Wanita Lain Itu, Mamaku

Wanita Lain Itu, Mamaku
WILM 07


__ADS_3

Aldo yang kalap langsung meninju Leo tepat di pipi. Rahang pria itu sepertinya retak, bahkan Leo terhuyung hingga menabrak pintu. Sakit ... iyalah. Tapi Leo hanya terkekeh pelan.


Aldo menerjangnya, meraih kerah kemeja Leo yang membuat Leo tertarik hingga setengah berdiri. Mata pria itu merah dan mengepulkan amarah. Tangannya yang lain siap menghantam wajah Leo kembali.


"Aldo, stop!" Ana menarik lengan Aldo panik. No-no ... jika benar apa kata Leo, wajah itu tidak boleh terluka sedikitpun. Dia harus merayu pria itu dan membuat Nayra kembali sengsara. Tampaknya Leo ini tipe pria cerdas yang menggairahkan. Dia pasti pandai memperlakukan wanita diatas ranjang.


Cekalan Aldo terlepas, meski dia terus meronta. Pria itu terus saja meraung dan berisik. Menyebalkan. Ana menjadi ilfil pada Aldo.


"Ish, mulut kamu bisa diam nggak! Nanti tetangga pada dateng, Brengsek!"


Aldo menepis tangan Ana hingga wanita itu sedikit goyah. "Biar saja semua tahu kelakuan Nayra. Dia sudah menduakan aku yang sebentar lagi menikahinya! Biar aku kasih pelajaran sekalian wanita sialan itu!"


"Hei, dasar Bodoh!" Ana meradang kesal seraya mencoba menutup mulut Aldo. Namun Aldo terus saja memaki dan menyumpah serapah.


"Kalau kamu mau membongkar perselingkuhan Nayra, bukannya Nayra juga udah lihat kamu bercinta sama aku? Bego!"


Ketika mereka berdua berhadapan dan berdebat, Leo berdiri dan melesat ke kamar yang di tunjuk Nayra. Meski kesal, tapi dia hanya berurusan dengan Nayra. Dua orang ini urusan Nayra, meski sebenarnya Leo ingin sekali membelai wajah bajingan yang mirip cacing pita itu dengan tinjunya.


Leo menemukan dengan cepat apa yang diminta Nayra, selagi dua orang itu belum mengambilnya.


"Pasti akan ketahuan kalau aku bawa begini aja, kan? Ini harus disamarkan!" Ketika map plastik yang berat itu ditemukan di bawah tumpukan lipatan baju Nayra yang rapi, Leo merasa kalau ini tidak lah aman jika ditenteng melewati dua ekor cacing pita tadi, sehingga dia menarik sebuah koper kecil, dan mengisinya dengan pakaian Nayra.


Baju-baju Nayra sangat wangi. Beraroma parfum mahal. Dan satu hal yang membuat Leo merinding, ketika tangannya menarik pakaiandalam Nayra, lalu memasukkannya ke dalam koper. Benda-benda itu memenuhi pikirannya. Dia membayangkan Nayra saat memakainya. Astaga ... ukuran ini bukannya cukup besar? Tapi Nayra tampak datar saja di bagian itu, kan? Tadi pas gendong juga tidak kerasa banget?


"Astagfirullah ... sadar Leo! Kepalamu perlu dibawa ke dry clean setelah ini! Kotor sekali." Dia terkekeh sendiri saat menyentuh benda itu sekali lagi. "Istighfar, Brengsek! Sudah tua!"


Setelah semuanya selesai dan dirasa aman, Leo keluar kamar dan melihat Ana dan Aldo masih ribut.


Percekcokan itu terhenti saat langkah Leo menginterupsi. Keduanya memandang Leo penuh kekesalan.


"Aku ambil baju buat Ayang ...." Leo memasukkan tangan ke saku..Gayanya santai, seolah memang ada hubungan antara dia dan Nayra. Tapi memang ada kan sekarang? Meski hanya sebatas tolong menolong saja.

__ADS_1


Aldo mendesis marah dan menerjang Leo, tetapi Leo menghindar. "Eits ... aku nggak ada waktu ya, Nayra udah nungguin jika aku ladenin kamu."


"Nenek ... jangan berondongnya, dong, ah." Tatapan Leo menjadi menyebalkan saat menatap Ana yang terkesiap. Astaga ... bahkan saat menyebalkan saja Leo tampak menawan di mata Ana.


Leo menghempaskan tangan Aldo dan melangkah keluar rumah tanpa gangguan. Lalu ketika mobil mulai melaju, Aldo tampak gusar menyusulnya. Namun dihentikan oleh Ana yang tampak tak rela jika sampai Leo kenapa-napa.


