.


" Apakah mungkin ? ", tanya Kaiden dengan serius.


" Dia takkan membawa nya terlalu lama. Para senitor akan mengetahuinya ", Jawab Azka lagi.


" Kau benar, senitor mengurung untuk mereka sendiri ", Kaiden ikut menimpali perkataan Azka.


" Seharusnya sekarang dia akan kembali ", Azka menambahkan lagi.


" Kau yakin ", tanya Kaiden.


" Iya kita tunggu saja ", jawabnya dengan tenang..


" Ku harap kau baik baik saja gadis kecil ", ucap Kaiden.


" Lalu bagaimana tentang gadis penyihir api biru itu ", kata Azka kepada Kaiden.


" Belum ada kabar lagi ".


" Seperti di telan bumi. Dia hanya datang ketika akan terjadi sesuatu ", jawab Kaiden lagi.


" Kau benar. Mungkin dia akan muncul jika vampir pemburu bergerak lagi ".


" Tapi untuk sekarang Afkar masih fokus pada Talitha sehingga belum ada pergerakan lagi ", kata Azka yang sudah menyelidiki semuanya.


" Kau benar ", kata Kaiden dengan memikirkan tentang Talitha.


" Lalu bagaimana sekarang ? ", kata Azka.


" Untuk sekarang fokuskan pada Talitha dulu. gadis penyihir itu belum ada tanda tanda kemunculannya lagi ", kata Kaiden panjang lebar.


" Baiklah ", kata Azka lagi.


Kemudian mereka pergi untuk ke kelas karena sebentar lagi kelas akan di mulai.


Sementara di suatu tempat yang lain


" Sebenarnya sampai kapan aku disini ", gerutunya memandang jendela kamar nya.


Ceklek.............


Suara pintu terbuka dan Afkar masuk ke dalam kamar.


" Kau sudah bosan kah ? ", tanya Afkar mendekati Talitha yang termenung sendiri.


" Iya ", kata Talitha dengan ketus.


" Bersabarlah sebentar lagi " , jawab Afkar yang sudah duduk di dekat Talitha.


" Sebenarnya apa yang kau mau ? " tanya nya lagi dengan ketus.


" Bukankah aku sudah bilang ".


" Aku hanya menginginkan dirimu. Selain kau gadis berdarah manis. Kau juga gadis yang di lindungi Kaiden ", kata Afkar menjelaskan pada Talitha.


" Aku tidak di lindungi dia ", jawabnya dengan sedikit ketus.

__ADS_1


" Walau kau tidak mengakuinya tapi dia selalu mengikuti mu kemana pun kau pergi ", jawab Afkar lagi.


" Itu kan bukan kemauanku ", jawab Talitha lagi dengan ketus.


" Apapun itu Kaiden tetap kelimpungan mencari mu sekarang ", kata Afkar dengan mengelus pipi Talitha.


" Berarti kau mengurungku karena Kaiden ", tanya Talitha penuh selidik.


" Salah satunya, tapi Kau mampu membuatku tertarik ", jawab Afkar.


" Sekarang biarkan aku ke sekolah ", Talitha memohon dengan wajah memelas nya yang dibuat buat.


" Untuk sekarang kau harus tetap di sini ", jawab Afkar dengan serius.


" Sampai kapan ? ", kata Talitha memalingkan wajah nya.


" Jangan membuat ku tergoda " , kaatanya dengan menyipitkan matanya.


" Apa ? ", kata Talitha yang sudah memalingkan wajahnya kembali.


" Patuhlah supaya aku tak berbuat sesuatu padamu ", kata Afkar lagi.


" Baiklah terserah kau saja ", jawab Talitha dengan lesu.


" Bagus kau gadis pintar ", jawab Afkar kemudian pergi meninggalkan Talitha.


Sepeninggal Afkar Talitha termenung dengan diri sendiri.


" Bagaimana caraku pergi dari sini ? ", tanyanya pada diri sendiri.


" Jika aku menggunakan kekuatan ku maka identitas ku akan terbongkar . Itu akan mempersulit keadaanku ", jawab Talitha pada diri sendiri.


" Apakah aku harus mengirim pesan pada ayah ?" , tanyanya lagi.


" Tapi mungkin aku akan di kurung lagi " , kata Talitha bimbang.


Jika dia meminta bantuan kepada ayah nya maka dia akan di kurung lagi di mension milik ayahnya. Tapi hanya ayahnya saja yang dapat menolong nya untuk sekarang.


Saat Afkar kembali ke kamar nya ini, dia akan melancarkan aksi nya.


