Wanita Lain Itu, Mamaku

Wanita Lain Itu, Mamaku
45


__ADS_3

"Dokter Nayra?!"


Nayra menunggu Leo di lobi gedung setelah acara tersebut selesai sekitar jam dua siang. Sendirian dan tentu menjadi pusat perhatian setelah kejadian dengan Alena tadi.


Suara panggilan itu membuat Nayra menoleh. Nayra tidak bereaksi hanya memang tak putus menatap dokter pria tersebut.


Dokter yang tak lain adalah Dokter Joshua berjalan mendekat.


"Nay, aku kesal kamu nggak kerja lagi." Joshua perutnya buncit, langkahnya pendek, berlari beberapa meter menuju Nayra membuat napasnya engap, sehingga dia terengah-engah ketika sampai di hadapan Nayra. Pria itu menuduk, memegang lutut dan ucapannya terputus-putus.


"Aku nggak bisa lagi izin semauku." Joshua menegakkan tubuhnya. "Dan—"


"Kau harus belajar menghargai gaji kamu, Josh." Nayra menukas dingin. "Belajarlah efisien dan bertanggung jawab."


"Nay, aku hanya bercanda. Kamu—" Jelas Joshua bingung. Nayra tampak defensif kepada semua orang yang kini bekerja di rumah sakit itu.


"Nay, kamu—"


"Untuk kebaikan kamu sendiri, Josh ... sebaiknya mulai sekarang kamu berubah. Tidak semua orang seperti aku, jadi selain bertanggung jawab, kamu tidak bisa melakukan apapun. Suatu saat, kamu akan berterima kasih atas nasehatku ini."


Joshua bingung. Ada apa ini sebenarnya?


"Balik lagi lah, Nay. Aku nggak ada teman ngobrol dan aku mintai pertimbangan jika menemui pasien dengan kondisi kompleks."


"Aku yakin kamu bisa tanpa aku Josh, hanya kamu harus lebih berani." Nayra masih dengan ekspresi yang sama. "Aku nggak akan kembali walau mereka memohon."


"Nggak ada yang akan memohon sama kamu, Dokter Nayra!" Alena menyerbu serta merta. Dia melangkah ke hadapan Nayra dengan tangan bersedekap dan tatapan tajam.

__ADS_1


"Kamu udah dibuang."


Nayra menyipitkan mata, beralih dari Joshua ke Alena. Bibirnya mendesis menahan jengkel.


"Bagus kalau begitu, Alena. Aku berharap begitu, sebab jika sekali saja aku mendengar ada yang memohon untuk kembali, maka aku akan menggunakan kata-kata kamu untuk membalik keadaan."


"Ya, teruslah bermimpi, Nayra! Aku takut kamu kecewa, jadi aku beritahu kamu sekarang ya, kalau tukang kebersihan sekalipun nggak ada yang mengharap kamu kembali. Kau terlalu arogan dan sok, Nayra!" Alena mengintimidasi, semua hal yang membuat Nayra down, digunakan Alena. Atau setidaknya, Alena pikir, Nayra masih bodoh dan melakukan pernikahan setingan untuk memperkuat posisinya.


"Astaga, Alena ... siapa sih, yang ingin kembali ke sarang dokter korup itu? Hah, apa mukaku terlihat ingin sekali kembali? Tolong lihatlah baik-baik, Alena ... aku sekarang bahkan bisa mendirikan rumah sakitku sendiri, dengan pengalaman dan kemampuanku ini." Nayra menyentuh kening seraya menggeleng. Bibirnya tersenyum meremehkan.


Alena tertawa mendengar ucapan Nayra yang terkesan sombong itu. "Oke, Dokter sok pintar! Sekarang pikirkan SIP yang mahal—"


"Kau lupa kalau ayah suamiku adalah seorang Eduardo?!" Nayra menjentikkan kuku-kukunya. "Jadi, apa aku masih butuh mengabdi dan tidak dihargai di rumah sakit yang kamu banggakan itu?"


Nayra tersenyum remeh. "Alena, aku tau, kamu primadona di sana, jadi sebesar apa usahaku di sana, tidak akan sebanding dengan keringat kamu bersama Pak Bondan ... jadi, buat apa aku terus berada di sana, kan? Buang-buang waktu dan tenaga, tau nggak?"


