
Leo memutar tubuh seketika tanpa membiarkan Nayra mengetahui ada temannya di sana. Dibenamkan wajah Nayra ke dadanya, lalu mengisyaratkan agar temannya itu meninggalkan ruangan secepatnya—kalau perlu tanpa suara.
Meski kesal, pria bernama Adam itu pergi juga. Dia tau, Leo sedang beraksi di depan wanita pujaannya, jadi dia tidak mau mengganggu.
"Kenapa aku selalu berharap kamu ada masalah terus, sih, Nay." Leo mengusap pelan punggung Nayra yang dipeluknya erat. Aroma rambut Nayra yang wangi membuat Leo melayang. Berfantasi yang tidak-tidak. Dasar otak Leo!
Nayra menjauhkan diri, lalu mendongak menatap Leo membawa ekspresi heran.
Leo membalas tatapan Nayra dengan senyum lembut mengembang di bibirnya. "Biar kamu datang terus meluk aku kaya begini."
Nayra menipiskan bibir hingga seluruh permukaan bibirnya tenggelam.
"Aku suka wanita yang bersandar pada prianya," lanjut Leo seraya mengusap pipi Nayra yang memerah.
Namun, Nayra segera memudarkan perasaan senang barusan, berganti sikap menyelidik. "Tau dari mana aku ada masalah?"
"Dari rapat, yang aku tidak dilibatkan meski aku juga bagian dari mereka." Leo mengusap kening Nayra yang mengeluarkan sedikit keringat. "Selesaikan tugasmu hari ini, dan akan aku bantu berkemas sore nanti. Kita pulang sama-sama."
Nayra tersentuh, lalu kembali memeluk Leo. "Jangan katakan kalau memelukmu adalah dosa, sebab kita belum menikah! Aku butuh seseorang untuk bersandar, selain pusara Papa, hanya kamu orang yang aku anggap dekat."
"Dan bagiku, hanya kamu yang boleh melakukan semua ini padaku!" Leo membalasnya. Meletakkan pipi di kepala Nayra yang tingginya hanya sampai sebatas dadanya.
"Kita nikah siri dulu aja, Leo," gumam Nayra sedikit tidak jelas, sebab Nayra membenamkan bibir ke dada Leo, memejamkan mata karena menahan lelah. "Aku lelah sendirian."
Leo terkekeh. "Baru kali ini ada wanita yang minta dinikahi hanya karena sedang ada masalah."
Kepala Leo menunduk, perlahan dia menggoyang pelan tubuh Nayra ke kanan dan kiri agar merasa nyaman. "Aku tahu ini berat, tapi yakinlah kalau kamu bakal dapet ganti yang lebih baik setelah ini. Hanya untuk menikah secara siri, aku merasa kamu hanya putus asa."
Nayra kembali melepaskan diri dan menatap Leo. "Aku putus asa sejak pertama ketemu kami waktu itu. Harusnya aku mati hari itu, tapi kamu malah menyelamatkan aku, jadi kamu yang harus tanggung jawab atas nasib hidup aku setelah itu!"
Nayra lucu juga, pikir Leo.
__ADS_1
"Nasib kamu akan selalu baik selama kamu jadi mantu Papa." Leo terkekeh. "Kamu itu udah kaya berlian jumbo yang jatuh di pangkuan Papa. Bayangkan saja, 10 tahun Papa bujuk aku nikah, tapi aku nggak pernah mau. Lalu akhirnya kamu datang, dan tanpa babibu setuju nikah sama aku."
Nayra terkejut soal ini.
"Jangan pikir, Papa nggak tahu gimana ceritanya kamu bisa terdampar di kamar hotel denganku waktu itu!" Leo mencubit hidung Nayra. "Aku hubungi Papa dulu, biar acaranya disiapkan."
"Hah?!" Nayra kini sungguh ingin jatuh saking kagetnya. "Acara apa lagi?"
Leo yang mengambil ponsel seketika menatap Nayra dengan kening berkerut. "Nikah siri kita lah ... apa lagi memang?"
"Beneran ini?" Nayra tak percaya.
"Iya ... beneran. Makanya kamu segera selesaikan tugasmu, lalu kita nikah dan bercinta sampai pagi." Leo terkekeh keras. Jelas dia hanya menggoda. Itu diluar jadwal hari ini, sebab dia akan berada di sini sampai nanti malam.
