Wanita Lain Itu, Mamaku

Wanita Lain Itu, Mamaku
WLIM 14


__ADS_3

Ana kira Aldo tidak punya uang? Salah dong ... dia punya banyak uang untuk menyewa taksi sampai ke halaman bengkelnya.


Namun, Aldo begitu terkejut melihat banyak polisi yang berada di sekitar bengkel. Bahkan mereka mengepung lokasi ini.


"Pak, putar balik!" Aldo meminta sopir itu berputar arah, lalu menepi saat dirasa jarak mereka cukup jauh dari bengkel.


Aldo menelpon karyawan bengkelnya, menanyakan apa yang terjadi di sana.


"Itu Bos, mereka nyari buronan yang tak lain adalah Bu Ana."


"Apa?" Aldo mengumpat. "Kenapa mesti ngacak-acak rumah gue, sih? Polisi sialan!"


Aldo bersungut-sungut, lalu kemudian bertanya lagi. "Kamu jawab apa sewaktu ditanyai mereka?"


"Nggak jawab apa-apa, Bos ... kami kan nggak tau kalau Bu Ana buron, kami hanya jawab Bos tinggal sendiri dan lagi pergi."


"Baguslah kalau kalian paham." Aldo mengembuskan napas leganya. "Kalau masih ada yang nanya ke kamu, jawab aja aku lagi persiapan nikah sama Nayra di-di ... dimana aja, terserah. Bali apa di Lombok, pokoknga yang jauh!"


"Siap, Bos!"

__ADS_1


Aldo segera mematikan panggilan, dan sejenak menimbang kemana dia harus menuntun langkah. Semua tempat tampaknya tak aman baginya.


"Apa Nayra yang melakukan ini? Kok barengan ya, kejadian ketangkepnya Tante Ana dan digrebeknya rumah ku, sama terbongkarnya hubunganku sama Tante Ana? Kebetulan banget kalau dipikir-pikir." Aldo bergumam.


"Pak, jalan ke rumah sakit Heirs!" perintah Aldo. Dia ingin mengamati Nayra. Apa yang dilakukan wanita itu setelah meninggalkannya.


Sementara Ana hanya berputar mencari tempat perlindungan yang aman. Sampai dia tiba di sebuah kontrakan kecil pinggir kota yang tampaknya cukup terjangkau. Namun, sebelum itu bukankah sebaiknya mencari pekerjaan dulu. Jadi apa sajalah, asal bisa bertahan.


Ana membuka ponsel dan mencari lowongan pekerjaan. Mata Ana terpaku pada iklan penyalur jasa asisten rumah tangga. Ya, dia bisa melakukan itu setidaknya enam bulan kedepan. Ana bisa tinggal di sana, digaji, dan lenyap dari peredaran.


Ana bergegas mendatangi lokasi setelah menghubungi pengiklan.


Ana bergegas masuk setelah dipersilakan oleh penjaga rumah dan disuruh menunggu di sebelah pos. Matanya tak lepas mengamati pria tersebut.


"Masa depan aman kalau jadi istri pemilik rumah ini," bukannya seraya tersenyum licik.


"Silakan masuk, Bu ... Bu Nurul sudah menunggu di dalam." Penjaga itu menunduk sekilas, lalu mengantar Ana ke ruangan samping dimana wanita bernama Nurul sedang menantinya.


"Meriana, dipanggil Meri, ya?" Nurul basa basi saat membaca riwayat Ana. "Pekerjaan apa saja bisa ... kenapa keluar dari majikan yang lama?"

__ADS_1


Ana menunduk. "Maaf, Bu ... saya berniat berhenti kerja sebelumnya, tapi melihat gaji yang ditawarkan, saya tertarik, Bu."


Nurul tersenyum. Pasti gaji yang memotivasi. "Kerjaan banyak dan tidak ada banyak waktu untuk tidur atau bersenang-senang, sepadan dengan gaji yang besar. Kamu yakin sanggup?"


"Yakin, Bu." Ana mengangguk pasti.


"Oke ... Kamu bisa istirahat dan bekerja mulai nanti malam." Nurul tidak punya pilihan. "Pak Edo ada tamu penting malam ini, jadi kita semua tidak akan tidur sampai setidaknya jam 2 pagi.".


Ana mengangguk. Terserahlah ... pokoknya dia merasa aman di sini. Ana memakai riasan yang natural ditambah rambut yang dicat jadi hitam, pakaian sederhana, dan tambahan efek tua di wajahnya membuat siapapun tidak akan mengenali.


Nurul membawa Ana ke kamar, melewati ruang makan utama dimana seorang pria muda duduk tenang sambil memainkan ponsel.


Leo tidak peduli urusan rumah dan pelayan, jadi ketika Nurul menyapanya, Leo hanya berkata "hem" tanpa menoleh.


Melihat Leo, hati Ana melompat kegirangan. Dua orang sasarannya berada di depan mata. "Bapak sama anak sama sajalah. Dipakai keduanya juga boleh."


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2