"Iya, Alena ... kau mau menampar mulutku yang berkata jujur? Silakan!" Nayra menyodorkan pipinya. Seketika Joshua yang telah mencerna masalah yang terjadi memasang badan. Dia dan Nayra sering membahas ini—skandal Alena dan Bondan, bahkan menjadikan bahan guyonan saat istirahat atau tertekan.


"Udah lah, Al ... lo salah kalau cari perkara sama Nayra! Pikirkan saja, elo yang nggak pernah naik kelas sekali saja! Nayra selalu melindungi kebodohan lu, jadi percuma lu sok menindas dia, lu sama aja menindas pohon kelapa, tau nggak! Lu tuh nggak sebanding!" Joshua menuding. Itu benar adanya.


Alena geram, "Lo gak usah jadi pahlawan kesiangan, Josh! Lo juga bukan siapa-siapa dia, lu dibayar berapa sama Nayra?!"


"Gak semua melulu tentang uang, Al ... lu sama isi otak lu saja yang hanya mikir semua karena uang! Kami saling melindungi atas dasar kebaikan! Otak lo picik, tau nggak!" Josh meradang dan kesal. "Andai lo cowok, udah gue gibeng muka lo yang sok cantik dan plastik itu!"


Joshua menarik tangan Nayra, bersiap membawanya pergi dari depan Alena. "Lo sebaiknya pergi, Al! Jangan usik Nayra sama kaya Nayra gak pernah usik lo! Lo bakal binasa kalau terus mengusik Nayra! Lo bakal tinggal nama kalau lo gak berhenti sekarang!"


Tatapan penuh peringatan dari Joshua itu harusnya cukup untuk membuat Alena berpikir, kalau dia punya otak dan sisa kewarasan di sana. Ah, Joshua lupa, isi otak Alena hanya bagaimana membuat Bondan puas dengan cairan kli maks nya.

__ADS_1


Dasar otak lendir semua!


Joshua membawa Nayra ke bagian lain lobi yang sedikit tersembunyi. Joshua berbicara pelan.


"Aku akan kumpulkan tanda tangan dari semua dokter dan perawat agar kamu direkrut kembali, Nay! Bukan soal seberapa kaya kamu sekarang, tapi rumah sakit butuh kamu! Kasihanilah pendirinya."


"Pendirinya sudah mati, Josh ... jangan membujuk!" Leo entah datang dari mana, tau-tau sudah berdiri di belakang Joshua.


Joshua berbalik dengan punggung yang terasa kebas. Dia tahu itu suami Nayra. Astaga ... dia salah bicara kayaknya!


"Tapi kalau kamu ajak Nayra gabung kembali, pastikan Bondan sedang dalam keadaan terdesak, sebab hanya saat itu dia merasa paling tidak berdaya! Bondan harus di pojokan dengan isu yang melemahkan posisinya. Gosok terus dengan gosip skandal yang menjijikkan, dengan begitu, Bondan rapuh luar dalam dan akhirnya menyerah." Leo tersenyum.


Joshua mengangguk untuk menyembunyikan napas leganya. "Yah, gue pikir begitu, tapi Nayra kukuh nggak mau balik."


"Tugasku untuk meyakinkannya, Josh ... btw, thanks udah bela Nayra tadi." Leo mengulurkan tangan dan bersalaman dengan Joshua.


"Yeah ... dia paling baik dan rendah hati meski sudah melampauiku kemampuannya. Nayra paling bisa aku andalkan!" Joshua terkekeh melirik Nayra yang terlihat salah tingkah, meski ditutupi dengan gestur badannya yang sok dingin itu.


Leo tersenyum menatap Nayra. Kemudian mengerling nakal. Dia tadi hanya berpura-pura pergi, yang sebenarnya dia hanya ingin melihat siapa yang tulus dengan Nayra dan akan dijadikan kawan untuk berkubu, dan dugaannya sama sekali tidak meleset, Joshua lah orang itu. Leo senang akhirnya, dia bisa berbuat banyak untuk rumah sakit yang membesarkan namanya.


Dia tidak akan membiarkan Bondan menodai dunia medis dengan tindakan kotornya.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2