
Lain keadaan, lihat Ana yang sekarang sibuk menatap layar ponselnya. Aldo tidak bisa dihubungi dan sialnya, dia tidak bisa pergi.
Jam 3 sore, dia baru selesai dan boleh beristirahat sampai jam 6 nanti. Harusnya dia punya waktu yang cukup, tapi dia tidak bisa. Dia tidak diizinkan kemana-mana sesuai prosedur.
"Breng sek itu kemana perginya?" Ana melihat untuk kesekian kali layar ponselnya. "Apa dia kabur setelah menjual rumah dan bengkel?"
Ana tidak bisa tidak curiga, sudah beberapa hari dan pesannya hanya dibaca oleh Aldo, tapi tidak dibalas.
"Sungguh ini sangat menyiksa." Erangan frustrasi menggema di kamar ini, wanita itu menyentak tubuhnya berdiri. "Apa yang mesti kulakukan?"
"Meri!"
Seketika Ana menoleh ke pintu. Batinnya mengumpat kasar. "Apa lagi sekarang? Brisik banget sih, mereka ... nggak lihat orang lagi pusing begini?"
Namun, mau tak mau Ana mengubah gestur tubuh dan ekspresinya, kemudian menjawab panggilan Nurul.
"Ya, Bu!" Ana menarik napas dan keluar kamar, bertepatan dengan Nurul yang mencapai depan kamarnya.
Nurul tidak sendirian, melainkan bersama seorang gadis muda yang terlihat lugu.
"Dia sekamar dengan kamu, Meri, tolong bantu dia siapkan tempat tidur dan tunjukkan lemarinya!" Nurul menatap Ana penuh selidik. "Sebaiknya gunakan waktu istirahat kamu dengan baik, Meri ... jangan sampai kamu kelelahan saat kembali bekerja nanti!"
Ana sedang menahan diri mati-matian untuk tidak mendengus. Sumpah, dia kesal sekali pada Nurul yang banyak ba cot.
"Saya baru saja mau tidur, Bu," sindir Ana, yang sama sekali tidak membuat Nurul merasa bersalah, malah wanita itu memutar badan menghadap gadis pelayan yang baru.
"Intan, silakan masuk dan istirahatlah dulu. Nanti malam, kamu akan saya beritahu apa pekerjaan kamu," kata Nurul seraya mempersilakan gadis bernama Intan itu ke kamar yang ditempati Ana.
"Makasih, Bu." Intan membungkukkan badan, bahkan ketika melewati Ana. Gadis itu tersenyum sekilas sebelum masuk dan takjub melihat kamar ini. Tetapi tampaknya gadis muda ini tahu cara menahan diri.
__ADS_1
Ana masih menatap Intan, belum menentukan untung rugi atau suka dan tidak pada anak baru ini. Mungkin bisa digunakan suatu saat nanti ketika dia terjepit masalah.
"Nah, Meri ...," cetus Nurul mengagetkan Ana, membuat perhatian Ana teralih ke Nurul sepenuhnya. Ck, hanya bu dak yang bersikap siaga seperti ini, dan beberapa waktu bekerja di sini, Ana merasa dirinya tak lebih baik dari pembantu. Sial memang.
Nurul tersenyum sebab merasa Ana jauh lebih fokus sekarang. "Untuk kamu, nanti malam bantu Nyonya kita berkemas. Besok siang Nyonya akan menghadiri acara di kapal pesiar dan sepertinya kamu yang terpilih mendampingi beliau untuk menyiapkan segala kebutuhannya di sana."
Bang sat!
Ana hanya bisa mengumpat lebih kotor melihat undangan yang dikeluarkan Nurul dari balik buku agendanya. Pelayan utama itu menyeringai, entah apa maksudnya.
"Bos tivi besar, putrinya menikah dengan konglomerat dari Brunei. Satu hidangan di sana harganya sebulan gaji pokok kamu. Hebat kan, Nyonya kita bisa hadir di sana?"
"Tidak—"
Ana kaget sendiri mendengar pelukannya barusan—Nurul mengerutkan kening curiga.
"Tidak perlu heran, Bu ... Nyonya Nayra punya koneksi yang luas. Saya bisa melihat betapa beliau sangat pandai mengambil hati orang lain." Ini murni sindiran. Ya, tentu Nayra itu busuk hingga bisa mengelabui Edo juga Leo. Bahkan seluruh Dermacorp bisa menerima Nayra begitu saja. Apa memang yang bisa menarik minat mereka kecuali tubuh dan goyangan menggila.
Sial! Ana mendengus bersamaan dengan hembusan napasnya. "Saya mengerti, Bu."
Nurul mengangguk puas lantas meninggalkan kamar Ana. Banyak pekerjaan lain menanti.
Ana melongok ke luar lalu memutar badan menghadap Intan setelah dirasa Nurul telah menjauh.
Intan yang lugu langsung menunduk agar tidak terlihat lancang.
"Dengar apa kata Bu Nurul, kan?"
Intan dengan lembut mengangguk.
__ADS_1
"Jadi sekarang kamu siapkan sendiri kasur kamu, dan lemari kamu yang itu, yang coklat tua itu. Tata dengan rapi, kemudian bersihkan kamar mandi. Saya baru kembali dari bekerja, belum sempat lihat kamar mandi." Ana duduk di ranjang nya, meneliti Intan yang tingkahnya sangat halus dan terkendali.
"Punya hape?"
Intan yang awalnya siap menuju kasur di sisi lain kamar mengurungkan langkah. Dia kembali berbalik dan mengangguk takzim.
"Aku pinjam, nanti aku koneksikan dengan wifi rumah ini." Ana menawarkan, tentu wifi bisa diakses dengan mudah di sini, tapi Intan pasti belum tahu dan akan berterima kasih karena kebaikannya ini. Jaman sekarang, koneksi internet adalah segalanya, tanpa itu hidup terasa gabut.
Intan mengulurkan ponselnya tanpa ragu. Matanya berbinar mendengar penawaran Ana. "Maaf hape saya butut, Bu."
Ana hanya mengibaskan tangan, lalu mengisyaratkan kalau dia tidak mau diganggu jadi Intan segera ke kamar mandi untuk membersihkan tempat itu.
Ana coba-coba menghubungi Aldo dengan nomor Intan. Dan ajaib, baru satu kali panggilan masuk, kemudian sebuah pesan singkat dengan nada membuat penasaran, mengundang Aldo membalasnya.
Detik selanjutnya, panggilannya dijawab riang oleh Aldo. Ana mengumpat ketika wajah ayu Intan terpampang sebagai foto profile, wajar Aldo langsung gercep.
Syit sekali, kan?
"Halo," sapa suara Aldo sedikit serak.
"Lagi apa?" balas Ana seraya menyandarkan tubuh di tembok.
"Tiduran."
"Banyak uang, ya ... rebahan mulu kerjaannya." Ana memancing dan diujung kalimatnya ditambahi emot mata yang penuh love.
"Begitulah ... lo sendiri single?"
"Ya ... meet up, yuk." Ana memancing lagi. Jika berhasil pasti semua akan kembali ke tangannya.
__ADS_1
"Atur waktunya, ya. See ya ...!"
Ana menggenggam ponsel Intan erat-erat. Lantas dia mulai menimbang di mana harus bertemu dan dia tak dirugikan lebih banyak lagi oleh Aldo. Dasar parasit, awas saja besok, kamu kembali ke derajat awalmu.