
Nayra hanya berharap, kakinya bisa secepatnya pulih. Menghadapi dua pezina itu membutuhkan tubuh yang kuat dan rencana yang matang. Surat berharga telah berada di tangannya, dia hanya butuh waktu untuk mengklaim seluruh miliknya kembali dan mengusir tikus-tikus pengganggu dari properti miliknya.
Nayra pulang lebih lambat dari jadwal pergantian shift seperti biasa. Hari sudah malam ketika Nayra menunggu taksi di depan rumah sakit. Berulang kali Nayra memeriksa ujung halaman, berharap taksi segera datang.
"Nay ... !"
Mata Nayra bergerak cepat ke sumber suara dan bersikap defensif saat Aldo berada di ujung penglihatannya.
"Stop!" Nayra mundur agar Aldo tak sampai menjangkaunya. "Berhenti di situ! Satu langkah saja kau mendekat, aku teriak!"
Nayra menunjuk pos sekuriti, halaman yang ramai orang, dan lobi yang penuh dengan keluarga pasien juga pengunjung. Di sini dia punya kekuatan, Aldo salah strategi jika datang kemari mencari perkara.
Aldo mengangkat kedua tangannya sebatas bahu, kemudian mengendik—Nayra mendengus jijik. "Aku hanya mau jemput kamu—seperti biasa."
"Owh ...!" Nayra melihat ke arah mobil miliknya terparkir. Seketika dia memikirkan sesuatu.
"Apa sudah jadwal bayar pajak mobil? Sepertinya aku belum bayar pajak untuk tahun ini."
"Apa?!"
"Aku lupa saking sibuknya, jadi berikan surat-surat mobilnya padaku!" Nayra mengulurkan tangannya ke depan Aldo.
"Nay ... Aku mau bicara sama kamu. Tolong jangan bahas hal lain dulu." Aldo sebenarnya lega Nayra seperti sudah melupakan kejadian kemarin. Meski dia sempat takut akan ancaman Nayra tadi. Tapi mungkin memang Nayra terlalu cinta padanya sampai lupa dia pernah menyakiti Nayra selama bertahun-tahun.
Jadi yang dia lakukan adalah membicarakan soal kemarin seolah dia khilaf. Nayra bisa kembali disalahkan atas kekhilafannya.
"Tapi pajak lebih penting, kan? Emang kamu mau ditilang karena belum bayar pajak?" Nayra mendesak tidak sabar. Dia sedang berhitung dengan waktu kedatangan taksi pesanannya. Yang dia lakukan adalah kabur setelah kunci dan surat kendaraan berada di tangannya. Yah, walau hanya berapa ratus juta, tapi disana ada keringat Nayra.
"Buruan sini!" desak Nayra tak sabar.
Aldo mengerutkan kening, "Bisa nanti aja, kan ... besok aku bisa bayarin."
"No Aldo! Itu mobil aku!" seru Nayra kesal, tetapi dia segera merubah ekspresi dan merendahkan nada suaranya yang sempat meninggi. "Maksudku aku nggak mau merepotkan kamu. Tanggunganmu juga masih banyak."
Aldo tersenyum. "Oke-oke! Tapi tahun depan, aku yang bayar ya, nggak enak kalau kamu terus yang bayar."
__ADS_1
Tangan Aldo merogoh saku dan menyerahkan kunci mobil. "Surat-suratnya ada di dalam. Belum sempat aku pindahkan setelah ke luar kota kemarin."
Nayra menerima kunci tersebut bersamaan dengan ponselnya yang berdering. "Gak apa-apa. Santai aja!"
Nayra bergegas mengambil ponsel sekaligus memasukkan kunci mobil ke tasnya. "Aku jawab telpon dulu, ya."
Aldo mengangguk dan menjauh sedikit dari Nayra. Meski kepo, Aldo harus terlihat seperti pria baik. Nayra harus dijejali imej polos dan baik hatinya, agar dia mudah luluh.
Nayra berdecih dengan bibir meliuk. "Bodoh!"
Nayra menjawab panggilan telepon yang ternyata dari sopir taksi yang dipesannya Mengabarkan bahwa dia telah sampai di depan rumah sakit.
"Ya, Pak ... saya nunggu di halaman. Pakai blazer hitam—iya-iya, benar. Saya yang pakai celana panjang coklat."
Segera Nayra melangkah ke sisi halaman di mana mobil pengunjung dan pasien parkir.
Taksi pesanan Nayra sampai di ujung halaman, dia melambai seraya berbicara dengan suara keras agar Aldo tidak curiga niatnya. Tepat saat taksi berhenti di depan Nayra, dia menekan tombol pada kunci mobil yang bisa mengunci total mobilnya.
"Nay!" Aldo terkejut bukan main melihat Nayra masuk ke dalam taksi yang tadi sempat melambat di depan Nayra. Dia tidak menyangka sama sekali Nayra telah memesan taksi dan kabur.
