
Ponsel Ana berdering keras dan berulang-ulang. Wanita di atas ranjang tanpa sehelai benang itu berdecak seraya menggosok telinga seakan ada serangga yang mengerubutinya. Namun ponsel itu tidak menyerah untuk mengganggu Ana.
"Siapa sih pagi-pagi begini nelpon?!" Hentakan kasar membuat setengah badannya terekspose sempurna. Tanpa membuka mata, Ana meraih ponsel dan menjawab panggilan itu.
"Halo ...!" sapanya sedikit sewot lalu menguap.
"Ana, kamu dimana? Rumahmu digeledah oleh polisi!"
"Apa?!" teriak Ana seraya berdiri dan berkacak pinggang. Kebingungan menghiasi wajah kuyu wanita 50 tahunan itu.
"Buruan pulang deh ... aku nggak bisa jelasin di sini."
Ana segera mematikan panggilan itu dan meraih pakaian seadanya. Pasti sesuatu terjadi dengan bisnisnya.
Bengkel hari ini buka, Aldo yang tampaknya belum lama bangun berdiri di hadapan pegawainya. Kelihatannya mereka sedang ada masalah.
Menyadari kehadiran Ana, Aldo menoleh. Dia curiga melihat Ana yang sibuk menelpon, dan panik.
"Ada apa, Tan?"
"Rumah Tante digeledah polisi, bisa anter Tante pulang?" Ana berkata begitu saja, tanpa menyadari ada beberapa orang yang memandangnya heran. Tentu sebagian mereka tahu siapa Ana, dan keadaan Ana hari ini membuat mereka tidak bisa berpikir positif.
Aldo menyadari Ana mungkin kaget melihat karyawannya, jadi segera menyanggupi.
Namun sebelum itu, Aldo menghadapi karyawan dan menghardik selayaknya bos berkuasa pada bawahannya. Nadanya penuh ancaman. "Selesaikan saja pekerjaan kalian! Soal itu kita selesaikan nanti!"
Meski merasa kalau ini tidak benar, namun karyawan itu segera mulai bekerja.
Aldo dan Ana berjalan tergesa-gesa menuju mobil. Keduanya panik dengan masalah mereka sendiri-sendiri.
__ADS_1
"Apa kita lapor Bu Nayra aja, ya ... ini udah kelewat batas menurutku. Kalau Bos Aldo mau nikah sama Bu Nayra, kenapa malah nampung mamanya kan?" Seorang pegawai bengkel berinisiatif. Toh mereka digaji oleh Nayra, meski Aldo yang berada di bengkel setiap hari.
"Telpon aja Bu Nayra-nya. Mumpung lagi pada keluar." Yang lain menimpali, seraya terus memerhatikan mobil Aldo.
Yang di suruhpun segera menelpon Nayra, yang saat ini sedang berada di rumah sakit.
Nayra sebenarnya ada konsultasi dengan pasien yang akan melakukan operasi, tetapi karena panggilan itu, dia menunda sejenak dan meminta agar karyawan bengkel tenang.
Napas Nayra terhembus perlahan, lalu menoleh ke arah wanita yang wajahnya ditutup sebagian besar oleh perban.
"Makasih kesaksiannya, ya, Kak ... tanpa bantuan Kakak, saya tidak akan bisa membuktikan kalau produk kosmetik ternama ini mengandung merkuri." Nayra mengusap lengan pasien yang ditangani di UGD tadi pagi.
"Sama-sama Bu Dokter." Wanita itu mengangguk lalu setelah berpamitan dia meninggalkan Nayra dibantu Meli.
Kemarin ketika Nayra baru datang, seorang wanita dilarikan ke rumah sakit karena wajahnya terasa panas dan terbakar. Saking histerisnya si pasien, Nayra ikut menghampiri dan membantu rekannya. Hingga setelah berhasil ditangani untuk sementara, pasien wanita itu mengatakan krolonologi kejadiannya.
Ketika satu merk disebutkan, Nayra terkejut karena produk itu adalah produk yang dipasarkan Mama Ana sejak sepuluh tahun lalu. Kemudian Nayra meminta sampel untuk keperluan pemeriksaan.
