Wanita Lain Itu, Mamaku

Wanita Lain Itu, Mamaku
WLIM 15


__ADS_3

Nayra tersenyum saat mendengar penuturan pegawai bengkel, tiga hari setelah kejadian penggeledahan itu.


Terhitung sudah tiga hari Aldo tidak berani muncul di bengkel sebab para pegawai bengkel mengatakan kalau sesekali masih ada polisi yang datang.


"Kembalilah bekerja ... hari ini pekerjaan tampaknya banyak sekali. Terimakasih atas kerjasama kalian semua." Nayra menyilakan mereka bubar, dan membiarkan dirinya melakukan pekerjaan.


Napas sesak Nayra terbuang perlahan. Sakit itu masih saja bersarang, meski dia sadar hal itu sangat tidak perlu. Parasit seperti mereka layak dibuang jauh-jauh.


Nayra yang baru saja pulang dari rumah sakit dan belum sempat beristirahat sama sekali. Tubuhnya lelah, tetapi bagaimana pun, bengkel ini dimulai dari nol sampai seperti sekarang. Ada campur tangan Aldo, tetapi Nayra sendiri merasa kalau Aldo hanya mengawasi operasionalnya. Modal tetap miliknya secara penuh. Keuntungan sepenuhnya masuk ke kantong Aldo, dan Nayra sama sekali tidak mengusik atau menanyakan.


"Aku butuh staf sepertinya." Tangan Nayra memijat pundak, lalu mematahkan kepala ke kanan dan kiri untuk mengurangi penat.


Baru saja dia menjatuhkan tubuhnya di kursi, seseorang datang dan menyapa Nayra.


"Nay ... selamat pagi." Pria berambut abu-abu itu mengulurkan tangan seraya tersenyum, membuat Nayra langsung berdiri kembali dan memasang wajah ceria. "Lama nggak ketemu, ya."


Nayra sedikit lupa siapa dia, tetapi tetap saja dia menyambutnya hangat. "Silakan duduk, Pak ... maaf, saya sedikit lupa atau—"


"Terakhir ketemu saat kamu masih SMA, pas Almarhum Papa kamu masih hidup." Pria itu menukas. "Wajar kalau kamu lupa, saya tidak tinggal di sini, dan tiap mengunjungi saya, Mama kamu tidak pernah membawa serta kamu."


Nayra mencoba mengingat, sudah 13 tahun berlalu kalau SMA, kan? Dia tidak menemukan satu memoripun yang berhubungan dengan pria ini.


Pria itu terkekeh, meletakkan tas kulitnya yang berat ke meja Nayra. Tampaknya dia tidak mau lagi berteka-teki. "Saya dengar, kamu akan menikah, Nay ... jadi saya kemari untuk menyampaikan amanat dari mendiang Papa dan Mama kandung kamu, Arya dan Nastiti."


Mata Nayra melebar, alisnya naik secara spontan. "Amanat?"

__ADS_1


"Ya ... Saya sudah tua dan ingin pensiun. Lagian kamu sudah akan menikah jadi ...." Pria itu mengeluarkan sebuah map dan menyodorkan ke depan Nayra. "Ini seluruh warisan bagian kamu setelah dipakai untuk kepentingan pendidikanmu."


Nayra sedikit heran. "Warisan? Tapi...?"


"Saya menghubungi Bu Meriana sejak beberapa hari lalu, tetapi tidak mendapat jawaban. Biasanya, saya berdiskusi dengan beliau jika ingin mengambil keputusan tentang kamu. Beberapa bulan lalu, depositomu cair, dan diambil oleh Bu Meriana, katanya untuk bayar vendor pernikahan kamu dengan Aldo. Bahkan Aldo ikut datang ke sana waktu itu—katanya kamu sibuk." Pria itu menjelaskan, membuat Nayra benar-benar syok.


"Jadi sudah sewajarnya, saya menyerahkan hak kamu sekarang. Semua sudah tertulis di sini, dan kamu bisa menanyakan apapun yang kamu tidak mengerti," imbuhnya.


Nayra gemetar membuka map itu. Tulisan tangan sang Papa langsung memenuhi mata Nayra yang berembun. Seakan sedang mendengar Papanya berbicara, Nayra diam dengan gerakan mata teratur.


Dia membuang napasnya yang terasa berat dan tegang beberapa menit kemudian, lalu mendongak menatap pria yang tak lain adalah pengacara kepercayaan Arya.


