
"Ada apa, Meri?!" Nurul mendekat. Dia sedikit curiga melihat gerak–gerik Ana yang mencurigakan.
Ana mengembalikan dokumen itu kembali ke dasar koper, lalu berdiri dengan gugup. "Maaf, Bu ... tadi dokumen milik Bu Nayra ikut tertarik saat saya ambil baju milik beliau."
Ana mundur dengan kepala tertunduk, pandangannya masih lekat menatap map merah tua itu. Mengingat dengan jelas bagaimana bentuknya sebelum Nurul mengamankannya.
Nurul hanya melihat sekilas, lalu menutup koper Nayra dan meletakkkannya di tempat penyimpanan koper. "Lanjutkan pekerjaanmu, Meri! Kita tidak boleh memindahkan barang berharga milik majikan kita tanpa sepengetahuan maupun konfirmasi dari majikan kita! Siapapun dan semuanya, termasuk Nyonya Nayra ... malam nanti rumah ini sepenuhnya di bawah kendali Nyonya baru kita."
Ana membeliak. Apa–apaan ini? Nayra mengendalikan rumah ini? Semudah itu? Gila!
"Jadi, kamu juga harus terbiasa memanggil beliau Nyonya." Nurul tersenyum senang seolah panggilan itu adalah sinar matahari diantara gelap mendung yang menaungi rumah ini.
"B–baik, Bu ...." Ana menunduk seraya meremas pakaian milik Nayra hingga kusut. "Saya mengerti."
Sial! batin Ana.
Nurul tersenyum puas seraya menatap etalase kosong yang mengelilingi ruangan ini. "Sebentar lagi, kamar ini akan penuh warna. Mas Leo terlalu monoton dengan warna monokrom."
Ana menunduk semakin dalam, menahan rasa jengkel yang terus bergolak ingin meluap. Mulutnya tak tahan ingin memaki Nayra.
"Nayra ...!" geram Ana tertahan oleh giginya yang saling beradu dengan ketat.
***
Nayra selesai dengan pekerjaannya jam tiga sore. Segera dia berkemas ditemani Meli seorang. Sebenarnya, banyak yang ingin membantu, tetapi Nayra menolak. Dia tidak mau terjadi kehebohan bahkan membuat pekerjaan utama mereka terganggu.
"Aku akan mengundang kalian nanti sebagai tanda perpisahan, di luar rumah sakit!" bujuk Nayra sebelum masuk ke sini. Puluhan perawat dan staf bahkan cleaning service menawarkan bantuan, mereka berjejer sudah seperti antrian pasien di depan poli.
"Dokter Nay ... aku rasa, anda barusan dipecat dengan tidak hormat." Meli berhenti memasukkan buku terakhir Nayra ke kotak kardus, wajahnya yang sendu menatap Nayra. "Tapi kenapa anda malah membuat acara perpisahan tanpa perasaan tertekan sama sekali? Biasanya acara perpisahan begini diadakan oleh dokter yang naik jabatan, diterima jadi PNS, atau dapat beasiswa ke luar negeri, sementara—"
Nayra tersenyum, lalu duduk di kursi kerjanya yang berputar. "Nggak semua kesedihan harus diratapi, kan?"
Melihat itu, simpulan Meli sepenuhnya benar, sehingga dia kembali melanjutkan kegiatannya meski dengan lesu. "Dokter senang sekali tampaknya pas dipecat ... kaya ini adalah sesuatu yang Dokter harapkan selama ini."
Nayra tertawa keras. "Nggak juga." Dia menjawab masih sambil terus tertawa.
"Lepas dari Dokter Alena, lepas dari jam kerja tak beraturan, lepas dari aku yang manja. Apa lagi yang lebih menyenangkan daripada itu?" Meli akhirnya tak bisa lagi menahan air matanya. "Siapa yang akan sabar sama kelemotanku jika Dokter pergi?"
