
"Bunda kenapa ?" tanya Arga saat melihat Bunda Elis berkeringat dingin
"Eng-nggak apa-apa." jawabnya
Arga dapat melihat kecemasan Bunda Elis dari raut wajahnya, namun Ia enggang bertanya lebih jauh.
Arga melajukan mobil meninggalkan supermarket yang kebetulan dekat dari restoran tempat Keenan tadi makan malam.
"Bunda udah balik ?" tanya Victoria melihat bunda Elis baru saja masuk dengan beberapa kantong kresek belanjaan.
Bunda Elis hanya mengangguk, setelah bertemu dengan Keenan dan Mama Mita pikirannya dipenuhi pertanyaan.
Bunda Elis berharap semoga Keenan dan keluarganya tidak tinggal di kota Malang juga. 'Ah... mungkin mereka hanya ada keperluan saja disini.' batin Bunda Elis.
Victoria yang melihat sang Bunda terdiam tau jika Bunda memiliki masalah yang mengganjal.
"Bunda ada apa ? apa Bunda memiliki masalah ?" tanya Victoria
"Ahh... ti-tidak ada, Bunda hanya lelah saja. Cucu bunda sudah tidurkan ?" tanya Bunda Elis mencoba mengalihkan pembicaraan
"Iya. tadi dibantu sama Mami Alice setelah itu baru kembali ke apartemen mas Arga"
"Kalau begitu bunda istirahat ya." ucap Bunda Elis segera masuk kamarnya.
Di apartemen ini sendiri punya dua kamar, kamar utama tempat Victoria dan ketiga bayi kembarnya tidur. Dan kamar tamu tempat bunda Elis. Sedangkan baby sitter yang bekerja dengannya hanya akan datang saat pagi hingga jam delapan malam.
Untuk saat ini biaya hidup mereka Arga yang menanggungnya. Victoria sempat menolak karna merasa tidak enak hati, tapi Arga selalu memliki cara agar Victoria bisa menerima bantuan darinya.
Victoria juga sempat ingin bekerja, namun lagi-lagi Arga melarang alasannya karna Baby Triplet K membutuhkannya.
Victoria memandang ketiga wajah putranya. Ia tersenyum melihat betapa tampannya mereka.
"Kalian sangat lucu fan tampan." ucapnya lalu mencium pipi tembem Baby Triplet K.
"Tumbuhlah jadi anak yang baik budi, berguna bagi orang-orang, jadi anak yang sholeh." ucapnya memandangi putra-putranya lalu memutuskan untuk tidur.
Keesokan paginya apartemen Victoria terasa ramai karna Mami Alice dan Papi Wijaya memutuskan ikut dengan Arga sarapan disini.
"Masak apa ?" tanya Mami Alice yang melihat Victoria sibuk memasak di dapur.
"Pengen masak Bubur ayam Mi, soalnya tadi Mas Arga bilang pengen makan bubur ayam. Sama bikin nasi goreng omelette." ucap Victoria.
__ADS_1
"Wah... anak itu bener-bener. Apa setiap pagi anak bandel itu merepotkan kamu sayang ?' tanya Mami Alice
"Nggak kok Mi. Nggak hanya pagi saat sarapan tapi jiga pas makan malam. hahahah" ucap Victoria bercanda
"Ah sepertinya Mami harus memberikan Arga pelajaran." ucap Mami Alice menanggapi perkataan Victoria dengan serius.
"Heheh bercanda kok Mi, mas Arga nggak pernah ngerepotin Vivi, yang ada Vivi yang ngerepotin mas Arga karna numpang hidup dengannya." ucap Victoria merasa tdiak enak hati
"Yaa ampun, jangan sedih seperti itu sayang, Arga membantu kamu pasti tidak merasa keberatan, karena Mami tau sifatnya Arga. Dia itu orang yang tidak mudah peduli dengan orang lain. Tapi saat Dia memiliki rasa peduli dengan seseorang pasti Ia akan membantu tampa tanggung-tanggung." ucap Mami Alice
"Ternyata mas Arga memiliki sifat baik karna menuruni sifat Mami Alice." ucapnya yang tanpa sadar memeluk tubuh Mami Alice.
Deg. Rasanya hangat dan nyaman sekali, Victoria merasa tenang saat mendapatkan pelukan dari Mami Alice. Begitu juga sebaliknya, Mami Alice merasakan hal yang sama.
'Mami merindukan kamu Anna. Dimana kamu sekarang sayang ? apa kamu masih hidup ?' batin Mami Alice.
'Perasaan apa ini ? kenapa Vivi merasa pelukan ini sangat hangat dan tidak asing ?' begitu juga dengan Victoria yang bertanya dalam hati.