"Jadi saya mewarisi harta warisan Papa saya sebanyak ini? Tapi kata Mama, warisan Papa sudah habis untuk biaya berobat Mama dan Papa, sampai Mama Ana bekerja agar aku bisa kuliah." Nayra mencoba memperjelas keadaan. Dia sudah pasti kalau pengacara bernama Syahali Tahir ini berada dipihaknya.


"Sepenuhnya tidak benar, Nayra ... Bu Meriana bekerja untuk dirinya sendiri. Beliau juga dapat bagian warisan yang sudah dikelolanya sejak sebulan kepergian Pak Arya. Saya menyerahkan langsung. Dan untuk sekolah mu sampai kamu bekerja, ditanggung sepenuhnya oleh Pak Arya dan kami serahkan pada Bu Meriana selaku wali kamu." Tahir ini seperti robot. Dia tidak menuduh, tidak membela, tidak memihak, hanya lurus saja sesuai prosedur kerja yang telah dipatoknya. Nayra menyimpulkan sendiri akhirnya.


"Saya akan menelpon pegawai saya dulu." Tahir berdiri dan menghubungi pegawainya tanpa ragu.


Nayra mengetuk meja dengan jarinya. Dalam hati dia mengingat betapa Ana selama ini menekanya. Hidup hemat, kerja keras, padahal dia kaya tanpa harus lari-larian cari kerja tambahan untuk membayar cicilan rumah, mobil, dan biayai Mama Ana yang selalu berpura-pura kelelahan setiap pulang ke rumah.


Maksudnya lelah bercinta dengan kekasih anak tirinya, gitu? Nayra mendengus sinis.


Nayra pernah bekerja di tiga tempat sebelum menempuh pendidikan spesialis atas desakan Ana. Nayra banting tulang untuk membalas kebaikan Ana, yang menurutnya berhati malaikat. Bahkan Nayra dengan hati riang memberi uang bulanan untuk Ana. Memberi perhiasan saat ulang tahun dan banyak lagi, seakan dunia diberikan juga tak akan cukup membalas kemuliaan Ana.


Tapi, kenyataannya tidak seperti itu, dan Nayra sangat marah sekarang.

__ADS_1


Tahir kembali ke meja setelah beberapa menit menghubungi pegawainya.


"Saya kirim ke email kamu, ya ... periksa dengan baik, ya. Dan saya harap, masalah kamu dan Bu Meriana segera selesai. Dia wanita baik, hanya saja dia tidak pandai mengelola keuangan." Tahir tersenyum hangat. Tangannya segera aktif di layar smartphone-nya dan tak lama dia mengisyaratkan kalau sudah selesai mengirim.


"Makasih, ya, Pak atas informasinya. Saya akan memperlajari semuanya lebih dulu. Jika ada yang janggal atau saya tidak mengerti, akan saya diskusikan dengan anda." Nayra membalas senyum itu tak kalah manis. Tahir tidak boleh tau Ana ada dimana untuk sekarang. Dia belum aman sampai semua milliknya kembali ke tangan.


"Mulai sekarang, Bapak hubungi saya secara langsung, ya, Pak ... Mama saya sedang di kampung halaman. Sedang mengunjungi kerabat yang berduka." Nayra bersandiwara. Tahir masih belum tahu kebusukan Ana, jadi dia tidak mau ambil resiko sekecil apapun.


"Baiklah, Nay ... saya tidak akan menggangu Mama kamu hanya karena masalah ini, yang dia sendiri sudah tahu sejak lama, bahkan dia yang mengusulkan."


Tahir tersenyum saat Nayra mengeluarkan senyum yang sebenarnya penuh kekesalan. Tapi Tahir salah paham.


"Oh, jadi begitu rencanamu, Ana? Kamu ganggu Aldo agar aku tidak jadi menikah dan warisan ini bisa kamu nikmati sendirian. Licik kamu, Ana!" batin Nayra seraya mengepalkan tangan.


Nayra tak bisa lagi menahan kemarahan setelah kepergian Tahir. Dia meremas kertas yang berada di depannya, hingga tak berbentuk lagi. "Awas kamu, Ana!"


*


*


*


Maaf, baru update ya🙏 semoga bisa kejar update setelah Om Nuga🙏 belum kebut karena belum kontrak🤭 semoga bisa secepatnya kontrak dan kebut-kebut cantik🤭


Abis ini Om Nuga lagi. Yang belum kenal Om Nuga si Dukol, kepoin Dinikahi Hot Duda by Misshel only on Noveltoon 😍😍😍

__ADS_1


Wwkkw, malah promo🤭 next yang mau Nenek Ana kena mental, staytune besok ya, semoga bisa diawal2 hari🙏


Papay❤❤❤


__ADS_2