
Berdiri didepan rumah kayu yang sepertinya akan ambruk kapan saja, pikiran Wen Yunzi hanyut dalam kenangan kehidupan masa lalu pemilik tubuh.
Ia sadar kembali setelah merasakan banyak pasang langkah kaki menuju kearahnya.
"Wen Yunzi, beraninya kau kembali!" Wen Jiali berteriak begitu memasuki halaman.
"Siapa yang berteriak padaku? oh! Ternyata seorang pelacur." Ucap Wen Yunzi tanpa emosi.
Beberapa pelayan terlihat mencoba menahan tawa mereka.
"Beraninya kau menyebutku pelacur." Sorot mata Wen Jiali dipenuhi niat membunuh. "Tidak hanya wajahnya yang berubah cantik, dia tidak terlihat seperti idiot lagi. Tidak bisa! Aku tidak akan membiarkannya tetap hidup!" Gumamnya.
Tanpa banyak berpikir, ia menyerang menggunakan elemen es miliknya. "Kau yang pelacur! Wen Yunzi, karena aku bisa membunuhmu sekali. Maka aku juga bisa membunuhmu bahkan ribuan kali! Kau sudah mati, mengapa kau kembali lagi?"
Seluruh tubuh Wen Yunzi seketika diselimuti aura pembunuhan. Memobilisasi elemen api ditubuhnya, ia mencairkan panas es yang diarahkan padanya.
Membuat Wen Jiali serta para pelayan membuka mata mereka lebar-lebar, tidak bisa mempercayai apa yang baru saja mereka lihat.
"Mengapa kau memiliki Qi spiritual? bukankah kau hanyalah sampah..." Sebelum ucapannya selesai, Wen Jiali merasa tenggorokannya sangat sakit.
Kini tenggorokannya terperangkap di tangan Wen Yunzi. Anehnya tidak ada yang melihat bagaimana dia memulai.
Wen Yunzi menatapnya dengan sepasang mata pembunuhan. "Membunuhku lagi? apa kau pikir masih memiliki kemampuan itu?! Jika yang pertama kau berhasil, tapi tidak dengan yang kedua kalinya."
KLIK!
Suara patah tulang terdengar sangat jelas.
AHH!
Disertai teriakan memilukan bergema di seluruh Kediaman.
Mendengar teriakan yang cukup akrab, Tuan kedua yang bernama Wen Zuting, meminta pengawal pribadinya untuk mencari tahu apa yang terjadi.
Bahkan Tuan besar yang sedang bermeditasi, juga mendengarnya. "Wen Xing, cari tahu apa yang terjadi."
"Ya, Tuanku!"
Jika sebelumnya sorot mata Wen Jiali di penuhi aura pembunuhan, kini hanya sorot mata kesakitan yang bisa dilihat. Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah berpikir akan dikalahkan oleh gadis yang paling dibencinya.
Xiao Lan memandang Nona sulung dengan sepasang mata yang rumit. Bahkan pelayan lainnya merasa ketakutan seolah-olah telah melihat hantu.
"Kami pernah menghina dan menyakiti Nona sulung, apakah Nona sulung akan balas dendam pada kami?"
"Apa gadis menakutkan ini benar-benar Nona sulung yang idiot itu?"
__ADS_1
"Apa dia Nona sulung yang dikenal sebagai sampah kultivasi?"
Para pelayan tidak mempercayai sekaligus ketakutan dengan apa yang mereka lihat.
Jika bukan karena sudah akrab dengan fitur wajah Nona sulung, mereka tidak akan percaya bahwa Nona menakutkan ini adalah Nona sulung yang telah mereka gertak sebelumnya.
Sedangkan setelah mematahkan tulang rahang musuhnya, Wen Yunzi mengelap tangannya dengan sapu tangan putih yang entah berasal dari mana.
Membuat Wen Jiali menggertak-kan giginya. "Jika kau tidak membunuhku hari ini, dimasa depan aku pasti akan mengembalikan rasa sakit yang kurasakan hari ini berkali-kali lipat padamu!"
Membuang sapu tangannya, Wen Yunzi berkata dengan ekspresi dingin. "Aku tidak akan memberimu kesempatan itu. Justru akulah yang akan mengembalikan semua rasa sakit yang kurasakan selama sepuluh tahun padamu. Siapapun yang telah menyakitiku sebelumnya, aku akan membalas ribuan kali lipat!"
Ia memobilisasi elemen bumi ke-telapak kaki kanannya, dan gerakannya yang secepat kilat menginjak tulang rusuk punggung Wen Jiali tanpa belas kasihan.
KLIK!
Suara patah tulang terdengar sekali lagi.
Jeritan memilukan juga terdengar di seluruh Kediaman untuk yang kedua kalinya.
