
Malam itu, sekira pukul sepuluh malam, Ana menyelinap ke kamar setelah memastikan para majikannya tidak lagi membutuhkan bantuan. Yah, mereka sudah kenyang dan tinggal pergi tidur ... apa lagi yang harus para pelayan lakukan memangnya? Menemani tidur? Kalau Edo, Ana mau sekali lah.
Dalam perjalanan pulang, Ana menyempatkan diri membeli sim card baru. Pikirannya mengatakan kalau lebih baik memberi tahu Aldo secara langsung meski melalui telepon atau pesan. Namun, hingga sekarang, baik kartu maupun ponsel itu masih teronggok di bawah bantal. Ana belum berkesempatan menyentuhnya.
Kamar pelayan tampak sepi. Ini dikarenakan sebagian mereka masih bekerja, sebagian lain memilih tidur setelah acara semalam, jelas mereka menderita kelelahan yang cukup banyak.
Ana dengan mudah masuk ke kamar dan menyerbu bawah bantal. Dengan gerakan terburu-buru, Ana mengeluarkan kartu lama dari ponselnya, lalu mengganti dengan yang baru.
Dia menggerutu. "Kenapa aku nggak memikirkan ini dari dulu, sih? Jadinya aku nggak repot kalau mau nelpon Aldo."
Tapi saat itu yang ada hanya takut dan panik. Ana tidak bisa memikirkan hal lain selain menyembunyikan diri. Bahkan sampai sekarang, polisi masih memburu dirinya dan kelompoknya.
Setelah berhasil, Ana segera menyalakan ponsel dan menautkan dengan wifi rumah, lantas menekan nomor Aldo yang sudah dihafalnya diluar kepala dengan jari gemetar. Panggilan terhubung tetapi Aldo tidak menjawab.
"Ck, laki dasar murahan! Ngapain aja sih, sampai nggak jawab telponku?" Ana mengalihkan ponsel ke depan lalu mengetikkan pesan.
[Jawab panggilan gw, Bang***!]
Ana mendengus, lalu menekan kembali nomor Aldo, tetapi lagi-lagi tidak terjawab, malah sepertinya ditolak.
"Meri!"
Ana terkejut dan seketika berdiri, membuat ponselnya jatuh dan langsung mati. Sial! Ana melihat sendiri ponselnya mengalami retak pada bagian layar. Astaga!
Nurul menarik napas. "Bukan giliran kamu istirahat kan?"
"Maaf, Bu!" Ana menggeram kesal saat menunduk.
"Alasan apa lagi sekarang?" Nurul bersandar di pintu dengan tangan bersedekap. Dia lelah mendengar alasan Ana yang kedengaran mengada-ada.
__ADS_1
"Saya pikir pekerjaan sudah selesai, Bu." Ana menjawab berpura-pura takut. Aslinya, bodo amat!
"Sebelum majikan kita masuk ke kamar, tugas kita stand by di posisi masing-masing! Kamu sudah banyak istirahat hari ini, Ana! Jangan meminta pemakluman terus atas dasar usia!" Nurul sedikit membentak Ana. "Aku bahkan lebih tua dari kamu, tapi aku tidak berharap majikan memberiku keringanan!"
Tangan Ana mengepal. "Saya—"
"Jika masih ingin bekerja, bekerjalah dengan baik! Jangan asal! Kalau tidak, silakan pamit ke Pak Edo secara langsung." Nurul menukas dengan tidak sabar. "Tugas kamu sekarang, mengambil bekas makan Nyonya Nayra yang tadi kamu antar di kamarnya! Cepat lakukan, sebelum beliau beristirahat!"
Ana melirik sekilas ponselnya sebelum benar-benar pergi meninggalkan kamar dan Nurul.
Dalam hatinya, seluruh umpatan dan makian tertuju pada penghuni rumah ini. Termasuk Nurul.
Bahkan dia juga mengutuk Aldo yang mungkin saja sekarang sedang bersenang-senang dengan wanita barunya. Ah, bayangan Aldo yang menhujamnya begitu keras, membuat Ana seketika bergairàh.
Sialan!
