Wanita Lain Itu, Mamaku

Wanita Lain Itu, Mamaku
WLIM 11


__ADS_3

Lelaki memang tidak bisa dipercaya.


Taufan selalu mengatakan itu pada semua wanita yang dia kenal, tapi mereka tidak percaya, hingga akhirnya terperdaya.


"Gue kasih lu 30 juta, ke Nayra 40 juta." Taufan memberi tawaran, dan Aldo tampak keberatan.


"Muka gue jadi taruhan." Taufan menjelaskan betapa susah usahanya kali ini.


Dia berbohong banyak sekali pada Nayra, termasuk bersekongkol dengan Aldo. Astaga ... Tapi ada banyak hal yang dia katakan dengan jujur. Dan soal uang yang dia beri ke Nayra juga bohong. Setelah dari sini, Taufan akan memberi tambahan pada Nayra 30 juta lagi secara cash. Mobil Nayra ini masih bagus, dan kalau Taufan ini masih manusia, dia takut kalau suatu saat harus berbaring di meja operasi dengan Nayra yang membiusnya. Jika kejahatannya ketahuan, bisa disuntik mati nanti.


Aldo berpikir sejenak. Uang itu terlalu sedikit, tetapi mengingat dia tidak rugi jadi dia mengangguk setuju.


"Aku mau cash aja, Fan." Aldo menenggak bir yang memang selalu tersedia di showcase bengkelnya.


"Nunggu orang gue." Taufan juga melakukan hal yang sama, di sela jemari mereka berdua terselip sebatang rokok yang mengepulkan asap.


Aldo tersenyum lalu mengadu botol mereka. "Thanks Bro."


"Gak masalah." Taufan melirik ke arah kamar Aldo yang pintunya terbuka, menampakkan Ana yang terbaring menelungkup berbalut selimut. "Masih aja sama dia, Do."


"Gue butuh uang dia, walau sekarang makin dikit." Aldo menyesap rokoknya kuat-kuat, kemudian mengepulkan asapnya ke udara. Taufan memandanginya serius. "Kalau lo ada Tante-Tante nganggur, kasih gue lah."


Taufan terkekeh. "Lu tau gue nggak kenal sama yang begitu itu. Mereka merepotkan."


"Lu punya spek bidadari, Bro, uang juga melimpah, nggak kaya gue yang masih merintis." Aldo menatap bengkelnya. "Gua mau jual aja, trus kerja sama orang. Gua gak ada bakat bisnis."


"Ini Nayra yang kelola?" pancing Taufan. Pikirnya, bengkel ini dibeli oleh Nayra melihat Aldo yang masih menjadi piaraan tante-tante demi memuaskan keinginannya berfoya-foya.


"Ya, Nayra yang pegang kendali. Dia bos dan gue hanya karyawan dia." Aldo mendengus frustrasi.


"Jadi itu sebabnya lo putus sama dia?"

__ADS_1


"Gue bosan dikendalikan dia terus, Fan." Aldo masih menolak menatap mata Taufan. Meski salah satunya adalah hal itu.


Taufan terkekeh. "Lo mesti siap cabut kalau gitu. Buruan sewa apartemen. Tar dia bingung lagi mau main dimana."


"Dia punya rumah, gue bisa tinggal di sana." Aldo akhirnya memandang Taufan. "Dia masih ada warisan dari suaminya, yang seharusnya dikasih ke Na—maksudku anak kandung suaminya. Selama gue nurut, gue bisa ngelakuin apa aja semua gue."


"Bangsad lo emang." Taufan berdiri, masih terkekeh, lalu menepuk pundak Aldo. "Gue balik dulu, ayang udah nelpon. Entar lo bicara sama orang gue aja."


Aldo mengangguk. "Thanks Bro!"


Keduanya berjabat tangan sebelum berpisah.


"Lo pikir, ninggalin gue semudah itu, Nay! Lo tetap gue bodohi meski gue nggak dapet semuanya." Aldo menatap jalanan yang barusan di tinggalkan Taufan.


***


"Aku gugup." Nayra menggenggam tangannya sendiri sebab gemetar yang dihasilkan sungguh bisa membuat badannya seperti menggigil.


