Wen Yunzi (Kisah Menuju Puncak Kekuatan Tertinggi)

Wen Yunzi (Kisah Menuju Puncak Kekuatan Tertinggi)
038. Menunggu Kedatangan Ibu Suri


__ADS_3

Sedangkan suasana di dalam Aula perjamuan yang seharusnya meriah, justru sangat hening sekarang. Sangat hening karena hingga saat ini, perjamuan masih belum juga dimulai, Kaisar berkata kalau perjamuan hanya akan dimulai jika Ibu Suri telah tiba.



Karena perjamuan malam ini diadakan dengan maksud mencari kandidat yang cocok untuk posisi Permaisuri Putra Mahkota, maka yang menghadiri perjamuan hanyalah beberapa Putra pejabat dan para Gadis muda dari keluarga-keluarga terhormat yang masih belum menikah.


Meskipun suasananya sangat hening sekarang, banyak Gadis muda yang masih menahan nafas mereka dan secara tidak sadar, para Gadis muda menampilkan postur duduk mereka yang paling anggun dengan harapan agar Putra Mahkota atau para Pangeran lainnya melirik kearah mereka.


"Permaisuri, apakah kau tahu kenapa Ibu Suri belum juga tiba? ", tanya Kaisar pada Ratu yang tempat duduknya tidak jauh dari Kaisar.


"Shuang'er tidak tahu Yang Mulia", jawab Permaisuri Lian Sa Shuang dengan nada hormatnya.


"Akankah lebih baik mengirim seseorang ke Istana Chining untuk memastikan apakah Ibu akan hadir atau tidak ke perjamuan malam ini? ", ucap Kaisar meminta pendapat Permaisuri.


"Sebaiknya kita tunggu sebentar lagi Yang Mulia, jika Ibu masih belum datang juga maka memang lebih baik mengirim seseorang untuk memastikannya", ucap Permaisuri yang meminta Kaisar untuk menunggu lagi.


"Baiklah! Mari kita tunggu sebentar lagi", ucap Kaisar lalu mulai memejamkan matanya untuk bermeditasi sembari menunggu kedatangan Ibu Suri.


Berbeda dari sikap tenang semua orang, Wen Li Mei saat ini justru sangat kesal lantaran sejak tadi, dirinya masih belum juga melihat batang hidung sepupu buruk rupanya itu.


"Saudara, apakah perjamuan benar-benar tidak akan dimulai jika Nenek tidak hadir? ", tanya Pangeran keenam pada Pangeran ketiga yang duduk bersebelahan dengannya.


Pangeran ketiga sedikit mengangguk sebagai tanggapan atas pertanyaan Pangeran keenam.


____


Dua menit telah berlalu, tapi Ibu Suri masih belum juga tiba, akhirnya Kaisar pun meminta Pangeran pertama untuk pergi ke Istana Chining tempat Ibu Suri tinggal, memastikan apakah Ibu Suri akan menghadiri perjamuan atau tidak.


Pangeran pertama baru saja akan melangkah pergi tapi tiba-tiba menghentikan langkahnya,


"Yang Mulia Ibu Suri telah tiba .... ",


Mendengar suara kasim yang bergema di seluruh Aula perjamuan, semua orang termasuk Kaisar dan Permaisuri mulai berdiri dengan hormat untuk menyambut kedatangan Ibu Suri.


"Salam untuk Yang Mulia Ibu Suri", ucapan salam hormat bergema di Aula perjamuan dengan serempak.


Karena semua orang yang hadir saat ini tengah menundukkan kepalanya, mereka sangat penasaran siapa pemilik sepasang sepatu berwarna putih salju yang berjalan beriringan dengan Yang Mulia Ibu Suri.


"Tidak perlu sopan santun, santai saja dan nikmatilah perjamuan malam ini! ", ucap Ibu Suri sebagai tanggapan salam semua orang.


"Ya" , ucap serempak semua orang, tapi pandangan mereka masih terpaku pada sepasang sepatu berwarna putih salju tersebut.


Baru setelah Ibu Suri duduk di singgasana yang sejajar dengan posisi singgasana Kaisar, semua orang mulai mengangkat kepala mereka hanya untuk melihat siapa pemilik sepasang sepatu berwarna putih salju tersebut. Dan alangkah terkejutnya semua orang termasuk Kaisar, Permaisuri, Putra Mahkota dan para Pangeran, melihat seorang Gadis muda yang sedang berdiri di samping singgasana Ibu Suri.

