Wanita Lain Itu, Mamaku

Wanita Lain Itu, Mamaku
44


__ADS_3

Dari sini, kebobrokan rumah sakit terkenal itu sedikit terungkap. Semudah kita meniup daun yang kering, semudah itu pula informasi menyebar. Bisik-bisik gunjingan mulai terdengar.


Edo di sisi lain tersenyum puas. Nayra setidaknya sudah menyelamatkan banyak orang dari keburukan pelayanan rumah sakit itu. Tidak seluruhnya, tetapi biasanya sebuah bangunan roboh karena kerangka bangunannya yang keropos. Rumah sakit itu tidak jauh beda, hanya menunggu waktu saja. Sementara dia sudah berkompromi dengan beberapa direksi yang sulit membuka tabir Bondan sebab beberapa orang berusaha menutupinya.


"Caramu memperlakukan mantuku sepertinya salah, Ndan!" Edo berbisik dengan suara penuh penekanan dan ancaman. "Kamu salaih pilih lawan kali ini."


Bondan sedang menutupi kegugupan yang sejak tadi menyergap hatinya. Dia tersenyum kecut. "Aku memutuskan berdasarkan data yang masuk. Tidak ada yang salah dengan itu, karena Nayra memang buruk kinerjanya."


Edi tertawa mencemooh. "Data dari siapa? Gundik kamu yang itu? Yang kerjaannya mengganggu orang lain?"


Bondan terhenyak. Sebenarnya, bukan rahasia lagi dikalangan atas soal hubungannya dengan Alena, tapi yah ... diucapkan sekasar itu, Bondan tidak terima. Dia dan Alena punya sejarah hubungan yang bagus. Servisnya memuaskan, dan tidak banyak menuntut soal posisi di hidupnya. Alena bukan gundik, dia wanita terhormat.


"Kenapa?" Edo melirik ketidaknyamanan Bondan. "Kamu mau membela dia? Silakan!"


Bondan juga tahu, semua orang tidak akan pernah sepakat dengannya. Jadi melawan Edo juga percuma.


"Sebaiknya, terapkan sikap adil dan objektif dalam memimpin sebuah institusi, Ndan! Kamu boleh punya hubungan, tapi matamu jangan dibutakan. Hubungan pribadi tidak bisa tumpang tindih dengan pekerjaan. Anak buahmu tahu itu disebut profesional." Edo menasehati dengan suara yang kalem. Dia berdiri sebab acara ini akan segera dimulai setelah ditunda beberapa saat karena keributan tadi.

__ADS_1


"Jangan sampai, seseorang membuat terobosan dari kesalahan yang kamu buat. Dan melampaui kamu. Kamu tahu, ada banyak orang cerdas dan punya kemampuan yang bekerja di bawah naunganmu. Mungkin mereka hanya menunggu waktu yang tepat untuk bergerak." Untuk terakhir kali, Edo memperingati agar Bondan mau berubah sedikit saja. Setidaknya, ada gebrakan yang membuat dirinya tidak dipecat. Edo tahu, sebelumnya Bondan bukan pria yang memutuskan dengan begitu mudah. Apalagi Nayra dulu direkrut dengan cara yang ketat. Pasti Nayra punya kemampuan yang luar biasa kan?


"Nayra sama saja dengan Alena asal kau tau, Do!" Bondan akhirnya mengatakan sesuatu yang membuat Edo berhenti.


Edo berbalik badan dan menatap Bondan dengan kening berkerut dalam.


"Ibu tirinya bernegosiasi dengan beberapa petinggi dan direktur sebelum aku menjabat." Bondan membalas Edo. Suaranya terdengar berat dan dalam. Tapi dalam hati dia merasa senang, hanya tidak bisa ditunjukkan didepan Edo. Atau dia akan binasa juga.


"Dia hanya terlihat baik di luar, ibunya juga mengeluarkan uang. Tidak sedikit, tapi cukup untuk melicinkan jalan Nayra sampai ke posisinya sekarang." Bondan menarik napas. Beruntung dia tahu soal ini saat seseorang di masa lalu memberitahunya.


Alis Edo saling bertaut. "Uang maksud kamu?"


Artinya, Nayra bukan orang yang menyedihkan seperti saat pertama dia lihat. Bukan wanita yang meratapi patah hati yang dialaminya. Nayra sebenarnya bisa melakukannya sendiri, jadi ucapan Nayra soal dia menikah hanya memanfaatkan Leo itu tidak benar.


"Nayra tidak semiskin kelihatannya, kalau begitu?" Edo bergumam.


"Ya, dia hanya berpura-pura tekun untuk mencari simpati orang." Bondan menyahut cepat. "Dan dia akan mengeruk hartamu, agar pundi-pundi uangnya bertambah, lalu meninggalkan Leo begitu saja."

__ADS_1


Edo mengernyit heran. "Itu yang kamu pikirkan?"


"Ya ...!" Bondan mengangguk seraya menatap Edo penuh provokasi.


"Tapi aku berpikir lain, Ndan!" Edo tersenyum ringan, lalu berbalik meninggalkan Bondan yang kaget melihat ekspresi Edo.


"Sial! Tidak mempan juga!" Bondan menggerutu, lalu memutar badan menghadap Nayra yang sudah mulai tenang di sisi Leo. "Dia punya sihir apa?"


Alena di sisi lain juga tak luput dari pandangan Bondan. Hatinya sedikit membandingkan. Walau Alena tak ada duanya, tapi Nayra itu satu-satunya.


Satu-satunya wanita yang menolak interview privat di Puncak.


"Apa bagusnya Nayra? Tubuh kerempeng begitu?!" Bondan mengabaikan kebaikan Nayra, sebab dia tidak memiliki kesempatan menikmatinya.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2