
Melihat baju Nayra basah, Edo langsung memanggil Nurul yang hendak ikut membantu. Pria itu membisikkan sesuatu dan berlalu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Sementara Leo dan beberapa orang datang untuk melihat apa yang terjadi. Meski tidak membuat Nayra terluka, tapi cairan kemerahan itu membuat noda di baju Nayra.
"Ganti baju dulu, Nay." Leo menarik tangan Nayra lembut dan menuntunnya ke kamar.
Leo mendorong Nayra masuk ke ruang pakaian di dalam kamar dan membuka lemari kaca dengan kasar. "Ini nggak bisa dibiarkan, kan, Nay? Jelas dia mencoba mencari kesempatan untuk mencelakaimu jika kamu lengah!"
Nada suara Leo meninggi saking panik dan khawatir. Nayra tadi nyaris jatuh saat bertabrakan dengan tubuh Ana yang tinggi besar—atau kerap dikatakannya seksi. Leo takut Nayra malah kenapa-napa sebelum mereka menikah. Misi balas dendam Nayra pasti gagal.
"Aku yang ceroboh." Nayra mendekati lemari, dimana pakaian untuk Nayra digantung. Kamar ini adalah kamar dengan ruang pakaian terpisah, atau bisa saja semua kamar modelnya begini.
Nayra mengambil satu dress panjang dengan belahan sepuluh senti diatas paha, usai mengusir Leo yang uring-uringan. "Aku tadi mau pakai ini, Mama Ana pernah ingin beli yang seperti ini, tapi tidak pernah aku izinkan. Bandrol harganya membuat kepalaku berputar sangat cepat."
Dia mengemas pakaian di luar pakaian yang dikenakannya—menunjukkan pada Leo. "Aku buruk memakainya walau harganya sangat mahal."
"Kamu cantik." Leo membuang napas. Kepalanya sangat pusing. Sedikit mabuk, dan mabuk melihat Nayra di balik gaun abu kebiruan. Dress itu mengkilap, lembut dan menyatu dengan Nayra. "Harusnya tadi pakai ini."
Dia menunjuk sebelah lengan yang tertutup, sementara yang lain terbuka. "Yang tadi meski mewah tapi terlalu sederhana. Bisa saja Direktur meneteskan air liur di depanmu."
Kepala Nayra mengendik, dia berhenti mematut diri dan menatap Leo. "Kamu ... tau sesuatu?"
Leo membuka kedua belah tangannya seraya menaikkan kedua bahunya. "Siapa yang tidak tau memangnya? Hanya Alena saja yang bertahan lama, yang lain mungkin ketahuan istrinya. Skandal ini sudah lama, tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan sebelum dia jadi direktur."
Nayra manggut-manggut. Dia baru tahu sebab dia disini baru dua tahun lebih beberapa bulan. Wajar jika dia tidak tahu apa-apa.
__ADS_1
"Nggak usah heran, kaya kamu baru lihat pertama kali aja ... semua pria juga begitu kalau ada lebihan harta sedikit saja, pasti main gila sama cewek. Ribut, trus balikan lagi." Leo meroling tangannya dengan gerakan memutar seolah dia sedang menggulung kabel. "Begitu terus sampai kiamat."
"Aku tidak ... putus ya, putus saja. Ngapain balikan?" Nayra meletakkan dress itu hati-hati lalu siap mengusir Leo. "Kamu juga kelebihan harta, apa juga main cewek?"
"Enak saja! Aku nggak lah!" Leo segera keluar, seolah paham kenapa Nayra menatapnya. "Mau aku ambilkan tisu?"
"Yes, please." Nayra mulai membuka pakaiannya, lalu menarik handuk kimono dari lemari yang lain. Dia harus menyekanya.
Leo pertama kali mengambil tisu basah dan kembali lagi ke walk in closet. Namun yang membuatnya tercengang justru melihat tubuh tas Nayra yang polos. Dress yang ditanggalkan tadi memakai pad sebagai penyangga dada. Dari arah samping, tampak sesuatu mencuat begitu tegap. Menantang seolah siapa digunakan.
Leo membuang muka, rasanya sangat panas. Dia baru menyentuh luarnya, tanpa menyentuh bagian dalam. Tapi dia memang memuaskan Nayra sesuai permintaannya saat setengah sadar. Dia ingat saat Nayra mengarahkan kepalanya ke puncak dada itu. Leo bersemangat sekali.
"Leo ... masuklah! Aku butuh tisu itu sekarang." panggil Nayra dari balik sekat yang terbuat dari kaca dan kayu.
"Kamu pria yang baik." Nayra terdengar ceria. "Tapi semalam kamu udah merasakannya, kan? Jadi mengapa mesti malu, pakai ngumpet begitu?"
Tubuh Leo menegang. Dia membeku seperti patung. Ya Tuhan Nay ... jangan pancing naluri aku dengan undangan seperti itu. dong!
Dia mungkin tidak sadar kalau salah melakukan itu, tapi dia tertawa. Leo kesal, lalu memilih menutup tirai dan berbicara dari sudut lain ruangan ini.
"Kamu tidur di kamar aku saja malam ini, Nay! Aku takut kamu kenapa-napa."
Nayra tersenyum mendengarnya. Senang dan salah tingkah karena ucaoan Leo. "Aku bisa tanganin ini. Jangan khawatir."
Leo membuang napas. Punya wanita yang terbiasa sendiri, membuat dia merasa tidak berguna. Walau bagus tapi Leo ingin Nayra sedikit manja.
__ADS_1
Leo menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Dia lelah, lalu perlahan memejamkan mata, sampai dia tertidur pulas.
Sementara di ruang kerja Edo, Edo memanggil Ana dan menginterogasinya.
"Apa motif kamu!" tanya Edo seraya mencondongkan badannya yang berdiri angkuh. "Kamu sengaja kan?"
Ana Menggeleng ketakutan saat dirinya ketahuan. "Sa-saya tidak tahu dimana posisi Bu Nayra, Pak! Saya sungguh tidak sengaja."
Tangan kekar Edo menggebrak meja dengan kasar. "Sekali lagi kamu sentuh Nayra, maka bagian tubuh yang kamu gunakan untuk menyakitinya, akan aku bakar sampai habis. Tak bersisa, tidak peduli siapa kamu, paham!"
"Mengerti Pak! Saya sungguh menyesal telah membuat Bu Nayra dalam bahaya." Ana mengangguk kencang. Dia sudah gemetar dilanda tremor, kemudian membungkuk dan kabur.
"Ingat Meri!" Edo berteriak lantang. " Kamu harus menebus sekecil apapun kesalahan yang kamu atau teman kamu lakukan pada Nayra. Dia adalah calon penerus usaha saya, dia bahkan mendapat tempat di DermaCorp. Leo ahli waris yang sah setelah Kristal."
Ana membeliak, lalu kembali membungkuk. "Saya paham, Pak!"
Tangan Anna terkenal sempurna. Hatinya menggumpal penuh kebencian yang menjadi-jadi pada Nayra.
"Sial sekali anak pelakor itu! Nasibnya baik terus!" umatnya dalam hati seraya berjalan meninggalkan ruangan Edo.
*
*
*
__ADS_1