
Sepanjang pagi, Nayra terus memikirkan ucapan Alena. Seharusnya, jika hanya urusan absen mendadak, tidak perlu sampai dipecat dengan cara yang tidak hormat, kan? Nayra selama ini pasti paling rajin hadir di rumah sakit ini dari seluruh pegawai, sebab dia kerap mengambil lembur atau menggantikan dokter lain yang berhalangan hadir. Banyak juga yang terlambat atau mangkir dari tugas tanpa alasan yang jelas—Alena salah satunya, tetapi tidak sampai dipecat.
Ucapan Alena juga pasti bukan gertak sambel semata, sebab dia adalah simpanan direktur rumah sakit. Tentu dia tahu paling awal apapun yang bergulir di meja kabinet tinggi rumah sakit. Setelah insiden dengan direktur mesuum semalam, mungkinkah Nayra dianggap tidak ada harapan lagi untuk dijadikan santapan segar selanjutnya?
"Apa aku sudah bertindak dengan benar samalam?" gumam Nayra saat berjalan ke ruang operasi pagi itu.
Perawat yang sedang mengikutinya sambil terus memeriksa catatan medis untuk dipelajari Nayra, mendongak. Menatap Nayra penuh tanya. Dia sedabg tidak memerhatikan sebab Nayra lebih banyak diam pagi ini, sementara dia sedang banyak pekerjaan.
"Ya, Dok ... apa anda butuh sesuatu?" perawat itu melongok menuntut kejelasan.
Nayra menghentikan langkahnya, lalu menatap perawat yang bingung menghadapi Nayra. "Sus ... apa ada isu yang berkembang belakangan ini?"
Perawat itu berpikir sejenak, lalu menggeleng. "Tidak ada, Dok ... hanya ada kabar kalau akan ada dokter spesialis baru."
Nayra manggut–manggut seraya membuang pandangan ke arah lain, tetapi sedetik kemudian dia menatap perawat itu lagi. Perawat itu terlihat terkejut sebab tak menyangka Nayra akan kembali menatapnya. "Baguslah kalau begitu, aku nggak mungkin bisa lembur sewaktu–waktu setelah menikah. Benar, kan, Sus?"
Perawat itu mengangguk cepat. "Anda benar., Dok ... suami dan keluarga harus diutamakan."
Nayra segera menepuk pundak perawat itu seraya tersenyum kemudian menyambung langkah menuju ruang operasi. Tak lupa Nayra menaikkan dagu dan memasang ekspresi dingin dan tegas. Dirinya bertekat, jika sampai di depak dari sini, akan dibuatnya si pembuat keputusan menyesal telah melakukan itu padanya.
Sesampainya di ruang operasi, Nayra menyapa semua orang dengan sopan tanpa ada senyum ramah dan ceria seperti biasa. Seluruh penghuni ruangan itu hanya melihat sekilas sebelum menekuri pekerjaan mereka lagi, jadi Nayra tak perlu repot berbaik hati. Dia tahu kemana pohon mulai condong. Dan dia hanya sendiri.
Nayra mensterilkan diri, lalu bersiap melakukan prosedur pembiusan. Sekali lagi, suasana tak nyaman dirasakan Nayra, tetapi dia bisa menahannya. Entahlah, dia merasa lebih kuat setelah lepas dari Aldo.
__ADS_1
Selesai melakukan tugasya, Nayra menepi, memerhatikan semuanya sampai operasi selesai. Dokter bedah yang menangani operasi pengangkatan tumor usus ganas itu hanya menatap Nayra sekilas, tanpa berkata apa–apa. Terlihat dia sangat kecewa, tetapi tidak bisa melakukan sesuatu untuk mempertahankan Nayra.
Setelah memastikan semuanya baik–baik saja, Nayra segera meninggalkan tempat itu dan masuk ke ruang kerjanya. Sarapan telah lewat berjam–jam lalu, dan Nayra sama sekali tidak berselera makan.
Namun, sebuah kotak makan bertengger cantik di meja kerjanya dekat dengan sebuah kotak besar berpita merah. Nayra mendekatinya dengan degup jantung yang cepat. Di atas kotak makan ada tulisan yang tampaknya dibuat serapi mungkin.
'Mama tirimu membersihkan kolam saat sarapan ini dibuat. Kebanyakan lada dan minyaknya terlalu sedikit, semoga nggak bersin atau tersedak saat memakannya. Tapi aku siap memberikan pertolongan jika kamu sakit perut atau ada komplain soal sarapan yang aku buat. Datanglah ke ruanganku! Kuharap kamu tau dimana ruanganku berada'
Nayra tersenyum, kemudian meletakkan kertas itu untuk membuka kotak bekal yang disiapkan Leo. Ada omelet yang sudah dipotong–potong, bola nasi yang dibalut nori yang dihancurkan, salad sayur, sosis panggang, dan beberapa potong buah.
