
Gaun bertali spageti berbahan lembut berkilau mempercantik penampilan Nayra malam ini. Di tambah make up soft yang diaplikasikan ke wajahnya membuat Nayra semakin cantik dan glazed.
Dia berdiri di ujung tangga yang tidak seberapa tinggi menuju ruang perjamuan menunggu Leo. Calon suaminya itu masih berbusana setelah beberapa menit lalu sampai.
Lalu lalang pelayan membuat Nayra sedikit pusing sehingga dia menyandarkan tubuh di tembok. "Sebenarnya, keluarga Leo sebanyak apa, sampai kerepotan begini?" gumamnya.
"Sorry lama, Nay!" Leo setengah berlari mendekati Nayra. Di tangannya ada dasi yang belum sempat di pasang.
Wanita itu menoleh dan tersenyum tetapi kemudian dia mendadak malu saat melihat kancing kemeja Leo belum terkancing semua. Dada bidang yang semalam di elusnya itu terlihat. Pipi Nayra terasa panas.
"UGD ramai banget pas aku mau pulang ... ada kecelakaan jadi bantu dulu." Leo menata napas yang engap. Terlihat dia berusaha sekali untuk hadir tepat waktu.
"Kayaknya belum pada dateng semua." Nayra mengulurkan tangannya ke arah dasi Leo berada. Bibirnya tersenyum demi menggusur rona merah di pipinya. "Belum terlambat."
Leo menatap Nayra seolah ingin menyakinkan maksud Nayra meminta dasi. Ini masih sedikit canggung.
"Harus banget ya, pakai dasi di acara begini?" tanya Nayra lagi.
"Yah, tidak juga ... kayaknya Papa pakai beginian juga, jadi aku mau nggak mau ya ikutan pakai." Leo memberikan dasi ke Nayra. "Sayang aku nggak bisa pakai sebagus Papa. Bisa bantu aku?"
Nayra tersenyum lalu mengulurkan tangan ke leher Leo. "Kamu kebanyakan merendah."
"Tapi mungkin aku emang harus merendah di depan kamu." Leo menundukkan kepalanya. "agar kamu sampai."
Nayra tertawa seraya menempatkan dasi dengan benar, lalu meminta Leo kembali tegak. Mata mereka saling bertemu untuk sesaat, sebelum keduanya kembali canggung.
"Semalam aku minta maaf." Nayra kepanasan. Yang disebutnya semalam itu sesuatu yang sedikit banyak membekas di memorinya. "Melibatkan kamu sampai sejauh ini hanya karena ulah orang-orang disekitarku."
Leo tersenyum takjub mendengar ucapan Nayra. "Aku yang minta maaf, tapi suer ... aku merem pas melakukannya. Jadi jangan malu lagi, toh seminggu lagi kita bisa saling melihat."
Nayra langsung terbakar di wajah sementara badannya merinding. "Harus banget ya, saling melihat? Aku lebih suka tidak usah dilihat—"
__ADS_1
"Langsung tancap aja, ya," sahut Leo seraya menaikkan sebelah alisnya. Nayra kembali tertawa.
"Kamu nggak keberatan jika harus melakukan itu padahal tak ada perasaan spesial antara kita?" Leo memutuskan bertanya. Ya, dia ingin semuanya jelas. Itu hal penting bagi Leo.
"Mungkin itu salah satu cara agar kita bisa semakin dekat secara emosional, jadi boleh kita coba." Nayra sesak mengatakan itu walau seharusnya ini bisa dihadapinya dengan mudah di usianya sekarang.
"Dari kelihatannya kamu nggak yakin aku bisa memuaskanmu!"
"Bukan ...," sahut Nayra seraya menaikkan pandangan ke mata Leo. Memaksa mereka saling menatap lebih lama. "Aku hanya belum pernah sejauh itu bersama pria."
Leo tertawa tidak percaya. Ini sedikit tidak mungkin kan? Jaman sekarang, pacaran cukup lama, dewasa ... jadi mereka melakukan apa saat pacaran? Main gundu?
"Ini pertama kali—maksudku semalam itu pertama kali." Nayra semakin malu. Suaranya makin lirih.
Leo tercengang. "Yang aku lihat, kamu tidak seperti wanita yang tidak berpengalaman. Tapi itu bagus, untuk .. ku dan kita! Sungguh aku tersanjung aku jadi yang pertama."
Nayra melipat bibirnya. Dia tidak mau lagi berkomentar soal semalam. "Jadi dibantu tidak?"
