
"Ini kesalahanmu paling fatal, Nurul!"
Tubuh Ana berjengit saat mendengar suara Edo yang menggelegar keras bagai petir. Diliriknya Nurul yang menundukkan kepala sebab tak bisa membantah atau mencari alasan yang paling tepat dan masuk akal.
"Apa perlu saya sendiri yang harus menemui pelayan baru dan membacakan semua aturan yang sudah ditetapkan sebelumnya?" Edo masih belum reda kekesalannya.
"Lalu apa guna surat perjanjian yang kamu buat, kalau aku masih harus mengeluh untuk urusan seperti ini? Surat itu ada untuk dibaca dan dipelajari oleh mereka. Hanya selembar, dan itu hanya enam poin, apa susahnya?"
Nurul membungkukkan badan. "Saya akan pastikan pelayan membaca peraturan sekali lagi, Pak—maafkan kelalaian saya."
"Ini peringatan pertama dan terakhir, Nurul! Jika masih seperti ini, saya bisa rumahkan kamu kapan saja!" Edo mengancam. Memang ini hanya tabrakan, tapi Edo tidak suka orang lain meleng dan semuanya di rumah orang. Pelayan di sini mereka wajib menundukkan kepala.
Ana senang mendengarnya. Bagus sekali kalau Nurul sampai dipecat. "ck, masa dipecat saja takut? Apa dia nggak ada keluarga? Gajinya dari sini juga sudah banyak kan? Apa dia nggak invest? Masa selamanya mau jadi babù?"
Edo tanpa berkata lagi meninggalkan mereka, menyambung panggilan yang sempat terputus. Bagi Edo, nyawanya adalah telepon. Dia jarang mengunjungi semua anak usaha miliknya, hanya orang terpercaya yang melapor padanya secara berkala. Setiap panggilan di teleponnya bernilai uang, jadi pengganggu seperti Ana wajib ditertibkan.
Nurul menggeram dalam hati saat memutar badan menghadap Ana.
Ana sedikit menjauhkan tubuhnya merasa bahwa Nurul bisa lepas kendali kapan saja.
"Lihat betapa ceroboh dan lalainya kamu, Meri!" Nurul menarik napas. Dia tidak boleh terbawa emosi. "Rekomendasi kamu saya cabut. Sekarang, kerjakan apa yang saya perintahkan tadi, saya tunggu di dapur!"
Yang bisa dilakukan Ana hanyalah menganggu patuh lalu berjalan cepat ke arah kamar Nayra. Tidak lagi sama setelah Nurul jauh dari jangkauan, Ana mengibaskan anak rambut yang sempat lepas dari ikatannya saat menabrak tubuh seksi tadi.
Wanita itu mesam mesem kesenangan. Untuk sesuatu yang menurutnya bisa digapai dengan mudah.
"Tunggu waktu yang tepat, Papa Edo." Ana melenggokkan langkahnya menuju kamar Nayra.
__ADS_1
"Ugh ... ah!"
Jelas terdengar itu suara desah an yang begitu nikmat, telinga Ana belum rusak meski usianya tak lagi muda. Indra pendengarnya sangat familiar dengan suara semacam itu, jadi langkahnya dipercepat untuk menuju sumber suara.
Jangan-jangan ada skandal. Lantai ini bukan hanya kamar Nayra saja, tapi ada kamar lagi satu yang biasanya kosong. Ana merasa tidak mungkin jika itu dari kamar Nayra sebab kamar itu kedap suara, entah memang dipasangi atau saking besarnya kamar itu jadi suara menjadi teredam, yang jelas, Ana penasaran.
Kakinya berhenti saat melewati pintu kamar Nayra dan Leo. Kepala wanita itu patah ke samping untuk memastikan kalau suara itu berasal dari dalam.
"Ohh, faster!"
"Hah!" Ana menjauhkan kepala dari pintu yang sedikit terbuka. Menatap ragu handel pintu, Ana mendorong sedikit pintu itu hingga matanya bisa mengintip.
"Wtf!!" pekik Ana dalam hati, seraya mundur. Dia kaget sendiri melihat Nayra dan Leo sedang bercinta. Badan Leo yang kekar, tubuh Nayra yang mulus dan seksi terlihat jelas walau cahaya lampu temaram.
Nayra tampak tidak selagi penampilannya. Dia terlihat ahli.
Dia kembali melongok ke dalam. Sialnya mereka masih bergulat dengan panas. Nayra menjerit-jerit, dan Ana kesal.
"Sial!" Ana mundur dan menjauhi pintu. "Bisa-bisa aku melancong kalau nggak segera pergi."
Ana benar-benar pergi, tetapi di kepalanya berputar pikiran yang mengatakan kalau Nayra luar biasa. Ana tidak pernah memperhatikan anak tirinya itu selama ini. Tak ada yang menarik selain uangnya. Wajahnya terlihat bodoh dan lugu. Ana benci itu, wajah yang membuatnya ingat mendiang suaminya juga keluarga besarnya, lengkap dengan kekejaman mereka.
"Aku juga nggak mau jadi wanita mandul, kan, Mas Arya? Kamu tau aku udah berusaha, tapi kenapa harus aku yang menderita? Kamu picik jadi lelaki, Mas!"
Ana berdecih mengingat ucapan yang waktu itu dia lontarkan pada Arya. Saat Ana meletakkan secangkir kopi penuh racun ke depan Arya yang sedang menimang Nayra tidur.
Yah, setelah itu, Arya kerap sakit dan berakhir mengenaskan.
__ADS_1
Ana tersenyum jahat saat berjalan cepat menuju dapur.
Di sana, Nurul sudah mengatur lagi tugas mereka. Tepat saat Ana masuk, Nurul sedang menyebutkan tugas dan siapa yang mengerjakannya.
"Dewi bertugas di kamar Nyonya Nayra, sementara Meri menggantikan tugas Dewi."
Nurul tidak tahu Ana sudah ada di sana, dan wanita itu membeliak seraya mengepalkan tangan.
"Sialan! Tugas Dewi kan setrika dan cuci piring?" Ana benci dua hal itu. Melelahkan dan rasanya membuang waktu saja.
"Aku harus cepat mencari Aldo agar bisa bebas dari sini!" Astaga, Ana merasa gerah sekarang. Edo tidak kunjung didapat, Nayra semakin mendapat nikmat, dan posisinya makin turun derajat. Sial mana lagi yang harus didapat?
"Nyonya sudah istirahat, kan, Meri?" Nurul berhadapan dengan Ana tanpa disadari. Mata wanita itu saling bertemu, sayangnya Ana masih dalam mode kesal sehingga Nurul langsung curiga. Namun dia menyimpannya untuk diri sendiri.
"Ini karena kamu terlalu sering jelalatan, Meri! Kamu nggak fokus, jadi tugas kamu menjadi lebih lama dari seharusnya. Kamu terlalu banyak buang waktu dan kurang efisien! Mulai besok, kamu bertugas lebih pagi dengan membersihkan seluruh ruangan di lantai bawah! Jam tiga kamu sudah harus bangun!"
Nurul menegaskan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Ana harus tahu siapa prang kepercayaan di sini. Dia bertugas mendisiplinkan pembantu yang lemot seperti Ana.
Ana menunduk, menahan diri lagi untuk tidak menyerang Nurul. "Sial bener wanita ini! Aku bangun jam lima saja terpaksa, lah ini! Harus bangun jam tiga!"
Ana menaikkan wajahnya kembali. Yang benar saja!
"Baik, Bu."
*
*
__ADS_1
*