
Nayra berwajah sumringah saat duduk di meja makan pagi ini. Dia sama sekali tidak tahu kalau semalam ada yang resah gelisah memikirkan benda di tangan wanita itu. Ana pagi itu tidak terlihat berkeliaran di sekitar meja makan—biasanya dia membawa makanan dan mengurus meja makan, Nayra agak merasa kehilangan soal itu, setidaknya dia tidak bisa memamerkan betapa hidupnya sangat luar biasa sekarang.
"Meri dipindahkan ke bagian laundri pagi ini, Nyonya." Nurul menjelaskan sebab Nayra kelihatan mencari–cari pelayan kesukaan Nayra itu. Nurul pikir begitu sebab Nayra selalu menginginkan Ana yang melayaninya. "Semalam dia berbuat kesalahan."
Nayra mengangguk, meski kecewa tetapi pasti ada pertimbangan soal itu.
"Pagi Sayang." Leo datang langsung mencium Nayra di kening. Wajahnya sama segarnya dengan Nayra pagi ini. "Jadi kita ke bank hari ini?"
Nayra yang langsung merangkul pinggang Leo, mengangguk. Dia masih menikmati fakta bahawa semalam mereka berdua luar biasa. Nayra sendiri tidak menyangka dirinya akan seliar itu setelah mendapatkan treat yang lihai dari Leo.
"Kopi susu." Nayra menawarkan. Dia bisa melayani Leo sebagai istri, alih–alih Nurul.
"Ya, aku mau krimnya dikurangi." Leo duduk dan melihat lagi tas yang akan Nayra bawa ke bank. Nayra dengan sigap berdiri untuk menyiapkan kopi untuk suaminya.
Semalam sebelum akhirnya mereka bergulat di ranjang, Nayra mengusulkan untuk menyimpan semua surat berharga itu di SDB, termasuk surat warisan yang diserahkan pengacara Tahir waktu itu. Nayra telah mempelajari dan menyimpulkan bahwa selain mobil dan tabungan, Ana tidak punya apa–apa lagi. Semua uang yang telah cair selama ini sudah tidak bisa Nayra mintakan ganti. Pasti mereka berdua selama ini menghamburkan uangnya untuk bersenang–senang.
Leo iseng saja sebenarnya untuk melihat surat warisan itu. Dia hanya ingin tahu seberapa kaya istrinya ini. Dan apakan sudah tidak ada yang terlewat dari setiap detil surat wasiat itu.
Tangannya juga gatal ingin mengintip kwitansi jual beli bengkel—yang kemarin sempat dilihatnya sekilas di dalam surat tanah tersebut. Leo menarik buku itu dan membukanya. Kwitansi langsung terpampang dan Leo melihat ada kertas lain dibawahnya saat menarik kwitansi. Diambilnya kertas tersebut, dan mata Leo dibuat hampir jatuh melihat tulisan di kepala surat.
Selembar surat keterangan penyebab kematian yang dikeluarkan oleh dokter terselip di setifikat tanah bengkel. Wah ... sejak kapan ini ada? Buru-buru Leo membacanya. Namun dia bersikap biasa saja agar tidak memancing keributan.
"Papamu di surat keterangan dari dokter ini tidak ada menyebutkan penyakit jantung sebagai penyebab kematian, Nay." Leo menoleh ke arah Nayra yang terlihat kaget. Setahu Leo begitu. "Semua dalam kondisi baik, hanya kelelahan menjadi pemicunya."
Nayra membawa cangkir berasap berisi kopi susu untuk Leo. Dia mengulurkan cangkir itu dan duduk lagi seraya melongokkan kepala ke arah lembaran yang dipegang Leo.
"Kamu nemu dimana?" Nayra bingung. Dia sudah berkali–kali melihat dan membaca surat wasiat itu, tetapi tidak menemukan kertas itu.
__ADS_1
"Di sini!" Leo menunjuk sampul plastik dari tumpukan surat wasiat itu. "Sepertinya yang ini terlewat."
"Jadi Papa meninggal kenapa?" Nayra menyipit untuk melihat lebih dekat kertas yang tulisannya hampir pudar. "Dikatakan mengonsumsi obat penenang dalam jumlah tidak wajar, benar begitu kan ini maksudnya?"
Nayra hampir tidak percaya pada kemampuannya sendiri. Saat meninggal, seingat Nayra tidak ada hal yang aneh, selain ketika dibawa pulang, bahkan dirinya tidak bisa melihat keadaan sang Papa untuk terakhir kali. Waktu itu, Nayra tidak keberatan sama sekali, ada Mama Ana-nya yang selalu memeluknya berbarengan kata-kata penghibur yang lembut dan menenangkan.
