
Melihat ke sekeliling, Nayra akhirnya bertemu tatap dengan Alena yang juga masih menatapnya tajam. Bibirnya tersenyum. Tampaknya ini akan menjadi pertemuan yang menarik.
"Meja anda di sebelah sana, Pak."
Suara seorang staf membuat pandangan Nayra terputus dari Alena. Leo dengan lembut menarik tangannya, dan membawanya ke meja yang di tempati Alena. Nayra dengan patuh mengikuti Leo.
Dengan tidak tahu malu, Alena berdiri menyapa Leo dengan senyum terbaiknya.
"Ah, tidak sangka, ya, Dok. Kita bisa satu meja." Alena menggeser tubuhnya sedikit, lalu menyilakan Leo duduk tanpa melepas senyumnya. "Silakan-silakan ...."
Leo tersenyum sekilas, lalu menarik kursi untuk Nayra, sebelum dia sendiri duduk di kursi yang ditunjuk Alena. Dia secara tidak langsung menjadi penengah diantara Nayra dan Alena. Dia menduga akan terjadi perang.
Alena mengerling Nayra untuk menunjukkan senyumnya yang penuh kemenangan. Dia merasa berharga hanya dengan Leo menduduki kursi yang dipilihkannya.
"Mungkin takdir mempertemukan kita, ya, Dok ... sampai akhirnya kita disatukan di meja yang sama, tanpa janjian, tanpa tau siapa yang mengaturnya." Alena duduk—berhadapan dengan Nayra.
"Apa mungkin Dokter Leo yang mengaturnya agar kita bisa duduk bersama? Dokter kan termasuk jajaran orang penting." Sekali lagi Alena tersenyum manis seraya menggerakkan tangannya untuk berdekatan dengan tangan Leo yang menumpu di meja. "Pasti mudah untuk mengatur hal sekecil ini."
Kening Leo berkerut hingga alisnya saling bertaut. Kepercayaan diri dari mana datangnya ini? Sejak kapan dia peduli pada orang lain? Siapa Alena? Jika saja tidak terlibat urusan dengan Nayra, Leo pasti tidak akan dekat. Oh, jangankan dekat, Leo bahkan belum pernah terlibat obrolan apapun dengan Alena sejauh ini.
"Mungkin iya." Leo memicingkan mata melirik Alena yang langsung membusungkan dada. "Aku orang penting, maksudnya. Tapi kalau mengatur kursi demi agar bisa duduk dengan seseorang, kayaknya aku nggak deh."
Nayra menahan senyum. Alena menaikkan alis seraya perlahan menurunkan dadanya yang menggembang dua kali lipat itu.
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Ya, kayaknya jabatan aku terlalu berharga jika hanya aku gunakan untuk mengatur meja agar bisa deketan sama kamu." Leo menjawab dengan acuhnya.
Alena menggigit bibir merasakan harga dirinya terbanting jatuh di bawah kaki Leo.
"Kalau Pak Bondan mungkin iya, tapi aku enggak kayaknya. Sayang sama jabatan dan kerja kerasnya aku tuh! Nggak sebanding, kali." Leo menyeringai. Santai, tapi nylekit.
Nayra melipat bibirnya hingga menyisakan garis lurus saja.
"Maksud Dokter apa?!" Alena berdiri dengan gerakan cepat. Siapa Leo sampai berani berkata sekejam itu padanya? Jelas dia tidak terima. Seseorang menyinggung harga dirinya. Mata wanita itu melotot tajam ke arah Leo. "Saya nggak layak begitu untuk mendapatkan anda? Anda siapa memangnya? Setinggi apa anda sampai berkata seolah saya ini sampah di mata anda!"
Leo tersenyum sinis menanggapi makian Alena.
"Anda hanya dokter biasa! Anda juga baru kaya sedikit saja! Anda bukan anak presiden ... jadi jangan sombong! Jangan menganggap remeh orang lain, Dokter! Agar orang lain respek terhadap anda! Saya heran, dokter arogan seperti anda kenapa masih dipertahankan! Apa anda punya koneksi orang dalam?" Alena merasa dialah yang paling disakiti disini, jadi wajar kalau dia mengamuk. Peduli setan dengan tatapan orang–orang, malah dia diuntungkan dalam hal ini.
