Wanita Lain Itu, Mamaku

Wanita Lain Itu, Mamaku
WLIM 21


__ADS_3

Sebenarnya, Nayra mengalami hari yanh berat hari ini, tetapi dia tidak mau menunjukkan di depan semua orang.


Setelah berunding dengan Leo soal pernikahan yang akan dilangsungkan seminggu lagi, Nayra juga kedatangan Aldo yang hari ini menguasai bengkel dengan gayanya yang sok.


Pagi tadi ....


Nayra menggunakan salah satu mobil milik Papa Edo untuk ke bengkelnya, setelah berdebat sengit akan keputusan Papa Edo yang memaksa Nayra memakai salah satu mobil di garasi rumah ini. Nayra sungkan sebab fasilitas ini seharusnya dinikmati seminggu lagi, setelah dia resmi menikah dengan Leo.


Leo sendiri langsung berangkat setelah mengucapkan maaf yang begitu canggung pada Nayra. Dia tidak bisa menemani Nayra hari ini karena jadwalnya sangat padat. Keduanya sebenarnya canggung, dan Leo paling parah sebab dia panas dingin jika ingat apa yang dia lakukan pada Nayra semalam.


Kening Nayra berkerut saat melihat mobil Mama Ana parkir di tempat khusus dimana mobilnya biasa parkir. Emosinya naik begitu menyadari Aldo yang membawa mobil itu sekarang dan dengan kurang ajar malah memakai tempatnya. Beginikah dia selama ini? Mengganti apa yang dirinya tidak bisa beri?


Aldo langsung menghadang Nayra saat Nayra masuk ke bagian kasir sekaligus meja kerja itu tanpa menyapanya.


"Kamu pikir, kamu bisa nendang aku begitu saja dari sini, Nay?" Aldo melirik sinis Nayra dari atas ke bawah. Dia merasa benci pada Nayra hari ini, setelah Nayra sungguh-sungguh membuangnya.


Nayra membalas tatapan sinis Aldo tanpa rasa takut sama sekali. Bahkan memberi Aldo tatapan yang tak kalah sinis dan merendahkan.


"Kalau kamu merasa aku tidak bisa, kamu boleh coba, Aldo! Bukankah beberapa hari ini, aku sudah menunjukkan siapa aku sebenarnya?"

__ADS_1


Tatapan mereka berdua beradu dan saling terkunci untuk waktu yang lama. Rasa marah dan benci menguar begitu kuat diantara mereka. Merasa posisi masing-masing sangat kuat dan tak akan terkalahkan.


"Kemarin aku memang pulang, bukan bersembunyi! Nggak kaya yang kamu pikirkan, Nay ... aku berhak atas bengkel ini, meski kamu bukan lagi kekasihku!" Wajah Aldo mengeras dan tegang. Jelas dia sedang menahan amarahnya meluap sehingga memberi celah pada Nayra untuk menjatuhkannya.


"Oh, begitu?" Nayra tertawa merendahkan. "Jadi berapa persen yang kamu sumbangkan untuk bengkel ini, Al? Seratus, dua ratus, tiga ratus?"


Aldo mendengus kesal. "Selain uang, aku memeras keringat di sini, Nay! Ada banyak kerja keras aku di sini, yang nggak bisa kamu uang kan! Di mata kamu, semua dinilai pakai uang dan uang, kamu nggak pernah hargai kerja keras dan buah pikiran yang aku curahkan untuk bengkel ini!"


"Oke, mari kita hargai kerja keras kamu!" Nayra berjalan ke laci dimana ada seragam khusus untuk pegawai bengkel. Dia menarik satu dan melemparkan ke dada Aldo. "Jika kamu ingin di hargai kerja keras dan keringatmu, maka bekerjalah sesuai dengan kemampuanmu! Kau montir, maka perbaiki mobil yang rusak sampai bisa dipakai lagi, sampai bisa digunakan lagi! Itu kan kemampuanmu?"


Nayra maju dan menunjuk dadanya. Tatapan matanya tak putus menatap Aldo yang mulai memupuk amarah di matanya. "Dan aku ... Aku adalah bos! Bos yang menggunakan uang sebagai alat untuk menghasilkan uang selanjutnya, agar tempat ini tidak terancam bangkrut!"


