Wanita Lain Itu, Mamaku

Wanita Lain Itu, Mamaku
WLIM 18


__ADS_3

Sumpah! Wine itu enak sekali ... pekat dan lembut, tetapi rasa wine yang terakhir disesapnya di ruang santai tadi sedikit aneh. Tubuhnya langsung panas, terbakar, dan ketika melihat Leo, sensasi asing muncul. Nayra bahkan ingin menerkam Leo, menciumi pria itu dengan ganas.


"Nay ...!" Leo melihat Nayra yang menggigit bibir kuat-kuat. "Apa yang kamu rasa? Pusing atau mual?"


"Kenapa?" desak Leo saat Nayra memejamkan mata, lalu membukanya perlahan. Nayra sadar dia telah di bawa ke ruangan lain, yang mungkin ini merupakan kamar tamu—atau kamar Leo.


"Aku harus kerja, aku ingin pulang," ucap Nayra lirih dan gemetar. Tangannya yang kurus bergerak diluar kendali, dia sepertinya gagal mengendalikan kesolidan tubuhnya. Lupa cara berdiri dan berjalan. Itu buruk sekali.


"Apa kau alergi sesuatu? Tidak toleran alkohol?"


Tapi Nayra menggeleng. Jelas dia tidak menderita itu semua. "Obat perangsang—"


"Apa?!" Leo mengusap wajahnya. "Tapi aku tidak melakukannya, Nay! Aku hanya menjemputmu kemari, makan, dan akan mengantarkanmu pulang. Aku tidak—Papa!"


Ya, itu pasti ulah konyol sang Papa. "Serius, ini tidak lucu, Pa!" Leo bergumam seraya memutar badan untuk menemui sang Papa.


"Leo—tunggu!" Nayra semakin gila dengan seluruh perasaannya yang ini. Dia tidak boleh kalah. Ini adalah rencana Ana untuk menghancurkannya. Tapi sungguh hantaman rasa panas dan haus ini seakan tak ada obatnya sama sekali. Seakan dirinya adalah manusia paling menderita di dunia.


Leo mengerang frustrasi. Dia tahu Nayra bisa terangsanģ hanya dengan sentuhan sehelai benang. Tapi hanya dia yang paling waras di sini. Nayra bukan wanita yang seperti papanya kira. Akhirnya dia berbalik, mendekati Nayra dan membantunya—dadanya berdegup kencang saat ini.


Nayra menatapnya lamat, sayu, dan mengundang. Walau sebenarnya, tanpa obat sialan itu, Nayra tetap menawan dengan mata sendunya.


"Kau punya sesuatu? Aku tidak tahan ...." Itu suara merdu yang mendesah pelan. Leo terpancing meski dia panik.


"Pasti ada ... kau dokter!" Nayra mencengkeram tangannya sendiri. Wanita itu kepayahan.


"Maaf Nay ... aku hanya punya obat sakit kepala saja di rumah." Leo menerima tubuh Nayra yang terhuyung. Dia bukan dokter yang buka praktik di rumah. "Tapi aku akan ke apotik, aku bisa mencarikan sesuatu untukmu."


Leo mendudukkan Nayra di ranjang. Kemudian berlari cepat ke pintu. Dia membuka pintu berulang-ulang sampai tangannya terasa patah. "Sial!"

__ADS_1


Pintu terkunci, ya ... pintunya terkunci. Kemudian ponsel berdering dari saku celana Leo. Terlihat nama kontak sang Papa muncul di sana, bergegas Leo menjawabnya.


"Apa-apaan ini, Pa?" tanya Leo setengah membentak, yang dijawab dengan tawa pelan.


"Nikmati saja malam kamu, Nak! Nayra harus jadi istri kamu! Besok Papa akan atur pernikahan kamu dengan Nayra." Edo mematikan sambungan telepon tanpa mengindahkan umpatan Leo. Ya, wanita yang baik seperti Nayra harus jadi istri Leo. Edo melihat dari matanya yang begitu tulus dan lembut. Meski Edo menawarkan seluruh kemewahan yang dia punya, Nayra tetap dengan sopan menolaknya. Atau menerima dengan banyak syarat. Mata wanita itu tidak mampu menutup sifat aslinya.


"Kamu pantas dapat wanita yang cerdas dan berpendidikan, Leo. Papa sudah lelah melihat kamu dimanfaatkan wanita." Edo bergumam seraya menekan nomor asistennya. Pernikahan bisa dilakukan kapan saja, asal Nayra sudah didapatkan.


