Wanita Lain Itu, Mamaku

Wanita Lain Itu, Mamaku
WLIM 06


__ADS_3

Kamar 1202


Untuk kesekian kali, dia harus menyaksikan air mata seorang wanita, karena pria. Leo mendesah berat seraya memijat pangkal alisnya ke arah dalam. Dia berharap terlalu tinggi pada apa yang dilihatnya saat Nayra terlihat keren karena ketegasnnay mencampakkan Aldo. Sadis kedengarannya, tetapi yah ... sepadan dengan apa yang dilakukan pacar Nayra tersebut.


Namun, kenapa Nayra harus menangis, meracau, hingga sesenggukan begini setelah sampai di sini? Pria seperti itu tidak pantas mendapat tangisan berharga dari seorang Nayra.


Tangan Leo menarik tisu untuk diberikan kepada Nayra—sudah satu jam dia jadi pelayan tisu Nayra.


Gerakan malas dan ekspresi Leo yang sepertinya jengah melihatnya, Nayra mendongak pelan lalu berkata parau. Wanita itu perlahan menghentikan tangisnya.


"Kamu boleh pergi, Leo—makasih atas kebaikanmu."


Leo sontak menoleh, kemudian tertawa kecil. Nayra sepertinya kepedean. "Aku di sini bukan khawatir sama kamu, tapi karena kamu nggak bawa apa-apa dari rumah—lihat!"


Nayra tercekat, meremas tisu yang sedikit basah itu kuat-kuat. Pandangannya perlahan menuju Leo yang sedikit menahan tawa. Astaga ... kenapa lupa soal itu?


"Aku-aku—"


"Sudah ku bayar kok, tenang aja." Leo memotong kekhawatiran Nayra. "Yang harus kamu pikirkan, apa kamu akan pulang dan ambil barang-barang, atau stay di sini beberapa hari. Aku harap rumah kamu aman aja sih."


Nayra semakin kaget. Tas berisi dompet dan barang berharga lain masih tergeletak di bawah sofa. Dan wanita sialan itu akan ada di rumah malam ini.


"Aku harus mengambilkannya untukmu, kah?" Leo menerka, saat melihat raut wajah Nayra yang kebingungan dan takut. Sesuatu pasti dikhawatirkan tentang pria itu. Penampilan pacar Nayra, Leo menebaknya, tidak lebih kaya dari Nayra.


Dari semua wanita yang ditolongnya, hanya Nayra yang paling tidak berdaya. Lihat kakinya yang bengkak dan bertengger cantik di atas bantal.


"Maaf kalau aku merepotkanmu, tapi kakiku sakit sekali." Nayra dengan mata merah sembab, ujung hidung hingga bawah mata kemerahan, dan suara yang pecah menatap Leo. "Akan aku lakukan apapun yang bisa aku lakukan untukmu jika aku sembuh nanti."


Leo berdiri, "Apa yang harus aku ambil—"


"Tas yang aku bawa, di dalamnya ada kunci kamarku. Kamarku di sebelah dapur, ambil map plastik di bawah tumpukan baju ...." Nayra menggigit bibir—merasa bicaranya terlalu cepat.


"Itu saja—"

__ADS_1


"Ya-ya ... itu saja cukup."


Pria itu melangkah ringan meninggalkan Nayra. Tanpa banyak bicara lagi.


Nayra membuang napas seraya menunduk. "Astaga!"


Pandangan Nayra jatuh pada tumpukan tisu yang membentuk bukit kecil di sebelahnya. Tangan Nayra bergerak cepat untuk membereskan semua itu dan memasukkan nya kedalam tempat sampah yang memang disediakan Leo untuknya. Nayra menggerutu malu.


"Setelah ini, jangan sampai aku ketemu dokter Leo lagi. Aku pasti tidak akan punya muka." Wajah Nayra jadi panas. Dia punya reputasi cukup bagus di rumah sakit. Selama ini dia dikenal anti sedih dan mellow. Alena saja yang sudah berkali-kali mencoba menjatuhkannya tak pernah sampai membuatnya down.


Ini hanya soal cowok, Nayra harusnya tak sesedih ini. Yang membuat Nayra semakin sedih bukan hanya Aldonya, melainkan juga wanita di bawah Aldo. Dia memang mama tiri—kata Ayahnya begitu, tapi wanita itu baik sekali. Mulai dari merawatnya sejak masih bayi hingga membantunya kuliah dan jadi seperti ini. Mereka bukan orang kaya, tetapi Nayra begitu mudahnya masuk ke rumah sakit besar. Dia tahu, untuk berada di posisi nya saat itu, butuh koneksi dan pengaruh yang kuat. Leo misalnya, dia punya saudara yang luar biasa dan ayahnya Leo adalah direktur salah satu anak usaha DermaCorp—Nayra tahu dari gosip di nurse station, jadi mudah sekali dia menjadi 'orang penting' di rumah sakit swasta tersebut.


Double kill—disakiti orang yang paling dekat dengannya, istilahnya. Nayra bisa mati jika memikirkan betapa tega kedua orang itu. Bagaimana bisa mereka melakukannya pada Nayra?


