Vampir Sweet Bite

Vampir Sweet Bite
Bab 38


__ADS_3

Sementara Azka yang sudah kembali dari kerajaan vampir semalam menemukan seorang gadis bertopeng yang tergeletak lemah tak berdaya.


Setelah mendekati gadis itu, dia teringat akan kata kata ibunya jika dia masih memiliki seorang adik perempuan dan juga ayah di luar sana. Azka diminta untuk mencari keberadaan adik dan ayahnya itu.


Ibunya hanya mengatakan jika adiknya memiliki kekuatan yang besar dan juga harus dilindungi dari bangsa vampir karena adiknya bisa dimanfaatkan oleh mereka.


Azka yang tak mengetahui ciri ciri ataupun penjelasan lain menjadi sedikit frustasi. Bagaimana mungkin ia menemukan adiknya jika hanya diberitahukan hal seperti itu.


Jadi Azka sejenak menyampingkan permintaan ibunya dan membantu gadis yang dilihatnya tadi.


Azka membawa gadis itu ke mension tempat dimana biasanya mereka berkumpul bersama Kaiden, Bryan dan juga Raska


Azka meletakan gadis itu di tempat tidur dan membuka topeng dan ketika menyentuh lengan nya Azka merasakan sesak di hatinya membuat nya sulit bernafas.


Dan samar samar terlihat penglihatan kejadian sebelum gadis itu pingsan.


" Apakah dia gadis penyihir itu ? ", gumam Azka setelah rasa sesak di dada nya mulai menghilang.


" Ibu bilang adikku adalah gadis yang mempunyai kekuatan besar itu berarti adikku adalah seorang penyihir api biru ".


" Jadi besar kemungkinan dia adalah adikku ", kata Azka beberapa detik kemudian setelah berfikir panjang.


" Jika itu benar aku harus menjauhkan dia dari Kaiden dan juga yang lain ", katanya lagi kemudian mengambil topeng itu dan menyembunyikan nya dan membuka jubah yang menutupi badan gadis itu.


" Semoga saja kau memang adikku ", katanya dan pergi meninggalkan kamar itu setelah menyelimuti gadis itu.


Setelah semalam berlalu dengan cepat sudah terdengar suara gaduh di ruang tamu dan itu sukses membuat Azka terbangun dari tidur nya.


" Kau disini ", kata Raska yang melihat Azka turun dari tangga.


" Iya ada apa kalian kemari ? ", tanya Azka dengan santai nya dan mendudukkan dirinya di sofa.


" Kau ? ", kata Bryan sedikit kesal namun dihentikan dengan perkataan Raska.


" Setelah menghilang beberapa waktu akhirnya kembali tanpa dosa ", kata Raska dengan sedikit menyindir Azka.


" Aku ada keperluan ", jawab nya singkat.

__ADS_1


" Kau dan dia sama saja ", jawab Bryan dengan kesal.


" Maksud mu ? ", tanya Azka yang memang tak mengerti maksud Bryan.


"Dia sibuk mengurus gadis kecil nya itu dan kau menghilang beberapa hari ", kata Bryan sedikit menjelaskan.


Entah mengapa mendengar perkataan Bryan hati kecil Azka merasakan sedikit sesak seperti alarm berbahaya berbunyi.


' Semoga kau baik baik saja Talitha ', gumamnya dalam hati.


" Kau tahu Afkar terluka oleh penyihir api biru ", kata Bryan dengan semangat.


" Ya aku tahu ", jawab Azka santai karena telah melihat gambaran kejadian semalam dari gadis itu.


" Darimana kau tahu ? ", tanya Bryan penasaran.


" Bukankah kau yang memberitahuku tadi ", Kata Azka membingungkan membuat Bryan berpikir sedikit kemudian mengangguk anggukan kepala bertanda dia mengerti.


Namun hal yang berbeda ditangkap dari mata tajam Raska.


' Sepertinya dia lebih mengetahui kejadian semalam dari pada kami ' , gumam Raska dalam hati karena sorot mata Azka tidak menampilkan sorot mata penasaran dan enggan bertanya kejadian semalam.


" Lalu kenapa kalian ada disini ? ", tanya Azka mengalihkan pembicaraan supaya tidak membahas kejadian tentang Afkar dan gadis itu.


" Iya karena kita tak tahu lagi mau melakukan apa dan juga bosan ", jawab Bryan seadanya.


