
"Nayra-Nayra ... nggak nyangka kamu ada hubungan selama ini dengan Leo." Direktur rumah sakit menyapa setelah acara makan malam ini selesai. Dia seorang diri datang kemari, hanya ditemani lemak perutnya yang membulat. Pria setengah abad itu terkekeh garing—entah maksudnya apa, matanya melirik Nayra antusias.
Nayra berdehem, lalu membalas tatapan Direktur bernama Bondan itu tak kalah hangat. "Yah, sudah lama memang, Pak Direktur. Kami hanya merasa hubungan kami tidak lah penting untuk diumbar dan hubungan kami tidak ada sangkut pautnya dengan keberlangsungan rumah sakit yang Bapak pimpin."
Bondan terkekeh pelan. Dia merasa tidak nyaman. Nayra selalu nylekit kalau bicara, apalagi pada orang yang terkesan ikut campur dalam urusan hidupnya. Nayra ini tertutup, penyendiri, hidupnya hanya berputar di keluarga dan kekasih. Tapi jika kekasihnya Leo, maka wajar Nayra tidak butuh siapapun di dunia.
"Pantas kau jual mahal selama ini," cetus Bondan akhirnya. Apalagi kalau bukan karena dia merasa cemburu, Nayra satu-satunya yang tidak melewati tahapan seleksi darinya secara privat. Hanya Nayra seorang. Dulu, Bondan ingin mendepak Nayra karena Nayra menolak seleksi itu, tapi keahlian Nayra dibutuhkan sekali, bukankah itu kesialan baginya, dan keberuntungan untuk wanita angkuh ini?
"Saya yakin masih banyak wanita yang sikapnya seperti saya ... mungkin yang anda bicarakan adalah Alena yang masuk ke rumah sakit anda melalui seleksi yang anda lakukan secara pribadi di villa, sehingga dengan mudahnya dia mempertaruhkan nyawa pasien hanya demi menjatuhkan saya." Nayra berdehem, meredam kemarahan atas apa yang dilakukan Alena tempo hari. Beruntung Alena ini orangnya perhitungan, jadi dia tidak menyerang Nayra secara beruntun, sehingga Nayra bisa santai sesaat.
Bondan berkeringat sebesar biji jagung. Gugup menghadapi Nayra.
Nayra terkekeh pelan. "Tampaknya anda sudah mendengarnya tapi Alena selalu anda maafkan."
"Bukan begitu, Nay ... tapi itu kecelakaan—"
Nayra menatap Bondan dengan tajam. "Kecelakaan? Anda pikir kami ini bodoh? Kami sekolah bertahun-tahun hanya untuk dibodohi begini, Pak? Yang benar saja?!"
__ADS_1
Nayra kesal bukan main. Ada sumpah yang harus dijalankan, ada nyawa yang dipertaruhkan, tapi ini? Barang nikmat yang haram itu jadi ganti dari setiap nyawa yang hampir melayang.
Nayra mendesis seraya mengerling Bondan. "Apa senikmat dan selegit itu daging tembem Alena? Beda sama punya istri Bapak? Punya Alena bertabur berlian dan ada gigi yang dipasangi behel?"
Ucapan frontal itu terlontar begitu saja. Nayra sudah lama memendam ini, hanya saja jika di rumah sakit Nayra malas ribut. Sudah lelah, masih harus berhadapan dengan Alena yang jelas akan melakukan apa saja agar orang lain yang dibencinya kesusahan.
"Tidak perlu berkata demikian juga kan ditempat terbuka seperti ini, Na? Kebutuhan tiap orang kan beda-beda ... dan jangan suka menilai orang dari katanya! Semua belum tentu benar." Direktur mencoba tenang, tapi Nayra tampaknya belum mau berhenti.
"Kalau begitu ... aku secara pribadi meminta Anda memecat Alena." Nayra berkata sedikit lirih, "saya tidak takut jika dikatakan pengadu, sebab Anda tahu persis Alena melakukan semua di depan hidung anda!"
Bondan mendengus, "Alena tidak membunuh siapa-siapa. Secara profesional Alena melakukan tugasnya, jadi tidak ada alasan bagi saya memecat Alena! Dia tidak melanggar kode etik apapun."
Nayra enggan berlama-lama dengan direktur Bondan yang mulai memikirkan kata-katanya. Banyak mata mengawasi termasuk Papa Edo.
Lagian Ana dalam jarak dengar yang ideal. Nayra takut kalau ucapan Bondan meski kurang aka ini didengar oleh papanya Leo. Duh, jangan sampai ucapan Nayra didengar orang lain. Bahaya.
Ana membawa segelas wine di tangannya saat melihat Nayra berjalan menuju dirinya. "Pasti dia ingin mengerjaiku lagi."
__ADS_1
Selintas ide gila muncul, tetapi kali ini tidak akan mempermalukan Nayra di depan umum, hanya kesal saat Nayra menyuruh-nyuruhnya seperti pembantu.
Nayra mendekat, bibirnya membuka tetapi sebelum itu, Ana menunduk Nayra hingga semua wine itu tumpah ke baju Nayra.
"Ah ...!" pekik Nayra saat merasa bajunya basah.
"Ups, sori ...." Ana menyulitkan mata, berpura-pura simpati. "tapi aku sengaja!"
Ana menyeringai dibalik sikapnya yang tegar saat melihat Nayra sibuk mengibaskan pakaiannya dari cairan merah itu.
"Agar kamu sadar, kalau kamu sudah terlalu angkuh meski baru dianggap bertunangan!"
Ana menghadiahi Nayra yang balas menatapnya dengan sebuah tatapan meremehkan sebelum berlalu dari hadapan Nayra.
"Aku belum kalah, Nayra!"
*
__ADS_1
*
*