Berbekal bukti tersebut, Nayra meminta bantuan pasien itu untuk melaporkan ke polisi dan dibantu oleh salah seorang dokter yang aktif di sosial media, banyak aduan yang datang sehingga hari ini, Meriana dan kelompoknya diburu.
Nayra hanya memberi jalan pada korban penipuan krim abal-abal, dia sebelumnya tidak bermaksud untuk membuat Mama Ana menderita secepat ini. Paling tidak, tangan Nayra sendiri yang menjatuhkannya.
Sementara di kompleks perumahan Ana, polisi dan beberapa pihak menemukan berkilo-kilo krim yang siap dikemas, puluhan pak wadah krim, label, dan alat penyegel.
"Ini yang terbesar, ditempat lain hanya sedikit kita peroleh barang bukti, apa masih ada tempat lain?" Beberapa petugas saling berdiskusi di depan mobil yang berisi barang bukti.
"Sudah selesai, tempat dimana produk ini disimpan sudah diamankan."
Mereka bubar, menyisakan segelintir orang yang mengamankan rumah.
__ADS_1
Ana bersembunyi di dalam mobil Aldo, panik dan bingung. Beberapa rekannya sudah tidak bisa dihubungi, sisa satu dua yang juga baru mendapat kabar dan langsung berjanji untuk bertemu.
"Kok bisa ketahuan, sih, Tan ... apa bos Tante nggak bungkam aparat?" Aldo tampak frustrasi di atas setir kemudinya. Matanya tak putus mengamati pergerakan di depan sana. Jika semua sudah di sita, maka bisa jadi Ana akan ditahan dan tak ada kesempatan lagi memiliki harta warisan Ana.
Suami Ana dulu adalah seorang pengusaha di luar pulau, kekayaannya seharusnya tak akan habis meski Ana berfoya-foya setiap hari.
"Ini pasti ulah Nayra ... hanya dia yang tau kalau aku simpan barang itu dirumah!" Ana tidak menoleh ke Aldo saat berbicara, matanya juga sibuk mengawasi penyitaan tersebut.
"Terus gimana dong ini, Tan ...? Kita nggak bisa sembunyi terus kan?" Aldo mulai kesal.
"Bisa diam nggak sih, Al ... aku lagi kumpulin teman-teman buat bahas langkah selanjutnya! Jangan merengek kaya anak kecil gini, dong! Bantu cari jalan keluar biar kita cepet lega!"
"Ck ...." Aldo berdecak marah karena Ana membentaknya. Dia tidak suka diperlakukan seperti itu.
"Antar Tante ke rumah teman Tante di luar kota, sekarang! Jangan sampai ketahuan kalau kita di sini!" titah Ana yang membuat Aldo mendengus kesal, tetapi mau tak mau dia jalan juga.
Ketika mobil polisi itu meninggalkan lokasi, Ana juga meminta Aldo untuk segera pergi. Dia tidak mau jika ketahuan sekarang. Uang Nayra belum cair semua. Dan dia belum puas menyiksa Nayra, masih ada kekasih Nayra yang harus direbutnya.
Ya, memang beberapa simpanan berupa deposito bisa dicairkan sebab Ana selama ini selalu berbuat baik kepada Nayra. Mengurus Nayra, sampai bekerja dan tidak menikah. Itu dilakukan agar kuasa atas Nayra tidak dialihkan ke saudara ibu Nayra yang lain. Ana memerankan ibu tiri baik hati dengan baik selama ini.
Sayang sekali, bagian Nayra dan Titi belum semuanya bisa diuangkan, yang menurut surat wasiat bernilai milyaran. Jauh sekali jika dibandingkan dengan Ana yang hanya mewarisi sedikit saja peninggalan suaminya.
"Cih, dasar suami pelit! Untung sebelum kamu mati aku sudah menyimpan tabungan yang cukup untuk mendirikan usaha dan diriku sendiri, jadi aku bisa menikmati hari dengan tenang. Dan karena Nayra aku tidak keluar uang sedikitpun untuk makan dan shopping." Ana membatin.
"Dasar Nayra bodoh!"
*
*
__ADS_1
*
Selamat menyambut tahun baru 2023 semuanya😍😍😍 semoga sehat selalu, berkah usianya, sukses usahanya, langgeng hubungannya, dan semoga apa yang belum tercapai di tahun ini, bisa tercapai di tahun depan ... Aamiin🤲🏻