Wanita Lain Itu, Mamaku

Wanita Lain Itu, Mamaku
31


__ADS_3

Ketika Nayra kembali ke ruangannya, Alena rupanya sudah menunggu kedatangannya di dekat information desk yang pada kesempatan siang hari ini cukup ramai. Beberapa staf dan perawat berkumpul di sana.


Alena di tengah sebagai pusat dari seluruh peredaran informasi dan gosip yang paling mutakhir. Wanita yang dua tahun lebih tua dari Nayra itu bersedekap dan menatap Nayra meremehkan.


Nayra semula tersenyum-senyum sendiri mengingat betapa dia dan Leo cukup romantis meski perasaan mereka masih belum sepenuhnya cinta. Namun begitu melihat gerombolan orang itu, Nayra menghentikan langkah sejenak dan senyumnya lenyap seketika. Tatapan Nayra menjadi datar dan dingin saat bertatapan dengan mereka.


Berniat berlalu begitu saja, sebab suara mereka begitu jelas terdengar olehnya, Nayra tidak berniat menanggapi atau mencari masalah. Dia akan pergi, tanpa menambah kesan buruk membekas di ingatan orang yang masih berpihak padanya.


Namun, Alena tentu tidak akan membiarkan kesenangan ini lenyap begitu saja. Momen ini sudah ditunggunya begitu lama. Dia segera menghampiri Nayra dengan sikapnya yang angkuh.


Seraya bersedekap dan memposisikan diri seperti model di catwalk, Alena menghadang langkah Nayra. "Sebenarnya, aku bisa bantu agar kamu tetap kerja disini, Nay ... aku tahu kamu kesusahan sampai pontang-panting dan berpenampilan seperti orang miskin begini, tapi syaratnya kamu harus ikut peraturan yang sudah aku buat."


"Apa?!" Nayra menjengit sedikit mengerutkan dahi. Dari sebelah mana dia tampak miskin? Nayra tidak mengerti. "Aku kesusahan?!"


Nayra sedikit mengejek saat membalas tatapan Alena yang tampaknya sudah lama menanti kesempatan ini. Oke ... Nayra pun sama. Dia akan memanfaatkan kesempatan ini dengan baik untuk mengajari Alena cara bersikap profesional saat bekerja.


"Kamu kali, Al ...." Nayra menarik sebelah bibirnya ke atas. "Yang rela di tidurì hingga punya anak oleh Pak Bondan itu kamu, kan? Yang susah disini kamu, Al ... aku enggak! Dipecat ya sudah, pecat saja! Aku masih bisa kerja di tempat lain! Nggak diterima di sini, aku masih bisa cari tempat lain! Kaya rumah sakit di negara ini cuma rumah sakit ini saja!"


Mata Alena membeliak tak terima, sampai dia maju setengah langkah dan melepaskan tangannya dari dada. Memberi Nayra tatapan memperingatkan.


"Ya, kalau bukan karena kamu dekat sama direktur, pasti kamu sudah di depak dari dulu!" Nayra enteng membalas Alena yang makin pias. Senyum kini berpindah dari Alena ke Nayra.

__ADS_1


"Jaga ya, mulut kamu!" Alena mendekat. "Jangan suka umbar fitnah! Aku tau kamu pasti nggak terima dipecat dengan tidak hormat begitu saja hari ini, tapi ini semua imbas dari kesombongan dan keangkuhan kamu selama ini!"


Nayra terkekeh kecil. "Teruslah berpikiran begitu, Alena ... aku tau kamu begini, karena hanya aku yang mampu kamu tindas sebab jika kamu berurusan dengan dokter lain yang jauh lebih senior dan lebih jago daripada aku, kamu tidak ada apa-apanya! Benar, kan?"


"Karena kamu memang pantas untuk direndahkan dan dibuang, Nayra! Aku yakin, kamu sama buruknya denganku sampai akhirnya kamu bisa bekerja di sini begitu saja!" Alena makin frontal. "Di sini, hanya kamu yang masuk begitu mudah, tanpa harus susah payah seperti yang lain!"


Bibir Nayra meliuk sinis, kini Nayra semakin tahu kalau Alena benci padanya karena lolos dari Bondan. Mungkin dia harus berterima kasih kepada Mama Ana yang waktu itu membantunya dengan baik sampai tidak harus melewati Bonda.