Tidak sanggup menahan rasa sakitnya, wajah cantik Wen Jiali semakin pucat hingga akhirnya jatuh pingsan.
Wen Yunzi memalingkan wajahnya dan menatap dingin ke arah para pelayan yang sepertinya... Menggigil ketakutan?
Mengingat bagaimana sebelumnya mereka menindas dan menghina pemilik tubuh, ia tidak akan pernah melepaskan orang-orang ini.
"Apa sekarang giliran kita?" batin mereka.
Saat Wen Yunzi berjalan dua langkah maju, para pelayan berjalan tiga langkah mundur.
Memegang kipas kertas berwarna merah ditangan kanannya dan...
Swushh!...
Sosoknya tiba-tiba menghilang.
AH!
AH!
AH!
Jeritan memilukan terus menerus terdengar di seluruh Kediaman.
Hanya dalam waktu yang singkat, Wen Yunzi memotong tangan kanan beberapa pelayan menggunakan kipas kertasnya.
__ADS_1
Sekarang disebuah halaman kecil Kediaman Wen, darah segar berceceran dimana-mana.
Pelayan yang sebelumnya pernah menindas Wen Yunzi, kini menjerit dan berguling-guling di tanah sambil memegang lengan kanannya masing-masing.
Sementara hanfu putih yang dikenakan Wen Yunzi tetap bersih tanpa ada jejak noda darah.
Berjalan kearah gadis pelayan yang kehilangan dua tangannya sekaligus, ia berkata. "Menjadi tangan kanan Wen Jiali, kau pantas mendapatkan hukuman yang paling berat!"
"Nona sulung, tolong segera bunuh aku." Tidak memohon ampun, gadis pelayan itu justru berkata sebaliknya.
"Tidak semudah itu. Apa kau pikir aku masih belum tahu? Cih! Dibalik wajahmu yang polos ini, tersimpan ribuan siasat jahat. Xiao Lan, hukuman-mu baru saja dimulai dan aku akan bermain denganmu secara perlahan." Wen Yunzi mengangkat dagu gadis pelayan itu dengan kipas lipatnya.
Gadis pelayan yang tidak lain adalah pelayan pribadi Wen Jiali yang bernama Xiao Lan.
Seakan mengingat sesuatu, ia mendekatkan bibir tipisnya ke telinga kanan Xiao Lan. "Satu lagi, aku tahu Wen Jiali bukanlah Tuan-mu yang sebenarnya. Dia hanya alat yang kau gunakan untuk melawanku. Apa tujuan Tuan-mu melakukan semua ini, aku akan mengetahuinya suatu saat nanti."
Mendengar bisikan Iblis di telinganya dan menatap wajah secantik Dewi dari jarak yang begitu dekat, Xiao Lan merasakan seluruh tubuhnya menggigil tak terkendali.
"Aku sudah melakukannya dengan sangat hati-hati, tapi pada akhirnya masih ditemukan." Tidak menyangkal, ia tersenyum membenarkan.
"Ternyata tebakanku tidak meleset!" Wen Yunzi berkata tanpa ekspresi.
"Kau, sangat pintar. Kau memang pantas menjadi puteri Tuan Wen Changyi." Xiao Lan tersenyum ringan.
Mengalihkan pandangannya pada langit yang cerah, ia menghela nafas panjang kemudian berkata. "Akhirnya tugasku sudah selesai. Nona Wen Yunzi, selamat tinggal."
Bersamaan dengan jatuhnya kata terakhir, mulut, hidung, telinga dan mata Xiao Lan secara bersamaan mengeluarkan darah hitam pekat.
"Racun kalajengking?" Wen Yunzi tidak menyangka bahwa Xiao Lan akan mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara menelan racun mematikan.
"Bahkan memiliki racun kalajengking. Sepertinya musuh Tuan tidak sesederhana yang Tuan pikirkan." Ucap Meng Meng di balik ruang dimensi.
"Ya. Kau benar." Kemudian Wen Yunzi mengalihkan pandangannya pada sosok pria paruh baya yang berteriak padanya.
"Wen Yunzi, beraninya kau menyakiti sepupumu." Melihat puteri kesayangannya terbaring dalam kondisi menyedihkan, Tuan kedua Wen Zuting sangat marah.
Tapi begitu melihat para pelayan yang terkapar di tanah dan masing-masing kehilangan tangan kanannya, ia bergidik ngeri.
"Tidak hanya menyakiti puteri-ku, kau bahkan memotong tangan kanan para pelayan ini? Wen Yunzi, sebenarnya apa tujuanmu?"
Ia semakin marah saat melihat pelayan puteri-nya tergeletak tak bernyawa. "Ka-kau bahkan membunuh pelayan pribadi puteri-ku. Wen Yunzi, darimana kau belajar trik jahat?"
.
.
__ADS_1
________Happy Reading________