Tubuh Aldo terhuyung, saat berdiri tegak. Amarahnya memuncak, dia menuding Nayra tanpa peduli siapa Nayra dan apa yang telah Nayra lakukan untuknya.


"Kau nggak bisa semaunya sendiri, Nay! Kamu pikir karena kamu pintar dan pernah mencintaiku, itu berharga? Dan aku harus tunduk sama kamu karena itu? Kamu tanpa aku tidak akan bisa mendirikan bengkel megah seperti ini! Aku mencurahkan segalanya agar bengkel ini tetap berdiri dan beroperasi! Kau tau apa soal kesulitan yang aku hadapi, ha? Kamu hanya sibuk kerja dan kerja! Seolah pekerjaanmu saja yang paling penting dan bermanfaat, sementara aku, kamu anggap sepele karena pekerjaanku tidak bergelar dan tidak secemerlang pekerjaan kamu! Aku adalah otak dan jiwa tempat ini, kau tau?!"


"Sementara aku adalah mesin penggerak bengkel ini, Aldo! Aku pemilik tempat ini, aku yang membeli tempat ini! Aku yang mencari dana agar usaha ini terus beroperasi! Bayangkan berapa banyak gaji yang aku gunakan agar bisa menutup saldo kosong di sini ... gaji dari pekerjaan yang terus kamu persoalkan, yang terus kamu cemburui, yang terus saja kamu persalahkan!" Nayra menukas. Dia berniat tidak ingin menyerah. Untuk tempat ini, untuk semua yang dia perjuangkan tanpa berpikir dia sedang dimanfaatkan. Mata Nayra basah jika ingat hal ini.


"Lalu kenapa aku harus merasa bersalah karena aku pintar dan berkelas, ha? Aku jauh lebih baik dari kamu Aldo! Setidaknya aku mandiri, tidak seperti kamu yang mirip parasit! Kau pria toxic yang pernah aku kenal, dan aku tidak menyesal sama sekali putus denganmu!" Air mata Nayra pecah sudah. Dia tidak tahan lagi saat kesakitan yang dialaminya akhir-akhir ini terus saja diungkit, membuatnya terus ingat betapa naifnya dia selama ini.

__ADS_1


Tapi di sisa kesabaran yang dia punya, Nayra maju selangkah lagi. Menatap lurus ke mata Aldo, yang mungkin bisa mengetuk hati beku pria itu. Nayra berkata dengan tenggorokan serasa tercekik.


"Dengar, Aldo! Setiap uang yang kamu nikmati sepenuhnya adalah berasal dari keringatku, baik yang kamu ambil dari sini, dari mama Ana, semua berawal dari aku! Tanpa aku bekerja keras menutupi bobolnya neraca keuangan bengkel, tempat ini mungkin sudah jadi cafe, toko, atau bahkan kosong tanpa ada nama kamu di atas pintu tempat ini!"


Nayra menelan ludah. "Jadi jika ingin terus di sini, maka bekerjalah seperti karyawan pada umumnya! Aku adalah bos, dan kamu bukan lagi siapa-siapaku! Atau kau bisa pergi dengan membawa harta bendamu di kamar itu! Tapi tenang, aku akan membayar kamu dengan layak dan mengganti modal yang kau keluarkan setelah dikurangi berapa kerugian yang aku alami karena ulahmu!"


Aldo seketika gamang, setelah tidak mampu membalas Nayra walau seucap. Nayra mendadak benar, dan dia tidak punya kekuatan mempermainkan sisi lemah Nayra. Dia sama sekali berbeda dari terlahir kali bertemu.


Aldo melihat Nayra seperti lahir kembali, membuatnya mundur dan meninggalkan tempat ini. Dia merasa harus mundur untuk mengambil langkah selanjutnya.


"Aku adalah dokter, Aldo ... sudah menjadi pekerjaanku untuk memberantas parasit dari kehidupan manusia!"


Aldo merinding melihat tatapan Nayra yang itu. Mungkin benar, dia harus mundur dulu sekarang.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2