
"Tadi ada pelayan yang masuk kemari, Bu." Seorang karyawan dari MUA menunjuk kamar Nayra setelah Nayra bertanya pada Nurul dimana Ana.
"Meriana!" panggil Nurul saat mendorong pintu di ruang ganti kamar Leo. Mata wanita itu mengedar ke setiap penjuru ruangan, tetapi tidak ditemukan siapapun disana. "Meri?!"
Nurul masuk dan membuka lemari yang tertutup untuk memeriksa.
"Bagaimana?" Nayra baru sampai setelah kesusahan ke sini sebab pakaian yang dia gunakan menghalangi langkahnya. Kening wanita itu berkeringat. Di belakangnya, karyawan dari butik membawa tambahan gaun Nayra yang telah dilepas agar Nayra mudah berjalan.
Nurul menoleh seraya menggeleng. "Saya tidak menemukannya, Bu."
Nayra membuang napas keras-keras. Bersyukur sekali kalau Ana tidak masuk ke sini. "Ya sudah kalau begitu. Kita keluar saja dan kunci kamarnya!"
Nayra mundur dari ruang wardrobe dan berniat kembali ke bawah, tetapi langkahnya terhenti saat melihat troli berisi pakaian kotor berada di sebelah kabinet island. Nayra memutar langkah, menunjuk ke arah kamar mandi yang memang terhubung dengan ruangan ini.
Ada lorong yang cukup lega, menuju kamar mandi mewah berpartisi kaca buram yang bisa di geser. Nurul masuk lewat lorong itu, sementara Nayra segera mundur untuk menghadang di pintu utama kamar mandi.
"Meri?!" Nurul dan Nayra masuk dari kedua ujung ruangan itu bersamaan, dan Nurul sangat terkejut melihat Ana meringkuk di bak bath up dengan mata terpejam.
Nurul berlari kecil ke arah bath up dan mengguncang tubuh Ana. "Meri ... apa yang kamu lakukan di situ?!"
Nurul sampai menampar lengan Ana agar wanita itu terbangun. "Meriana—bangun!"
Ana berpura-pura terkejut saat membuka mata. Bahkan dia bangkit dengan wajah ketakutan. "Bu Nurul?!"
Nurul melotot marah. "Keluar!"
Ana bangkit tergesa-gesa dan memakai sepatunya yang dilepas di sebelah bath up. Ketika dia berdiri—berlagak terhuyung-huyung, dia langsung syok melihat Nayra.
__ADS_1
"Maafkan saya, Nyonya." Ana membungkuk sampai nyaris menyentuh lutut. "Saya ketiduran."
Nurul mendelik. "Semua juga tahu kamu tidur saat bekerja, Meri!"
"Maaf." Ana membungkuk makin dalam dan tidak kembali sampai Nayra mengatakan sesuatu.
"Bawa dia keluar!" Nayra melirik curiga ke arah Ana.
Nurul mengangguk, lalu membungkuk sedalam yang dilakukan Ana. "Maafkan kelalaian saya, Nyonya."
Nayra meninggalkan ruangan itu untuk memeriksa kembali dokumen miliknya. Sementara Nurul begitu Nayra pergi langsung memukul lengan Ana kuat-kuat.
"Astaga, Meri! Bukan cuma kamu saja yang lelah, kita juga! Tapi memalukan sekali kamu ini, kenapa ketiduran di bak mandi majikan kamu?!" Nurul melotot dengan gigi saling beradu. "Sini aku periksa kamu!"
Ana menunduk, berpura-pura ketakutan. "Saya tidak bisa menahan diri, Bu. Saya belum terbiasa bekerja nonstop begini."
"Kan sudah aku bilang, boleh istirahat tetapi di kamar. Kalian bisa lakukan bergantian! Apa kamu lupa? Dan ngapain kamu kesini malam-malam?" Nurul menyusuri seluruh lekuk tubuh Ana.
"Saya hanya ambil baju kotor, Bu. Saya pikir, akan lebih mudah kalau diambil malam-malam, lagian kamar Nyonya Nayra sedikit berantakan." Ana merengut sedih. "Saya hanya membantu."
Nurul menegakkan badan. "Sudah sana pergi! Tidurlah di kamar ... acara masih lama berlangsung, nanti aku bangunkan kalau sudah waktunya berkemas."
Ana membungkuk patuh. "Saya permisi, Bu."
Langkah Ana terayun cepat, berharap Nayra tidak memeriksa troli keranjang pakaian yang berisi sertifikat rumah dan bengkel Aldo. Dia hanya mengambil dua itu, sementara yang lain dia kembalikan. Belum saatnya dia melihat aset Nayra yang lain. Setidaknya, Nayra tidak langsung curiga.
Nayra sudah keluar saat Ana masuk untuk mengambil troli pakaian di walkin closet mewah Nayra. Dia meraba ke bawah tumpukan pakaian itu, dan tersenyum lega.
__ADS_1
"Nayra memang bodoh." Dengan senyum sumringah, Ana mendorong troli itu keluar, lalu ketika bertemu dengan Nayra yang sedang di touch up, dia tersenyum sangat lebar.
"Malam, Nyonya Nayra."
Nayra hanya menarik sebelah sudut bibirnya. Sepenuhnya tidak melihat bagaimana ekspresi Ana, tetapi Nayra membayangkan bagaiman rupa wanita itu di benaknya.
Dia sedang menikmati menjadi ratu malam ini dengan sayang yang sedang mendandaninya.
"Sudah selesai, Nyonya."
Nayra membuka mata, lalu berdiri seraya melempar senyum. "Mari bantu saya turun."
Mereka langsung menuntun Nayra keluar. Nurul sudah berdiri di ujung kamar mandi. Ujung pakaiannya basah sebab dia menggosok bath up yang ditiduri Ana.
"Tolong lebih diperhatikan lagi pelayan yang bekerja, Nurul! Selain untuk kebaikan kamu sendiri, juga menghindari kecurigaan kami. Aku yakin sebelum Meriana kemari, kamu sangat santai dan mudah mengatur pelayan, kan?" Nayra tersenyum manis. Meski dalam kalimatnya mengandung sindiran yang kental.
Nurul terkesiap. Ucapan Nayra benar. Kepala Nurul membungkuk dalam, tangannya saling menangkup di depan. Dia bertekad akan membuat suasana kembali seperti dulu. Ya ampun, ini memalukan sekali dengan gaji mereka yang dibayar per jam dengan nominal yang fantastis. Bahkan, jika bekerja diluar jam normal, mereka dihitung lembur dan dibayar jauh lebih mahal.
Nurul akan mengusulkan kepada Sekretaris 2, yang memang bertugas mengurus gaji seluruh pekerja, termasuk di rumah ini, agar pelayan seperti Ana—yang lalai pada tugas, diberi potongan upah. Biasanya, mereka tidak mendapat itu, sebab mereka—pelayan lain, lebih sayang uang daripada waktu tidur mereka. Toh, majikan mereka cukup toleran.
Yang mau lembur silakan, yang ingin beristirahat silakan. Semua ada tanggung jawab dan konsekuensinya. Pelayan di sini puluhan, dan Papa Edo tidak pernah kehilangan orang yang setia bekerja di bawahnya.
*
*
*
__ADS_1