__ADS_1


Seorang Gadis muda yang mengenakan gaun sangat indah



Alis panjangnya seperti mahakarya yang paling indah, mata dinginnya mirip dengan bintang malam, kulitnya seperti batu giok porselen yang halus dan adil. Saat sinar cahaya mutiara malam jatuh di hidungnya yang tinggi dan lurus, tidak ada cacat yang bisa di lihat.


Tinggi Gadis muda itu sekitar 160 cm, lekuk tubuhnya sangat ramping, begitu indah sehingga membuat semua orang semakin tidak bisa berkedip menatapnya tapi ketika pandangan dinginnya menyapu, itu memberi orang perasaan tertindas seperti embun beku dingin dari salju yang tidak dapat menahan diri.


Dibawah sinar cahaya mutiara malam yang begitu cemerlang, sosok Gadis muda itu sangat indah seperti keindahan alam yang sangat murni, cerah dan glamor tiada batas, tidak akan salah jika menyebut Gadis muda tersebut seperti seorang Dewi yang telah turun ke Dunia fana.


Melihat semua orang yang bahkan tidak bisa mengedipkan matanya, Ibu Suri tiba-tiba berdeham dengan maksud membangunkan semua orang yang terlihat sangat bodoh menatap ke arah Zi'er disampingnya.


Tersadar kembali akibat dehaman Ibu Suri, Kaisar segera kembali ke penampilan Agungnya dan berkata pada Ibu Suri dengan hormat, "Bukankah sebelumnya Ibu berkata kalau Ibu sudah memiliki kandidat yang cocok untuk posisi Permaisuri Hao Cun? tapi apa yang membuat Ibu berubah pikiran sekarang? Ibu bahkan membawa seseorang tanpa diundang".


"Kapan Ibu berkata berubah pikiran? ", Ibu Suri bertanya kembali pada Kaisar yang tak lain adalah Putranya sendiri.


"Ahh....Jika Ibu tidak berubah pikiran, kenapa Ibu membawa Nona muda ini? ", Kaisar sedikit bingung sekarang.


"Tidak di undang? ", tanya Ibu Suri dengan nada dinginnya.


Kaisar mengangguk lalu berkata kalau semua tamu undangan sudah hadir semuanya malam ini.


"Zi'er, apa kau masuk ke Istana tanpa kartu undangan? ", sekarang Ibu Suri bertanya pada Gadis muda di sampingnya yang tak lain adalah Yun Zi.


"Ibu Suri, Zi'er tidak memiliki keberanian untuk memasuki Istana tanpa kartu undangan", jawab Yun Zi dengan nada hormatnya.


Mendengar pertanyaan Permaisuri, Yun Zi mengalihkan pandangannya ke tempat duduk perjamuan paling belakang dan menganggukkan kepalanya ke arah Liu Mei yang sedang berdiri di samping tempat duduk kosong.


Liu Mei pun berjalan maju ke depan dan berlutut sembari menyerahkan kartu undangan, "Yang Mulia Permaisuri, kartu undangan Nona muda ada bersama pelayan ini".


Mendengar kata-kata Liu Mei, otak Wen Li Mei hampir meledak seketika, Liu Mei maju ke depan dengan pandangan tajamnya terpaku pada Liu Mei.


"Pelayan rendahan, kenapa kau menyerahkan kartu undangan milik sepupuku Wen Yun Zi? dan juga, dimana sepupuku berada sekarang?", Wen Li Mei berkata dengan marah pada Liu Mei yang sedang berlutut.


"Nona ketiga, tidakkah kau melihat dengan jelas? Nona muda saat ini sedang berdiri di samping Yang Mulia Ibu Suri", ucap Liu Mei sembari menahan diri agar tidak tertawa.


BOMM!.....


Kata-kata Liu Mei langsung membuat gempar semua orang yang ada di Aula perjamuan, bahkan Kaisar pun saat ini tidak lagi tenang.


"Pelayan kecil, apakah kau tidak tahu hukuman apa yang akan kau terima jika kau berbohong pada Kaisar? ", ucap Kaisar dengan nada peringatan.


"Maafkan atas kelancangan hamba Yang Mulia Kaisar, tapi pelayan kecil itu memanglah pelayan pribadiku dan yang rendahan ini adalah Wen Yun Zi, putri sulung dari mendiang Tuan pertama kediaman Jendral Wen", jelas Yun Zi tetap dengan nada tenangnya.

__ADS_1


"Wen Yun Zi? Putri sulung mendiang Tuan pertama", Kaisar masih berusaha mengingat.