"Ya-ya!" Leo mengangguk pasti, lalu menyiapkan dadanya. Ya, maksudnya di bawah dagu itu. Leo menegakkan tubuhnya hingga tegap.
Nayra menatap sebatas dada Leo, tanpa berani mendongak sedikit saja, sampai dasi itu terpasang rapi.
"Good." Leo menatap ujung dasinya saat Nayra menjauh. Sejak tadi dia mengintip kebawah, berharap Nayra mendongak dan yah, sesuatu yang romantis terjadi setelah basa basi yang cukup membuatnya ingin menyentuh Nayra lagi. Namun sayang, Nayra adalah wanita yang kuat menahan diri, jadi selain aroma rambut Nayra yang selalu wangi, dan gerakan bibir Nayra, Leo tak mendapat apa-apa.
Nayra tersenyum lagi. "Hanya dasi ...."
"Tapi itu menandakan kamu wanita serba bisa, selain bisa membiusku dengan pesonamu." Leo meregangkan tangannya lalu menempatkan tangan Nayra mengamit lengannya. "Bahaya kalau aku yang tertarik oleh pesonamu sendirian, sementara aku tidak punya sesuatu yang membuat kamu tertarik."
"Pasti ada." Hati Nayra sungguh berbunga-bunga mendengar ucapan Leo. Dia belum pernah diperlakukan sebaik ini oleh lelaki. Yang ada dialah yang memperlakukan lelaki begitu istimewa bak raja.
Nayra menoleh untuk menatap Leo. "Hanya aku masih terlalu kacau untuk melihatnya. Tapi sejauh ini, kau cukup mempesona. Kau menarik secara fisik, secara personal, dan yah, kurasa banyak wanita yang jatuh di bawah kakimu."
__ADS_1
"Yah, kuharap wanita itu kamu. Dan sepertinya, aku hanya mau kamu."
Mereka saling tersenyum penuh makna.
Sialnya, Ana melihat itu semua. Dan dirinyalah yang ditugaskan menjemput Nayra. Mungkin Nayra sengaja, pikirnya.
Begitu Nayra dan Leo sampai di depannya, Ana langsung membungkuk dan mengawal keduanya sampai ke meja makan. Menarik kursi dan menyiapkan menu sesuai arahan sang chef.
Nayra membungkuk pada semua orang yang hadir. Yang Nayra tidak kenal sama sekali selain Direktur rumah sakit. Pria itu tersenyum hangat ke arah Nayra.
"Saya yang tidak sabar mengabari kalian ketika Leo membawa kekasih rahasianya selama ini, meski saya akui, saya yang memaksa Leo menikahi Nayra." Edo berbicara mengatasi gumaman tamu.
"Hanya karena saya merasa, Nayra ini yang paling baik dan cocok untuk Leo." Edo menambahkan seraya menatap Nayra. Wajah penuh kepuasan tak bisa disembunyikan oleh Edo. Dia puas sekali.
Semua orang dibuat sepakat dengan ucapan Edo. Sepenuhnya, mereka hanya harus memberi restu, tanpa punya hak menghakimi siapa wanita pilihan Leo. Hanya kali ini mereka sepakat dengan mutlak mengingat tadi semua tahu siapa Nayra.
Hanya Ana yang berpaling dari meja makan. Hatinya merasa muak melihat semua orang memuja Nayra.
"Untuk malam ini, mari kita rayakan dengan suka cita pernikahan Leo dan Nayra." Edo mempersilakan mereka mulai menikmati makan malam.
Ana bergegas menuju sebelah Nayra, tugasnya melayani Nayra secara penuh. Leo yang mengaturnya, dengan alasan yang masuk akal.
Nayra meminta makanan yang letaknya jauh dari meja, sehingga dia meminta Ana untuk mengambilkannya. Mata Nayra mengawasi kepergian Ana, hingga kembali ke sisinya.
"Maaf, tapi ... kamu harus kuat melihat ini terus-terusan, Ana." Nayra bergumam di telinga Ana. "Kau boleh muak dan pergi dari sini secepat yanh kamu bisa."
"Bagaimana Ana? Sebelum semua menjadi sangat jauh," kecam Nayra.
Nayra biasanya yang melakukan itu untuk Ana dan Ana tinggal duduk lalu makan. Ana tidak pernah berpikir, Nayra akan melampaui batas yang dia ciptakan. Sungguh sial ketika berpikir di sini adalah tempat paling baik.
*
__ADS_1
*
*