Wanita Lain Itu, Mamaku

Wanita Lain Itu, Mamaku
27


__ADS_3

05:05.


Nayra kelabakan menyiapkan diri untuk berangkat ke rumah sakit. Barusan salah seorang staf menghubunginya mengatakan Joshua sakit sebab beberapa hari ini dia memang kurang istirahat.


Dia hanya butuh sedikit persiapan biasanya, tetapi karena dia terlalu terkejut jadi semua kacau.


Leo semalam kembali ke kamar, tentu karena dia menjaga Nayra dan dia takut kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Pagi itu, Leo hendak berolah raga, tetapi menyempatkan diri melihat Nayra, berharap Nayra mau menemaninya sambil berbincang. Namun melihat Nayra sudah siap dengan pakaian kerja, Leo sedikit bingung. Nayra baru kembali masuk esok hari, tetapi dia tidak bertanya. Dia tahu kemampuan Nayra sangat dibutuhkan di tim kerja dimana Nayra bergabung.


"Pagi bener?" Leo menyapa ringan alih-alih menanyakan sebab musabab Nayra berangkat sepagi ini. "Pasien membludak kah?"


Nayra langsung lega melihat Leo, buru-buru dia melangkah ke depan Leo dan membuang napas pelan. "Aku pinjam mobil, ya! Joshua sakit, jadi aku harus gantiin dia."


"Tunggu aku bentar!" Sigap, Leo bersiap kembali ke kamarnya untuk mengantar Nayra. Namun, Nayra menahannya. Ini masih pagi, dan dia tidak mau merepotkan Leo. Lagian dia sudah tidak punya waktu lagi. Sekarang Joshua sedang ada pasien yang masih harus diawasi dengan ketat.


Nayra tidak bisa menunggu lebih lama lagi. "Aku pinjam mobil saja!"


Dia merasa tidak tahu malu. "Nanti aku beli setelah kamu ada waktu."


Leo menaikkan alis. "Di garasi yang ada L di belakangnya, itu milikku! Tapi aku sarankan kamu pakai yang terlihat kuat, seperti karaktermu!"


Leo menyeringai, lalu karena dia tau tidak bisa memaksa Nayra lebih jauh, dia mengantarkan Nayra ke garasi dengan tangan saling bergandengan.


Kunci mobil berada di laci ruangan tengah, yang dengan mudah ditemukan. Walau begitu, tak ada yang bisa merampok rumah ini secara terang-terangan, sebab keamanan dua lapis, membuat perampok memikirkan ulang rencananya. Pintu garasi hanya bisa dibuka dari dalam. Jadi dari luar harus lewat memutar ke ruang tamu, ruang tengah, baru ke garasi. Perampok ke sini seperti halnya sedang menjalankan misi bunuh diri.


Mobil berlogo kuda jingkrak langsung memenuhi mata Nayra. Warna merahnya mencolok mata, elegan dan mewah.

__ADS_1


Leo mengulurkan kunci ke depan mata Nayra. "Are you ready, Mrs. Leonard?!"


Nayra menoleh tak percaya, dia bahkan belum pernah mengendarai jenis ini. Tetapi Leo meyakinkan.


"Ini sama saja dengan yang lain, hanya memang beda sedikit!"


Kemudian Leo menarik pundak Nayra agar mendekat ke pintu mobil. Leo menjelaskan singkat beberapa detail mengenai si merah ini.


"Mengerti?!"


Nayra mengangguk, lalu menatap Leo untuk berterima kasih, tetapi rasanya itu tidak cukup, jadi Nayra mencium Leo tepat di bibirnya.


"Aku akan hati-hati, Hubby ...." Nayra tersenyum saat menjauhkan bibirnya. "Meski masih calon, tapi aku membiasakan!"


"Panggil aku Mas!" Leo menarik pinggang Nayra dan menciumnya penuh perasaan. Ah, Nayra ... mudah sekali jatuh cinta padamu.


Leo menekan beberapa tombol sebelum pintu garasi terbuka, lalu Nayra melambaikan tangan pada Leo sebelum meninggalkan istana mewah ini.


Kecepatan si merah ini memang tidak bisa diremehkan. Jalanan masih lengang. Jadi Nayra bebas mengeksploitasi kemampuan mobil ini di aspal. Nayra terkejut bukan main. "Ini keren!"


Ketika sampai di rumah sakit, Nayra menyerahkan mobil pada petugas disana, sebab dia harus berlari menuju ruangan dimana pasien Joshua menunggu.


Tak ada yang melihat perbedaan Nayra hari ini, sebab Nayra masih terlihat sederhana.


"Wah ... kamu hebat, Nay!"

__ADS_1


Langkah Nayra terhenti, dia bukan takut atau apa, hanya kesal sebab Alena tidak akan berhenti sampai dia diladeni. Entah nyinyirannya atau tidakan provokatifnya.


Alena tertawa pelan seraya membuang muka ke arah lain. "Bolos ... nggak pro, dan sok! Kompilasi yang sangat epic!"


Nayra masih diam. Dia berusaha tidak menanggapi.


"Tapi tak apa ... hari ini aku mentolerir sikap kamu itu, Nay!" Alena mengubah gestur menjadi sedikit mengawasi Nayra. Bibirnya mendesis pelan. "Aku sedang senang karena seseorang."


Nayra menoleh, dan bertemu tatap dengan Alena yang baru keluar dari toilet. Bibir Alena yang runcing itu akan Nayra tumpulkan dengan kenyataan yang ada.


Nayra melangkah pelan menuju Alena yang masih bersandar malas di dinding tak jauh dari toilet.


"Maaf ... tapi, aku tidak peduli sama kamu! Mau kamu senang karena seseorang, atau satu kecamatan aku nggak peduli, Alena ... sebab aku hanya peduli bagaimana bibir dan mulut kamu dibungkam oleh kenyataan nantinya!"


Alena terperangah, tetapi segera menguasai diri dan tertawa jahat. "Kenyataan kalau dewan direksi dan jajaran pengurus rumah sakit akan memecat kamu dengan tidak hormat! Kamu lalai akan tugasmu, Nay! Dan presdir murka, sebab ada pasien yang meregang nyawa dibawah asuhanmu!"


Nayra menyipitkan mata. Kemampuan menelaahnya mungkin jatuh bersama kecepatan Ferrari di jalan tadi.


Alena menjatuhkan kedua tangannya, lalu berjalan ke hadapan Nayra dan mencondongkan wajahnya sehingga mereka berdua seperti sedang adu tatapan mata.


"Kau sebaiknya berkemas-kemas .. penggantimu akan datang sebentar lagi!" Alena menarik wajahnya dari depan Nayra yang membeku. Seringainya muncul saat Nayra terlihat pias dan pucat. "Bye-bye!"


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2