Wanita Lain Itu, Mamaku

Wanita Lain Itu, Mamaku
26


__ADS_3

Melihat Leo tertidur di ranjangnya, Nayra hanya tersenyum. Sekilas dia ingat bagaimana pria itu melakukannya. Meski malu, Nayra mengakui mungkin Leo salah satu dari ribuan pria yang menjadi impian wanita. Mapan dan lihai memanjakan wanita—lahir dan batin.


Sedikit dibandingkan dengan Aldo yang egois, Leo sejuta kali lebih baik. Dia hanya perlu membiarkan Leo mengenalnya jauh lebih dalam.


Kelihatannya, makan malam belum berakhir, jadi Nayra menyelinap keluar. Melewati kamar-kamar dan lorong yang panjang dengan cahaya temaram.


Suara dari sebuah ruangan dengan pintu sedikit terbuka, membuat Nayra berhenti sejenak.


Itu adalah suara Papa Edo, dan Papa Edo sedang membelanya? Lalu apa itu? Leo seorang pewaris juga? Ah, mungkin dia harus mengenal Leo lebih dalam agar dia paham silsilah keluarga besar ini.


Suara itu reda, lalu Nayra mundur untuk masuk ke kamar sebelah agar tidak ketahuan menguping.


Dari celah pintu dia bisa melihat Ana keluar dengan wajah kesal luar biasa. Bibir wanita itu menukik sinis. Nayra tersenyum; pasti Ana kesal padanya.


"Tapi sialan sih, kalau benar dia pewaris! Nayra pasti besar kepala."


Nayra tertawa dalam hati mendengar kekesalan Ana. Belum apa-apa, Ana sudah kebanting lebih dulu. Entah apa yang Papa Edo katakan, tapi Nayra berterimakasih. Meski suatu saat dia harus mengakui kalau dia mendekati Leo karena ingin mendapatkan keuntungan.


Mata Nayra masih mengawasi Ana yang terus saja menggerutu, tetapi gerutuan itu samar terdengar di telinga Nayra.


"Edo dan Leo hanya belum tahu saja bagaimana hebatnya aku, jadi wajar mereka angkuh di depanku. Tunggu sampai aku membuat kalian tunduk dan hanya akan mendengar apa kataku!"

__ADS_1


Mata Nayra membulat sempurna, terkejut bukan main. Dia tidak menyangka Ana masih bertekat melakukan kejahatan sementara dia sedang diburu oleh polisi. Jadi sekarang tujuan Ana berubah? Dari menggoda kekasih bertambah menggoda mertua juga? Jadi jika Leo gagal digoda, maka Ana akan tetap bisa mengendalikannya melalui tangan mertuanya?


Ini hebat ... Tapi tidak ketika Ana sudah membocorkan sendiri tujuannya. Nayra hanya harus mengubah strategi. Dekat dengan dua pria itu agar Ana tidak bisa menggoda mereka.


Beberapa saat berlalu, Nayra akhirnya keluar kamar dan melangkah dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Di depan ruangan Edo, Nayra sengaja melambaikan langkah, berharap mereka berpapasan.


Sedikit menunggu, Edo akhirnya keluar dan kaget melihat Nayra yang berdiri di depan ruangan pribadinya.


"Loh, Nay ... kenapa berdiri di sini? Leo mana?" Edo berjalan pelan mendekati Nayra yang langsung berpura-pura kakinya sakit.


"Ini, Om ... tadi kepelintir. Nggak biasa pake heels." Nayra menunjuk kakinya dengan sedikit menaikkan gaun yang dikenakannya.


"Waduh, kalau sakit mending balik ke kamar aja." Edo panik.


"Udah, mereka hanya perlu pengumuman soal pernikahan kalian. Leo sudah lama dijodoh-jodohkan, dikatain penyuka sesama, dan lebih buruk, Leo dituduh "Nggak bisa berdiri" karena selalu menghindari perjodohan bahkan menolak membawa wanita yang dikencaninya ke rumah." Edo meminta Nayra berpegangan padanya. Kemudian pria itu melanjutkan bercerita setelah Nayra memegang lengan Edo.


"Leo itu pemilih, dan tidak akan melakukan apa-apa kecuali hatinya tergerak. Dan yah, kamu pasti special di mata anak Papa itu." Edo berjalan menunggu Nayra yang kesusahan—tentu Nayra hanya pura-pura.


"Saya hanya wanita biasa saja, Om ... bahkan saya terkesan memanfaatkan Leo karena kebaikannya. Mungkin saya kesialan bagi Leo ... Leo hanya apes pas nolong saya dan ketahuan anda." Ucapan Nayra membuat Edo tertawa kecil.


"Saya baru saja diselingkuhi pacar saya dan bertemu Leo yang membuat pacar saya salah paham hingga saya putus sama dia. Leo membantu saya, Om ... setidaknya, ketika nanti mantan saya tahu siapa Leo, dia bisa berpikir kalau dicampakkan bukan berarti tidak ada yang mau sama saya."

__ADS_1


"Kamu benar ... dunia ini adil bagi semua orang. Dan saya bilang, kamu beruntung, meski kamu tidak sengaja bertemu Leo. Leo punya segalanya yang bisa kamu banggakan ... Dan dia dapet kamu yang menurut saya punya pribadi yang menarik. Prinsip Leo, cantik saja tidak cukup."


Nayra terkekeh kecil. "Jadi, Om tidak keberatan sama sekali dengan awal cerita kami bertemu?"


"Ya, tidak keberatan sama sekali." Edo tertawa kecil saat menatap Nayra yang tampaknya kaget. "Terkadang, cinta itu bulshit ... tapi saling mengerti dan paham tujuan masing-masing, aku rasa jauh lebih mudah menerima. Baik buruknya pasangan, kita akan mudah memahami. Dan ... cinta itu akan hadir belakangan. Percaya sama Papa."


Nayra terkejut, dia sampai berhenti dan menatap pria itu lekat-lekat.


Edo tertawa melihat ekspresi Nayra. "Pokoknya, selama Leo mau ... aku yakin dia bisa mengkondisikan hatinya. Atau bisa jadi, dia sudah make a deal sama kamu jadi dia mau saja ketika kamu ajak nikah. Leo itu mudah dipahami, hanya dia memang keras kepala."


Nayra mengangguk, lalu menunduk untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.


"Sepertinya, kalian ingin mengulang malam pertama kalian lagi, jadi ... luruskan kakimu, dan temani anak Papa."


Nayra terkejut lagi ketika di pintu kamarnya muncul Leo yang sedikit sembab matanya. Lebih memalukan lagi, Edo mengetahui kebohongannya. Sial sekali!


Edo tertawa melihat ini. Nayra tampak polos untuk ukuran wanita berusia 30 an. "Jangan sungkan, Nay ... tanpa kamu pura-pura terkilir, Papa sudah pasti akan membiarkanmu bersama Leo meski acara di bawah belum selesai."


Nayra hanya mengusap tengkuk lalu mengucapkan selamat malam sebelum melangkah cepat dan mendorong Leo masuk ke dalam. Ini bukan karena ngebet, tapi dia ingin memarahi Leo sebab Leo keluar di saat dia ingin pencitraan di depan Papa Leo. Astaga ... dasar pria tak tahu namanya timing yang pas!


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2