
Berjalan cukup jauh dari penginapan, Yun Zi dan kedua bawahannya berjalan menuju sebuah restoran yang cukup besar.
Jian Heeng lalu pergi ke resepsionis untuk memesan ruangan pribadi serta sepuluh jenis makanan dan tiga kendi anggur berukuran sedang untuk Tuannya.
Menatap hidangan yang sudah tiba, Yun Zi lalu mengarahkan pandangannya pada Jian Heeng dan Shu Wan yang sedari tadi memaksa untuk makan di meja lain.
"Kalian berdua duduklah sekarang! ", ucap Yun Zi dengan nada datarnya.
"Tuan, kami akan makan di luar ruangan", ucap Jian Heeng dengan hormat.
"Kenapa kalian ingin makan diluar?", tanya Yun Zi.
"Tuan, kami hanyalah seorang bawahan jadi tidak pantas berada di meja yang sama dengan Tuan", jawab Shu Wan disertai anggukan oleh Jian Heeng.
"Aku tidak pernah menetapkan aturan seperti itu! Jadi duduklah sekarang", ucap Yun Zi.
"Tapi.... ",
"Tidak ada tapi! Cepatlah duduk, aku sudah sangat lapar", Yun Zi mengatakannya sembari memberi tatapan tidak sabar pada keduanya.
"Ya! ", keduanya pun duduk dibawah tatapan tidak sabar Tuannya.
Yun Zi yang masih memakai topeng hitamnya, sedikit mengangkat sudut bibirnya melihat sepasang saudara kandung ini akhirnya bersedia duduk.
Tentu saja Yun Zi tidak akan tahu kalau Jian Heeng dan Shu Wan bersedia duduk hanya karena takut Tuannya akan marah.
Sambil menikmati makanan dengan santai, Yun Zi memulai obrolan.
"Apakah kalian tahu dimana Kota Hantu berada?", tanya Yun Zi.
Jian Heeng dan Shu Wan yang mendengar pertanyaan Tuannya, langsung meletakkan sumpit mereka dan menjawab dengan serius.
"Tuan, Kota hantu terletak di wilayah perbatasan Negara Tian Zing utara dan Negara Qing timur, jika Tuan ingin pergi ke Kota Hantu maka perlu membeli kereta kuda terlebih dahulu karena jarak yang harus di tempuh cukup jauh", jawab Jian Heeng.
"Apakah tidak ada array transfer dari Ibukota ke Kota hantu?", Yun Zi bertanya lagi setelah menelan makanannya.
"Tidak ada Tuan! Justru karena inilah, Kota Hantu di kenal aneh dan misterius", kali ini Shu Wan yang menjawab.
"Berapa hari jarak yang harus kita tempuh jika kita berangkat hari ini?", tanya Yun Zi.
"Jika kita berangkat hari ini, kemungkinan akan sampai besok siang", jawab Jian Heeng setelah memperkirakan waktunya.
"Kita akan pergi lain kali saja! ", ucap Yun Zi lalu melanjutkan menyantap makanannya.
Keduanya pun mengangguk lalu fokus kembali menyantap makanan.
Setelah merasa cukup kenyang, Yun Zi lalu meminum beberapa cangkir anggur dan bersandar pada sandaran tempat duduknya dengan puas.
"Identitas ku sekarang adalah Nona sulung Kediaman Jendral Wen, jadi kalian tidak bisa mengikuti ku. Tugas pertama kalian adalah membeli Kediaman besar untuk dijadikan markas sementara lalu berkultivasilah dengan giat, jika ada sesuatu yang tidak bisa kalian selesaikan, cukup hubungi aku melalui batu komunikasi", Yun Zi memberitahu identitasnya pada kedua bawahannya.
Meskipun terkejut mendengar identitas asli Tuannya, keduanya tidak berani berbicara dan hanya mengangguk sebagai tanggapan.
__ADS_1
"Jian Heeng, kau pergilah membuat kartu Bank yang sesuai dengan koin emas yang ada di cincin ini karena dimasa depan urusan keuangan akan di kelola olehmu", ucap Yun Zi sembari menyerahkan sebuah cincin penyimpanan pada Jian Heeng.
