Wanita Lain Itu, Mamaku

Wanita Lain Itu, Mamaku
WLIM 16


__ADS_3

Siang itu, Nayra seharusnya tidur untuk mempersiapkan diri untuk bekerja nanti malam, sebelum dia libur esok hari—kalau tidak ada panggilan mendadak, tapi dia malah menyusuri kertas yang berisikan banyak sekali keterangan detail penarikan uangnya oleh Ana.


Uang di bank sudah habis sejak satu tahun lalu, beberapa aset di sini dijual untuk kepentingan pernikahan, yang entah kapan ini semua terasa nyata. Padahal, dia dan Aldo sama sekali tidak membahas rencana menikah, sebab mereka tidak akan menikah sampai tahun depan. Rincian seperti membayar EO, undangan, sampai souvenir, ada berikut nota dari pihak berkaitan.


"Niat sekali, ya, mereka." Nayra mendengus sinis, lalu berdiri untuk mengambil air minum di show case depan. Namun, langkahnya dihentikan oleh dering ponsel dari tas yang sejak tadi tidak meninggalkan meja.


Nayra hanya perlu menggeser satu kakinya untuk mengambil smartphone tersebut, lalu dia bisa melihat dengan jelas Leo mengiriminya pesan. Terakhir bertemu mereka saling bertukar nomor ponsel meski tidak pernah terlibat dalam obrolan apapun.


"Sudah pindah dari hotel, kah?"


Nayra mengerutkan kening, Leo mencarinya ke hotel? Namun belum sempat dia membalas, Leo kembali mengiriminya pesan lagi.


"Posisi?"


Nayra tersenyum, kemudian mengetikkan balasan.


"Jika ada yang penting, aku akan ke sana."


"Jam delapan, aku makan malam hotel kalau tidak keberatan makan malam bersama."


Alis Nayra naik bersamaan. "Makan malam lagi? Apa mereka sangat bingung menghabiskan uang sampai makan malam saja harus ke hotel, padahal di rumah ada puluhan pelayan dan chef yang masakannya setara dengan hotel?"


Tapi Nayra membalas 'ya' tanpa memikirkan efek jawaban itu bagi pria di seberang sana.


Wanita itu segera mengantongi ponsel tanpa berniat menepati janjinya. Dia hanya tidak mau memikirkan alasan di saat kepalanya sendiri sedang penuh dengan tanya. Menolak Leo, mencari alasan, lalu Leo berdebat sebab Leo tidak menerima alasannya.

__ADS_1


Leo mengetik pesan di bawah pengawasan sang Papa dari atas kepala. Ya, Papa Edo melihat seluruh pesan yang dikirimkan sang putra pada Nayra.


"Kamu nggak tahu cara menghargai wanita yang pernah kamu tiduri, rupanya," komentar Edo seraya berpindah ke kursi sebelah Leo. Mereka duduk di meja makan setelah makan siang.


Leo mendengus, lalu menjawab papanya penuh sindiran. "Ya, karena mereka memang pantas untuk tidak dihargai."


Edo menyeringai kesal. "Nayra wanita yang baik. Papa menyukainya."


"Ya udah, nikahin aja." Leo membalas papanya enteng, lalu beranjak ke kamar. dia harus berangkat ke rumah sakit, peduli setan dengan makan malam yang direncanakan sang papa untuk Nayra.


Edo jelas meradang mendengar sahutan ketus sang putra. "Nayra atau wanita lain, yang Papa pilihkan untuk kamu, Leo! Silakan pilih."


Leo membuang napas keras, lalu menatap papanya. "Terserah Papa."


"Pa ...." Leo duduk kembali dengan wajah muram dan kesal. Dia gatal sekali jika mendengar tuduhan telah menodai Nayra hanya karena mereka kepergok berdua di kamar hotel. "Nayra baru saja putus dari pacarnya, dia butuh ruang untuk dirinya sendiri berdamai. Kehadiranku hanya akan membuat Nayra sulit. Biarkan saja dia move on perlahan, jangan diganggu dengan keinginan Papa yang konyol itu. Ini menikah, Pa ...seumur hidup, bukan untuk semenit dua menit. Aku nggak mau jika kami berdua terpaksa menikah hanya karena Papa apalagi karena umur."


