Wen Yunzi (Kisah Menuju Puncak Kekuatan Tertinggi)

Wen Yunzi (Kisah Menuju Puncak Kekuatan Tertinggi)
08 - Tuan Besar


__ADS_3

"Aku bukan hanya menyakiti puteri-mu, suatu saat nanti aku pasti akan membunuhnya juga!" Ucap Wen Yunzi dengan dingin.


"Bagaimana kau bisa berkata sekejam itu pada sepupumu." Tuan kedua berkata sambil mengarahkan jari telunjuknya.


Wen Yunzi mengerutkan alisnya. "Jangan arahkan jari kotor-mu padaku! Selain itu Wen Jiali bukan sepupuku."


"Kau..."


"Hanya menghilang beberapa hari, sifat gadis ini telah berubah." Melihat sorot matanya yang tajam, Tuan kedua merasakan punggungnya berkeringat dingin.


Tapi begitu melihat kondisi puteri kesayangannya, ia mengeluarkan artefak miliknya yang berupa pedang roh level Raja. Kemudian menyerang guna membalas dendam.


Jika pedang roh miliknya mengenai sasaran, kemungkinan besar kehidupan Wen Yunzi akan menghilang hari ini.


Berada dibawah tekanan Xuanzong tingkat lima, Wen Yunzi tidak sedikitpun panik.


Mengambil artefak level suci dari dalam ruang dimensi, ia mengaktifkannya menggunakan Qi spiritual lalu melemparkannya ke arah pedang roh milik Tuan kedua.


BAAM!...


Tabrakan dua artefak membuatnya mundur lima langkah.


Merasakan bau amis di mulutnya, ia menatap Tuan kedua. "Jika bukan karena artefak level Suci, kemungkinan aku akan mati hari ini."


Disisi lain Tuan kedua hanya berdiri diam seakan-akan tampak baik-baik saja. Tapi sebenarnya kondisinya tidak jauh berbeda.


"Jelas keadaannya sama seperti Tuan, tapi pria tua ini bersikap seolah baik-baik saja. Hais, pria tua yang munafik!" Meng Meng mencibir.


(Note: Selama Wen Yunzi tidak memutuskan komunikasi, Meng Meng bisa melihat keadaan dunia luar)


"Pria tua ini jauh lebih munafik dari yang kau pikirkan." Pungkas Wen Yunzi


Kemudian menatap Tuan kedua dengan tatapan mematikan. "Aku tidak pernah berpikir pria tua sepertimu akan mengangkat tangannya pada generasi muda."


Tidak menanggapi, Tuan kedua justru menampakkan ekspresi serakah saat melihat artefak level Suci. "Tidak salah! Ditangan gadis ini memang artefak level suci."


Berikut level artefak di Benua Da Xia:


- Raja (Terendah)


- Kaisar


- Dewa


- Suci


- Ilahi (Tertinggi)


Tidak seperti level kultivasi yang memiliki banyak tingkatan, level artefak hanya memiliki satu tingkatan saja.


....


"Sepertinya pria tua ini menginginkan artefak ditangan Tuan." Ucap Meng Meng.


"Oh! Jika pria tua ini bisa mengambilnya dariku, dengan senang hati aku akan memberikan artefak ini padanya." Wen Yunzi menyunggingkan senyum dingin melihat keserakahan dimata Tuan kedua.


Melihat senyumnya yang mengejek, Tuan kedua merasa geram lalu mengangkat pedangnya lagi. Tidak seperti sebelumnya, kali ini serangannya membawa dua puluh persen level kultivasi-nya.


Tidak diam saja, Wen Yunzi kembali mengaktifkan artefak ditangannya dan sekali lagi melemparkannya ke arah pedang roh milik Tuan kedua.


BAMM!...

__ADS_1


Tabrakan antara dua artefak sekali lagi terjadi. Kali ini dampak dari tabrakan tersebut berkali-kali lipat lebih dahsyat dari sebelumnya.


Wen Yunzi terhuyung mundur beberapa langkah dan langsung meludahkan seteguk darah segar. Bahkan ia merasa organ internalnya telah terluka parah.


Tidak menyerah, ia menyeka darah di bibirnya lalu kembali berdiri tegak.


Disisi lain, meskipun meludahkan seteguk darah juga, kondisi Tuan kedua tidak begitu parah.


"Kultivasi Wen Yunzi hanya Xuanling tingkat tujuh, bagaimana bisa dia bertahan dibawah serangan-ku? jika karena artefak level suci, aku tidak percaya."


Hal lain yang membuatnya bergidik ngeri adalah; Wen Yunzi sebelumnya hanyalah seorang sampah kultivasi. Tapi hanya dalam waktu beberapa hari, dia telah sepenuhnya berubah. Tidak hanya wajahnya berubah cantik, kultivasi-nya bahkan sudah mencapai Xuanling tingkat tujuh.