Padahal, Aldo saat ini sedang mengerang kesakitan. Boro-boro bersenang-senang. Yang ada sakit di ujung ke malu annya terasa makin menyayat. Bentuknya sudah tak karuan lagi. Sialnya, sekarang mengeluarkan cairan berbau dan bagian ujung yang bengkak tadi mengelupas.
"Sialan lo Erinda!" maki Aldo seraya menahan sakit yang rasanya mampu melepaskan seluruh lapisan kulitnya.
"Sakit apa gue, Breng***!" Aldo menengadah. Matanya memejam rapat, bibirnya tergigit sampai berdarah. Keningnya lebam, perutnya sakit sekali, punggungnya rasanya patah jadi dua.
Erinda mungkin sudah terbang ke luar negeri sekarang. Setelah meludahi Aldo, wanita itu melemparkan Aldo ke luar apartemennya.
Jadi sekarang, dia meringkuk di hotel murah tak jauh dari apartemen Erinda.
Sendirian dan mengerang menahan sakit. Celananya sudah basah, sebab dia tak kuat ke kamar mandi. Cairan berbau itu memenuhi ruangan ini.
"Argh!" erang Aldo. Ujung ke la min nya berdenyut lagi. Entah apa yang terjadi pada organ kebanggaannya ini. Aldo merasa lebih baik mati saja. "Cabut saja nyawa gue daripada lo siksa gue kaya gini!"
__ADS_1
Aldo memejamkan mata sangat rapat dan perlahan mengejang, hingga dia tak lagi merasakan apa-apa. Dadanya seperti terhimpit batu. Napasnya berat dan matanya seketika gelap.
Astaga ... gue mati beneran!
Sementara di rumah Edo, Ana yang menunduk seraya menggerutu, tanpa sengaja menabrak Edo yang sedang berbicara di telepon, sehingga membuat pria itu terpaksa menjeda sambungannya.
"Ah!" Ana memekik saat bagian depan tubuhnya menabrak pria yang masih kokoh meski berusia lanjut. Tubuh yang masih bagus itu terasa hangat menyentuh Ana. Seketika dia meleleh penuh nista.
Dari aromanya, Ana tahu dia adalah Edo, jadi dia segera pura-pura jatuh agar bisa melihat ke bawah tubuh Edo. Sepasang kaki kokoh itu pasti menyembunyikan sesuatu yang perkasa. Ana sangat hafal dari bentuk dan baunya.
Ana menggigit bibir saat melewatinya. Tatapannya sayu dan mendamba.
Edo yang melihat Ana jatuh terjerembab itu, mundur lebih dulu, menjaga jarak agar tidak terjadi sentuhan berlebihan yang bisa membuat siapa saja salah sangka. Jelas Edo hati-hati, sekarang mudah sekali menggunakan pasal untuk menjerat seseorang. Sentuhan bisa jadi pelecehan.
Dan kepada siapa saja, Edo berhati-hati. Setengah umurnya telah digunakan untuk melihat beberapa rekan dan kolega jatuh karena kurang kewaspadaan. Edo tidak mau sampai itu terjadi padanya. Dia menjaga amanah yang besar dari orang yang sangat berjasa dalam hidupnya, jadi dia tidak ingin mempertaruhkan semua usahanya di sini. Lagipula, dia hanya pelayan ... tak biasanya pelayan bersikap kurang waspada di sini.
"Kau tidak apa-apa?" Edo bertanya, sekilas dia memerhatikan Ana yang meringis. Lantas kemudian mengedarkan pandangan ke sekitar.
"Nurul!" gelegar Edo seraya berjalan ke telepon extension yang tersambung ke seluruh penjuru rumah. Berharap wanita yang telah lama bekerja padanya itu masih berada di sekitar ruangan ini. Namun tampaknya tidak.
Ana menganga tidak percaya. Dia sudah seperti ini dan Edo mengabaikannya?
"Apa aku harus membuka kedua kakiku agar dia tergoda?" Diliriknya tubuhnya sendiri. Dia masih bagus di berbagai sisi. Untuk ukuran Edo dia masih luar biasa. Memuaskan dan cantik. Tapi ... kenapa Edo tidak tertarik?
Sudah mati rasa kah dia?
*
*
__ADS_1
*