Wanita Lain Itu, Mamaku

Wanita Lain Itu, Mamaku
WLIM 08


__ADS_3

Nayra sudah kembali bekerja setelah sehari izin. Kakinya sudah lumayan, meski masih terbatas ruang geraknya. Selain itu, dia juga sungkan pada Leo karena Leo masih mengunjunginya pagi kemarin.


Meski sakit, tampaknya tak ada toleransi untuknya. Dari pagi sampai siang, dia berada di ruang operasi, dan baru bisa benar-benar selesai setelah jam dua siang.


Nayra kembali ke ruang kerjanya untuk makan siang. Namun, dia dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang membuatnya bad mood seketika.


Nayra membuang pandangan ke samping saat bertemu tatap dengan Ana duduk di kursi yang biasa dia gunakan untuk konsultasi dengan pasien.


"Mama ingin bicara sama kamu, Nay." Ana berdiri, bersedekap dan tampak angkuh.


Nayra melanjutkan langkah menuju meja kerjanya. Setelah kejadian kemarin, sekarang mamanya seperti tidak punya rasa bersalah karena merebut kekasih anaknya. Nayra tak habis pikir dengan sikap Mamanya. Apa alasan wanita itu mempecundangi dirinya?


"Nay ... Mama mencintai Aldo." Ana menatap lurus mata Nayra yang mengabaikannya. Senyum kemenangan terbit di bibir Ana. Setelah berhasil merebut Aldo, Ana berniat mengganggu pacar baru Nayra. Pokoknya, tujuan Ana hanya membuat Nayra sakit hati dan hancur, kemudian mati perlahan seperti ibunya.


"Perasaan Mama tulus dan tanpa motif apa-apa selain itu. Mama juga berat mengatakan ini padamu karena Mama sangat menyayangimu. Tapi Mama lelah harus terus menahan diri Mama, Nak. Jadi—"


"Ambil saja Aldo untuk kebahagiaan Mama. Nay rela asal Mama bahagia. Sekarang Nay sibuk, jadi bisakah Mama segera pulang?" Nay menahan dirinya agar tidak terlihat lemah di depan Mama angkatnya. Wanita yang kini dimata Nayra tak lebih dari seorang perebut pria milik wanita lain. Tak ada lagi hormat dan kasih sayang untuk sang mama tiri. Apapun alasannya, Nayra tidak mau lagi memiliki hubungan dengan dua orang yang telah menjahatinya itu.


"Tapi ingat, Mama Ana! Aku memberikan kekasihku, sebagai sebuah pemberian. Bukan aku kalah atau mundur dalam perang ini! Aku tidak menerima bekas orang lain, karena bekas hanya pantas di tong sampah! Nikmati Aldo semua Mama, aku bisa cari yang lebih baik seribu kali dari dia!"


Nayra mengepalkan tangan menahan geram yang seakan tak sabar ingin keluar. Jika saja mamanya bisa melihat ke dalam hati Nayra, pasti wanita itu tertawa. Hati wanita mana yang tidak hancur melihat kekasihnya lebih memilih wanita lain? Tapi Nayra bertekat, tidak ingin terlihat lemah di hadapan sang Mama.


Sudut bibir Ana tertarik sedikit. Menertawakan Nayra dengan keberanian dan ketegaran yang dipaksakan. Tawa mencemooh kemudian terdengar. "Kenapa mudah sekali kamu menyerah, Nay? Padahal Mama mau kamu merengek dan meminta supaya Mama menjauhi Aldo, apa kamu sudah punya pria lain?"


Bibir Nayra yang bergetar menahan kemarahan akhirnya memecahkan sebuah tawa yang mengejek. "Kalau iya, apa itu jadi masalah buat Mama? Mama mau merebutnya lagi?"


Ana berdecih seraya membuang muka. Sial ... Nayra sudah bisa menebak apa rencanaya selanjutnya.


"Kenapa Ma? Kenapa Mama melakukan itu padaku?" Nayra tidak tahan, kepalanya ingin pecah memikirkan kemungkinan yang paling mungkin mengapa Mamanya sampai tega merusak hubungannya dengan Aldo.


Ana tertawa senang, tapi dia tidak berniat memberitahu Nayra sekarang. Biar wanita itu kebingungan dan akhirnya frustrasi sendiri. "Yang pasti kamu sekarang harus menanggung dosa seseorang pada Mama."

__ADS_1


Kening halus Nayra berkerut sedikit. Alisnya saling bertaut.


Ana terkekeh, mencemooh kebingungan Nayra. "Kesalahan yang tak bisa dimaafkan sama sekali, meski maut telah merenggut nyawa Mama."


Setiap kata itu diucapkan penuh tekanan, dan Nayra bisa merasakan kemarahan Ana.


"Kalau punya pacar baru, kabar-kabar, ya, Nay ... Kalau cocok, Aldo akan Mama kembalikan padamu. Bye-bye!" Ana berdiri dan menjentikkan jemarinya ke arah Nayra. Senyum Ana mengembang penuh kepuasan. Wajah Nayra yang tertekan itu adalah kesenangannya tersendiri untuknya.


