Wanita Lain Itu, Mamaku

Wanita Lain Itu, Mamaku
29


__ADS_3

"Anda meragukan keputusan yang kami buat?" Bondan kesal. Nayra menjadi pembangkang yang seolah tidak takut pada kekuatan besar yang mendesaknya. Apa jadi menantu orang berpengaruh membuat dia besar kepala?


Nayra menghela napas. "Sepenuhnya tidak, Pak Direktur!"


Nayra berdiri, lalu melangkah lebih dekat ke meja Bondan dan antek-anteknya. Sikap Nayra yang begitu berani membuat petinggi rumah sakit berpikir ulang, meski terlambat. Mereka saling pandang setelah mendapat tatapan tajam Nayra.


"Keputusan ada ditangan Anda, tapi tentu setiap pelanggaran dan kecerobohan ada laporan dari bawahan anda, Pak! Saya hanya mau laporan itu!" Tangan Nayra terulur untuk meminta catatan yang dimaksud. Namun tak seorangpun bergerak. Laporan bulshit macam apa yang dibutuhkan oleh orang berkuasa seperti Bondan?


Nayra menatap Bondan semakin dingin saat menarik tangannya kembali. "Saya terlalu percaya diri jika berpikir anda mengawasi saya berlebihan, Pak! Apa saya terlalu menarik? Atau Dokter Alena tidak memuaskan anda lagi? Saya tahu punya saya daya tarik yang luar biasa disamping keahlian yang saya miliki, tapi saya tidak mencari pekerjaan dari situ! Dan saya tidak tertarik pada tawaran seleksi privat anda sama sekali!"


Bondan pucat dan marah dalam satu waktu. Mulut Nayra terlalu runcing dan tajam saat mengulitinya di depan petinggi lain. Sayang Bondan terlalu lancang melangkah ke hadapan Nayra yang dipikirnya lemah seperti penampilannya selama ini. Nayra sepenuhnya hanya meladeni serangan yang datang.


"Jangan mengatakan hal yang tidak berdasar, Dokter Nayra! Kami hanya memecat anda, bukan memberi tanda hitam pada nama anda! Pikirkan kami masih berbaik hati setelah semua keteledoran anda!" Bondan mengatasi tatapan antar petinggi yang mulai ragu akan apa yang mereka setujui tanpa melihat bukti dari sisi Nayra. Bondan khawatir semua berubah haluan sebelum Nayra pergi dari sini.


Mereka hanya dihubungi Bondan dan mengatakan rapat dadakan diadakan pagi ini. Mereka setuju sebab provokasi Bondan yang terus mengatakan: dia berada di rumah sakit 24 jam. Bondan dengan kata lain mengatakan tahu segalanya dibanding siapapun.


Nayra tersenyum licik kemudian menyindir lebih frontal. "Katakan saja, yang anda maksud adalah Dokter Alena yang terus mencari perkara dengan saya. Tapi mempercayai ular berkepala dua bukan keputusan yang bijak, Pak!"

__ADS_1


Nayra mundur. "Saya anggap, tidak ada bukti nyata dari tuduhan itu, tetapi saya tetap menerima keputusan pemecatan yang sangat tidak adil ini! Bagi saya, pantang mengemis dimana saya disepak dan direndahkan. Semoga kalian tidak menyesali keputusan yang kalian buat! Dan untuk Pak Direktur, anda tau siapa saya sekarang, kan? Pastikan amunisi anda siap untuk melawan saya nanti!"


Tanpa memberikan hormat atau apa, Nayra melangkah mundur dan memutar badan saat sampai di posisi awalnya tadi. Langkah Nayra ringan terayun, tetapi tatapannya masih tajam. Dia bertekad untuk menunjukkan bahwa dia bisa berdiri meski tak lagi bekerja di sini.


"Tunggu Dokter!"


Terlambat, Nayra sudah membuka pintu dan tak ada niatan sama sekali untuk mendengarkan orang yang ada di sini.


Jelas mereka panik. Nayra memang terkenal rajin dan cerdas, memang dia terkesan lemah dan banyak diam.


"Bagaimana ini, Pak Bondan? Nayra ini susah dicarinya, loh... data yang ada bukannya menunjukkan kalau kepercayaan pada kita naik beberapa tahun terakhir?" Seorang petinggi—yang memanggil Nayra tadi, memprotes dari tempat duduknya, masih berdiri dan merasa ini aneh. Dia sedari tadi diam menahan gempuran Nayra yang mengerikan. Bahkan dia merasa sangat malu ketika keburukan yang dilakukan Bondan diekspose Nayra.


Bondan melupakan profesionalitas melihat tumpukan dolar di kantung yang Erin tawarkan.


"Pak Bondan!"


Bondan terkesiap, lalu dengan gagap dia berbicara. "Nayra hanya menggertak! Dia tidak akan benar-benar keluar dari sini."

__ADS_1


"Jika itu adalah Alena, anda bisa berpikir begitu sepanjang waktu dan terus meyakinkan kami dengan ucapan manis tersebut, Pak Direktur!" Dokter yang menjadi partner dan atasan Nayra akhirnya berdiri. Wajahnya tegas dan datar. Semua orang terperanjat. Termasuk Bondan sendiri.


"Saya setuju Nayra meninggalkan tempat terkutuk ini, menjauhi orang culas dan manipulatif macam kita, lalu berkembang dengan baik sehingga dia sukses! Aku menyetujui Nayra pergi, bukan karena setuju pada apa kata Pak Bondan, tetapi untuk kebaikan Nayra!" Dokter itu melanjutkan sebelum dia pergi dengan langkah tenang. Ya, biar dia terlihat buruk di mata Nayra asal Nayra benar-benar sukses di masa depan.


Nayra sendiri langsung naik ke ruangan Leo untuk memeluk pria itu dari belakang. Hatinya sedikit terganggu. Bagaimana pun, karirnya di sini dimulai dari nol sampai dikatakan mahir. Separuh hatinya ada di sini.


Leo sedang bicara dengan seorang rekan kerja saat Nayra memeluknya. Pria itu langsung pias saking kagetnya.


"Aku butuh kamu hibur, Hubby."


rekan kerja itu menaikkan alisnya seraya tersenyum penuh makna. Posisinya yang duduk di meja Leo, terhalang tubuh tinggi Leo jadi Nayra tak mengira Leo sedang bersama pria lain.


"Apa kamu sudah selesai?" gumam Nayra lagi. "Aku ingin peluk kamu!"


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2