
Di Aula utama kediaman Jendral Wen, Tuan besar Wen Li Jun duduk di kursi utama dengan ekspresi jijik di wajahnya melihat seorang Gadis muda berwajah buruk rupa yang berdiri tiga langkah darinya.
Di samping Tuan besar, juga berdiri seorang Gadis muda yang memiliki aura sombong di sekujur tubuhnya, siapa lagi jika bukan Wen Li Mei yang tengah tersenyum sinis kearah Yun Zi.
Tapi sayangnya, Yun Zi bahkan tidak melihat kearahnya. Tatapan Yun Zi malah tertuju pada pria paruh baya yang duduk dihadapannya yang tak lain adalah Kakeknya sendiri.
"Ada apa Tuan besar memanggilku? ", tanya Yun Zi dengan nada datarnya sembari berjalan kearah kursi dan duduk dengan malas.
"Jika tidak ada yang penting, aku akan kembali ke halaman bobrok ku! ", sambung Yun Zi sembari menekankan kata terakhir.
Seketika ekspresi Tuan besar berubah hitam seperti bagian bawah pot mendengar ucapan Gadis muda yang bahkan tidak memberi salam padanya, " Apakah ini sikap yang kau gunakan terhadap Kakek mu? ".
Yun Zi menyilang kan kedua tangannya di dadanya lalu berkata dengan alis terangkat, "Lalu bisakah Tuan besar memberitahuku bagaimana seharusnya aku bersikap padamu. Kakek! ".
"Kau.... ", Tuan besar benar-benar marah sekaligus heran melihat sikap cucu memalukannya ini yang bahkan sekarang mulai berani menentang kata-katanya.
"Kakek, redakan amarahmu dan tolong maafkan sepupu. Sepupu pasti tidak bermaksud bersikap seperti itu pada Kakek", Wen Li Mei buru-buru menenangkan Kakeknya lalu mengarahkan pandangannya pada Gadis buruk rupa yang tengah duduk dengan malas.
"Sepupu, kenapa kau tidak cepat meminta maaf pada Kakek! ", ucap Wen Li Mei yang berpura-pura peduli pada sepupunya.
"Mei'er, berhentilah membela Gadis yang tidak sopan itu", Tuan besar mengatakannya dengan nada kasih sayang pada cucunya Wen Li Mei, nada yang sungguh jauh berbeda dari nadanya berbicara pada Yun Zi
"Heh! Apakah Tuan besar memanggilku kesini hanya untuk menyaksikan drama kasih sayang ini? jika begitu, aku lebih baik kembali ke halamanku! ", ucap Yun Zi dengan malas lalu berdiri dan beranjak pergi, mengabaikan kepedulian palsu Wen Li Mei.
"Wen Yun Zi, berhenti di sana sekarang juga! ", melihatnya beranjak pergi, raut wajah Tuan besar menjadi semakin tidak sedap dipandang.
"Apa yang terjadi padanya? kenapa sikapnya sekarang jauh berbeda dari sebelumnya? ", pertanyaan inilah yang ada dipikiran Tuan besar dan Wen Li Mei sekarang.
"Sepupu, alasan Kakek memanggilmu kesini karena ingin memberitahumu sebuah kabar baik", Wen Li Mei buru-buru berkata melihat Kakeknya yang bahkan tak mampu menghentikan Yun Zi pergi.
Yun Zi yang mendengar kata-kata Wen Li Mei, tiba-tiba menghentikan langkahnya dengan senyum sinis di sudut bibirnya.
"Memberitahuku kabar baik? maka cepat katakan kabar apa itu", ucap Yun Zi yang tetap menghadap ke arah pintu masuk Aula.
Mengerutkan alisnya, Wen Li Mei lalu berkata setelah melihat kakeknya menganggukkan kepalanya, "Besok siang ada perjamuan di Istana dan karena sepupu Wen Jia Li berada di Akademi Kekaisaran sekarang maka Kakek ingin agar kau menghadiri perjamuan sebagai gantinya".
"Kenapa harus aku? bukankah kau jauh lebih baik untuk menghadiri perjamuan itu sebagai pengganti! ", ucap Yun Zi yang lagi-lagi menekankan kata terakhirnya.
Seakan mengerti makna dibalik ucapannya, Wen Li Mei menggertak kan giginya sembari mengatur nafasnya untuk meredakan amarahnya yang hampir meledak.
"Sepupu, apa kau lupa? sekarang aku adalah tunangan Yang Mulia Pangeran keempat jadi aku akan menghadiri perjamuan sebagai tunangannya! ", balas Wen Li Mei yang juga menekankan setiap kata-katanya dengan maksud mengejek Yun Zi.
"Tunangan Pangeran keempat? oh.... Mengapa aku tidak tahu? kukira targetmu adalah Pangeran pertama! ", Yun Zi berbalik dengan pandangan tajamnya yang tertuju langsung pada Wen Li Mei.