Meskipun Kaisar masih berusaha mengingatnya, bukan berarti yang lain sama.


"Wen Yun Zi? apakah kau putri mendiang Wen Zuting? ", Permaisuri dan semua orang selain Ibu Suri benar-benar sangat terkejut sekarang.


"Benar Yang Mulia Permaisuri", jawab Yun Zi.


Bahkan Putra Mahkota dan Pangeran pertama yang selalu memiliki sikap tenang tidak dipungkiri lagi juga sangat terkejut sekarang.


"Bagaimana mungkin Nona muda secantik peri itu adalah Wen Yun Zi? ",


"Bukankah Wen Yun Zi tidak hanya dikenal sebagai sampah kultivasi tapi juga dikenal dengan wajah buruk rupanya, mengapa sekarang Nona muda secantik peri itu mengklaim dirinya sebagai Wen Yun Zi? ",


"Benar, aku tidak percaya bahwa Dewi yang baru ku puja itu adalah Wen Yun Zi! ",


"Apakah aku sedang bermimpi sekarang? ",


"Sepertinya kita benar-benar bermimpi sekarang? "


Berbagai kata-kata penghinaan pun dilontarkan semua orang pada Yun Zi tapi segera di hentikan oleh Ibu Suri yang tidak terima kalau Zi'er kesayangannya telah di hina seperti itu.


Sedangkan Yun Zi saat ini masih terlihat begitu tenang seakan-akan bukan dirinya lah yang orang-orang hina.


Melihat wajah cantik Nona muda ini yang memang memiliki beberapa kemiripan dengan wajah putra mendiang Tuan Wen Zuting yakni Wen Yun Yi. Kaisar dan Permaisuri tidak lagi ragu dan percaya sepenuhnya bahwa Nona muda secantik peri ini adalah Wen Yun Zi yang desas-desus buruk tentangnya beredar sangat luas di luar sana.


Dan melihat sikapnya yang saat ini begitu elegan, tenang dan sopan, bahkan para putri Kekaisaran pun tidak bisa di bandingkan dengannya. Kaisar dan Permaisuri pun mulai percaya bahwa desas-desas buruknya yang beredar luas di luar sana tidaklah benar sama sekali.


Berikut perbedaan antara Raja, Ratu, Ibu Suri, Permaisuri, Selir dan Gundik ;


_Raja : Gelar Penguasa sebuah Kerajaan.


_Ratu : Gelar Penguasa Kerajaan berjenis kelamin Wanita.


_Ibu Suri : Ibu Suri adalah gelar untuk Ibu dari Penguasa Kerajaan, gelar ini juga dapat diperuntukkan kepada Permaisuri yang telah menjanda. Meskipun demikian, tidak setiap Ibu dari Penguasa Kerajaan atau Janda Permaisuri mendapat gelar Ibu Suri secara otomatis.


_Permaisuri : Gelar bagi Istri dari Penguasa Kerajaan Pria (Raja), dalam Kerajaan yang menganut sistem poligami, Permaisuri merujuk pada Istri utama Penguasa Kerajaan Pria (Raja) dan juga, Permaisuri adalah yang bertanggung jawab atas harem Kerajaan, Meskipun demikian, tidak setiap Istri seorang Penguasa Kerajaan mendapat gelar Permaisuri secara otomatis. Kadang seorang Raja bisa juga memiliki lebih dari satu Permaisuri.


_Selir : Selir adalah Istri Raja juga tapi wewenangnya berbeda dengan Permaisuri. Meskipun berbeda, Selir tetap mendapatkan haknya, disayangi dan diperlakukan dengan baik sebagai Istri dan juga, seorang Selir bisa saja berubah menjadi seorang Permaisuri. Yang paling penting, Selir jumlahnya lebih dari satu.


Gundik : Gundik bisa dikaitkan sebagai budak sex atau sebagai simpanan. Gundik tidak layak di perlakukan sebagai seorang Istri. Setelah bosan, gundik biasanya akan dijual kepada yang lain. Sedangkan bila gundik tersebut melahirkan seorang anak, maka berdasarkan catatan sejarah mengenai pergundikan, anak tersebut akan dijual atau di berikan kepada orang lain karena tidak mendapatkan hak apapun bahkan akan di anggap sebagai aib atau anak haram.


_______Goddess Of Yun Zi_________

__ADS_1


Sumber di atas, author ambil dari google ya guys ....


_____Happy Reading______


__ADS_2