Ana—Meriana, memang tidak menikah lagi sejak ayah Nayra meninggal 20 tahun lalu. Nayra masih 10 tahun sewaktu ayahnya pulang dari bekerja di luar pulau dan langsung kolaps kemudian meninggal selang sepuluh menit kemudian. Serangan jantung alasannya. Mama Ana yang paling sedih, tetapi dia tetap tegar demi Nayra. Sejak saat itu, mereka berdua hidup bahagia, meski Mama Ana harus menyambung bekerja sebagai sales sebuah produk.


Nayra hanya tahu belajar dan belajar. Sekolah dan sekolah. Kata Mama Ana, itu adalah bayaran yang paling sepadan untuk membalas kebaikannya.


Jika ingat kebersamaan mereka yang bahagia, Nayra menjadi sangat bingung akan motif wanita itu hingga tega menyakitinya seperti ini.


***


Leo menghentikan taksi di luar pagar rumah sederhana Nayra. Pikiran Leo penuh dugaan saat masuk, sehingga dia tidak menyadari kalau di ruang tamu, dua manusia laknat itu kembali saling menjilat.


"Damn!" umpat Leo kesal, tetapi tidak menghentikan langkahnya menuju bawah sofa single di mana dua orang itu saling melepaskan. Leo melirik jijik. Bajingan itu masih saja tidak tahu malu, bercinta di rumah pacar sahnya, yang baru dikhianatinya. Spesies yang lebih menjijikkan dibanding parasit.


Si wanita berdiri lalu menahan tangan Leo yang membuka tas Nayra.


Leo sama sekali tak keberatan melihat wanita itu masih compang camping membenarkan pakaian. Dia berdecih.


"Sekalipun kamu telanjang, aku juga tidak akan berdiri."


"Kembalikan tas Nayra! Kamu nggak ada hak dengan tas itu, brengsek!" Ana melakukan dua hal, ingin menguasai tas Nayra dan memaki Leo yang merendahkannya yang memiliki tubuh menggoda di usia senja.

__ADS_1


Tangan Ana menggapai tas Nayra, tetapi dijauhkan oleh Leo.


"Pemilik tas ini ingin tasnya kembali ke tangannya ... jadi aku harus bagaimana, Nenek?" Penglihatan Leo masih bagus soalnya, jadi kerutan itu tampak nyata sekali di matanya.


Suara mengejek Leo membuat Aldo kembali di bakar cemburu. Mungkin burungnya sudah mengecil jadi dia kembali berdiri setelah diam dan memunggungi Leo sejak tadi.


"Itu tas pacar saya! Kembalikan!" Tangan Aldo yang lebih panjang hampir menjangkau tas Nayra. Namun dengan sigap, Leo menjauhkannya.


"Mantan lebih tepatnya, karena Nayra sudah memutuskanmu berjam-jam lalu." Leo terkekeh dengan seringai menyebalkan keluar dari sana. Ini memang hal terjauh yang Leo lakukan untuk wanita. Astaga ...! Seakan dia tahu dengan jelas alur hidup Nayra.


"Sebenarnya siap kamu ini?!" Ana penasaran dari tadi, sejauh ini Nayra tidak punya pria lain selain Aldo. Nayra tidak mungkin kan, punya barang bagus yang tidak dicicipinya? Pertanyaannya ini juga bertujuan untuk membuat Aldo makin murka pada Nayra. Dia ingin Aldo yang mencampakkan Nayra, menjatuhkan Nayra sampai hancur lebur. Sama seperti dia dulu, yang setiap hari menangis karena menahan tuduhan yang kejam. Ana memang tidak bisa mengandung, tetapi dia sudah mengalah untuk mengadopsi anak. Tetapi keluarga Arya—suaminya, menginginkan darah daging Arya sepenuhnya, sehingga—Ana curiga Arya dan Titi memiliki afair sebelumnya, jadilah Nayra kecil yang sudah berusia satu tahun saat di bawa pulang kemari.


Mereka menikah secara siri, dan Ana hanya harus tahu menerima semua itu tanpa menawar sedikitpun. Sejak menikah di usia 18 tahun, Ana tinggal di rumah orang tua Arya. Dia yang mengurus kedua orang tua Arya hingga meninggal dunia. Tetapi sekalipun Ana mendapatkan perlakuan yang baik layaknya mertua dan menantu.


Setelah pernikahan itu, hidup Ana bagai di neraka. Dia hanya lulusan SMP, tidak punya kemampuan apa-apa selain mengurus rumah tangga. Dia tidak yakin bisa bertahan jika berpisah dari Arya yang membuatnya hidup berkecukupan dan nyaman. Itu sebabnya dia bertahan meski tiada hari tanpa air mata dan siksaan batin. Ana dicampakkan.


Napas Ana terhela berat mengingat masa lalunya yang menyakitkan. Ambang matanya basah, tetapi dia segera menepisnya. Sekarang Ana adalah wanita kuat dan berkuasa atas Nayra dan barang-barang miliknya.


Mata wanita itu semakin tajam menatap Leo. Ya, Leo memang sangat macho dan aromanya membuat dirinya basah kuyup.


"Kamu selingkuhan Nayra?" desak Ana.


Leo menaikkan sebelah alisnya. "Bagiku, Nayra adalah pacar, tidak peduli kalau Nayra menjadikanku selingkuhan."


Mata Aldo mendelik nyaris copot saat mendengar ucapan Leo. "Kau!"


BUG ...!


*


*


*

__ADS_1


Kalau rame gas lagi, yess! Eits ... gak boleh emosi yess🤣


__ADS_2