Wanita Lain Itu, Mamaku

Wanita Lain Itu, Mamaku
WLIM 10


__ADS_3

Solusi terbaik yang Nayra ambil akhirnya adalah mendatangkan temannya yang dia kenal melalui Aldo. Nayra menghubungi pria yang membeli mobil bekas melalui direct message di media sosial.


Sore ini, ketika Nayra telah selesai bekerja, pria bernama Taufan itu melihat-lihat mobil Nayra.


"Maaf, Nay ... tapi mobil kamu ini aku hargai murah. Sebab kayaknya kondisi mesin dan beberapa bagian penting mobil ini... kayaknya ya, Nay ...."


Taufan sedikit ragu mengatakannya, melihat ekspresi Nayra berubah. Yah, meski lelah, tapi Nayra lebih menunjukkan keterkejutan, ketimbang bingung.


"Mobil kamu ini nggak terawat sama sekali." Taufan memilih kata yang pas. "Mobil jenis ini, seharusnya Aldo tahu bagaimana harus merawatnya. Tapi ini, kayaknya oli nya saja sudah lama nggak diganti."


Nayra terdiam. Dia memakai mobil ini hanya beberapa bulan sebelum Aldo memakainya dengan alasan mobilnya dijual untuk keperluan bengkel.


"Kamu nggak tau kalau mobil ini udah pernah rusak parah pas Aldo mabuk dan kecelakaan?" Taufan melanjutkan, "pas itu, dia mau jual mobil ini dan tukar dengan warna yang sama, nggak apa-apa kalau dia harus nambah dana katanya."


"Apa?!" Alis Nayra nyaris saling bertaut saking kesalnya. Bisa-bisanya ya, si brengsek itu!


Taufan turut simpati atas apa yang menimpa Nayra. Seperti dugaannya, Nayra adalah korban cinta buta. "Maaf, Nay ... tapi begitulah keadaannya. Selama ini Aldo hanya memanfaatkan kamu."


Meski kuat, Nayra tetap saja ingin pingsan rasanya. Sejauh apa Aldo membuatnya menderita rugi, Nayra hanya bisa menerka. Pantas, dia hanya bisa hidup sederhana, meski pekerjaannya cukup berkelas.


"Kamu mau berapa untuk mobil ini, Nay." Taufan yang hanya bisa mengatakan sebatas itu, sementara yang lain, Taufan enggan memberitahu Nayra. Pasti dengan dijualnya mobil ini sesuatu telah terjadi.


Nayra membasahi bibirnya seraya berpikir. Tapi tentu dia tidak bisa mematok harga, sehingga dia menggeleng.


"Berikan nomor rekening mu, aku kasih harga paling tinggi sesuai keadaan mobil kamu." Taufan mengulurkan ponselnya. "Aku udah untung dengan harga segitu."


Taufan tersenyum. Dia tahu Nayra keberatan dan enggan dikasihani.


Nayra akhirnya menerima ponsel itu, dan mengetikkan nomor rekeningnya. "Makasih ya, Fan... Udah mau aku repotin, udah mau jauh-jauh dateng, udah kasih tau aku tentang Aldo, dan udah kasih aku harga tinggi."


Taufan tertawa tanpa suara, seraya mengambil ponselnya kembali. Kemudian mengetikkan sesuatu di layar ponsel dan tak lama kemudian ponsel Nayra berbunyi.


"Done, ya ...." Taufan memandang Nayra masih dengan senyum yang sama—hangat. "Buruan cek."


"Aku percaya sama kamu, kok." Nayra terkekeh kecil.


"Wah, kamu harus belajar dari kasus mobil mu ini, Nay." Taufan memajukan kepalanya sedikit lebih dekat ke Nayra. "Lelaki itu nggak bisa dipercaya 100%."


Nayra mengerutkan kening, tetapi kemudian tertawa. "Kamu benar, Fan."

__ADS_1


Andai Taufan tau kalau Nayra sekarang sedang menangis dalam hati, pasti Taufan tak akan mencandainya seperti ini. Tapi biar saja semua tau kalau dia sama sekali tidak terpengaruh oleh kejadian ini. Siapapun itu, hanya harus melihat Nayra yang bahagia.


***


Leo sempat melihat Taufan membawa mobil Nayra. Tentu saja Leo tau, mobil itu yang dipakai Aldo main kuda-kudaan dengan nenek-nenek itu, dan dia yang mengambil surat bukti kepemilikan mobil tersebut di kamar Nayra. Ya, Leo mengintip sedikit untuk memastikan barang Nayra utuh waktu itu, buat jaga-jaga, kan?


"Nay ...."


Nayra menoleh secara refleks seakan panggilan dari Leo adalah panggilan yang wajib dia jawab secepatnya.


"Hai ... baru sampai?" Nayra tersenyum canggung. Mengenai tindakan spontan mengiyakan permintaan makan malam dan berpikir untuk memanfaatkan Leo, Nayra malu sendiri. Bahkan menatap mata pria itu secara langsung seperti sekarang sangatlah membuatnya tegang dan kikuk.


"Udah dari tadi ...." Leo sebenarnya masuk dari jam 10 pagi, dan akan pulang jam 6 sore, tapi tentu dia tidak akan mengatakan hal itu pada Nayra. Kepala Leo melongok ke belakang Nayra, dimana mobil Nayra meninggalkan lahan parkir ini. "Mobil kamu?"


Nayra menaikkan alis dan fokus pada bibir Leo, sebisa mungkin dia menghindari tatapan mata Leo yang membuatnya lemas.


"Di jual?"