__ADS_1
Nayra berhenti seketika, lalu meraih tangan Meli dan mengusapnya lembut. Meli seketika mendongak untuk menatap Nayra. "Mulai sekarang, kamu harus jadi wanita yang berani, jadi wanita yang tegas, dan kuat. Kamu pasti bisa, Mel! Pikirkan saja bagaimana aku selama ini berdiri di sini. Pikirkan bagaimana bekerja dengan baik dan efisien. Dan doakan aku bisa bangun rumah sakit sendiri agar kamu bisa bekerja untukku nanti."
"Serius, Dok?" Meli berbinar penuh harap.
"Yang terakhir itu lupakan saja!" Nayra menggerakkan bola mata ke kiri dan kanan. "Aku sendiri tidak yakin. Kecuali kamu mau mendoakan sungguh–sungguh. Rumah sakit itu biayanya mahal."
Meli kembali merengut. "Tapi nggak ada yang nggak mungkin, Dok. Hanya saja, sebaiknya Dokter jangan berkhayal tinggi–tinggi. Aku yakin kemampuan Dokter, tapi aku nggak yakin sama keuangan Dokter."
Nayra terkikik geli. "Aku cukup kaya sekarang, Mel ... hanya mungkin kekayaanku masih kurang, kecuali Papa Dokter Leo menyumbang dana yang besar."
Meli menganggap ini adalah rencana dini Nayra, atau cara Nayra menghibur diri. Dokter Leo? Serius? Bukankah mereka berdua saling sapa saja tidak pernah? batin Meli.
Baru saja Meli ingin mengingatkan Nayra untuk tidak bermimpi terlalu tinggi, pintu ruangan diketuk pelan dari luar. Nayra dan Meli saling pandang, dan Nayra dengan suara yang tegas menyilakan masuk.
Nayra mengatakan 'oh' ketika melihat pria yang memanggilnya seusai rapat tadi.
"Dokter tolong jangan buru–buru pergi." Pria itu tergesa mendatangi meja Nayra. Wajahnya sangat tegang dan penuh harap pada Nayra. "Kami membuat putusan yang salah, Dokter."
Nayra tersenyum sinis, lalu membuang muka ke samping. Meli merasa obrolan ini bersifat privat, jadi dia membungkuk pada dua orang itu lalu meninggalkan ruangan Nayra seraya membawa kardus berisi buku yang cukup berat. Namun, dia tidak benar–benar pergi.
"Kalau begitu, seharusnya bukan anda yang datang kemari, kan, Pak?" Nayra kembali menghadap pria itu, "hanya direktur yang berhak membatalkan keputusan ini. Anda sekalipun berkuasa tidak bisa melakukannya."
Pria itu hanya bisa mematung dengan pikiran kosong. Nayra sungguh tangguh dan teguh pendirian. Tatapannya dingin dan memang susah sekali disentuh kecuali Nayra memberikan kesempatan.
Nayra membungkuk setengah badan, lalu melangkah ringan meninggalkan ruangan yang bertahun–tahun telah ditempatinya. Sayang dia tidak bisa mengucapkan perpisahan dengan baik karena kedatangan pria tersebut.
Meli menunggu di ujung koridor yang bisa mengakses ke parkiran maupun ke halaman bila Nayra pulang memakai taksi. Dia melihat Nayra menitipkan catatan ke nurse station, sebelum berlari kecil menuju kepadanya. Meli melihat dengan jelas, Nayra sesenang itu lepas dari belenggu beban pekerjaan di sini. Yang rajin makin rajin, yang malas dan hanya mengandalkan penampilan dan koneksi, makin semena–mena. Meli tidak berusaha membujuk Nayra untuk tetap tinggal walau dia merasa sedih juga kehilangan sosok panutan, tapi melihat Nayra tersenyum, Meli tidak tega. Dia tidak mau memaksa Nayra untuk tetap tinggal.
