Wanita Lain Itu, Mamaku

Wanita Lain Itu, Mamaku
WLIM 17


__ADS_3

Nayra benar-benar tidur ketika kembali ke kamar hotel yang ditempatinya beberapa hari ini. Dengan sepatu masih menempel di kaki dan tas tergeletak begitu saja di sebelahnya.


Dia punya waktu sampai jam 10 malam untuk tidur. Namun, rasanya baru saja matanya memejam, suara berisik di depan daun pintu dan dering ponsel membangunkannya.


Matanya berat membuka, dan langsung membuka pintu begitu saja.


"Hai ...!" Leo mengakat tangan dan tersenyum. "Aku bisa menunggu."


Nayra melebarkan matanya. "Ma-maaf, Leo ... aku—"


"Tidak masalah, baru jam sembilan kok." Leo mengendik santai. Mempersilakan Nayra bersiap.


"Aku tidak akan lama." Nayra menarik diri dari depan pintu, lalu berlari ke dalam. Menggerutu menahan malu.


Bagaimanapun, Nayra tetaplah Nayra yang berhasil membuat mood Leo yang kacau menjadi lebih baik. Bertemu Nayra—terlepas dari desakan pria tua di rumah, tetap membuatnya senang.


Leo masuk tanpa di minta, menunggu di sofa yang menghadap ke ranjang, dimana brosur dan beberapa lembaran berisi gambar rumah dan ruang apartemen bertebaran. Leo mengambilnya.


"Dia masih saja berhemat." Sekali lagi, Leo dibuat jatuh iba pada Nayra. Dia masih saja memilih tempat dengan kelas di bawah standart yang sebenarnya Nayra memiliki kemampuan membeli diatas harga itu.


"Aku siap!" Sedikit terengah, Nayra sudah berdiri di seberang ranjang dengan dress sabrina selutut berwarna hitam. "Maaf, tapi aku membawa baju terbatas."


Matanya terjatuh langsung pada segepok kertas di tangan Leo. "Aku mau langsung pindah dari rumah ke apartemen—lusa mungkin."


Leo berdiri, tanpa mengatakan apa-apa seolah dia tidak mempermasalahkan penampilan Nayra. Selain memang selalu cantik pakai pakaian apapun, Leo merasa kasihan pada Nayra. "Maaf, aku ganggu waktu istirahat kamu."


Nayra menggeleng. "Aku bahkan berhutang nyawa sama kamu, jadi ini bukan masalah."


"Kuharap kamu tidak keberatan jika aku membawa kamu pulang ...." Leo akhirnya jujur, daripada nanti Nayra ilfil dan kabur saat tau bahwa tak ada rencana makan malam di sini.


"Oh ...." Nayra terkejut, tetapi dia segera menggeleng. "Kalau gitu, kita harus segera berangkat, kan?"


Leo mengangguk lega. "Oke ...."


Keduanya berjalan dengan menjaga jarak, sesekali Leo melirik Nayra dengan perasaan senang bercampur sungkan. Kantung bawah mata Nayra saat dia tiba tadi, wajah lelah, dan muka menggemaskan setelah bangun tidur, membuat Leo tidak tega. Tapi ... dia ingin memilih Nayra saja daripada Laura.


Waktu dibutuhkan sedikit lebih lama untuk sampai di rumah Leo. Semua orang menunggu dengan sabar, termasuk pelayan yang memakai kemeja putih untuk malam ini.


Hanya Ana yang menggerutu sebab dia sudah menguap beberapa kali. Dia belum biasa dengan jam kerja yang tak tentu waktu ini.


"Ya ampun, kapan sih anak pelakor itu datang? Mau-maunya Pak Edo nunggu dia sampai larut malam begini?" dumal Ana di balik tangan setelah menguap.


Nurul datang dengan sikap tegasnya, bahkan sebelum Ana menyelesaikan dumelannya.