"Dasar nenek tua!" Leo tersenyum sinis, seraya menekan pipinya yang kini terasa sakit.


***


Langkah ringan Leo terayun ke kamar yang ditempati Nayra. Bibirnya bersiul, lalu menempelkan kunci kartu yang ia bawa.


Pintu terbuka, tetapi saat ingin menutupnya, sebuah sepatu yang dipesan khusus mengganjal pintu. Tatapan Leo perlahan naik hingga sampai ke pemilik sepatu. Jantung pria itu nyaris melompat, melihat siapa yang berdiri di depan kamar hotelnya—maksudnya kamar yang ditempati Nayra.


"Papa!"


"Kenapa terkejut begitu?!"


Nayra terkejut dibuatnya, sehingga dia langsung duduk, dan beradu tatap dengan Edo. Mata Nayra yang sayu membeliak.


"Anda siapa?" Nayra menarik selimut hingga menutupi dadanya. Dia takut kalau Edo berniat buruk padanya.


"Wah ...." Edo terkekeh menatap Nayra, lalu pindah ke Leo dengan seringai penuh makna. "Check in sama cewek terus, tapi nikah nggak mau! Apa kamu udah yakin kebal sama api neraka?"


"Pa ... aku nggak check in!" Leo tetap santai melangkah ke samping Nayra setelah mengerling papanya sejenak.


"Ini apa?" tuntut Edo.


"Panjang ceritanya—"


"Pendekin dong ... check in buat bikin bayi, kan?" desak Edo lagi. Pria tua itu tampak tak sabar, jengkel, dan tak habis pikir. Setelah uang anaknya habis untuk beli apartemen untuk manjain wanita, Edo sekarang sudah tidak tahan. Ini wanita terakhir yang memanfaatkan Leo. Wanita itu harus berakhir di pelaminan dengan putra tunggalnya.

__ADS_1


Leo tampak tidak terpengaruh, sementara Nayra yang awalnya syok, kini mulai paham siapa pria itu, sehingga dia mulai longgar tetapi tetap berjaga-jaga. Bagaimanapun, kepergok di kamar hotel itu memalukan.


"Kita pulang, ya, Pa. Biar Nayra istirahat." Leo memberikan tas serta koper ke tangan Nayra. Dia mengisyaratkan semua sudah beres dan aman di dalam koper.


Nayra tersenyum dan mengangguk. Dia paham sekali apa maksud Leo, meski hanya bahasa isyarat saja.


"Loh, lanjutin aja bikin cucu buat Papa. Belum pagi, kok ... bisa dua atau tiga ronde lagi kok." Edo mengejek Leo. "Kamu ajari dia lah, Nak ... yang ini kelewat polos."


Edo terkekeh sementara Leo berdecak. "Jangan dengarkan oranh tua itu, Nay! Aku pulang, ya."


Nayra mengangguk, dia mudah sekali paham apa maksud Leo meski hanya dari ekspresinya saja. "Aku bisa sendiri kok, kakiku udah baikan. Dan, aku udah nggak sedih lagi ... mereka hanya sampah yang nggak seharusnya aku pikirkan."


Nayra berbohong. Hatinya masih sakit atas pengkhianatan itu. Tapi dia sendirian di dunia jadi merepotkan orang lain itu sungguh tidak nyaman. Dia pasti sembuh entah esok atau lusa. Ada banyak dokter dan obat. Dia yakin akan segera pulih dan bekerja lagi.


Leo menekan kedua belah bibirnya, seraya mengangguk. Agak berat sih, tapi ada papanya yang sedikit ember itu bisa runyam kalau tidak segera diringkus pulang.


"Hubungi aku kalau ada apa-apa."


Nayra tersenyum, lalu mengalihkan perhatian ke ayah Leo. "Selamat malam, Om ... maaf merepotkan putra Om malam-malam begini."


"Oh ... nggak repot kok, Nak. Malah Om senang kamu buat repot anak Om ini. Kamu miliki juga boleh, tapi kasih Om ganti yang baru, ya ... seorang cucu misalnya—"


"Hentikan, Pa! Ayo pulang, udah malem ... tidur banyak-banyak biar badan makin seger!"


Leo memutar badan ayahnya dan sedikit memberi dorongan agar segera lenyap dari hadapan Nayra. Astaga ... papanya sungguh mengerikan.


Nayra terbengong sesaat, namun tersenyum kemudian. Papanya Leo Ini humoris sekali. Anaknya apalagi ... hem! Baik hati pula ....


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2