
Di tempat teman Ana, mereka berunding dan sepakat masing-masing menyelamatkan diri dengan bersembunyi.
"Owner sudah terbang ke luar negeri semalam. Tapi beliau janji akan kembali dalam enam bulan. Selama itu pula kita harus bertahan semampu kita. Siapapun yang tersisa, harus menemui Bos di Crystal Palace Hotel. Usahakan kita tetap mengingat nomor ponsel Bos dalam kepala kita. Jangan sampai kita tertangkap!"
Ana hanya bisa menghembuskan napas dengan berat. Gajinya ditangguhkan selama itu dan dia tidak tahu harus bagaimana.
"Ana!" panggil rekan Ana yang merupakan tangan kanan Bos mereka.
"Ya ...." Ana menoleh, membuang ketakutannya. Dia takut kalau akan dikorbankan seperti lima rekannya yang lain jika tidak sepakat dengan keputusan itu.
"Pastikan pacar kamu tutup mulut. Ini rahasia besar yang seharusnya tidak ada yang boleh tahu selain kita. Atau kita semua akan berada dalam bahaya besar, dan Bos tidak mau bertanggung jawab atas apapun yang terjadi sama kita." Wanita itu mengancam, meski dia sendiri juga sedang ketakutan.
"Dia bisa aku atasi." Ana mencoba tenang, "aku hanya takut Bos tidak kembali dan membiarkan kita tertangkap pada akhirnya."
"Maka dari itu, selama bos pergi, carilah pekerjaan yang normal. Setidaknya kita bertahan. Tapi bukannya kau punya anak yang menjadi dokter? Kekayaan mendiang suamimu juga banyak, kan? Hidup enak, Ana." Wanita itu seakan meremehkan ketakutan Ana.
Ana tidak menanggapi atau semuanya terbongkar sekarang. "Kalau semua sudah beres, aku cabut dulu."
"Oke, silakan."
Ana keluar dengan muka lelah. Kepalanya pusing tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelesaikan masalah ini. Satu-satunya menjual rumah dengan harga murah.
__ADS_1
"Aldo ...!" Ana mengetuk kaca, mengintip ternyata Aldo sedang tidur. "Sial! Malah tidur ini anak! Nggak tau waktu banget sih!"
Ana menggedor pintu mobil lebih keras, membuat Aldo mengumpat seraya menendang bagian bawah setir hingga terdengar suara mengerikan dari sana. Tampaknya ada bagian yang pecah.
"An**** sialan kau!" Ana mendelik seraya berlagak pinggang. Ini mobil miliknya, baru saja Ana mempercantik interiornya, sudah dirusak saja oleh brengsek kecil itu!
"Keluar kau bangsat!" Ana memaki. "Lo nggak ada hak, ya merusak barang milik gue! Kalau lo nggak suka, pergi sana!"
Aldo yang kesal karena tidurnya terngganggu akhirnya keluar dengan muka masam. Beradu pandang penuh permusuhan.
"Makan nih, mobil butut lo yang jelek!" Aldo memaki di depan muka Ana. Namun hal itu tidak membuat Ana marah. "Dasar nenek-nenek pemarah! Nggak sabaran!"
"Dasar mokondo bangsat! Nggak tau diri!" Ana memakai kaca mata hitamnya setelah menghadiahi Aldo tatapan sinis mengejek. "Lo pikir, lo bisa tampil perlente tanpa bantuan gue? Lo ngaca sana! Lihat siapa yang pemarah, gue atau elu!"
"Memangnya dia dapat uang dari mana? Kebanyakan gaya, uang sepeser juga tidak punya." Bergegas Ana menyalakan mobil dan meninggalkan Aldo tanpa belas kasihan. Dari kaca spion, Ana bisa melihat Aldo menuding dan mengumpatinya, lalu karena tidak ada balasan, Aldo mengacak rambutnya sendiri dan menghentak aspal berulang-ulang. Bibir Ana meliuk sinis.
Beginilah mereka kalau bertengkar. Memaki dan mengumpat sampai mereka puas, tetapi dalam hitungan jam mereka akan baikan lagi. Saling mencumbuu dan memuaskan. Ana merasa setelah bertengkar, bercinta terasa jauh lebih menggairahkan.
Di tempat lain, Nayra dibantu polisi melihat keadaan rumahnya. Berantakan dan sebagian sedang dipulihkan, seperti pintu yang terpaksa didobrak.
"Bu Nayra bisa menjual rumah ini setelah olah TKP, dan bisakah Bu Nayra memberitahu kami kira-kira dimana tersangka bersembunyi?" Polisi itu bertanya.
__ADS_1
Nayra tersenyum, sudah pasti dia akan masuk ke dalam masalah ini. "Saya sudah kehilangan kontak dengan Mama sejak kemarin, Pak."
"Kira-kira saja, Bu ... tempat yang paling sering dikunjungi tersangka atau saudara mungkin yang rumahnya jauh dari sini?" Polisi itu mendesak.
Nayra mengawasi tukang yang memasang pintu depan. " Saya tidak tahu jelas, Pak. Tapi setahu saya, Mama punya kenalan di kawasan X, pemilik bengkel mobil satu-satunya dikawasan itu."
Polisi itu terdiam, lalu mencari lokasi yang Nayra sebutkan melalaui aplikasi. Kemudian beberapa saat, polisi itu menunjukan hasil pencarian. "Ini Bu?"
Nayra melirik ke layar ponsel milik polisi tersebut. "Benar, Pak."
"Baiklah, kami akan menggerebek tempat itu sekarang juga." Polisi itu pergi, setelah berbasa basi sejenak.
Nayra hanya bisa tertawa melihat usahanya menjatuhkan Aldo berjalan lancar.
"Sebentar lagi, kamu nggak akan punya apa-apa, Mas." Mata tajam Nayra berubah bengis. Siapapun wajib waspada jika Nayra sudah berekspresi demikian.
*
*
*
__ADS_1
Untuk yg ini, slow update, ya ... soalnya nunggu kontrak juga. Sementara Om Nuga yang crazy up. Silakan main ke sana selagi nunggu Leo Up, ya.
makacih😍