__ADS_1


"Pastikan tangan kalian bersih, dan pakai sarung tangan untuk membawa hidangan!" perintah Nurul tegas. Seraya menunjuk urutan makanan yang keluar, Nurul mendekati Ana.


"Kamu siapkan wine lalu standby di sini, bantu yang lain mengemasi meja makan setelah makan malam berakhir!"


Ana mendengus, tetapi tetap mengangguk seraya menggerutu dalam hati mengutuk Nayra. Wanita itu menuju meja dimana satu botol wine yang didatangkan langsung dari salah satu daerah penghasil wine terbaik di Perancis.


Sementara itu, Edo dengan antusias menyambut Nayra dengan gaya khasnya. Banyak bicara dan norak—menurut Leo.


"Andai kamu mau tinggal dekat-dekat sini, Nay ... akan Om bantu cari tempat yang bagus dan terjangkau. Dengan begitu, Om akan sering mengundangmu kemari." Edo tertawa riang, Nayra menanggapi dengan senyuman, lalu melirik Leo yang sudah mendahuluinya sampai ke meja makan.


Dia heran kenapa Edo bisa tahu kalau dirinya sedang mencari tempat tinggal. m?Mungkinkah Leo memberitahu ayahnya?


"Atau kamu mau tinggal di sini?"


Kalimat Edo mengejutkan Nayra, sampai wanita itu dengan tidak sopan mengerutkan kening saat menoleh. Nayra tampak galak di mata Edo.


"Rumah ini terlalu luas, bahkan kita bisa tidak saling bertemu walau satu rumah, kecuali sengaja mencarinya. Ya, sebelum kamu dapat rumah impian dan hotel walau nyaman, tetap saja kurang bagus suasananya." Edo beralasan saat dirinya terlalu kentara menginginkan Nayra. Walau terkesan agak mengada-ada.


Crystal Palace itu hotel terbaik yang setara dengan hotel bertaraf internasional lain. Jadi alasan Edo benar-benar menjijikkan.


"Itu hotel yang Papa kelola—astaga!" batin Leo kesal. Seluruh anak usaha DermaCorp diawasi oleh Edo, sementara Kristal masih sibuk dengan Baby B.


"Bolehlah kamu pertimbangkan." Edo mengulurkan tangannya mempersilakan Nayra ke meja makan.


Leo sendiri yang menarik kursi untuk Nayra lalu dia duduk disebelah Nayra yang tampak lega. Terlihat kalau makan malam ini lebih manusiawi ketimbang yang kemarin.


"Nggak usah cerita jugalah, Pa." Leo menukas kesal. Untuk apa cerita hal yang malah terkesan pamer itu? Namun Nayra menyentuh tangan Leo agar berhenti menyela ayahnya. Dia tidak keberatan sama sekali.


Edi merengut kesal, tapi tidak berhenti. Dia mengabaikan Leo dan menatap Nayra hangat. "Kau wanita yang baik."


Nayra tersenyum, lalu tidak tahan mendongak saat seseorang menuangkan wine di gelasnya. Dalam sekali pandang, Nayra mengenali wanita yang berdiri di sebelahnya. Cara menatapnya, membuat Nayra ingat wanita jahat yang telah merugikannya.


Perlahan Nayra mengetuk gelas yang berisi cairan beraroma pekat dan manis itu, kemudian saat Edo mengangkat gelasnya, Nayra yang sebenarnya tidak pernah benar-benar meminum wine sebelumnya—karena aromanya yang menyengat, akhirnya meneguk dalam jumlah banyak untuk pertama kalinya. Kepala Nayra langsung pusing.


Sembari terus berbicara soal menu hidangan yang satu persatu keluar sesuai urutan, Edo memerhatikan Nayra.


Wanita itu cukup diam dengan sorot mata yang begitu penuh dengan rencana. Edo bisa melihat mata itu mulai menajam, lalu hangat saat membalas tatapannya.