Edo berpikir, Nayra hanya tidak tahan dengan alkohol dan mabuk. Tanpa tahu kalau Ana di belakang sedang mengumpat kesal karena telah salah sasaran. Justru dia membantu Nayra menjadi penguasa rumah ini setelah ini.


Dia tidak tahu apa yang kalau Edo sudah membidik Nayra sejak dulu. Yang dia tahu, Nayra hanya gadis biasa yang daya tariknya kalah olehnya. Semua pria yang dimiliki Nayra pasti akan berpaling setelah dirayu dan diberi kenikmatan olehnya.


***


"Leo ...." Nayra sudah tak karuan lagi sekarang. Lidahnya kebas, bibirnya berdarah, tangannya luka karena dia terus mencoba menyadarkan diri dari pengaruh obat itu.


Nayra tidak menyahut lagi, suaranya hilang berganti deru napas yang semakin berat. Dia sudah tidak bisa berpikir lagi. Dia lelah dan haus. Dia hanya ingin lepas dari rasa yang menyiksa ini.


"Aku akan membantumu ...." Leo bergegas menempatkan Nayra di ranjang dengan benar. "Tanpa membuat kamu terluka atau kehilangan sesuatu yang berharga."


Leo mengambil ponsel, lalu menelpon orang diluar. Siapa saja, tetapi sialnya, Papa Edo terlalu ingin anaknya segera menikah, jadi dia mungkin sudah menyuruh semua pelayan kembali ke kamar masing-masing. Mungkin saja, pria tua itu duduk di depan pintu dan menjaga supaya Leo tidak kabur.


Di sini, hanya ada beberapa potong pakaian tidur, bathrobe, dan beberapa botol air mineral. Ini kamar tamu jadi tak ada apapun tersedia mengingat tak ada siapapun yang akan menginap. Leo mengacak kamar itu frustrasi.


Air juga tidak terlalu dingin untuk membuat saraf Nayra mati rasa. Sial memang.


Leo kembali ke ranjang, menatap Nayra yang menggeliat tak karuan. "Haruskah, Nay?"


"Ya ... please!" Nayra mendesis. Dia mulai berkeringat dan wajahnya semakin merah.

__ADS_1


Di saat seperti ini, Leo tidak memikirkan nafsù sama sekali. Dia hanya tidak mau merusak Nayra demi menuruti keinginan sang Papa.


"C'mon Leo ... just come in!"


Ini bukan Nayra. Leo merasa menyesal. Seharusnya dia tidak membawanya kesini malam ini.


Namun, Leo tidak punya pilihan. Dia perlahan mendekati Nayra dan mengelus lengan hingga ke punggung. Nayra mendesah pelan. Dia harus membuat Nayra puas tanpa harus mengoyak selaput darànya.


Leo perlahan mencium bibir Nayra yang langsung disambar dengan penuh semangat oleh Nayra. Sangat kasar, tetapi langsung melembut begitu Leo mengimbanginya.


Tangan Leo menarik turun pakaian Nayra, membiarkan tangannya menjelajah di dada Nayra yang bulat dan kencang, membelai dan memijatnya lembut. Memanjakan setiap jengkal tubuh Nayra yang mendamba sentuhan.


Nayra benar-benar melayang hingga akhirnya mulai mengerang saat Leo menciumi leher hingga ke dada. Membuai hingga Nayra mendapatkan pelepasan pertamanya.


Tubuh Nayra perlahan mulai tenang setelah mendapatkan pelepasan yang dia inginkan. Tetapi itu belum cukup, Leo menelusup turun hingga ke bagian iintim Nayra, membelai lembut dan teratur kemudian mulai kasar saat Nayra meracau tak jelas.


"Please, Leo ...! Come in!"


Leo tersenyum lembut, mengatasi dirinya sendiri yang mulai terpancing. "Just with my fingers ... you get what you want, Nay! It's enough! Aku nggak mau ikuti apa yang Papa mau, atau aku akan disetir selamanya olehnya. Biarkan mereka mengira kita telah melakukan apa yang mereka mau, dan mari kita tertawakan mereka bersama!"


Leo menatap Nayra dalam-dalam. Tangannya masih lincah bekerja mengolah Nayra. Sesekali dia memberi Nayra ciuman panas yang membuatnya semakin melayang. Sudah begini, dia tidak akan bisa melepas Nayra begitu saja, kan?


*


*


*


Sorry baru up🙏☺️

__ADS_1


__ADS_2