"Ya! ", sahut Jian Heeng sembari menerima cincin penyimpanan tersebut.
Yun Zi telah memberitahu keduanya tentang rencananya untuk mendirikan Sekte nya sendiri dan juga, Yun Zi memberitahu kalau keduanya adalah anggota pertama.
"Tuan, apakah kami tidak perlu merekrut anggota baru? ", tanya Shu Wan.
"Untuk saat ini tidak perlu! Kalian fokuslah berkultivasi terlebih dahulu, aku akan menemui kalian dua hari sebelum Paviliun pelelangan Shi Ting di mulai", jawab Yun Zi.
"Ya! ", keduanya mengangguk bersamaan lalu berdiri dan berjalan keluar ruangan mengikuti Tuannya dari belakang.
Yun Zi dan Shu Wan keluar dari restoran terlebih dahulu sementara Jian Heeng pergi untuk membayar tagihan.
"Baiklah! Kita akan berpisah disini dan juga, ingatlah untuk membeli Kediaman yang jauh dari keramaian", ucap Yun Zi pada Shu Wan sebelum pergi menuju Kediaman Jendral Wen.
Sesungguhnya Yun Zi tidak ingin kembali ketempat biadab itu tapi apalah daya, Yun Zi harus menyelesaikan masalah balas dendamnya terlebih dahulu sebelum sepenuhnya fokus pada kultivasi dan pengembangan Sekte nya.
______
Liu Mei yang saat ini sedang fokus menyulam, tiba-tiba di kejutkan atas suara familiar yang terdengar tepat di sampingnya.
"Sulaman yang indah! ", ucap Yun Zi yang sudah melepas topeng hitamnya.
"Ah....Nona hampir membuatku tertusuk jarum", meskipun mengeluh, ekspresi Liu Mei sangat bahagia karena melihat Nona nya akhirnya kembali.
Yun Zi menggelengkan kepalanya tak berdaya lalu meminta Liu Mei untuk mengikutinya ke kamarnya.
Kedua pipi dan telinga Liu Mei langsung memerah karena malu dihadapkan dengan senyum Tuannya.
"Jika aku yang adalah seorang Perempuan memerah melihat senyum Nona, bagaimana dengan reaksi para Lelaki di luar sana jika melihat senyum Nona yang sangat menyilaukan ini seperti matahari yang bersinar di pagi hari", batin Liu Mei.
"Semua berkat pil dan sumber daya yang Nona berikan! Terima kasih banyak Nona", ucap Liu Mei yang hampir berlutut tapi ditahan oleh energi spiritual milik Yun Zi.
"Tidak perlu berterima kasih dan ingatlah baik-baik, mulai sekarang dan seterusnya jangan pernah berlutut padaku lagi! Apa kau mengerti?", ucap Yun Zi dengan nada tegasnya.
Meskipun sangat terkejut mendengar kata-kata tegas Nona nya, Liu Mei tidak berani membantah dan menjawab dengan serius,
"Ya! Liu Mei mengerti".
Memejamkan matanya setelah mendengar jawaban Liu Mei, Yun Zi bertanya lagi, "Apakah ada yang datang ke sini akhir-akhir ini?".
"Tidak ada Nona, sepertinya perkiraan Nona benar! Tapi aku mendengar para pelayan bergosip kalau akan ada perjamuan di Kekaisaran dan kemungkinan besar Nona akan diminta hadir sebagai ganti karena Nona kedua sedang berada di Akademi Kekaisaran sekarang", jawab Liu Mei sembari menyelimuti Nona nya.
"Jika hanya sebagai pengganti, mereka bisa meminta Wen Li Mei untuk hadir! Mereka memintaku untuk hadir hanya karena ingin mempermalukan ku", ucap Yun Zi disertai nada dinginnya.
Tapi Yun Zi sangat menantikan permainan licik apalagi yang di rencanakan oleh orang-orang itu.