"Mobil itu sudah kena aura negatif dari dua orang yang berperilaku mirip binatang." Nayra tersenyum, tetapi tak bisa dipungkiri kalau kegertiran hati Nayra sangatlah besar. Ini pasti sulit untuk dilewati Nayra seorang diri.


"Aku bisa kok nemenin kamu." Leo spontan berkata saat meneliti raut wajah Nayra.


"Beli yang baru." Leo menaikkan alisnya, saat gombalannya tidak bekerja pada Nayra. Walau sebenarnya dia menyimpan gombalan pada wanita tertentu yang menurutnya ... menarik.


"Oh ...." Nayra kembali tertawa.


"Kamu ngarep apa memangnya? Nemenin kamu hingga menua?" Leo mengisyaratkan agar Nayra berjalan meninggalkan tempat ini. Jam kerja mereka tampaknya bentrok.


Nayra tertawa kecil, "apaan, sih."


Hatinya sedikit berbunga-bunga.


"Karena kamu nggak ada mobil, jadi nanti aku yang jemput kamu ke hotel." Leo menyusun kalimatnya hati-hati.


"Untuk?" Kening Nayra berkerut hebat. Leo kelewat mengejutkan. Nayra baru tahu—sungguh.


"Makan malam," jawab Leo singkat seraya tersenyum.


Nayra menghembuskan napas lega—dipikirnya apa tadi—pandangannya bertemu dengan pandangan Leo. "Oke ... tapi biar aku dateng pakai taksi aja. Masa tamu belum apa-apa sudah merepotkan?"

__ADS_1


"Apa harus jadi apa-apa dulu biar bisa merepotkan aku?" Leo menaikkan alisnya cepat sebanyak dua kali. "Aku mau banget loh."


Namanya juga usaha, ya, Readers.


Nayra kali ini benar-benar melting. Bukan karena dia gampang digombali, tapi siapa sih yang tidak meleleh kalau digoda melulu sama cowok tampan spek mumpuni begini? Jika saja boleh, Nayra bahkan rela menukar seribu Aldo dengan setengah dari seluruh karakter baik seorang Leo.


Nayra tertawa sampai langkahnya terhenti. Dia membungkuk, wajahnya merah. Malu sih, tapi ini juga kesempatan, yang mungkin jika datang secara random, dia satu dari 10 wanita yang beruntung. Dibuang fucekboy dapatnya rich and handsome guy.


Tentu kualitasnya nggak diragukan lagi.


"Kamu yakin kalau mau nemenin aku, nggak merasa jadi pelarian aja? Siapa tau aku besok suka lagi sama mantan, kan?" goda Nayra masih dengan wajah malu-malunya.


"Yakin banget, sih ... soalnya, di rumah sakit ini hanya merekrut dokter yang waras dan cerdas. Kamu pasti salah satunya, sebab kamu satu-satunya wanita di bagian itu yang diperhitungkan." Leo mengatakan sesuai fakta. Ketrampilan dan ketangkasan Nayra, analisa dan penanganan yang selalu tepat dan sigap, ketenangan, dan kehati-hatian Nayra memang paling unggul. Ini sebabnya, Nayra dipertahankan dengan tawaran gaji yang semakin meningkat.


"Jadi tetap, ya ... Pak Manager menilai saya dari kinerja saya saja." Ya, Nayra tidak bisa tidak tersanjung. Ini juga pencapaian yang tidak bisa diuangkan, dan mungkin Aldo tidak akan bisa mencongkel kenyataan itu dari tubuhnya.


Jadi buat apa dia harus rendah diri karena diselingkuhi, selama dia punya value di mata orang lain, perkara itu bukanlah sesuatu yang perlu dirisaukan. Justru Aldolah yang harusnya sadar sekarang, bahwa dia sudah salah memilih wanita lain yang Nayra pikir, jauh sekali dari kualifikasinya sekarang. Even itu mama tirinya yang berjasa dalam hidupnya. Toh, Nayra selama ini juga tidak menelantarkan Mama Ana.


Alih-alih meratap, Aldo tentu saja sedang memuaskan diri dengan tante kesayangan. Menghujam wanita itu dari berbagai sisi hingga berkali-kali tentu merupakan kesenangan tersendiri.


Miliknya yang panjang ini adalah kesukaan Tante Ana. Dipuja dan dibelai manja. Tatapan wanita itu memang tidak ada duanya. Aldo tidak tahan mendesah jika Ana sudah menguasai barang miliknya.


Suara rolling door dibuka, membuat Aldo menaruh telunjuknya di bibir, lalu berbisik. Poisisi mereka nanggung, tapi takut kalau ketahuan, jadi mereka berdua pindah ke depan pintu dan Aldo mengintip keluar. Dia tahu itu bukan Nayra, tapi apa salahnya berjaga-jaga.


"Bro, gue tau lo di dalam!" teriak orang itu seraya mengelilingi mobil.


Aldo mengintip dari celah daun pintu yang sedikit renggang. "Ah, Tante ... Aku keluarin sekarang, ya!"


Perasaan senang Aldo membuatnya segera mencapai puncak, dan dengan posisi dari belakang dia menembakkan cairan itu di dalam perut Ana yang kini benar-benar menjerit. Hujaman Aldo keras dan dalam.


"Aku bisa hamil, Baby." Ana merintih.


"Bagus kalau hamil, Tan ... setelah itu aku bisa pakai Tante semauku." Aldo melepaskan diri dan membiarkan Ana jatuh terkulai di depan pintu.


Senyum Aldo terkembang sinis, memikirkan Ana yang tak akan bisa berjalan, sebab setelah dia pulih, rencananya dia akan kembali menghujam wanita itu. Sampai pingsan. Sesuatu di luar sana membuat Aldo kembali bertenaga.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2