Setelah selesai menyantap creme brulle yang segar, Nayra meminta izin pergi ke toilet. Dia harus memastikan itu adalah mama tirinya.


Di lorong menuju toilet, langkah Nayra terhalang oleh sepasang kaki berbalut stoking hitam dan sepatu hitam berujung runcing.


"Halo, Honey!" Ana menyapa anaknya seperti saat masih SMA. "Ingin membawa mama pulang?"

__ADS_1


Nayra tersenyum sinis. "Mengincar Leo? Atau Om Edo?"


Ana tertawa keras. "Kau tau seleraku adalah darah muda yang menggelora dan bodoh. Tapi kali ini, dua-duanya bisa aku dapatkan dan dengan kelihaianku melayani mereka, kau akan disingkirkan secepatnya."


Tangan Ana menelusup ke saku dimana sebuah botol kecil bersarang. Bibirnya menyeringai. "Aku akan jadi nyonya yang bisa dengan mudah mendepakmu dari istana ini."


Nayra melangkah ke depan Ana, lalu mencondongkan tubuhnya sampai ke sisi telinga Ana. "Berusahalah lebih keras, Tante Ana!"


Ana menoleh secepat kilat dengan tatapan tajam dan heran. Nayra tanpa takut—malah tertawa kecil, membalas tatapan Ana.


"Aku siap meladeni tantanganmu, Tante!"


Nayra berlalu setelah memberi Ana tatapan penuh peringatan. Ya, Nayra berniat tidak akan melepas Ana. Setelah kejahatan yang dia perbuat selama ini.


Ana memutar badannya, siap mengejar Nayra, tetapi suara seseorang membuatnya berhenti.


"Ana, kau di sini? Ini bukan untuk pelayan, apa kau tidak bisa ingat mana toilet untuk kita? Lagian makan malam sudah selesai, bukannya membantu kau malah sembunyi di sini!"


Ana mengepalkan tangannya menatap pintu toilet. "Kau selamat kali ini, Nay ... tapi tidak untuk besok, maupun kesempatan lain!"


"Ayo ... tunggu apa lagi, Ana! Bu Nurul bisa marah nanti!"


Ana segera berlalu dari sana, mengikuti rekannya yang berjalan cepat menuju dapur.


Ketika Nayra kembali, Leo dan Edo membawanya ke ruang tengah. Nayra disuguhi wine lagi. Dan mendadak Nayra pusing. Bukan rasanya, tapi setelah masuk ke lambung, Nayra langsung pening, meski masih bisa ditahan.


Edo dengan santai mengulurkan gelas wine ke tangan Nayra, meski Leo tampak keberatan dan hampir saja merebut gelas itu dari tangan sang Ayah.


"Lihat Nay, meski pelayan banyak, tetapi rumah ini sangat kosong. Kamu bisa pilih tinggal di sebelah mana ... sayap kanan yang menenangkan atau yang kiri, yang penuh dengan kesenangan." Edo kembali mempromosikan rumahnya.


"Pa ... stop! Nayra—"


Nayra ragu sejenak, lalu meneguk wine tanpa sadar.


"Saya mau tinggal disini, tapi saya ingin status saya di sini diperjelas. Tidak mungkin saya tinggal cuma-cuma, tanpa status, tanpa ikatan yang jelas. Setidaknya, kita masih punya etika dan moral, meski di sini tidak ada yang mempertanyakan soal itu." Nayra lamat-lamat menatap Leo. Ya, lamat-lamat sebab kepalanya pusing sekali setelah dia meneguk wine ini.


Yang ditatap tentu saja bingung. Nayra sedang menginginkan kepastian. Tapi jelas, mereka hanya teman. Apa Nayra sekarang sedang menolak tawaran papanya atau menolak berhubungan lebih jauh dengannya, dia tidak pasti.


"Kurasa Leo bisa memberimu sebuah kepastian." Edo sumringah, lalu meneguk wine dan berlalu dari sana.


"Kau serius, Nay? Maksudku—Nay!"


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2