"Dimasa depan gadis ini pasti akan membawa malapetaka untukku dan Xiao Li. Tidak! Aku harus membunuhnya!" Kemudian seluruh tubuhnya dipenuhi aura membunuh yang semakin kuat.


"Badai api!"


Tangan Tuan kedua dipenuhi elemen api yang sangat dahsyat.


Serangan badai api miliknya langung mengurung Wen Yunzi.


"Aku sudah hampir mencapai batas-ku. Meng Meng, apa yang harus kulakukan?" ucap Wen Yunzi sambil berusaha bertahan didalam badai api.


"Tuan, bertahanlah. Aku akan keluar untuk membantumu." Meng Meng gelisah didalam ruang dimensi.


"Tidak! Kau tidak bisa keluar sekarang." Wen Yunzi tidak setuju.


"Tapi... Tunggu, kenapa Tuan memutuskan komunikasi disaat seperti ini?" merasakan komunikasi dengan Tuannya maupun dengan dunia luar telah terputus, Meng Meng menangis histeris.


Diluar, Wen Yunzi menggertak-kan giginya saat merasakan badai api semakin ganas. "Aku tidak bisa mati ditangan musuhku."


"Hahaha! Wen Yunzi, hari ini kau akan mati di tanganku!" Tuan kedua tertawa.


Tepat saat Wen Yunzi sudah tak mampu menahannya lagi, cincin Raja Iblis dijari kanannya memancarkan cahaya merah darah dan langsung menelan badai api yang mengurungnya.


Wajahnya semakin pucat setelah mendengar suara mengerikan di kedalaman jiwanya.


"Manusia bodoh, serangan yang kau terima hanya sebuah peringatan. Jika kau berani menyerang junjungan kami lagi, kami akan membuat jiwamu hancur berkeping-keping!" Sebuah suara peringatan muncul di kedalaman jiwa Tuan kedua.


Terbebas dari badai api, Wen Yunzi akhirnya bernafas lega. Tapi karena sudah mencapai batasnya, ia tidak bisa berdiri tegak dan hanya bisa terhuyung-huyung tak menentu .


Tepat saat tubuhnya hendak jatuh ketanah, sebuah tangan kokoh menangkapnya. Ia mendongak untuk melihat siapa itu dan adalah seorang pria tua.


"Siapa kau?" tanya dengan suara lemah.


"Gadis kecil, kau bisa bertanya setelah meminum ramuan obat ini." Seorang pria tua berjubah putih membuka tutup botol porselen yang dipegang di satu tangannya, kemudian meminta gadis kecil di pangkuannya untuk membuka mulut.


Merasakan tidak ada niat jahat, Wen Yunzi tidak ragu membuka mulutnya.


Pria tua tersenyum lalu membantu meminumkan ramuan obat.


Setelah keadaannya sedikit lebih baik, Wen Yunzi menanyakan pertanyaan yang sama, "Siapa kau?"


Melihat wajah cantik yang memiliki kemiripan dengan putera dan menantunya, Tuan besar sudah menebak identitas gadis kecil di pangkuannya. "Aku adalah Tuan besar Klan Wen."


"Tuan besar? aku adalah Nona sulung Klan Wen, tapi kenapa aku tidak pernah melihatmu?" ekspresi kebingungan menghiasi wajah pucat Wen Yunzi.


Tuan besar tersenyum lalu berkata. "Aku telah bermeditasi dalam pintu tertutup selama lima belas tahun, tentu saja kau tidak pernah melihatku."


"Gadis kecil, aku Kakek-mu." Tidak bisa menahan rasa rindunya lagi, Tuan besar memeluk tubuh mungil gadis kecil yang dipangkunya seraya menyatakan identitasnya.


Wen Yunzi tidak bisa mencerna ucapan Tuan besar dengan benar, tapi ia merasakan perasaan familiar dan tiba-tiba ia mengingat lukisan wajah Ayah dan Ibunya yang sudah meninggal.

__ADS_1


Setelah menelusuri ingatannya, ia mengingat bahwa memang memiliki seorang Kakek. Tapi sejak kecil, ia telah diberitahu oleh Tuan kedua bahwa Kakeknya telah meninggal bersamaan dengan kedua orang tuanya.


Keluar dari pelukan Tuan besar dan berdiri dari pangkuannya, ia berjalan menghampiri Tuan kedua yang sepertinya sedang melamun.


"Tuan kedua, tidakkah kau ingin menjelaskan sesuatu?" ia bertanya dengan suara dingin.


Tersadar dari lamunannya, Tuan kedua menatap Wen Yunzi dengan ngeri."Siapa yang gadis ini temui diluar sana? bagaimana bisa dia memiliki pendukung yang begitu mengerikan?"


"Penjelasan? apa maksudmu?" karena terlalu memikirkan kalimat peringatan, ia baru menyadari pertanyaan yang ditujukan padanya.


