
Ana tidak tenang sesiangan hingga sore ini, sehingga dia melakukan banyak kesalahan. Setelah chef datang, Ana dan yang lain hanya bertugas menyiapkan peralatan, kemudian diminta menepi. Sama sekali tidak diperbolehkan menyentuh bahan masakan yang harganya sangat mahal.
Chef dan beberapa asistennya menatap Ana dan yang lain dengan tatapan penuh ancaman. Seolah sedang menandai wilayah agar tak seorangpun melanggarnya.
"Meri ...!" Nurul melambaikan tangan ke arah Ana yang sedikit melamun melihat tangan Chef yanh bergerak sangat lincah saat memotong daging sapi impor dari Jepang.
Wanita itu menoleh, lalu dengan cepat mengikuti Nurul yang memberi isyarat agar mengikutinya.
"Kita tidak boleh melihat mereka di sana! Mereka memiliki beberapa rahasia yang tidak boleh kita ketahui!" Nurul berkata seolah paham kenapa para chef itu bersikap defensif. "Jadi kita kerjakan pekerjaan kita seperti biasa. Masaklah di dapur belakang. Kita juga harus makan agar tetap bisa bekerja dengan baik nanti malam."
Ana mengangguk patuh, lalu beranjak ke dapur bagian belakang, yang biasa dipakai untuk memasak makanan harian mereka.
"Mereka diskriminatif! Masa kita harus makan masakan rumahan padahal ada chef di sini? Apa mereka tidak membuat masakan lebih banyak dari yang seharusnya?" Dia sudah jauh dari Nurul, hanya ada udara di luar sini yang mendengar keluhannya, jadi dia bebas mengomel tanpa takut terdengar orang lain.
Ana bersedekap, menatap kesal pintu yang barusan dia tinggalkan. "Lagian tiap hari makan-makan mulu! Undang orang, undang Chef, kaya duit nggak ada habisnya! Foya-foya mulu! Apa nggak capek?!"
"Hai, Meri!" Seorang rekan pelayan menghampiri, senyumnya merekah bak bunga matahari di musim panas.
Ana terkejut dan menoleh. "Oh, hai ...!"
__ADS_1
"Bantu aku rapikan kamar tamu yang semalam di tempati Bu Nayra. Dapur kayaknya cukup sudah selesai." Wanita itu menyodorkan troli berisi keranjang penuh sprei. "Aku bawa alat kebersihan. Sebelum Bu Nayra sampai kita wajib selesai bersihkan ruangan itu."
"Bu Nayra?" Ana memastikan dia tidak salah dengar.
"Ya ... mulai hari ini dan seterusnya, Bu Nayra akan tinggal di sini. Katanya rumahnya masih diawasi oleh pihak kepolisian, sebab ibu tirinya menggunakan rumah Bu Nayra sebagai tepat penyimpanan barang ilegal." Wanita itu berbalik menarik satu troli lain yang berisi alat kebersihan.
"Apa?! Ibunya itu wanita baik, dia hanya wanita pekerja yang sedang mencari nafkah untuk Nayra. Dia hanya difitnah!" Ana menyahut kesal. Tanpa dipikirkan kalau dia begitu sok tahu.
Pelayan wanita itu menatap Ana heran! "kamu kenal mereka?"
Anna tergagap dan menggeleng. "Tidak, tapi aku—"
"Iyalah, nggak mungkin orang kaya kamu kenal sama Bu Nayra, dari mana-mana kalian sangat jauh berbeda. Lihat wajah kamu, kalau kamu bilang kenal, aku pasti tertawa. Ayo—" Pelayan itu menarik troli dan berlalu dengan masih mengeluarkan tawa yang membuat Ana ingin meremas mulut wanita itu.
Dia menyusul lima menit kemudian dengan alasan ke kamar kecil. Di kamar yang di tempati Nayra, ternyata sudah ada seseorang yang mengecek AC juga seluruh perlengkapan di kamar ini. Hem, istimewa sekali Nayra disini, batin Ana mulai julid.
"Orang ganteng emang pas sama yang cantik. Mas Leo pantas dapat wanita sebaik Bu Nayra. Sama-sama dokter, bahkan aku dengar, Bu Nayra ini spesialis, jauh diatas Mas Leo." Tukang itu bergosip bersama pelayan wanita tadi, sambil terus bekerja.
"Beruntung yang nikah sama Mas Leo. Dia idaman wanita sekali. Aku jadi iri sama Bu Nayra." Pelayan wanita itu siap menyedot debu di ranjang. "Pasti Bu Nayra juga ingin balas dendam pada ibu tirinya yang sudah sangat jahat kepadanya selama ini."
__ADS_1
Ana mendadak waspada. Ya, pasti dia menggunakan kesempatan ini untuk membuat dirinya tertangkap. Tapi Nayra bahkan tidak punya bukti apa-apa, selain mengatakan dirinya telah rugi banyak. Memangnya, dia bisa membuktikan hal itu pada polisi?
"Dasar Nayra bodoh." Ana tersenyum, lalu menarik sprei dengan bibir tersenyum sinis.
"Meri! Tolong sikat kamar mandi, ya ... rasanya banyak bagian yang licin!" Nayra mendengar semua ucapan pelayan dan juga melihat betapa geramnya Ana, sehingga dia berniat mengerjai Ana. Hitung-hitung pemanasan.
Ana menoleh dengan tidak sopan ke arah Nayra. Wajahnya sangat marah dan kesal.
"Aku baru tahu ternyata kamu yang bertugas membersihkan kamar mandi, jadi cepat lakukan. Aku ingin segera mandi." Nayra tersenyum manis. "Aku lelah jika harus membersihkannya sendiri."
"Meri ... cepat kamu bersihkan! Apa yang kamu lihat!" Pelayan wanita tadi mendesis saat membungkuk menghadapi ranjang. "Untung Bu Nayra tidak marah sama kita karena kita belum selesai membersihkan kamarnya, dan dia sudah ada di rumah! Bisa dipecat sama Bos nanti—cepat!"
Ana mendumal kesal. Ini bukan tugasnya. Ada orang lain yang bertugas membersihkan, sesuai perjanjian kerja di awal. Sialan Nayra!
Ana membungkuk lalu dengan menahan geram, dia bergegas ke kamar mandi.
Nayra menatapnya dengan senyum sinis. "Ini baru awal, Ana! Dulu, tidak peduli aku lelah atau sakit, kamu selalu memintaku membersihkan kamar mandimu!"
*
__ADS_1
*
*