Edo membuang napas. Dia sadar terlalu menggebu ingin menikahkan anaknya yang sudah tua dan pantas punya selusin anak, tapi untuk wanita berkarakter seperti Nayra, dunia tidak akan pernah menunggu. Leo terlalu lambat.


"Pikirkan saja, kalau wanita seperti Nayra hanya lahir seabad sekali. Dan abad ini. kamulah yang beruntung memilikinya, tapi kamu tampak lebih suka dengan wanita manja dan suka menghabiskan uang. Cantik tidak, menyusahkan iya. Posesif, cemburuan, dan nggak punya otak. Suatu saat kamu menyesal dengan pilihanmu, sementara Nayra bahagia bersama pria yang mampu menghargainya."


"Stop, Pa ... Papa nggak usah menghabiskan waktu untuk menakut-nakuti aku yang sama sekali nggak takut pada semua itu. Sekarang, Nayra setuju untuk datang, jadi siapkan makan malamnya. Tapi maaf, aku nanti tidak bisa gabung." Leo kali ini benar-benar pergi. Langkahnya cepat sampai Edo tidak sempat mendesak Leo pulang cepat malam nanti, dengan berbagai ancaman.


"Ck ...." Leo berdecak saat memasuki mobil miliknya. Dia belum tau Nayra dimana, sebab Nayra di hotel Nayra tidak ada. Awalnya, dia ingin menemui Nayra sampai sang papa datang lalu menyuruh Leo membawa Nayra makan malam. Tentu dia kesal pada pria itu karena dianggap mengganggu saja, sama seperti beberapa waktu lalu saat Nayra makan malam disini. Leo bahkan tidak ngobrol dengan Nayra sebab papanya yang sibuk membicarakan AZ tanpa Leo bisa menyela.


Menyebalkan sekali.

__ADS_1


Ana melihat Leo seraya mengingat kejadian di rumahnya waktu itu. Dia sedikit tidak yakin, tapi pria itu memanglah Leo, pacar Nayra. Seketika dia lupa pada Aldo, malah ketika dia masuk ke rumah usai tersenyum genit ke arah Leo yang sejak kehadirannya di sini, bersikap dingin padanya.


Ketika masuk ke ruang makan, Ana melihat Nurul dan Edo berbincang serius.


"Malam ini, atur makan malam yang special lagi. Calon mantu akan makan malam di sini. Chef Morgan akan datang setengah jam lagi."


Ana membeliak. "Calon mantu? Nayra calon mantu di sini? Dia akan jadi bos di rumah ini?"


Kepala Ana mendongak, mendengar lagi pembicaraan bos dan kepala pelayan itu seksama. Chef Morgan terkenal dengan makanan ala Perancis yang amat mahal itu, dan di sini, Nayra akan menikmati semua itu secara spesial?


"Oh ... sialan si Nayra itu!" Ana mengepal geram. Dia harus menahan diri untuk mencicipi masakan special sang chef, sebab untuk satu kali makan, dia akan menghabiskan ribuan dolar. Ana masih sayang uang untuk makanan perancis yang sebagian besar sangat mahal untuk porsi yang sedikit.


Ana sempat mengalami shock akibat melihat kemewahan dua orang  ini. Bahan makanan mahal menjadi santapan mereka setiap hari, semua daging, sayur, buah, dan sebagainya berlabel grade A. Seketika, Ana merasa kesombongannya yang pernah makan ramerame dan menghabiskan 32 juta itu hanya senilai sekali makan malam Edo dan Leo.


Dan nanti Nayra yang akan mendapatkan itu semua? Oh, Ana sangat tidak rela.


*


*


*


Sorry, halu agak ketinggian.


Note ya, aku update selalu malam, tapi NT sensi bet sampai besok baru diloloskan. Sorry, ya🙏

__ADS_1


__ADS_2