Wanita Lain Itu, Mamaku

Wanita Lain Itu, Mamaku
34.


__ADS_3

"Maaf, aku lepas kendali tadi." Nayra tidak bisa tidak meminta maaf saat mobil telah meninggalkan rumah sakit. Dia menatap Leo dengan perasaan malu. Sejauh ini, Leo belum pernah tersangkut masalah yang mencoreng nama baiknya. Leo adalah sosok yang dikagumi dan dipuja. Berdampingan dengan Nayra yang penuh masalah rasanya dia merasa sangat jahat telah merusak reputasi Leo.


Pria itu tenang dan tenang. Senyumnya ramah terlukis untuk Nayra. "Untuk kebaikanmu sendiri kurangi minta maaf, Nay."


Leo menoleh dan bertemu tatapan dengan Nayra sejenak. Mereka berdua tersenyum. "Aku paham kenapa kamu begitu marah dan ingin meluapkan semuanya. Dan aku nggak keberatan sama sekali, toh aku hanya pria yang terlihat mencintai kamu. Aku nggak ngelakuin apa-apa."


Nayra tertawa pelan. "Kamu nggak ngapa-ngapain aja, udah bikin cewek-cewek itu jatuh terpesona, gimana kalau kamu benaran cinta sama aku?"


"Aku yakin, mereka akan gencar neror kamu." Leo terkekeh menimpali. "Dan mungkin hidup kamu makin nggak tenang."


Nayra menjatuhkan kepala ke sandaran mobil kursi, dengan masih tertawa kecil. "Sayang aku malah penasaran gimana nggak tenangnya hidup aku jika beneran kamu cinta aku, Hubby."


Leo menggeleng pelan. Andai bukan di jalan, Leo akan mencium habis Nayra ini. Apa Nayra tidak sadar kalau ada hati yang sudah jatuh cinta berat padanya? Bahkan ajakan nikah saja dituruti Leo dalam hitungan jam. Nayra harus tahu, bagaimana gilanya seorang Leo bila sudah jatuh cinta.


"Kita langsung pulang atau mau jalan dulu, sebelum besok kamu nggak bisa jalan?" Leo menawarkan dengan baik hati. Itu sebuah kode. Kode yang sangat keras.


"Setelah ini aku pengangguran kan? Pulang saja kalau semua yang berkaitan dengan urusan nikah sudah di handle." Nayra memutar kepala menghadap Leo.


"Kalau kamu punya permintaan khusus, kita ke desainernya dulu. Kalau enggak, kamu hanya perlu duduk di rumah, semua akan datang padamu." Leo menggenggam tangan Nayra. "Yang aku pilihkan, sepertinya mewakili kamu, atau menggali sisi lain kamu yang luar biasa."


Nayra mengangguk. "Sepertinya aku akan terlihat kurang bersyukur kalau masih rewel soal baju."


"Ini soal kesan yang akan kita kenang seumur hidup. Kamu boleh keberatan kalau memang tidak suka." Leo mencium tangan Nayra. "Yang jelas, ketika kamu sudah memutuskan untuk memilihku, kamu nggak akan punya kesempatan untuk berhenti atau mundur. Kamu udah buat aku masuk ke permainan yang kamu ciptakan sejauh ini, Nay."


Nayra mengangguk. Untuk beberapa hal yang sangat sepele, Nayra bisa menanggungnya. Yang pasti, dia butuh kekuatan besar dari luar untuk menghadapi ular yang masih mengintainya. Lebih dari bersedia, Nayra melanjutkan pernikahan ini.

__ADS_1


Leo menggenggam erat tangan Nayra sampai mereka tiba di rumah. Ketika masuk rumah, beberapa orang tampak sibuk, bahkan Papa Edo membawa pekerjaan ke rumah sambil mengawasi pekerjaan WO.


Leo menatap Nayra, sebelum menarik tangan wanita itu untuk menghampiri sang Papa.


"Sore, Pa." Leo duduk di kursi yang bersebelahan dengan Papa Edo. Dia melirik laptop papanya yang menyala.


Papa Edo membuang napas saat menoleh pada Leo dan tersenyum ke Nayra. "Nayra sudah di tunggu orang MUA di kamar. Mereka ingin diskusi sebentar, katanya."


Nayra mengangguk lalu melepas tangan Leo dan bergegas menuju kamar.