"Kamu... ", Wen Li Mei tidak menyangka Yun Zi akan mengatakan kata-kata yang sudah lama dirinya lupakan.
"Kakek... ", tidak tahu harus berkata apa, Wen Li Mei memandang Kakeknya dengan mata berkaca-kaca.
"Wen Yun Zi, jangan sembarangan berkata! Apakah kau tahu hukuman apa yang akan kau terima jika ada yang melaporkan kata-katamu pada Yang Mulia Kaisar", Tuan besar meraung dengan marah pada Yun Zi yang berdiri di depan pintu masuk Aula.
__ADS_1
"Aku tidak takut! Dan karena aku sangat bosan berada di halaman bobrok ku, maka aku setuju menghadiri perjamuan Istana dengan syarat kirimkan 1000 koin emas ke halamanku! ", ucap Yun Zi dengan nada ketidak pedulian nya.
"Apa yang akan kau gunakan dengan uang sebanyak itu? ", tanya Tuan besar yang tidak bisa meredakan amarahnya.
"Tentu saja untuk membeli beberapa gaun baru! Apakah Tuan besar ingin aku menghadiri perjamuan Istana dengan gaun jelek seperti ini? ", jawab Yun Zi sembari menatap gaun jelek yang di kenakan nya.
Meskipun kata-kata cucunya mengandung makna tersembunyi, Tuan besar tidak merasa bersalah sedikitpun dan malah langsung setuju begitu saja sembari berkata, "Baiklah! 1000 koin emas akan dikirimkan ke halamanmu nanti! Besok pergilah beli gaun baru dengan sepupumu".
"Tidak perlu! Besok aku akan pergi sendiri", ucap Yun Zi lalu berbalik pergi tanpa memperdulikan Kakeknya yang marah setelah mendengar ucapannya.
_____
Duduk bersantai di halamannya, Yun Zi menatap kantong yang berisi 1000 koin emas di depannya tanpa sedikitpun ekspresi di wajahnya.
"Liu Mei, besok bagikan koin emas ini kepada para pengemis! Aku tidak sudi menerima sepeserpun uang dari kediaman ini! ", ucap Yun Zi yang tak luput dari nada dinginnya.
Malam perjamuan Istana.....
Datang bersama Wen Li Mei ke Istana, Yun Zi dan Liu Mei langsung menyelinap pergi begitu sampai di Istana karena Yun Zi tahu apa yang akan terjadi begitu orang lain tahu dirinya menghadiri perjamuan Istana.
Yun Zi saat ini memakai gaun berwarna putih dengan desain sederhana serta cadar putih yang menutupi wajahnya, alasan Yun Zi berpenampilan begitu misterius karena dirinya merasa belum tiba waktunya untuk memperlihatkan wajahnya yang sekarang.
Menyelinap pergi dari Wen Li Mei, Yun Zi saat ini sedang berjalan-jalan santai di taman Istana yang lokasinya tidak jauh dari Aula perjamuan, ada banyak Gadis muda yang sepertinya juga tengah menikmati pemandangan malam di taman Istana.
Yun Zi berjalan-jalan santai sembari menikmati pemandangan di sekelilingnya dengan penuh minat layaknya berjalan-jalan di belakang kebunnya sendiri.
"Nona... ", bisik Liu Mei dari belakang Nona nya.
"Aku mendengar para Gadis muda bergosip kalau perjamuan malam ini diadakan dengan niat tersembunyi yakni mencari kandidat yang cocok untuk posisi Permaisuri Putra Mahkota", ucap Liu Mei dengan nada berbisik.
"Lalu, apa hubungannya denganku? ", ucap Yun Zi dengan santai.
"Nona, anda harus menangkap kesempatan ini ah! Putra Mahkota adalah seorang jenius yang sekarang berada dalam jajaran kultivator muda terhormat dan juga, di usianya yang sekarang menginjak dua puluh tahun, kultivasi Putra Mahkota sudah mencapai Kaisar Petarung level tiga dan sepertinya, Nona kedua Wen Jia Li begitu mencintai Putra Mahkota selama ini", ucap Liu Mei yang sepertinya sangat mengagumi Putra Mahkota.
Mendengar ucapan Liu Mei, ujung bibir Yun Zi melengkung penuh misteri.
"Ini terdengar....... Cukup menarik! ",
Semua kultivator di seluruh Dunia ini tahu bahwa semakin tinggi tingkat kultivasi seorang kultivator, maka untuk maju ketingkat selanjutnya akan jauh lebih sulit dan Putra Mahkota yang sudah mencapai tingkat Kaisar Petarung di usia yang begitu muda memang pantas dengan gelar jeniusnya serta layak berada dalam jajaran kultivator muda terhormat.
Mengingat pengkhianatan cinta dalam kehidupan sebelumnya serta sumpahnya sebelum dirinya meninggal, Yun Zi masih tidak tahu apakah dirinya memiliki takdir cinta atau tidak dalam kehidupannya yang sekarang.