Dalam kondisi Nayra sekarang, melawan Ana sangatlah tidak mungkin. Dia masih terlalu syok akan kenyataan pahit dan menyakitkan ini. Waktu Nayra bersama Aldo sangatlah panjang dan lama, kapan Nayra tidak tahu Aldo dimana dan Mamanya di mana? Nayra selalu tahu, tapi dia tetap kecolongan.


Aldo sejak di PHK hanya bekerja di bengkel, mamanya bekerja dan sering keluar kota bersama teman-temannya. Hidup Aldo sederhana, antar jemput dirinya setiap hari, dan malamnya sesekali mereka jalan, lalu pulang. Semonoton itu tapi Aldo tampak tidak keberatan, sampai jadwal kerjanya mulai tidak teratur.


Nayra menjambak rambutnya hingga rasanya bisa tercabut dari kulit kepala. Sakit sekali hatinya sampai dia tidak bisa bernapas bebas. Matanya kembali memejam kuat, panas dan basah. Jika saja boleh, sekarang Nayra ingin seseorang membedah kepalanya dan menghilangkan memori kejadian kemarin dari lapisan otaknya.


"Kalau berat, tinggal aja di rumah kepalanya."


Mata Nayra terbuka, napasnya terhenti dua detik penuh. Ini kan ...?


Nayra memberanikan diri menatap Leo yang duduk dengan menaikkan satu kaki ke kaki yang lain, tubuhnya bersandar di kursi, tangannya memainkan ponsel. Gaya klasik pria itu tampak sok dan tengil. Usianya memang tak muda lagi—jelas Nayra tahu, sebab seluruh perawat, anak magang, dan staf kerap membicarakan betapa keren Leo di usia 36 akhir—tapi style-nya yang trendi dan kekinian, membuat Leo terlihat jauh lebih muda.


"Jangan dilihatin terus, aku emang keren." Leo berkata tanpa menoleh ke arah Nayra. Mungkin telinganya punya mata, jadi dia bisa tahu Nayra sedang memandangnya.


"Cih ...." Nayra membuang muka, "Shift pagi?"


Nayra tidak terlalu hafal dengan jadwal Leo. Pria itu setahunya juga menjabat di jabatan struktural rumah sakit, dan konon katanya mengajar juga. Ini hanya seputar gosip yang dia dengar, dia sendiri enggan bertanya.


"Baru sampai untuk Shift sore." Leo meletakkan ponsel dan menatap Nayra sedikit lebih lama, seperti ada yang ingin dia katakan tapi sejenak dia mempertimbangkan—bertanya atau melupakan saja.


"Kenapa?" Kepala Nayra mengendik rendah, "Ada yang kelupaan?"


"Tidak." Leo menggeleng. "Makan, gih! Atau mau aku suapin?"

__ADS_1


Nayra tertawa kecil seraya menggeleng. "Aku sudah pesan makanan sebenarnya, tapi tampaknya aku nggak bisa nolak."


Leo menaikkan kedua alisnya bersamaan. Senang ketika Nayra paham dengan baik dirinya. "Butuh effort besar buat bawa sekotak makanan ini kesini."


"Apa aku berhutang lagi?" Nayra meraih bungkus plastik kotak makanan tersebut, lalu membukanya. Sushi yang cantik dan estetik menyambutnya.


Mata Nayra berbinar, kelihatan lezat dari tampilannya. "Aku akan membayar semua kebaikanmu, Leo. Nanti—"


"Makan malam di rumah ...." Leo berdiri, susah payah dia mengatakan itu pada Nayra—beruntung Nayra membuka jalan. Permintaan Papanya tak bisa ditolak, sebab kejadian malam kemarin membuat Leo terus dicecar oleh sang Papa. Desakan menikah datang lagi. Jika tidak Nayra maka Papanya akan mencarikan wanita lain.


Jelas Leo memilih Nayra, setidaknya Nayra bisa diajak kompromi—Nayra juga tidak buruk kan?


Nayra mendongak, menatap Leo keheranan.


Desah napas Leo terdengar berat. "Papa yang minta. Kamu bisa minta di mana saja senyamanmu, jika di rumahku kurang nyaman."


Opsi Leo selalu ada demi memudahkan siapa saja yang akan berhubungan dengannya. Dan pada Nayra, Leo sedikit berharap walau untuk pulih dari trauma sakit hati membutuhkan waktu yang lama.


Nayra menunduk, memainkan sumpit sejenak. "Keluargamu luar biasa, Leo. Apa aku pantas duduk satu meja dengan kalian?"


"Semua manusia sama di mata Tuhan, Nay. Yang membedakan hanya akhlaknya. Kami bukan tipe manusia yang menilai seseorang dari kekayaan dan kasta." Leo menyakukan tangannya ke celana hitam yang dikenakannya. "Pilih saja resto—"


"Di rumahmu saja, kalau begitu. Atur secepatnya saja." Nayra memutuskan. Ini adalah langkah terakhirnya untuk membalik keadaan.


"Maaf jika terkesan memanfaatkan kamu, Leo."


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2