Leo ikut menyipit. "Kelihatannya obat itu khusus untuk orang yang menderita ganguan jiwa yang akut—orang gila maksudnya, kurasa Papamu nggak sengaja minumnya, Nay. Pasti seseorang memaksanya minum."
Nayra terdiam saking syoknya. Kepalanya berputar mencari kejanggalan sewaktu papanya meninggal. Mungkinkah ini perbuatan Mama Ana? Sekejam itukah dia?
"Bukan aku memperkeruh keadaan, tapi mungkin mama tiri kamu yang melakukannya." Leo dan Nayra saling bertatapan. "Tapi kalaupun iya, kamu nggak bisa memenjarakan dia."
Nayra mengangguk dan menggenggam tangan Leo. "Tapi aku bisa menghukumnya, Sayang. Nyawa harus dibayar nyawa!"
Nayra mengepulkan tekat yang besar soal ini. Tangannya sendiri yang akan menghukum Ana jika hukum tidak bisa mengadili.
***
Usai dari bank, Nayra dan Leo pergi ke sebuah seminar dengan Edo sebagai pembicara. Leo juga mendapat undangan sehingga dia mengajak Nayra. Ini juga alasan kenapa dia belum pergi berbulan madu, masih ada beberapa acara yang mesti dihadiri dan memang Leo mengajukan cuti pekan seminggu lagi, sesuai jadwal pernikahan yang sebenarnya.
Nayra melihat background di belakang meja pembicara, lantas dia menarik sudut bibirnya. Setidaknya di pertemuan ini, Nayra akan bertemu dengan rival–rival yang pernah menjatuhkannya.
Alena tentu hadir di sana dengan bangganya. Dia bahkan cekikian di meja yang seharusnya diduduki oleh Leo dan Edo saat temannya mengingatkan dimana dia seharusnya duduk. Tapi siapa peduli, kan? Ini khusus dokter, bukan mantan dokter. Dia ingin berfoto dengan Leo dan menunjukkan pada Nayra siapa yang jadi pemenangnya. Nayra bukan apa-apa dibandingkan dirinya. Leo pasti mudah direngkuhnya.
Dia sudah berpesta sebelum perang dimulai.
Nayra masuk dengan mengamit lengan Leo. Mereka berdua berjalan dibelakang Edo yang memakai jas abu-abu. Semua orang berdiri dan bertepuk tangan, hanya Alena yang masih setia duduk ternganga, tanpa bisa menggerakkan tubuhnya.
__ADS_1
"I-itu kenapa bisa di sana?" gumam Alena terbata.
"Maaf, Bu ... ini khusus buat Dokter Leo dan Pak Edo." Alena kaget mendapatkan sentuhan di bahu. Dia menoleh dengan bingung ke arah wanita yang memakai id card yang menunjukkan bahwa dia adalah staf acara ini. Dengan kata lain, Alena harus pindah ke tempat duduknya sendiri. Dia harus kembali ke posisi awal yang seharusnya. Dia diusir secara halus ketika menduduki posisi Nayra.
Alena membuang muka seraya mendengus.
"Saya ini juga orang spesial buat Leo!" wanita itu berkeras seraya bersedekap.
"Yang spesial telah berada di sisi Dokter Leo sekarang ini, Bu ... maaf, tolong jangan membuat acara ini jadi kacau." Staf itu berkata lagi. Dia masih menahan suaranya selembut mungkin.
Alena tercenung beberapa saat. Tidak ada pengumuman apapun soal kedatangan Nayra hari ini. Pikirnya, Leo datang sendiri, dan dia ingin menampar mulut Nayra dengan foto dirinya sedang bersama Leo.
"Mereka sudah menikah semalam, apa Ibu tidak tahu soal itu?" Staf itu bertanya sebab dia mulai kesal.
"Apa?! Menikah?!" Alena menoleh dengan mata membelalak lebar, dan itu sedikit horor sehingga staf itu menjauhkan diri.
"Ya, Bu. Dokter Leo dan Dokter Nayra sudah menikah semalam."
Alena syok bukan main. Halunya ingin menjatuhkan Nayra, eh, kini dia yang malah kebanting sampai ingin mati saja sekarang juga.
"Sialan Nayra!" Alena membatin dengan tangan mengepal, dan bibir bawah digigit keras. "Curi start dia!"
*
*
*
__ADS_1