Tidak ingin mengingat hal-hal yang hanya akan merusak mood baiknya, Yun Zi melanjutkan jalan-jalan santainya dan tidak lagi memperdulikan Liu Mei yang sedang mengoceh di belakangnya.
Melihat Nona nya yang tidak lagi menanggapi kata-katanya, Liu Mei berhenti berbicara dan hanya fokus mengikuti di belakang Nona nya.
Yun Zi yang masih berjalan-jalan santai, tiba-tiba mendengar para Gadis muda di sekitarnya berbicara dengan nada penuh kekaguman.
"Apakah kamu lihat? Pria yang lewat tadi terlihat begitu tampan! Apakah kau tahu siapa dia? apakah dia putra seorang pejabat? ",
__ADS_1
"Dia bukan putra seorang pejabat! Tapi dia adalah Pangeran pertama",
"Pangeran pertama? tapi kenapa aku tidak pernah melihatnya? ",
"Tentu saja kau tidak pernah melihatnya karena Pangeran pertama sangat jarang muncul di depan umum",
"Kau benar! Itulah yang membuat banyak orang tidak tau kalau dia adalah seorang Pangeran",
"Oh.... Apakah Pangeran pertama sudah memiliki seseorang dihatinya? ",
"Sepertinya tidak! Dalam urusan cinta, Putra Mahkota dan Pangeran pertama pada dasarnya sama. Justru karena inilah, perjamuan malam ini di adakan dengan maksud mencari kandidat yang cocok untuk posisi Permaisuri Putra Mahkota dan mungkin, kandidat yang cocok untuk posisi Permaisuri Pangeran pertama juga",
"Sepertinya, kandidat yang paling cocok untuk posisi Permaisuri Putra Mahkota hanyalah Nona kedua kediaman Jendral Wen yakni Wen Li Mei tapi sayangnya dia berada di Akademi Kekaisaran sekarang",
"Apa yang sayangnya! Justru karena dia berada di Akademi Kekaisaran sekarang, posisi Permaisuri Putra Mahkota akan semakin kuat berada di genggamannya",
Pembicaraan pun terus berlanjut, sementara Yun Zi hanya tersenyum sinis lalu berjalan ke arah tempat duduk batu yang tidak jauh darinya.
Setelah satu jam berlalu, akhirnya para Gadis muda pergi menuju Aula perjamuan karena sebentar lagi perjamuan akan segera di mulai.
"Nona, apakah kita tidak akan pergi? ", tanya Liu Mei pada Nona nya yang masih duduk santai.
"Tidak perlu terburu-buru! ", ucap Yun Zi sembari bermain dengan kipas lipat di tangannya.
Baru setelah tiga menit berlalu, Yun Zi dan Liu Mei akhirnya pergi menuju Aula perjamuan dan sialnya, ditengah jalan Yun Zi di tabrak oleh seorang Gadis pelayan yang tengah membawa nampan dengan gelas anggur terisi penuh di tangannya.
Melihat gelas anggur yang tumpah pada gaun putih Nona bercadar di depannya, Gadis pelayan tersebut buru-buru meminta maaf, "Tolong maafkan pelayan yang ceroboh ini Nona, pelayan ini benar-benar tidak sengaja".
Merasakan permintaan maaf yang tulus dari Gadis pelayan di depannya ini, Yun Zi dengan nada datarnya berkata, "Tidak masalah! karena kau terlihat sangat terburu-buru maka pergilah sekarang",
"Terima kasih atas kebaikan hatimu Nona, pelayan ini akan pergi sekarang", karena memang sedang terburu-buru, pelayan tersebut berterima kasih lalu sekali lagi meminta maaf sebelum beranjak pergi.
"Nona, apa yang harus kita lakukan? sebentar lagi perjamuan akan segera dimulai dan Nona pasti tidak akan di ijinkan masuk ke Aula perjamuan dengan gaun yang kotor", ucap Liu Mei yang sudah mulai khawatir.
"Tidak perlu khawatir! Kau pergilah ke perjamuan terlebih dahulu, nanti aku akan menyusul", ucap Yun Zi sembari menenangkan Liu Mei yang khawatir.
"Bagaimana dengan Nona? dan juga, apa yang harus aku jawab jika ada yang bertanya tentang Nona? "
"Tidak ada yang akan bertanya tentangku! Jadi kau tidak perlu khawatir, sementara aku akan pergi berganti pakaian terlebih dahulu tapi ingatlah, carilah tempat duduk paling belakang", ucap Yun Zi.
"Tapi.....",
"Tidak ada tapi, sekarang pergilah! ", desak Yun Zi yang sedikit tidak sabar.
"Ya. Aku akan menunggu Nona di Aula perjamuan",
Melihat Liu Mei pergi menuju Aula perjamuan, Yun Zi lalu bertanya pada pelayan disekitarnya, dimana letak kamar mandi untuk dirinya berganti pakaian.
_________Goddess Of Yun Zi________
__ADS_1
Apa yang akan terjadi selanjutnya?.....
_____Happy Reading_____