Wanita Lain Itu, Mamaku

Wanita Lain Itu, Mamaku
38


__ADS_3

Semalam, Nayra memeriksa semua dokumen yang belum sempat disimpan ke tempat yang lebih aman. Dugaannya benar, dan Nayra memutuskan untuk membiarkan saja semua sesuai dengan rencana Ana.


Pagi ini, dia dan Leo memutuskan untuk membagi tugas. Nayra di rumah untuk membuat Ana merasa tertekan, sementara Leo pergi ke bengkel untuk menunggu Ana datang.


Nayra mengusulkan semua idenya kepada Leo dan beruntung Leo setuju dengan idenya tersebut.


Setelah menunggu beberapa saat, Nayra sampai dan langsung menemui Leo.


Pria itu tersenyum. "Tebakanmu benar!"


"Aku udah ikutin jejak Mama Ana dan Aldo sampai terakhir kali mereka berpisah." Nayra menatap datar Leo. "Aku tebak, Mama Ana belum berani membuka komunikasi dengan Aldo, dan Mama masih berpikir kalau Aldo masih di sini."


Leo tak tahan untuk mengusap rambut Nayra. "Aku sempat khawatir sih, tapi aku nggak berhak ragu sama rencana kamu, dan ...."


Leo mengambil dua buku sertifikat itu dari atas etalase. "Tara ... kamu berhasil mendapatkan hak kamu kembali."


Ketika menerima sertifikat, Nayra tersenyum. "Andai ini nggak aku dapat dengan keringat dan air mata, aku bakal ikhlaskan. Sebenarnya aku lelah harus selalu bersikap waspada seperti ini. Tapi kayaknya aku nggak punya pilihan."


"Ini jerih payah kamu, jadi kamu nggak boleh ikhlas begitu aja! Ada kerja keras dan keringat yang kamu peras, Nay. Aku dukung kamu buat mempertahankan jerih payah kamu selama ini." Leo menatap Nayra penuh arti. Dia sepenuhnya bangga pada Nayra yang bersikap lembut hati dan penuh pertimbangan. Tetapi untuk pengkhianatan, sepertinya, Nayra harus bersikap lebih tegas. Sekalipun pernah ada kebaikan, tapi Nayra juga banyak berkorban.


"Makasih, ya, Hubby." Nayra merebah begitu saja di dada pria yang telah resmi menjadi suaminya ini. "Aku pasti sudah hancur tanpa bantuan kamu."


Leo balas memeluk Nayra erat, "Kita adalah satu mulai sekarang. Jangan sungkan meminta bantuanku jika membutuhkan."


Nayra mengangguk senang. Akhirnya dia menemukan bahu dan dada paling lapang juga kokoh. Punya seseorang yang diandalkan membuat Nayra merasa jauh lebih kuat.

__ADS_1


Sementara di tempat lain, Aldo sedang menggigil kedinginan, badannya panas, keringat membanjir di sekujur tubuh hingga kaos nya basah. Sendirian di tempat yang mewah juga tidak membuat sakitnya sembuh. Sejak kemarin, Aldo merasakan badannya sakit, tetapi dia masih bertahan sebab Erinda datang dan terus memacunya hingga pagi.


Perlahan, Aldo membuka mata, lalu berjalan ke kamar mandi. Di rasa, kedua kakinya ngilu bukan main, organ vitalnya terasa berat dan kebas.


"Ah!" Aldo mendesah saat dia mengeluarkan air seni. Dia meringis sampai menggigit bibir dan meremas tembok tempatnya menyangga badan. Diberanikan dirinya menunduk, melihat ujung ke malu an yang bengkak dan berubah warna. Cairan yang keluar terasa panas dan warnanya tidak jernih. Agak berwarna merah muda.


"Shìt!" Aldo mengumpat. Berbagai pikiran buruk berkecamuk. Kemungkinan besar, ke la min nya mengalami cedera karena digunakan nonstop. Dia nyaris tidak bisa beristirahat dan terus meminum do ping agar kuat mengimbangi Erinda yang luar biasa ganas.


Langkah Aldo tertatih kembali ke kamar. Dia tidak bisa begini terus kan? Dia harus sembuh segera. Pasti ini hanya kelelahan saja sehingga tubuhnya bereaksi begini.


Dia meraih ponsel lalu mencari ojek online disekitar untuk membelikan obat untuk meredakan demam.


Setelahnya, dia merebahkan badan kembali. "Gue nggak bisa terus-terusan begini! Hancur badan gue kalau digarap kaya kuda pacu begini."


"Sialan!" Aldo merasa sakit hati melihat senyum Nayra. "Bisa banget dia nipu laki kaya!"


Rasa penasaran mendorong Aldo stalking akun media sosial Nayra. Membuat jantungnya berpacu lebih kencang. "Bang sat, betina satu ini!"


Aldo bangun, lalu menyugar rambutnya kasar. "Dia beneran selingkuh dari gue selama ini?"


Yang Aldo herankan adalah bagaimana Nayra begitu terlihat lugu dan bodoh di depannya? Sementara dia begitu liar di depan pria lain. "Pake sok-sokan nggak mau disentuh sampai nikah lagi? Apa dia takut kalau ada jejak lain ditubuhnya dan selingkuhannya curiga?"


"Mungkin kamu yang jadi selingkuhan dia selama ini, Honey." Erinda sudah berdiri diambang pintu kamar dengan lingerie merah transparan. Tubuhnya meliuk seperti ulat bulu kepanasan.


"Tante Erin?!" Aldo mengumpat dalam hati, bagaimana bisa wanita itu sudah segar bugar kembali?

__ADS_1


Jujur saja dia takut sama tante model begini. Loyal sih loyal, tapi kalau tidak sesuai harapan, biasanya akan bersikap ganas dan arogan. Tak jarang mereka akan melakukan kekerasan fisik.


"Duh, mana nggak mau berdiri lagi! Gimana ini?" batin Aldo panik.


"Tante mau keluar negeri besok, jadi hari ini kita senang-senang dulu," ujar Erin seraya menaikkan dagu Aldo.


Mam pus gue, batin Aldo. Mungkin dia tidak akan tidur sampai besok pagi.


"Kenapa?"


"Aku sakit, Tan!"


Erin menatap lurus mata Aldo dan perlahan tatapan itu berubah menjadi menyeramkan. Kuku panjang dijari Erin semula lembut menyentuh, tetapi sekarang menusuk kulit wajah Aldo.


"Tan, aku nggak bohong! Aku sakit karena kelelahan!" Aldo setengah merebah sebab berusaha berontak, namun Erin malah mendesakkan diri dan memperkuat remasannya.


Tanpa aba-aba, Erin menampar Aldo hingga badannya jatuh ke ranjang. Begitu kuatnya tamparan Erin, membuat pipi Aldo terasa perih. Selain jari, ada beberapa karat berlian yang ikut membuat kekuatan Erin bertambah.


Sial!


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2