Nayra tersipu dan mengangguk pelan setelah membahas bercinta. Dengan penuh kesadaran, Nayra menyisipkan rambut ke belakang telinga. "Antingnya bagus, jam nya aku suka."
Leo tersenyum. "Aku tau yang pas untuk istriku yang manis ini."
Nayra tertawa pelan saking tersanjungnya. Ucapan Leo meski terkesan biasa saja, tapi Nayra tak pernah mendapatkannya meski dari pria yang dicintainya bertahun-tahun.
Leo yang gemas akhirnya membalas ciuman Nayra dan membiarkan panggilannya terhubung dengan Papa Edo yang terus berkata hola halo, tanpa ada jawaban dari Leo selain decapan khas dua lidah yang saling menyatu.
Leo sungguh tidak tahan dengan sikap Nayra yang manis ini.
Sementara, decapan lain terdengar dari ruang kamar apartemen mewah di tengah kota. Hari sudah siang, tapi Erin dan Aldo masih bergelut dengan gairàh juga cairan kenikmatan yang membasahi dua bagian inti mereka.
Ponsel yang bergetar di atas nakas itu sampai jatuh sebab dilempar bantal oleh Erin yang tak mau terganggu kesenangannya.
"Ough ... Honey! Tante mau keluar lagi ...!" Erin mendesah semakin keras saat dia telah sampai pada puncak keduanya kali ini. Setelah sarapan, dia sudah melakukan percintaan 3 kali dengan dua kali pelepasan. Erin memang segila itu.
Aldo meremas pinggang Erin yang berlemak, lalu menyodok Erin dari belakang dengan keras saat dia mencapai puncak kenikmatan.
__ADS_1
"You great, Mom!" Aldo terpaksa mengatakan itu. Sama sekali dia tidak menikmati percintaan dengan Erin, justru dia sedang membayangkan wanita lain. Entah Ana, Yeni, atau mungkin Maria, atau siapa saja, yang jelas bukan Nayra. Wanita itu pasti tidak seliar wanita yang telah berpengalaman ini.
Aldo menarik miliknya yang terasa ngilu di ujung. Cairan keluar sedikit berbeda warna, tetapi Aldo mengabaikannya. Dia lelah sehingga langsung merebah sembari mengatur napas.
Erin juga sama, dia bahkan lebih parah. Seumur Erin harusnya momong cucu, bukan momong gigo lo. Bukan memuaskan nafsù, tapi mendekatkan diri pada Tuhan sebab umur tidak ada yang tahu.
"Honey, ambilkan ponselku yang jatuh itu." Erin memerintah Aldo yang posisinya dekat dengan ponsel Erin.
Meski diminta secara halus, Aldo tentu saja kesal. Dia berdecak, dan berniat mengabaikan.
Erin langsung bermuka masam. "Kamu mau tau kabar mantan kamu itu tidak?" bentaknya.
Aldo seketika meraih ponsel berlogo apel itu dan menyerahkan pada Erin. Kenapa nggak bilang kalau itu soal Nayra sih? batin Aldo.
Erin menarik sudut bibirnya saat melihat Aldo yang tidak berdaya. Jangan sebut Erin jika tidak licik. Tentu dia memanfaatkan kebodohan dan kemiskinan pria itu agar tetap terjerat dengannya selama dia merasa hanya Aldo yang mampu memuaskannya. Tapi jika dia bertemu pria lain yang lebih dari Aldo, tentu Aldo pantas di buang.
Erin menelpon Bondan dan membiarkan Aldo mendengarnya sendiri melalui loudspeaker.
"Jadi bagaimana, Sayang ... apa wanita itu berhasil di depak?" Erin bertanya sedikit memprovokasi. Tatapan Erin begitu licik dan mengerikan saat menatap Aldo. Tangan wanita itu kembali aktif di organ vìtal Aldo.
"Dia pasti sedang menutup wajahnya saat membawa barang meninggalkan rumah sakit ini, Honey!"
Erin menyeringai, lalu makin dekat dengan Aldo yang mengeram. "Kamu yang terbaik, Sayang."
Tatapan Erin begitu manis dan penuh makna saat mengatakan itu. Makna ganda untuk dua pria kesayangan Erin ini. Segera, Erin mematikan panggilan itu untuk beralih ke bawah kaki Aldo dan memulai perang lagi.
"Ini belum selesai, Honey ...!"
"Ohh, stop, Mom!"
*
__ADS_1
*
*