"Aku merasa tersindir." Nayra mengambil sumpit dan mencicipi sepotong omelet dan terkejut, tidak percaya jika ini adalah masakan Leo. Ini enak sekali. Rasanya pas dan memang kurang minyak. Atau mungkin sengaja dimasak tanpa minyak.
Belum sempat Nayra mengambil suapan selanjutnya, seseorang mengetuk pintu, memaksa Nayra menghentikan makannya untuk mempersilakan si pengetuk pintu masuk.
Nayra mengangguk, wajahnya semakin dingin. Perawat itu mundur dengan terburu–buru, tanpa menghiraukan bagaimana Nayra menatapnya.
Nayra tahu, jadi dia bersikap biasa saja, meski berdebar juga. Dia hanya tidak bisa terima, pengabdiannya selama ini tidak menjadi bahan pertimbangan. Apalagi, dia didepak hanya karena tidak mau melayani kebutuhan akan cairan wanita direktur mesuum itu. Sungguh menjijikkan.
Sebelum pergi, Nayra meletakkan ponsel di meja, tanpa sengaja kotak besar yang bertengger di sana belum dia buka, sehingga Nayra membukanya dengan cepat.
'Anggap saja aku memerhatikanmu, Kepercayaan diri wanita akan meningkat dengan adanya sesuatu yang menarik perhatian semua mata. Pakailah saat melewati lorong yang penuh dengan wanita, aku menikmati bagaimana mereka takjub dan ingin mendekat padamu."
Lagi––lagi Leo memberinya sesuatu yang berharga. Seharusnya dia melakukan itu sejak dulu, setidaknya menikmati kerja keras dan usahanya. Bukan malah ditumbalkan untuk orang tamak macam Aldo.
__ADS_1
Nayra membuka dan memakai jam tangan mewah, tas merk ternama dan sepasang anting berkilauan. Nayra memakainya, kemudian mengikat rambutnya tinggi–tinggi agar kilau anting berbentuk tear drop itu semakin mencolok mata siapapun yang melihatnya. Dan Nayra merasa dirinya lebih berani, lebih percaya diri untuk menghadapi semua ujian ini.
"Ciuman saja tidak cukup untuk membalas semua ini." Nayra mengambil ponsel dan mengirimkan pesan pada Leo. Lantas setelah terkirim, Nayra melangkah dengan kepala tegak menuju ruang rapat di lantai dua.
Nayra tidak memedulikan gunjingan yang berdengung sepanjang jalan ke ruang rapat. Nayra tidak peduli.
Sampai di ruang rapat, Nayra mengetuk, lalu masuk tanpa dipersilakan. Dia menarik tangan yang sejak tadi dimasukkan ke dalam saku jas dokternya. Sudah ada selusin kepala yang sedang berdiskusi, termasuk dokter yang tadi melakukan operasi bersamanya. Tak ada basa–basi, tak ada rasa menghargai, Nayra benar–benar diabaikan.
"Selamat pagi ...." Nayra menundukkan kepala sekilas, lalu kembali tegak. Tak ada senyum, tak ada keramahan, yang ada hanya Nayra yang siap berperang.
"Silakan duduk, Dokter Nayra!" Bondan mempersilakan Nayra duduk berseberangan dengan posisinya yang tepat berada di tengah–tengah ruang rapat. Nayra mengikuti instruksi, tatapannya tak putus menatap mata Bondan yang sepertinya ragu saat melihat Nayra saat ini.
"Langsung saja, ya, Dok ... kami dengan berat hati memutuskan untuk memecat anda dari rumah sakit ini." Bondan menghela napas seraya menarik turun pandangannya dari Nayra. "Anda terlalu banyak melakukan kelalaian saat bertugas. Nama baik rumah sakit yang dibangun susah payah oleh pendahulu kami dipertaruhkan dengan tindakan sembrono yang anda lakukan."
Nayra tersenyum tipis, matanya menyapu seluruh ruangan itu, berhenti di wajah beberapa orang dua detik lebih lama, sebelum kembali bermuara di wajah menjijikkan Bondan.
"Saya menerima keputusan ini, tetapi dengan syarat ... tunjukkan dengan jelas dimana tindakan sembrono yang pernah saya lakukan! Lalu kelalaian terhadap apa yang pernah saya lakukan! Dan tunjukkan pula, komplain dari pasien yang membuat nama rumah sakit ini dipertaruhkan!"
*
*
*
__ADS_1