Mata Nayra memandangi seluruh penjuru rumah ini tanpa berkedip saat turun. Ini rumah terbagus, termewah, termegah, sekaligus estetik. Nayra sungguh takjub sampai tak bisa fokus ke Leo.


Ini bukan rumah, tapi istana. "Serius di sini kamu hanya tinggal sama Papa kamu?"


"Papa sendiri lebih tepatnya, aku sering tinggal pindah-pindah, dari hotel satu ke hotel lain, rumah Papa yang lain, atau ke vila Papa yang jarang kami datangi. Baru tinggal disini setelah Papa sakit dua bulan lalu."


Nayra menatap Leo. "Sakit apa? Jantung itu—em, maksudku ... pemasangan ring jantung itu beneran? Semua bergosip soal itu pas kamu cuti ke Singapura kemarin."


Dia meski cuek, tetap saja terpengaruh pada bahasan di meja makan kafetaria, lorong-lorong rumah sakit, bahkan bangsal yang kosong kerap mereka gunakan untuk bergosip.


"Benar ...." Leo memang tak berniat menutup-nutupi apapun pada Nayra. Entah kenapa sekarang lebih sering bicara terbuka pada Nayra. Enak saja suaranya itu di dengar. Bahkan dia sempat yakin, Nayra tak pernah marah saking kalemnya. tapi setelah kemarin, dia malah ngeri sendiri pada Nayra. Pikir-pikir deh, kalau mau nyakitin Nayra.


"Ya ampun, calon mantu udah sampai." Suara Edo menginterupsi hingga mereka berdua langsung fokus ke Edo yang memakai pakaian rumahan yang santai.

__ADS_1


Nayra menatap Leo, lalu pakaiannya sendiri. Dia sudah memakai dress satu bahu berwarna merah marun yang sampai ke mata kaki, heels runcing di ujung yang menyiksa jari kakinya, dan jangan lupakan riasan yang tampak menyatu jika lampu ruangan diatur sedikit redup.


"Aku ...."


"Leo emang nggak salah pilih." Edo mendekat, lalu menyalami Nayra yang sudah siap menyambutnya. "Malam ini nginap di sini, kan?"


Nayra terkejut sampai matanya melebar, tangannya menjawil jari kelingking Leo. Setelah bertanya dia harus jawab apa. Di saat ini, Nayra dalam posisi tidak bisa menawar. Edo terlalu baik.


Edo manggut-manggut paham, meski tampak dia tidak terlalu senang soal fakta dirinya akan ditinggalkan. "Oke ... kalian berhak punya privasi. Silakan kembali ke hotel lagi setelah makan malam ini selesai."


Leo melotot ke arah Papanya sejak pria tua itu dengan gaya sok ramah menyapa Nayra. Dasar caper!


"Nayra besok kerja—"


"Lain kali saya akan menginap, Pak. Sekarang saya tidak punya persiapan." Nayra tak keberatan. Rumah sebesar ini kamarnya tidak mungkin hanya ada dua kan? Iya kan saja dulu, urusan bagaimana nanti pikir belakangan. Toh membuat senyum bahagia terbit di bibir seseorang tidak harus melulu denga uang. Hanya satu kaya iya, dan Edo sudah bisa sumringah lagi.


"Calon mantu idaman beneran, kalau gini." Edo mengacungkan jempol ke arah Leo. "Perjaka tua Papa akhirnya siap nikah juga."


Nayra langsung menutup mulutnya sebab nyaris saja dia kelepasan tawa. Astaga ....


"Buruan kawinin, Le ... Papa udah pengen nimang cucu..Jangan di sia-siain benihnya, biar cucu Papa lahir sempurna. Apalagi wanitanya seperti Nayra, keturunannya pasti luar biasa."


Edo terkekeh lalu meninggalkan mereka berdua. Terserah mau makan malam atau saling memakan, Edo tidak peduli. Dia hanya mau Leo segera menikah. Dan jodohnya sesuai sekali dengan kriteria menantu idaman Edo. Wanita berprofesi, cantik, good attitude, pintar, dan seksi. Harusnya Leo lebih gercep, agar semua pria memujanya mendapat wanita berspek tinggi.


*


*


*


maaf kalau ada nama ketuker🤭

__ADS_1


__ADS_2