"Oh, jadi anda ...!" Nayra yang sejak tadi bersedekap mendengarkan pidato Alena, akhirnya angkat bicara. Semula Nayra khawatir kalau hal ini akan membuat Leo terkena masalah, tetapi berkat kejelian dan kesabaran Nayra, dia punya sesuatu yang berguna untuk membalik keadaan.
Nayra memutar kepalanya menghadap Alena yang kaget bukan main mendengar suara Nayra.
"Anda yang mendesak rumah sakit untuk memecat saya yang telah mengabdi bertahun–tahun lamanya di sana?"
Alena diam. Mencoba ingat apa yang dia ucapkan tadi.
"Bicara anda tidak jelas, Nayra!"
Nayra mengeraskan suaranya. "Anda yang membuat saya dipecat beberapa hari lalu, kan, Dokter Alena?!"
__ADS_1
Seluruh ruangan mendadak sunyi saat Nayra berdiri. Matanya lurus dan tajam menatap Alena yang gemetar bibir dan tangannya.
"Jika Dokter Leo saja yang notabene memiliki jabatan dan kekuasaan bisa anda tindas, pantas anda memandang remeh saya! Pantas anda dengan mudahnya menendang saya keluar tanpa rumah sakit perlu repot–repot mengevaluasi kesalahan saya!" Nayra berkata tajam dan tak ada raut takut di wajahnya. Dia siap menghadapi semua orang, bahkan Bondan sekalipun.
"Katakan kepada saya, bagaimana anda begitu percaya diri menindas orang yang lebih tinggi jabatannya dari anda, Dokter? Anda paling tidak menduduki jabatan direktur jika ingin menindas Dokter Leo!" Ucapan Nayra membuat Alena makin gemetar. "Tapi, anda bahkan tidak tahu kepada siapa meminta izin cuti secara resmi! Agak aneh bukan?"
Bondan yang sejak tadi melihat pertikaian kedua orang itu hanya bisa menyeka keringat. Di bawah tatapan Edo, Bondan merasa tulang punggungnya kebas dan beku.
"Anda bukan orang yang berkuasa di rumah sakit dengan kompetensi anda yang di bawah standart itu! Jadi bagaimana anda bisa menindas suami saya?" Nayra menambahkan dengan ekspresi sinis.
"Cih ... kalau sudah kalah, dibuang dan disisihkan, sebaiknya akui saja! Pergi dan perbaiki diri, tidak usah cari perkara apalagi ikut campur urusan yang tidak ada kaitannya denganmu." Alena membuang muka. Dia mencoba menguatkan diri agar tidak goyah dibawah tatapan Nayra yang sekarang terlihat berbeda. Entah karena apa.
"Sayang kamu menyinggung Leo hari ini, jadi ini juga menjadi urusanku, Alena! Dan yang pantas pergi untuk memperbaiki diri adalah kamu! Kamu yang harusnya dipertanyakan setiap jenjang kenaikan karirmu, Alena! Karena sejak kita bekerja sama, aku sama sekali tidak melihat kamu melakukan sesuatu yang benar, tanpa bantuan orang lain! Kamu, tanpa campur tangan direktur tidak akan pernah berdiri disini dan menindas orang–orang."
"Kau bicara omong kosong!" Alena memanas di wajah hingga ke dadanya. "Kau menuduh tanpa bukti!"
"Kalau omonganku hanya bualan, seharusnya kamu tidak menanggapinya seserius ini, Dokter Alena! Anda bisa menertawakan saya, bukan marah dan memaki saya. Orang yang salah, akan marah jika tuduhan yang ditujukan padanya benar adanya. Lihatlah anda sekarang!"
Alena terkesiap. Astaga ... dia masuk ke perangkap yang Nayra buat. Sial.
*
*
*
__ADS_1