Aldo mengejar taksi yang melaju cepat meninggalkan halaman. Dia tercengang dan merasa bodoh. "An****!"
Dia melihat Nayra tadi, memperhatikan dengan jelas, tetapi sikap kalem Nayra membuatnya terperdaya. Nayra kabur dengan mudahnya lalu dia melongo di sini tanpa bisa mengejar atau menemukan dimana wanita itu tinggal.
"Sial!" Aldo menendang udara kosong di depannya, kemudian menghentak-hentak kakinya—frustrasi sambil terus mengumpat. "Nayra ... kau cari masalah denganku, rupanya!"
Aldo semakin benci wanita itu. Semalam, dia sampai tidak tidur memikirkan dan mencari Nayra. Tapi setelah dipikirnya, Nayra ini pasti akan memaafkannya, dia berhenti dan kembali ke rumah Nayra. Menikmati sepanjang pagi hingga siang hari bersama Tante Ana jauh lebih nikmat. Namun ... semua hancur karena Nayra telah menyusun rencana untuk menjatuhkannya.
"Setelah ini, dia pasti akan menarik uang dari rekeningku, lalu bengkel, dan terakhir rumah yang ditempati bersama Tante Ana. Nayra pasti akan menjualnya." Aldo berhitung dalam gumaman. Kemudia bergegas mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
"Gue butuh uang cepet, ada bengkel dan rumah yang mau gue jual, tapi nggak ada surat tanahnya, lo bisa bantu gue?" ucap Aldo pada seseorang di seberang telepon. Pria itu gemetar, tangannya mengepal, rasanya dia belum pernah marah sampai sehebat ini. Namun, dia tetap berusaha fokus mendengarkan informasi yang disampaikan lawan bicaranya.
"Oke, gue tunggu kabar baik dari lo!" Aldo segera mematikan sambungan telepon dan berjalan cepat meninggalkan rumah sakit. Dia terus mengutuk sampai menemukan taksi untuk membawanya pulang.
***
__ADS_1
Sesampainya di hotel, Nayra segera membuang kartu di ponselnya, lalu menggantinya dengan kartu baru. Dia tahu setelah ini dia tidak akan aman.
Dia tidak punya pengacara, tetapi dia bertanya pada beberapa orang yang dirasa bisa membantu mengamankan harta bendanya.
Pertama-tama, dia harus mengamankan mobilnya. Nayra akan menjualnya. Walau berat, tetapi mobil itu sudah dipakai untuk tindakan perzinahan. Mengotori kerja keras Nayra.
Ke dua, dia harus cari tempat dengan keamanan yang tinggi. Mungkin Leo bisa membantunya mencari hunian yang bagus.
"Tapi kenapa mesti Leo?!" Nayra menipiskan bibir dan memikirkan obrolannya dengan Leo tadi siang.
"Apa aku terlihat murahan kalau minta Leo jadi kekasihku setelah apa yang dilihatnya kemarin? Apa dia tidak akan merasa seperti pelarian saja?"
Entahlah, tapi dia harus minta kompromi dulu dengan Leo. Nanti dia akan membayar Leo sebanyak yang dia mampu.
***
Jika Nayra terlambat, Leo juga pulang jauh lebih lambat dari semuanya. Wajah lelahnya tak bisa disembunyikan lagi saat di masuk dan disambut seorang pengurus rumah tangga.
Edo yang sudah memakai piama, bahkan sudah setengah memejamkan mata bergegas bangun dan mencegat anaknya.
"Bagaimana?" Edo menghadang langkah Leo, menatap anaknya itu lamat-lamat—penuh harap sementara Leo meliriknya malas.
"Besok di rumah jam 8 malam." Leo menguap. Dia asal bicara saja. Toh Nayra memintanya mengatur waktu yang tepat. Besok adalah idealnya. Tapi tidak tahu juga, semoga Nayra sudah bisa pulang sebelum jam itu.
Edo terkekeh senang. "Papa hubungi Chef Clark sekarang saja, kalau begitu."
Leo yang menggosok belakang kepalanya agar matanya tetap terjaga sampai ke kamar mendengus. "Nayra itu dokter, dia bisa ada jadwal operasi kapan saja!"
Edo bingung, "jadi Papa harus menjamu calon mantu pake menu warteg gitu?!"
"Nayra bukan wanita yang sulit ...."
"Dan wanita yang seperti itu wajib di hargai ...."
Leo menoleh, menatap Papanya yang sudah kesenangan dengan senyum yang terpasang di bibirnya. Seakan Nayra ini pasti bersedia jadi menantunya.
__ADS_1
Edo menaikkan sebelah alisnya. "Papa buat dia mau jadi istri kamu, kalau kau masih ragu sama rencana Papa."
Leo mendengus. Sudahlah, berdebat dengan pria tua itu pasti tidak akan menang.