Yun Zi membuat alasan sangat lelah dan mengantuk lalu meminta Liu Mei untuk membangunkannya pada jam makan malam.
Melihat Liu Mei pergi, Yun Zi lalu memasuki ruang dimensinya.
__ADS_1
"Chu'er, apa yang sedang kau lakukan? ", tanya Yun Zi sembari menghampiri Chu'er yang tengah fokus pada sesuatu.
Mendengar suara yang dirindukannya, Chu'er meletakkan benda yang di pegang nya lalu berlari ke arah Tuannya.
"Ah........Chu'er sangat merindukan Tuan", Chu'er memeluk paha kanan Tuannya dengan sangat erat.
"Aku juga sangat merindukanmu", ucap Yun Zi sembari mengelus rambut Chu'er dengan lembut.
"Apa yang sedang kau lakukan?", tanya Yun Zi yang melihat banyak kertas putih di atas meja batu.
Menarik tangan Tuannya ke arah meja batu, Chu'er lalu memberitahu Tuannya bahwa dirinya sedang membuat desain gaun untuk Tuannya.
Yun Zi tersenyum senang lalu memuji Chu'er setelah melihat beberapa desain yang sudah selesai.
"Desain-desain ini memang sesuai dengan seleraku! Aku tidak pernah menyangkan kalau Chu'er sangat jenius dalam bidang ini", batin Yun Zi.
Yun Zi lalu berkata pada Chu'er bahwa dimasa depan dirinya hanya akan memakai gaun yang di desain oleh Chu'er.
"Benarkah? ", tanya Chu'er yang masih tidak mempercayai pendengarannya sendiri.
"Benar! ", Yun Zi meyakinkan Chu'er sembari mencubit pipinya yang lucu.
Chu'er benar-benar sangat senang lalu memberi Tuannya pelukan kasih sayang lagi.
"Bagaimana dengan telur Fire Phoenix? ", tanya Yun Zi setelah melepas pelukan Chu'er.
"Chu'er meletakkannya di bukit Elemen Api agar cepat menetas", jawab Chu'er dengan senyum mekar di wajah cantiknya.
"Baiklah! Aku akan berlatih di ruang Lian Mo Qin! Jadi beritahu aku jika ada yang masuk ke kamarku", ucap Yun Zi.
"Mm! Tuan bisa berlatih dengan tenang", Chu'er mengatakannya sembari menepuk dada kecilnya untuk meyakinkan Tuannya.
Yun Zi pun berjalan ke halamannya dan duduk dalam posisi meditasi di atas ranjang besarnya lalu mengambil quqinnya.
"Aku sangat penasaran seperti apa ruang dimensi di dalam quqin ini", batin Yun Zi sembari mengelus quqin yang di pegangnya.
Tidak ingin membuang waktunya, Yun Zi lalu memusatkan pikirannya di kedalaman jiwanya untuk memasuki ruang dimensi di dalam quqin.
Masuk ke dalam ruang dimensi quqin dengan hanya jiwanya saja, Yun Zi benar-benar sangat syok melihat pemandangan nyata di depan matanya.
Dengan pemandangan awan putih di langit, daratan hijau dengan angin sepoi-sepoi serta Istana yang berdiri megah membuat Yun Zi tidak bisa bereaksi sesaat.
"Sungguh ajaib", hanya dua kata inilah yang ada di pikiran Yun Zi sekarang.
Baru beberapa saat kemudian Yun Zi akhirnya bereaksi lalu tersenyum senang dan mulai berjalan-jalan santai sembari mengagumi pemandangan indah di ruang dimensi barunya ini.
Selain ruang dimensi yang di berikan oleh mantan Kaisar Iblis, Yun Zi kini memiliki ruang dimensi lain yang tak kalah besar dan tak kalah luas dengan ruang dimensi yang diberikan oleh mantan Kaisar Iblis.
_________Goddess Of Yun Zi___________
Setelah membaca, jangan lupa tinggalkan Like dan Komennya ya ...
__ADS_1
________Happy Reading_________