Ucapan Alena ditelaah dengan benar oleh semua orang yang berkumpul di sana, mereka perlahan saling berbisik. Semua mata merendahkan Nayra kecuali Meli dah seorang perawat lain yang tampak bersedih dan meneteskan air mata.


"Terus saja rendahkan aku, Al! Agar aku tau bagaimana cara melompat lebih tinggi setelah memijak tanah!" Nayra menatap Alena lurus-lurus. Wanita ini semakin kurang ajar padanya. "Semakin kamu rendahkan aku, maka aku akan semakin tinggi melampaui kamu!"


Alena kaget sampai dia mundur selangkah, tetapi dia segera sadar dan kembali menghalangi Nayra. "Aku nggak merendahkan kamu, Nayra! Semua juga tau kalau kamu itu simpanan presdir! Kamu yang menjalankan kolusi gelap agar kamu tetap eksis di sini! Jangan sok polos, Nay! Kami semua tau soal itu!"


"Nayra!"


Alena memutar badan hingga berhasil melihat punggung Nayra yang melambai kepadanya. "Nay, kita belum selesai bicara! Tunggu!"


Nayra hanya mengeluarkan senyum sinis saat tangannya melambai ke arah belakang lalu menutup telinga. Terserah Alena mau berkata apa, Nayra hanya perlu fokus bekerja di hari terakhirnya bekerja di sini.


Tuduhan sebagai simpanan itu seharusnya membuat Nayra terganggu, tapi kelihatan dari cara bersikap, siapapun bisa menilai siapa yang bersikap arogan di sini. Staf dan perawat menahan tawa saat memutar tubuh mereka meninggalkan Alena. Mereka terus berbisik dan menertawakan Alena.

__ADS_1


Sementara, Ana yang hari ini diberi tugas membawa barang Nayra dari kamarnya ke kamar Leo, terus menggerutu dan melempar kasar barang milik Nayra. Semula dia memprotes karena hampir setiap hari ada acara dadakan yang merepotkan, dan sekarang dia malah harus menjadi babu untuk anak tirinya itu.


"Jijik sekali pada tingkah wanita ini!" Ana mengambil pakaian Nayra dan memasukkannya asal. Lalu membawa koper yang sedari kemarin belum di buka sepenuhnya oleh Nayra dengan gerakan kasar ke kamar Leo yang berada di lantai tiga melewati tangga.


Sesampainya di sana, Ana berpapasan dengan pelayan lain yang siap kembali ke bawah. Ana memperhatikan, tetapi dia tidak bertanya. Pantang saling berbicara ketika bekerja, jadi mereka lebih mirip orang tanpa ekspresi saat melewati Ana.


"Meri! Ayo kamu masukkan pakaian Bu Nayra ke lemari, akan aku awasi sampai kamu selesai!" Nurul melambaikan tangan agar Ana mendekat.


"Baik, Bu."


Anna patuh—meski dia jengkel dalam hati, dan membuka koper perlahan begitu sampai di ruang ganti Leo. Ruangan yang menakjubkan, andai Ana yang menempati ruangan ini, mungkin dia enggan beranjak. Sungguh mewah dan mahal semua yang berada di kamar ini. Ana sempat melirik beberapa barang milik Leo yang ditempatkan di etalase khusus dengan perasaan ingin memiliki, tetapi Nurul yang berdiri di ujung ruangan membuat Ana bergegas merapikan pekerjaannya.


Pakaian dan barang milik Nayra memang tidak seberapa banyak, sebab Ana tahu, Nayra bukan penggila fashion seperti wanita kebanyakan, sehingga Ana dengan mudah mencapai dasar koper Nayra. Ana hendak mengambil pakaian terakhir Nayra ketika sebuah map berisi dokumen tersentuh oleh tangannya.


Ana terkejut dan segera meraihnya. "Sialan kamu Nayra!"


*


*


*

__ADS_1


Sori aku telat up. Lagi flu dan bawaannya pengen tidur. Nuga up setelah kepala reda sakitnya ya, abis meminum obat langsung terasa ngantuknya🙏


__ADS_2