Wanita Lain Itu, Mamaku

Wanita Lain Itu, Mamaku
37


__ADS_3

Prang!


Nurul kaget dan berjalan cepat ke arah dapur. Sedari tadi banyak insiden yang terjadi di dapur, yang membuat paginya yang biasa rapi menjadi kacau. Ia melihat Ana berjongkok mengambil pecahan piring yang baru saja dia jatuhkan.


"Astaga, Meri!"


Ana mendongak dengan wajah pucat dan tangan gemetar. Dia tahu piring yang dia pecahkan harganya berapa. "Maaf, Bu ...."


Nurul ikut berjongkok melihat Ana yang begitu panik. "Kamu mikir apa, sih? Dari tadi pagi kamu bikin salah terus?!"


Ana menatap Nurul mengiba. Mungkin ini jalan satu-satunya.


"Bu, saya izin ke rumah saudara saya yang sedang sakit, apa boleh?" Ana sejak pagi kelimpungan sebab Nayra berada di rumah. Dia sama sekali tidak tahu kalau Nayra sudah tak bekerja lagi di rumah sakit.


Sial sekali nasib Ana. Padahal, dia sudah menyusun rencana matang untuk membawa sertifikat itu langsung ke tangan pembeli. Dia kenal beberapa orang yang bisa membeli dengan cepat walau harganya sangat murah. Namun tampaknya, dengan Nayra berkeliaran di rumah ini hari ini, membuat Ana merasa tidak aman. Bisa saja Nayra memeriksa lagi sertifikat nya, lalu dengan mudah menuduh dirinya dengan barang bukti di tangan.


Nurul akhirnya berdiri seraya menghela napas. Jika tidak diizinkan, berapa banyak lagi kesalahan yang dilakukan Ana dan barang yang dipecahkan? Nurul tidak punya pilihan. "Jangan lama-lama, ya ... kamu sebenernya masih diawasi bagaimana kinerjamu di sini. Aku beri waktu satu jam. Tidak ada keterlambatan, atau kamu benar-benar harus berkemas."


"Baik, Bu ... saya akan cepat." Ana membungkukkan badan, lalu mundur sebelum berjalan sangat cepat meninggalkan rumah Eduardo. Walau dia tidak terlalu peduli akan ancaman Nurul, tetapi sampai hasil jual rumah dan bengkel itu di tangan, Ana masih harus bertahan di sini. Masih ada rasa kesal saat melihat Nayra bersanding dengan pria kaya lain yang jauh segalanya dari Aldo. Dia setidaknya ingin membuat Nayra menderita walau sedikit.


Ana memesan taksi dengan sisa uang yang dimilikinya, lalu menuju bengkel dimana Aldo tinggal. Dia akan menyerahkan sendiri sertifikat itu pada Aldo dan menyuruh pria itu segera menjualnya.


Bengkel tampak sepi, hanya beberapa orang sedang memperbaiki mobil seperti biasa.


Ana turun dan setengah berlari masuk ke bengkel Aldo. Dia menuju kamar Aldo dan melihat kamar itu kosong. "Sial ... kemana sih, perginya? Masih pagi juga?"


Ana melangkah ke bagian kasir dimana Aldo biasa menghabiskan waktu selain di kamar dengan memainkan game judi di ponsel.


Lagi-lagi, tak ada siapapun di sana. Hanya seorang pria berkacamata dan seorang wanita yang berdiri dibalik etalase berisi sparepart.

__ADS_1


"Aldo dimana?" Mereka berdua saling pandang saat dihardik Ana. "Kalian orang baru, ya?"


Melihat Ana, salah seorang pegawai bengkel mendekat. "Bu Ana mencari Bos Aldo?"


Ana menoleh lalu membuang muka seraya mencubit hidungnya. Pria itu lusuh dan bau oli. Ana tidak suka. Namun dia tak punya pilihan selain menjawab.


"Iya ... dimana bos kalian?!" tanya Ana sengau.


"Bos Aldo pergi sejak kemarin siang, Bu ... belum kembali hingga sekarang." Pria itu mundur untuk menjaga jarak. "Apa ada yang bisa saya sampaikan?"


"Pergi sama siapa dia?" Ana menyelidik curiga.


"Sama teman perempuannya, Bu."


Ana berdecih seraya membuang muka ke samping. "Sudah kuduga," batin Ana.


Ana membuang napas kasar lalu meraih telepon bengkel untuk menghubungi Aldo. Namun, hingga beberapa saat lamanya, Aldo tak menjawab panggilannya sama sekali.


Ana mempertaruhkan segalanya. Mereka bagaimanapun telah lama bekerja dengan Aldo dan masih setia, jadi Ana percaya.


"Begini ... saya mau titip sertifikat ini ke kamu. Karena saya ada urusan, jadi saya nggak bisa nunggu Aldo pulang." Ana menunjukkan sertifikat itu ke depan pria berpakaian lusuh itu. Ana menatap lurus pria tersebut dengan sedikit kecaman yang menguar dari pandangannya.


"Kamu jaga baik-baik, dan begitu rumah ini terjual, aku akan beri kalian semua uang sebagai bentuk imbalan. Baik Nayra atau siapapun selain kalian dan Aldo, tidak boleh ada yang tahu soal ini! Kalian mengerti?"


Ana memindai semua orang yang ada di sini. Meminta kesanggupan dengan ancaman yang kuat.


"Kalau kalian sampai membocorkan, kalian akan tanggung akibatnya! Paham?!" Ana sekali lagi menekankan.


"Tapi, Bu ...."

__ADS_1


"Satu juta satu orang jika kalian sanggup!" Ana menawarkan.


Pegawai bengkel itu menunduk dalam bimbang. Lalu kemudian mendongak dan mengangguk. "Baik, Bu. Saya akan jaga baik-baik amanah ibu."


Ana tersenyum senang. Lantas mengulurkan dua buku bersampul tebal berwarna biru tua itu ke tangan pria tersebut.


Pria itu menerima dengan tangan gemetaran, tetapi belum sampai menyentuh tangannya, buku itu ditarik lagi sehingga dia mendongak dan bertemu tatap dengan Ana.


"Pastikan hanya Aldo yang menerima buku ini!" Ana menegaskan dengan sorot mata yang mengancam.


Pria itu mengangguk. "Saya akan pastikan sendiri, Bu ... saya sanggup."


Ana tersenyum senang. "Bagus. Aku pegang kata-katamu, kalau sampai ingkar, kamu akan tanggung akibatnya."


Pria itu mengangguk lagi sampai menunduk.


Dengan perasaan tertekan, Ana menyerahkan sertifikat ke tangan pria itu. Dia bertaruh kali ini. Semoga semua baik-baik saja.


"Ingat, satu juta atau kepala kalian taruhannya!"


Lagi-lagi pria itu mengangguk dan mendekap sertifikat dengan erat.


Ana memindai mereka untuk mengingat setiap detil wajah mereka sebelum pergi karena waktunya semakin menipis. Astaga ... Kenapa dia mau saja diperbudak begini? Padahal dulu dia punya segalanya.


Pria tadi mengantarkan kepergian Ana dengan pandangannya, lalu membuang napas kasar.


"Bagaimana? Berhasil?"


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2