Seperti biasa saat hari menjelang siang Afkar datang membawakan makanan untuk Talitha.


" Makanlah jika kau menurut , aku akan memulangkan mu ", kata Afkar dengan menyodorkan makanannya.


" Benarkah ? " , jawab Talitha antusias.


" Iya ", jawabnya dengan wajah serius.


Talitha memang tidak mau makan karena ingin di pulangkan kembali ke asrama.


Dia lelah menghadapi Afkar yang selalu memaksa untuk selalu di kamar miliknya itu tanpa keluar sedikitpun.


Akhirnya Talitha dengan lahap memakan makanan yang dibawa Afkar karena ingin segera pulang ke asrama bertemu Vania.


Entah apa yang terjadi dengan Vania setelah dia tahu bahwa Talitha menghilang selama dua hari ini.


Sementara disisi Vania sudah hampir putus asa mencari keberadaan Talitha.


Dia berpikir untuk menghubungi ayah Talitha tapi juga tidak ingin Talitha dikurung oleh ayahnya.


Karena yang dia tahu Talitha membohongi ayahnya untuk bisa bersekolah di Starlight High School yang dilarang ayahnya.


Talitha tidak menjelaskan secara lengkap kenapa ayahnya melarangnya bersekolah di SMA nomer satu di negara nya itu.


Namun dia tahu kejadian setahun lalu yang menggemparkan seluruh negara bahkan dunia.


" Bagaimana ini ? ", kata Vania dengan penuh khawatir karena tak mendapat kabar apapun dari Talitha.

__ADS_1


Orang yang dimintai tolong olehnya juga belum memberikan kabar sama sekali. Orang itu adalah Kaiden dan Raska saat tiba tiba Talitha menghilang di pagi hari setelah mereka menjenguk nya.


" Apakah aku harus menghubungi ayah Talitha sekarang ? "


" Tapi aku juga tidak mau Talitha di kurung ".


" Kenapa Kaiden dan Raska belum memberikan kabar apapun ", kata Vania lagi.


Di tengah kebingungannya dan rasa khawatir pada Talitha akhirnya Vania menghubungi ayah Talitha.


Tut......Tut........Tut.........


" Hallo " , terdengar suara di sebrang telpon.


" Paman ini Vania " , kata Vania dengan sedikit gusar.


" ........... "


" Talitha menghilang sudah dua hari lalu ", kata Vania dengan suara gemetar.


" ......... "


" Iya paman aku juga tidak tahu ", jawabnya lagi.


" ......... "


" Dia tiba tiba pingsan setelah dia sadar sore hari nya , dia menghilang ", kata nya dengan suara tangis yang hampir pecah.


" ..... "


" Baiklah paman ", kata Vania setelah mengakhiri panggilan telponnya.


" Semoga paman Tallor menemukanmu Tha ", kata Vania.


" Dan maaf aku harus menghubungi ayahmu semoga kau tak marah " , gumam Vania.


" Semoga kau tak marah Tha ", kata Vania lagi.


Setelah berkata demikian Vania beranjak dari tempat tidurnya karena hari sudah mulai petang.


Vania sudah siap menerima konsekuensi dari tindakannya tersebut.


Karena begitu khawatir hal buruk akan terjadi maka lebih baik menghubungi paman Tallor selaku ayah Talitha.


Kembali ke kediaman dimana Talitha masih di kurung.


Dengan wajah yang lesu karena Afkar masih mengurungnya di kamar.


" Kapan aku bisa pergi dari sini ", gumam nya dengan pelan.


Ceklek ..........


Afkar masuk dengan pelan karena melihat Talitha yang melamun memandang jendela.


Talitha tersentak saat lehernya diusap oleh tangan seseorang. Seseorang itu tak lain adalah Afkar.


" Ada apa ? " tanya Afkar yang sedikit kaget melihat reaksi Talitha.


" Kapan kau membebaskan ku dari sini ", tanya nya dengan muka memelas.


" Bersabarlah sebentar lagi " , jawabnya dengan menghentikan tangannya yang terus mengusap lehernya.


Afkar kemudian mengalihkan pandangannya pada bola mata kecokelatan milik Talitha.


" Entah kenapa aku selalu tertarik padamu ", kata Afkar yang terus memandang Talitha.


" Aku ingin selalu melihat mu dan aku ingin kau ada di sisiku ", katanya lagi dengan tenang.

__ADS_1


Talitha hanya diam saja karena tak tahu harus menjawab apa perkataan Afkar barusan.


" Istirahatlah , akan kupikirkan kau untuk kembali ke asrama ", katanya lagi dan beranjak pergi dari kamar Talitha.


__ADS_2