
Ya, tidak ada yang bisa Aldo lakukan selain mencari Tante lain selagi Tante Ana bersembunyi. Radar pria itu sangat luas di kalangan tante-tante kesepian.
Bukan hal susah bagi Aldo untuk mendapat satu unit apartemen mewah sebagai tempat tinggal selama menjadi piaraan.
Pria itu duduk di atas ranjang, memainkan ponsel selagi menunggu Tante Erin yang masih di kamar mandi.
Sejak awal, dia tidak pernah memikirkan Nayra meski sedang bersama Ana, jadi sekarang dia hanya memikirkan bagaimana membuat tante barunya senang.
Hidup harus terus berjalan, kan?
"Gelisah banget, kenapa?" Suara Erin membuat Aldo menoleh. Dia tersenyum melihat tante Erin yang memakai lingerie transparan, menampakkan bagian dalam tubuhnya yang terbalut dalamañ yang minim.
Pria itu berdiri, sementara Erin mengubah pose tubuhnya, yang semula hanya berdiri, kini jadi berkacak pinggang seolah ingin membiarkan Aldo melihatnya lebih menggoda.
"Nggak ada hubungannya sama kita, kan, Tan?" Aldo meraih pinggang Erin yanh sedikit berlemak, sebab tak bisa dipungkiri, diusia 40-50, tetap saja ada yang tidak kencang lagi.
Di kecupnya bibir Erin yang memakai lipstik merah menyala. "Kita bahas setelah bersenang-senang."
Erin melingkarkan tangan ke leher Aldo, lalu membiarkan pria itu menggendongnya ke ranjang.
Semua karena nafsu, jika tidak ... Aldo tidak akan mau menyentuh wanita seusia Erin, yang mungkin hanya sedikit lebih muda dari ibunya.
__ADS_1
Aldo biasa merawat diri dan stamina, jadi memuaskan tante kesepian seperti Erin bukanlah hal yang sulit.
Setengah jam berlalu, dan Erin meminta Aldo berhenti. Pinggangnya serasa mau lepas sebab Aldo masih sangat perkasa.
Pria itu terkekeh ketika mempercepat gerakannya hingga akhirnya mencapai puncak pelepasan.
"Kamu luar biasa, Sayang." Erin tersengal seraya mengecup bibir Aldo yang jatuh ke sebelahnya. "Tinggallah di sini, agar aku bisa datang kemari kapan saja."
"Aku punya rumah, Tan ... walau nggak sebagus ini. Dan agak aneh kalau montir tinggal di tempat semewah ini." Aldo menatap lamat Erin, yang sedang membelai lengannya yang kekar. "Aku tinggal di bengkel ... menjaga hartaku agar mantan kekasihku nggak kembali untuk mengusikku."
Mungkin Erin bisa membantu, pikirnya. Suaminya cukup berpengaruh, sementara Erin tampaknya paham mengenai pemisahan harta.
"Kalau butuh bantuan hukum, bilang ke tante aja, Sayang ... nanti Tante carikan yang paling bagus, atau bisa lah nanti Tante bicarakan bagaimana baiknya untuk kasus kamu ini." Erin melihat mata sendu Aldo, lalu mencoba merebut simpati Aldo agar pria itu tetap bisa bersamanya. Pria ini kemampuannya luar biasa. Bodoh sekali wanita yang membuangnya.
"Kenapa?" Erin memburu Aldo setelah di rasa tenaganya pulih. Memalingkan wajah pria itu hingga kembali menatapnya, tetapi Aldo tidak membalas tatapan Erin untuknya. "Ceritakan, Sayang! Biar Tante bantu cari jalan keluar. Masalah nggak akan selesai jika kamu diam saja."
Aldo menghela napas. "Aku nggak enak hati saja, Tan ... pas ketemu Tante aku malah nggak fit, padahal Tante udah baik sama aku."
Erin berdiri, membiarkan tubuhnya yang polos terekspose semua. Dia melangkah ke kulkas, mengambil bir kaleng dan meminumnya, lalu membawakan satu untuk berondong bayarannya kali ini.
"Hanya ada ini, kalau kamu mau." Dia melemparkan kaleng bir ke arah Aldo yang sigap menangkapnya. "Paling tidak kepalamu nggak ngebul."
__ADS_1
Keduanya terkekeh saat duduk berhadapan di ranjang. Keduanya sama-sama polos dengan keadaan yang masih belepotan. Erin menikmatinya tanpa rasa jijik atau risih. Bermandi cairan pria adalah keinginan yang tak pernah terpenuhi oleh suaminya sendiri. Tekanan pikiran membuat suaminya loyo.
Jangankan sampai mandi, berdiri saja tidak bisa. Jadi suami Erin membiarkan saja istrinya mencari kesenangan di luar. Selama pernikahan masih utuh, suami Erin tidak terusik oleh rengekan dan kemarahan Erin, suami Erin tidak keberatan.
"Siapa kekasihmu itu, Sayang ... Mungkin Tante bisa bantu melakukan sesuatu agar kamu nggak lagi kepikiran begini." Erin menatap lekat mata Aldo. Satu hal yang menjadi sumber masalah Aldo pasti kekasihnya. Terlepas orang tua yang menjadi masalah lain pria itu.
"Dia dokter di rumah sakit A." Aldo akhirnya berkata setelah diam cukup lama. "Dia spesialis yang cukup baik kemampuannya. Pintar dan cantik, tapi dia selalu meninggikan pekerjaannya dan merendahkan aku yang hanya seorang montir."
.Erin mendekat. Mengusap punggung Aldo pelan. Seakan memberitahu pria itu, dialah tempat yang tepat untuk berbicara.
"Dia merasa bengkel itu juga miliknya sebab sekali waktu aku pakai uangnya." Aldo menunduk. "Terkadang aku kehabisan uang, jadi aku melakukan ini agar nggak terus-terusan berhutang apalagi sampai membebani kekasihku, Tan."
"Tante ngerti kesulitan kamu, Sayang ... tunggu sebentar, ya!"
Terdengar sedih, sehingga Erin langsung berdiri dan mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.
Mata Aldo melirik Erin yang menunggu panggilannya di jawab. Bibirnya menyeringai licik.
"Setelah menujukkan kemampuanku, siapa yang bisa menolak apa yang aku minta?" Servis memuaskan adalah moto bengkel Aldo, dan dia memang manipulatif setelah menjerat mangsanya yang terperdaya.
*
__ADS_1
*
*