"Bantu aku bawa sampai ke parkiran depan, ya, Mel." Nayra mengambil sebagian beban dari tangan Meli, lalu berjalan cepat menuju parkiran mobil khusus dokter.
Meli menyimpulkan kalau Nayra bawa mobil sendiri. Meli paling tahu soal Nayra, bahkan tahu kalau Nayra akan menikah tak lama lagi. Jadi dia hanya mengekor di belakang Nayra seraya memperhatikan wanita itu dari belakang.
Di parkiran, Meli melongok saat sebuah mobil merah mengkilap dikerubuti oleh wanita norak bersama gengnya. Siapa lagi kalau bukan Alena dan beberapa teman circlenya yang baru datang. Mereka selfi di depan mobil merah itu bergantian. Meli mencibir, sampai dia sadar kalau Nayra menuju ke arah kerumunan itu.
"Astaga ... setelah dipecat, Dokter Nayra jadi bertindak berani di area rumah sakit ini." Meli membatin, bahkan kalau bisa, dia ingin menepuk kening keras–keras.
Alena melihat Nayra langsung memasang pagar betis untuk menghadang Nayra. Mereka terlihat angkuh dan sinis.
__ADS_1
"Minggir!" perintah Nayra dengan suara yang tegas.
Meli sedikit malu. Dia menunduk seraya menggigit bibir.
"Wow, si dokter buangan ini berani bentak kita?!" Alena berkata seraya menoleh ke arah teman–temannya yang berdiri di kiri dan kanannya. "Kalian cium bau–bau kehaluan, nggak sih?"
Mereka berlima kompak tertawa, lalu Alena dengan angkuh menduduki kak mobil dan mengusap pelan logo kuda di depan mobil seraya menatap Nayra penuh ejekan.
"Kau harus mengumpulkan gaji seumur hidup jika ingin memiliki satu yang seperti ini, Nay! Atau jalan pintas jadi simpanan petinggi rumah sakit ini kalau ingin punya yang second." Mendengar ucapan Alena, lima wanita di sebelah Alena tertawa meremehkan.
Nayra mendengus, mencemooh kepercayaan diri mereka. "Kenapa mesti second kalau yang baru saja bisa beli? Apa hasil jualan lendir kamu ke Pak Bondan selama ini hanya senilai Avanza keluaran tahun 2004?"
Alena berdiri dengan gerakan menyentak, langkahnya terayun cepat menuju Nayra yang malah bersedekap seolah menantang.
Meli di belakang menggigil dan berbisik. "Ya Allah, Dokter Nay... nyebut! Ngalah aja, dia bukan lawan kita untuk sekarang."
"Mulut mu itu perlu diberi pelajaran, Ja la ng!" Alena mengayunkan tangan untuk menampar Nayra. Namun, Nayra sigap dan menahan tangan Alena yang kekar itu di udara.
"Kamu nggak akan bisa menyentuhku meski hanya seujung kuku, Alena!" Nayra menarik sudut bibirnya ke atas. Alena sungguh kesal di buatnya.
Dia berusaha membebasakan tangannya, tapi Nayra terlalu kuat mencengkeram.
"Sudah cukup kamu menindasku semena-mena, Alena! Aku nggak akan diam saja mulai sekarang!" kecam Nayra seraya menghempaskan tangan Alena kasar.
Alena yang masih geram, berusaha menyerang Nayra lagi meski tubuhnya sedikit goyah.
"Kurang ajar kamu, Nay!" seru Alena yang sudah mengulurkan tangan ke arah leher Nayra.
"Lena, udah!" Teman-temannya berusaha memperingati, tapi Alena tidak memindahkannya. Mereka berlima ketakutan sampai saling merapat dan gemetar. Ini diluar rencana awal mereka.
Tubuh Nayra terdorong mundur beberapa langkah, napasnya sesak meski Nayra berhasil menahan tangan Alena agar tidak sampai mencapai saluran napasnya.
"Hentikan!"
*
*
__ADS_1
*