" Bukankah kau mempunyai hewan spirit kenapa harus bosan ? ", tanya Azka lagi setelah mengingat Bryan mendapat hewan spirit.


" Entahlah, dia pergi beberapa hari dan belum kembali sampai sekarang ", jawab Bryan dengan nada sedikit lesu.


' Jika hewan spirit itu pergi dan kembali lagi besar kemungkinan dia adalah kiriman seseorang. Tapi siapa ?', gumam Azka dalam hati.


" Lalu kau kenapa disini tumben ?" tanya Bryan.


" Aku hanya ingin saja ", jawab Azka santai.


" Tunggu dulu kenapa ada bau manusia disini ? ", tanya Raska karena hidungnya mencium bau manusia walau sedikit samar.

__ADS_1


" Oh itu..", belum sempat Azka menjawab pertanyaan Raska sudah dipotong oleh Bryan.


" Kau jangan jangan sudah mulai terobsesi dengan manusia juga seperti Kaiden ", kata Bryan dengan sedikit nada tinggi.


" Diamlah kau membuat telinga ku sakit. Bukankah kau tidak boleh memotong ucapan ku ?", tanya Azka menyadarkan Bryan karena telah memotong ucapannya dan membuat nya berpikir yang tidak tidak.


" Iya iya maaf ", kata Bryan dengan sedikit penyesalan.


" Aku menemukannya pingsan ditengah jalan kemarin jadi aku membawanya kemari ", kata Azka santai.


" Benarkah hanya itu ? ", tanya Bryan.


" Iya hanya itu ", jawab Azka lagi.


Namun hal berbeda ditanggap oleh Raska. Tidak mungkin seorang Azka hanya menolong gadis yang tergeletak begitu saja besar kemungkinan gadis itu penting bagi nya ataupun ada hal yang disembunyikan oleh Azka.


Sementara mereka masih berbincang bincang gadis itu mulai terbangun dari pingsannya. Melihat pemandangan kamar yang asing dia mengingat ingat hal kemarin yang terjadi.


Dia bertarung dengan Afkar dan menguras tenaga nya begitu banyak sehingga dia pergi dari sana dengan cepat setelah membuat Afkar tak berdaya dan pingsan.


Lalu kenapa sekarang dia ada disini? Yang dia tahu kemarin dia pingsan ditengah perjalanannya menuju ke mension yang disediakan oleh kaum penyihir untuknya.


Memikirkan hal itu membuat gadis itu sedikit pusing sehingga dengan mengumpulkan sisa dari kesadarannya karena baru terbangun. Perlahan lahan gadis itu turun dari ranjangnya dan keluar dari kamar itu mencari seseorang yang bisa membantunya mengingat kejadian semalam setelah dirinya pingsan.


Saat mendengar suara langkah kaki menuruni anak tangga sontak saja semua orang memandang ke arah sumber suara itu. Dan berapa terkejutnya mereka karena benar benar melihat pemandangan bahwa memang menolong seorang gadis yang pingsan.


Dengan langkah pelan namun pasti akhirnya gadis itu menuju ke sofa dimana mereka bertiga berkumpul.


" Ini dimana dan kalian siapa ? ", tanya gadis itu dengan suara sedikit pelan namun masih terdengar oleh ketiga nya.


" Ini di mension kami, aku menemukanmu pingsan dan membawa mu kemari karena tak tahu dimana kau tinggal ", jawab Azka panjang lebar menjelaskan semuanya. Dan sontak saja membuat kedua sahabatnya mengerutkan kening sebab Azka takkan menjelaskan kepada lawan bicara yang baru dikenalnya bahkan kepada orang yang dekat dengan nya.


" Kalau begitu terimakasih sudah membawaku kemari ", kata gadis itu dan menundukkan sedikit kepala nya dengan badan sedikit membungkuk.


" Tidak masalah ", kata Azka santai.


" Kalau begitu bolehkan saya pergi sekarang ?" tanya gadis itu dengan pelan dan penuh antusias karena akan pergi ke mension nya sendiri.

__ADS_1


" Kau sarapan bersama kami dulu. Takutnya kau pingsan ", kata Azka santai dan melangkahkan kaki meninggalkan ruang tengah itu dan menuju ke ruang makan.


Mendengar itu gadis itu hanya menurut dan pergi bersama Bryan dan Raska yang mengikutinya dari belakang juga.


__ADS_2