"Mereka sudah datang?" Leo bertanya, saat Nayra sudah lenyap dari pandangan mereka.


"Ya, mereka datang dari siang tadi." Papa Edo menghela napas besar seraya melepas kaca matanya. "Papa pikir Nayra pulang lebih awal setelah diberhentikan. Ternyata dia masih menyelesaikan pekerjaannya. Baik hati sekali dia ya, jika orang lain, pasti langsung pergi."


"Dia bertanggung jawab pada moral dan kemanusiaan. Nayra bukan orang yang egois dan frontal, tapi mungkin tak masalah, dia harus kasar sesekali pada orang yang membencinya." Leo sudah sering melihat Nayra dalam mode siaga perang, tapi belum pernah sesantai tadi. Nayra seperti wanita yang tak terkalahkan. Tak ada yang tau kalau Nayra selalu lemah di belakang dan membutuhkan pelukan. Dia terlalu rapuh meski luarnya sangat keras, tegas, dan kasar.


"Aku sudah bicara pada orang-orang di rumah sakit. Dan Nayra mungkin akan dibujuk kembali bekerja." Edo menjelaskan. "Tapi saran ku, tunggu sampai rumah sakit memohon di kaki Nayra dan membersihkan nama baik Nayra. Papa rasa, ini ada muatan dendam dan kebencian."


"Bondan?" terka Leo.


"Bukan, tapi orang lain." Edo melirik Leo. "Kamu tau masa lalu Nayra, jadi kamu yang paham siapa dalangnya. Hanya mungkin Nayra harus tau sendiri, agar kamu tidak terkesan ngebet menginginkan Nayra."


Leo menarik sudut bibirnya. "Ini karena Papa yang desak aku buat nikah dan kasih cucu."


"Ya, aku memang ingin dua hal itu, tapi tidak semendadak ini." Edo terkekeh. Dia nyaris sakit kepala mendengar lenguhan anaknya yang sedang bercumbù di telepon tadi. Jadi selain cepat-cepat menikahkan Leo, Edo bisa apa? Itu kode keras buat Edo. Kode kalau anaknya sudah tidak bisa lagi menahan birahì yang bergejolak.

__ADS_1


"Kamu ini, sekalinya bìràhì bikin Papa kelimpungan." Edo pura-pura kesal.


Leo menunduk saat menjawab. "Hanya Nayra yang Papa setujui tanpa banyak tanya."


"Ck, setidaknya Nayra terlihat cerdas bahkan dari caranya memutuskan. Beda sama wanitamu yang dulu-dulu. Yang taunya hanya uang dan uang." Edo memakai kacamatanya kembali. "Mandi sana! Jam 8 malam kita mulai acaranya."


Leo melihat sang Papa kembali sibuk dengan laptop. Dan tak lama kemudian, datang sekretaris papanya. Mereka benar-benar sibuk bekerja hari ini.


Sementara di kamar, Nayra fitting kebaya dan gaun. Dia pusing memilih, sebab semuanya bagus dan Nayra dikatakan cocok dengan gaun-gaun itu. Pada akhirnya, dia pasrah sama MUA dan perancang gaun itu. Biar mereka memikirkan padu padan yang pas untuk acaranya malam ini.


Ana melihat semua itu dengan bibir yang menganga. Padahal dia kemari hanya ingin mengambil dokumen milik Nayra—pikirnya Nayra tidak akan kembali sampai malam. Tetapi dia takjub duluan melihat anak tirinya akan menikah dan diperlakukan seperti ratu.


"Ya ampun ...." Ana melihat gaun-gaun itu, dan harganya sangat fantastis. Kelihatannya ini bukan sewa, tetapi beli. Astaga ....


"Baik, Nona. Silakan Nona mandi dulu, kami sudah siapkan treatment untuk anda." Seorang wanita bersanggul rapi, memakai pakaian putih dan blazer hitam membungkuk ke arah Nayra, lalu mengantarkan Nayra ke kamar mandi. Di sana sudah disulap bak spa pribadi.


"Ya ampun, ini nyaman sekali."


Nayra menikmati semua treatment yang diberikan, sementara Ana resah kelimpungan di belakang.


"Pokoknya, malam ini aku harus berhasil mengambil surat-surat itu." Ana mengepalkan tangan di bawah meja.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2