Wanita Lain Itu, Mamaku

Wanita Lain Itu, Mamaku
41


__ADS_3

Jangankan untuk mengangkat telepon, untuk membuka mata saja Aldo kesusahan. Dia sudah minum obat, demamnya sedikit reda, tetapi tetap saja badannya masih terasa sakit. Dia butuh istirahat lebih lama untuk menggantikan waktu tidurnya yang terganggu beberapa hari ini.


Namun, suara berisik dari ponsel itu mengusik. Aldo mengerang sebab ujung ke malu annya masih ngilu, rasanya masih kebas dan berat.


"Apa mungkin beneran patah karena digenjot berlebihan sama wanita breng sek itu?" Aldo membatin. Harusnya setelah selama ini, Aldo memeriksakan diri, tetapi dia terlalu takut menghadapi vonis. Bagaimana kalau HIV? Dan bagaimana Aldo menghadapi kenyataan jika barang berharga itu beneran patah dan tidak bisa digunakan lagi?


Tiba-tiba Aldo merinding.


Ponselnya kembali berdering. Dia mengira itu Ana yang siang tadi tampaknya menghubunginya dengan nomor baru, jadi Aldo berdecak seraya menarik ponselnya, lalu dengan malas dia mengusap layar untuk menjawab—matanya masih terpejam. Dari caranya menghubungi, Ana sudah gatal dan akan minta jatah. Ana biasa menerornya dengan sering menelpon jika sudah tak sabar lagi untuk bercinta.


"Gue sakit, Sialan!" Aldo langsung memaki begitu panggilan terhubung.


"Woey! Sans, Bro! Ini gue, Taufan!"


Aldo berdecak, kemudian memaksa matanya membuka sedikit. Kamarnya gelap, sebab dia tadi mematikan lampu agar bisa tertidur. Perlahan Aldo bangun walau kesusahan.

__ADS_1


"Ada apa lo nelpon gue malam–malam?"


"Biasa, gue ada kerjaan buat lo! Mau nggak?"


Aldo mengusap rambutnya, mencoba menahan diri tidak membaui aroma tak sedap yang memenuhi kamar. "Gue lagi nggak bisa! Onderdil gue lagi nggak fit."


Taufan terkekeh. "Nggak pake itu kali! Tapi pake skill lo buat bongkar mesin mobil! Gue lagi ada orderan buat selundupkan sabu di dalam mesin mobil! Bayarannya lumayan!"


"Tunggu gue baikan dikit!" Nah, itu kerjaan lain yang sedikit lebih baik dari pada harus jual sodokan, kan? Sama–sama gede, dan soal halal haram ... dia tidak mau ambil pusing. Yang haram saja susah, apalagi yang halal? Berat Bro!


"Jan kelamaan lo sakit! Atau gue lempar ke yang lain, dua hari lagi lo temui gue!"


"Oh, ****!" Aldo membeliak saat melihat ujung kepala ke malu annya di kerubuti semut. Cairan kekuningan merembes dan jangan lupa, bengkak dan warnanya makin mengerikan. Aldo menguatkan diri untuk ke kamar mandi dan membersihkan diri, meski dia sangat ketakutan.


'Gue butuh dokter sekarang!' Aldo membatin. Dia meraih pakaian dan memakainya serampangan.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Aldo sudah masuk ke ruang UGD klinik yang buka 24 jam tak jauh dari hotel. Beruntung ada dokter pria yang jaga, jadi dia tidak terlalu sungkan.


Ketika hendak diperiksa, ponsel Aldo berdering lagi, sehingga Aldo bergegas mematikan ponsel tanpa melihat lagi siapa yang menelpon. Dia butuh fokus untuk mendengarkan penjelasan dokter mengenai apa penyebab sakit di organ kebanggannya ini.


Sementara Ana mengumpat, melihat Aldo lagi–lagi mereject panggilannya. Wanita yang semula berjalan mondar–mandir dengan tangan berkacak pinggang itu menghentikan langkah dan menendang kasur dengan keras. Ponsel dengan layar retak dan memunculkan bias pelangi itu dimakinya keras–keras—Ana ingin membantingnya, tapi sayang kalau rusak dia tidak punya uang.


"Nggenjot terus lo, Bang***! Nggak inget gue yang lagi usaha buat nyelametin hidup lo! Bang*** sialan!"


Ana puas memaki hingga dadanya naik turun. Lantas dia menjatuhkan tubuhnya yang sedikit kurus ke kasur dengan keras. Tangannya meremas rambut sangat brutal. "Harusnya aku nggak usah kasih sertifikat itu ke Aldo! Aku jual sendiri dan uangnya aku nikmati sendiri! Bodohnya aku!"


Ana menepuk kening keras-keras sebagai bentuk kekesalan pada kebodohannya sendiri.


"Setelah semua kesalahan yang aku lakukan di rumah ini, kapan aku punya kesempatan mengambil kembali sertifikat itu?!" Ana tahu, kalau dia sedikit jauh dari hidup nyaman dalam waktu dekat. Astaga, dia harus bersabar.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2