"Eh... ma-maaf Mi, Victoria refleks." ucap Victoria melepas pelukannya
"Tidak masalah, Mami juga sudah menganggap mu sebagai putri Mami. Mau kam kamu menganggap Mami seperti Bunda Elis ?" tanya Mami Alice penuh harap.
"Mi... jangan gangguin Vivi masak dong ! Arga sudah sangat lapar ini. Biasanya Vivi masaknya cepat selesai, tapi karna Mami mengganggunya jadi lama kan." gerutu Arga.
Sebenarnya Arga dan Papi Wijaya melihat interaksi Mami Alice dengan Victoria sangat senang. Apalagi saat Mami Alice dan Victoria berpelukan, rasanya melihat seorang ibu berpelukan dengan putrinya yang sudah dewasa.
Arga juga menyadari jika sang Mami berusaha menahan air matanya, sangat tergambar di wajah Mami Alice jika Ia sedang sedih dan merindu.
"Ish... anak ini, Mami nggak ganggu kok, Mami cuman bantu-bantu." ucap Mami Alice kesal dengan putranya yang merusak suasana hatinya.
"Mami memangnya bantu apa ? Mami kan nggak bisa masak." celetuk Papi Wijaya sontak membuat Arga tertawa.
"Ish... Papi dengan anak sama saja, suka merusak suasana hatiku. Kalau begitu Mami mau ke kamar bantuin mbak Elis memandikan Baby Triplet K." ucapnya ingin segera meninggalkan dapur dan melihat cucu-cucu angkatnya.
"Hati-hati Mi, Mami jangan sampai nekat memandikan Baby Triplet K, karna Mami juga tidak bisa mengerjakan hal seperti itu." ucap Papi Wijaya
"Lalu Mami ini taunya apa dong Pi ?" tanya Arga mulai memancing kekesalan sang Mami
"Bisanya cuman mengomel, shopping saja." jawab Papi Wijaya yang berhasil membuat Mami Alice kesal
"Mami juga nggak bisa ngapa-ngapain karna dari dulu Papi selau melarang Mami belajar masak, memandikan bayi. Semua hanya dibantu oleh asisten rumah tangga, dan baby sitter." Mami Alice mencubit kecil perut Papi Wijaya.
__ADS_1
"Heheh.... Papi kan sangat menyayangi Mami, makanya Papi ngelarang Mami bekerja yang berat-berat, cukup temani Papi dan layani Papi saja." ucap Papi Wijaya
"Sayang sih sayang... tapi jangan seperti itu juga." ucap Mami Alice
Victoria dan Arga hanya tertawa kecil melihat pertengkaran Mami Alice dan Papi Wijaya yang menurutnya hanya karena masalah tidak penting.
"Sudahlah Mi ! katanya mau bantuin Bunda Elis memandikan Baby Triplet K, keburu selesai nanti." ucap Arga
"Aiis... kamu sama saja dengan Papimu" Mami Alice segera masuk ke kamar Victoria.
...****************...
Berbeda dengan suasana apartemen Victoria, di salah satu kamar hotel tiga orang dewasa tampak menikmati sarapan paginya tampa pembicaraan apapun.
Keenan dan Mama Mita masih memikirkan pertemuannya dengan Bunda Elis tadi malam. Sedangkan Audy terdiam karna memikirkan mimpi Keenan semalam
**Flashback On**
Saat tengah malam Audy terbangun karna merasa haus. Entah mengapa matanya sulit terpejam kembali. Jadi Ia memutuskan bermain ponsel.
Tak lama kemudian Ia mendengar suara Arga sedang mengingau.
*Maafkan Daddy... Maafkan Daddy... Jangan Tinggalkan Daddy.... Jangan Hukum Daddy... Daddy Menyayangi Kalian...*
Audy yang mendengar kalimat Keenan hanya mematung. Ia terdiam sangat lama, mencoba mencerna kata-kata Keenan.
"A-apa maksud mi-mimpi mu mas ? Apa kamu menyembunyikan sesuatu ?" ucap Audy lirih.
Ia lalu ikut membaringkan tubuhnya, meski matanya belum bisa terpejam, pikirannya masih dipenuhi dengan kalimat yang diucapkan suaminya, sangat mengganjal meski itu hanya sebuah mimpi.
'Apa ini mimpi buruk yang hampir setiap malam menghantuinya ?' tanya batin Audy.
Ia terus mencoba memejamkan mata, tak lama kemudian Ia ikut menyelami dunia mimpi.
**Flashback Of**
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
**Haiii guys!!! salam kenal dari merauke 🤗 jangan lupa dukungannya ya 🙏 tinggalkan jejak di kolom komentar, dan jika ada kesalahan dari novel yang ku buat mohon beri sarannya ya😊 tapi jangan pedas-pedas ya😅 takut aku nggak sanggup🙈
*stop menjiplak🚫**
__ADS_1