"Jangan berpura-pura bodoh! Saat aku masih kecil, kau selalu mengatakan bahwa Kakek-ku sudah meninggal. Jika Kakek-ku memang sudah meninggal, lalu siapa pria tua itu?" Wen Yunzi menatap tajam Tuan kedua, lalu mengangkat dagunya kearah Tuan besar yang baru saja menghampirinya.


Melihat sosok pria tua berjubah putih, Tuan kedua memegang dadanya yang terasa semakin sakit. "Tuan besar, mengapa kau ada disini? bukankah kau berkata akan berkultivasi dalam pintu tertutup lagi?"


Tidak menghiraukan pertanyaan Tuan kedua, Tuan besar justru bertanya pada cucunya. "Gadis kecil, apa maksud pertanyaan-mu tadi?"


"Sejak aku masih kecil, Tuan kedua memberitahuku bahwa Kakek-ku sudah meninggal. Itulah alasan mengapa aku meragukan identitas-mu." Wen Yunzi menjawab menyertakan ekspresi polos.


"Wen Zuting, apa yang dikatakan cucuku benar?" tanya Tuan besar yang menatap tajam Tuan kedua.


Membuat Tuan kedua semakin gemetar ketakutan. "Aku, aku..."


"Sepertinya memang benar! Tidak hanya berbohong pada cucuku, kau bahkan berani berbohong padaku juga?!" Tuan besar sangat marah.


Kemudian dengan lembut bertanya pada cucunya. "Xiao Zi, apa pria tua ini yang telah menyakitimu?"


"Ya! Tidak hanya menyakitiku sekali, Tuan kedua dan puteri-nya telah menyakitiku sejak aku masih kecil." Kali ini Wen Yunzi menjawab dengan suara sendu.


Jika komunikasi Meng Meng dengan dunia luar tidak terputus, dia pasti sudah memuji akting Tuannya.


Tuan besar meminta cucunya untuk memberitahu mengenai kehidupannya selama ini, Wen Yunzi-pun memberitahu Tuan besar semua yang ada di ingatannya.


Tuan besar semakin marah. "Aku tidak pernah menyangka kau akan sekejam itu pada cucuku. Sebelum aku memasuki pelatihan pintu tertutup, kau sudah berjanji akan merawat cucuku! Kemana perginya janjimu itu? tidak hanya tidak menepati janji, kau bahkan membuat hidup cucuku semakin menderita. Wen Zuting, jika bukan karena kontribusi besar Ayahmu pada Kediaman Wen-ku, aku tidak akan memberimu posisi sebagai Tuan kedua dan tidak akan memberi posisi pada puteri-mu sebagai Nona kedua." Tidak bisa menahan amarahnya lagi, Tuan besar mengirim Tuan kedua terbang dengan Qi spiritualnya.


Tuan kedua menabrak pohon besar di belakangnya dan terus-menerus meludahkan darah segar.


Anehnya, meskipun luka internal Tuan kedua semakin parah, dia tidak langsung pingsan.


Mengabaikan Tuan kedua, Tuan besar memeluk cucunya lagi. "Xiao Zi, maafkan Kakek. Seandainya Kakek tahu kau akan hidup seperti ini, Kakek pasti tidak akan meninggalkanmu."


Merasakan hanfu di bagian pundaknya basah, Wen Yunzi merasa hatinya berdenyut kesakitan. "Tidak apa-apa Kakek. Lihatlah, sekarang aku baik-baik saja bukan?"


"Xiao Zi, apa kau benar-benar bersedia mengakui-ku sebagai Kakek-mu?" Tuan besar bertanya masih dalam posisi memeluk cucunya.


"Kau adalah Kakek-ku dan satu-satunya keluargaku. Tentu saja aku akan mengakuinya." Wen Yunzi membalas pelukan Kakeknya.


Didalam hatinya, ia berterima kasih kepada Sang Pencipta karena tidak meninggalkannya sendirian di dunia kuno ini.


Melepaskan cucunya, Tuan besar memandang Tuan kedua yang berbaring di tanah.


"Mulai hari ini! Wen Zuting dan keluarganya dilepas dari posisinya dan diusir dari Kediaman Wen!" Keputusan Tuan besar bergema di seluruh Kediaman.


"Tidak! Tuan besar, tolong maafkan kesalahanku. Aku berjanji akan berubah!" Sambil menahan rasa sakitnya, Tuan kedua merangkak memohon ampun.


"Kau dan keluargamu tidak pantas diberi kesempatan kedua. Pergilah sekarang juga! Jika besok pagi kau dan keluargamu masih tetap disini, aku sendiri yang akan membunuhmu. Penjaga! Seret Wen Zuting dan puteri-nya kembali ke paviliunnya! Serta jual para pelayan ini ke pasar budak!" Tuan besar berkata tanpa ampun.


"Ya, Tuan!" Sepuluh penjaga muncul menjalankan perintah Tuan besar.


.


.

__ADS_1


________Happy Reading_________


__ADS_2