Wanita Lain Itu, Mamaku

Wanita Lain Itu, Mamaku
33


__ADS_3

Meli seketika mepet ke belakang Nayra. Langkah tegas, tatapan tajam dan lurus Leo menatap ke arah mereka.


"Dokter ... ini gimana? Kan aku udah bilang jangan diladeni si valak itu." Meli meremas bagian belakang blazer Nayra. Dia gemetar tak karuan. Leo punya akses melaporkan kejadian ini ke bagian kepegawaian. Jika Nayra sudah bukan karyawan di sini setelah dipecat, dia masih pegawai sini, jadi bagaimana nasib nya nanti?


Nayra bukan tidak gemetar dan gugup juga, tapi kan, Leo dipihaknya. Jadi apa dia harus tersenyum ke arah Leo sekarang? Takutnya, perbuatannya kali ini akan membuat nama baik Leo tercoreng, jadi Nayra sedikit bingung.


"Ah, Dokter Leo." Alena sayangnya mendahului Nayra. Wanita itu mendekati Leo dan menyejajari langkah. Dia menoleh dengan senyum sok ramah, sok dekat, sok akrab menatap Leo. "Anda akan pulang?"


Leo diikuti beberapa pria berpakaian hitam-hitam mengabaikan Alena. Meskipun tidak. Malah dia melangkah lebar dan berhenti di samping Nayra lalu mengambil alih bawaan Nayra untuk di serahkan pada pria berpakaian hitam. Tatapan pria itu melembut saat menatap Nayra.


"Ini nggak bagus buat tulang kamu, dan pinggiran kardus ini bisa menggores kulit kamu." Leo tersenyum manis, dan mengusap lengan Nayra yang masih utuh, tak tergores sama sekali.


"Aku baik, kok ... jangan khawatir. Aku bisa jaga diri." Nayra mendongak untuk membalas tatapan Leo dan melingkarkan tangan di pinggang rata nan liat milik Leo. Keduanya tersenyum manis saat bertemu tatap.


Meli terkejut sampai kardus di tangannya nyaris jatuh. Untung langsung ditangkap oleh orang-orang Leo yang tak lain adalah sopir di rumah Leo.


Alena ternganga sampai rahangnya terjatuh seakan engselnya rusak. Ini pertunjukan teater di mana? Kenapa romantis sekali?


Wanita teman Alena langsung merepet jadi satu. Mereka memaksakan diri tersenyum saat Leo menatap lurus melewati mereka.


"Biar diurus sama sopir, kita pulang sama-sama, Sayang." Leo mencuri ciuman di pipi dengan menunjukkan arti yang dalam. Semua tahu apa arti: pulang sama kamu. Ya, pasti ke rumah Nayra dan mereka akan melakukan apa. Dipikiran Alena mereka sudah terlibat terlalu jauh.


Alena mendengus tak terima, kepalanya mendadak penuh ledakan dan perasaan campur aduk. Ini menjengkelkan. "Astaga ... Nayra!"

__ADS_1


Alena memblokir jalan dua orang itu. Bersedekap dengan angkuh. Tatapan mata itu jelas mengatakan kalau dia tidak bisa menerima kenyataan yang dilihatnya ini.


"Kau nggak berhasil menggaet petinggi lain, akhirnya menggaet kepala bagian?" Jelas itu tertuju pada Nayra. "Kamu ternyata sama siapa aja mau, ya, Nay! Asal kamu bisa kembali kerja di sini? Hina banget ya, kamu ... cari kerja dengan cara yang nggak halal, nggak berkah gaji kamu!"


"Kamu sedang ngatain diri kamu sendiri, Al?" Nayra tak tahan untuk tertawa. "Ya ampun, kamu cocok kalau jadi komika daripada dokter. Fasih sekali meroasting diri sendiri."


Alena meremas tangan hingga mengepal. "Mulut kamu lama-lama minta di gampar ya, Nay! Lancang banget, jadi orang! Leo kesini nggak akan bela kamu, kalau kamu nggak kasih apa-apa ke dia! Kamu jangan merasa paling hebat! Dia biasa seperti itu ke semua wanita!"


"Ya, aku emang kasih apa-apa ke dia. Aku kasih apa saja yang dia mau, termasuk tubuhku, tapi tetap nggak sama dengan kamu." Nayra mengejek Alena dengan rasa senang memenuhi dada.


"Nanti malam, aku bagi link siaran langsungnya. Tapi kamu jangan kaget dan pingsan." Nayra berkata asal. "Aku jauh lebih hebat dari kamu yang pasti."


Alena mendengus. "Ck, baru segitu aja sudah sombong."


Alena membeliak meneliti Nayra dan Leo bergantian. Dia baru saja menemukan ide untuk menjatuhkan Nayra. "Kamu nggak punya apa-apa juga sok ngaku-ngaku kaya!"


Alena melangkah ke dekat mobil Ferrari merah milik Leo. "Yang begini kamu pasti nggak akan punya."


Nayra meraih tas dan mengeluarkan kunci mobil. "Tanpa ini, ucapanmu lebih bulshit lagi, Al!"


Nayra membiarkan Alena pias dan memucat, dia memilih menatap Leo yang tersenyum takjub pada sikap tegas Nayra.


"Kakimu pasti lelah, ayo segera pulang! Sampai rumah biar aku memijatnya, ya." Leo menambah suasana panas penuh provokatif ini. Perang di antara wanita sungguh berbeda suasananya. Leo baru tahu hari ini.

__ADS_1


"Aku mau pijat ples, Hubby." Nayra mengulurkan tangan untuk membelai rahang Leo yang begitu tegas dan tajam. "Aku nggak tahan walau baru lihat dari luar."


Meli terbatuk, teman Alena saling pandang, sementara Alena diam seribu bahasa dengan muka seperti menahan bongkahan batu di tenggorokan. Dia syok mendengar kata Hubby. Kapan dia menikah dengan pria itu?


Leo dan Nayra melangkah dengan gaya luar biasa berkelas menuju mobil.


Ketika melewati Alena, Nayra berbisik. "Setirnya di kiri, kalau mau memakainya. Tapi kalau Avanza tahun 2004 beda cerita."


Alena menunduk agar bisa bertatapan dengan Nayra.


"Ouh, aku lupa mengatakan kalau bisa mendapatkan ini semua, tapi segelku masih utuh! Nggak kaya kamu yang udah dol meski suami juga masih berbagi sama wanita lain."


Alena membeliak lebar. Nayra! Sialan!


"Bye, Al!"


Nayra masuk ke dalam mobil, lalu duduk di sebelah Leo. Dia masih menyeringai ke arah Alena, dan melambai pada Meli yang sudah setengah pingsan saat membalas salammya.


"Ini nggak mungkin, kan?" Alena bergumam pelan. Dia benci semua orang yang melampaui pencapaiannya, terutama Nayra yang dianggapnya miskin.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2